Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fondasi di Atas Abu
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca "The White Bloom", menyinari debu-debu yang menari di atas meja kayu tempat dokumen-dokumen hitam milik Pak Hendra tergeletak. Arkan dan Liana tidak tidur semalaman. Mata mereka merah, namun ada nyala api baru yang menyala di sana—bukan api penghancur seperti sepuluh tahun lalu, melainkan api keadilan yang menuntut ruang untuk bernapas.
Map hitam di depan mereka adalah bom waktu. Dokumen-dokumen di dalamnya membuktikan bahwa seluruh kekayaan The Void—termasuk gedung-gedung pencakar langit yang kini disita negara—sebenarnya berdiri di atas pondasi penipuan, pencurian aset, dan darah keluarga Elena, ibu Arkan.
"Jika kita menyerahkan ini ke kepolisian kota, dokumen ini akan lenyap dalam hitungan jam," ucap Arkan, suaranya serak namun tegas. Ia menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin.
"Jaringan Baskoro masih mengakar di birokrasi. Hakim, jaksa, hingga kurator aset negara... banyak dari mereka yang naik jabatan karena uang suap dari The Void."
Liana mengangguk, jemarinya menelusuri nama orang tuanya yang tertera sebagai saksi legal dalam akta kepemilikan tanah Sektor Selatan.
"Pak Hendra benar. Mereka membunuh orang tuaku bukan karena mereka menghalangi jalan mafia, tapi karena mereka memegang kunci kebenaran ini. Mereka mati sebagai pahlawan yang melindungi hak ibumu, Arkan."
Arkan menggenggam tangan Liana erat.
"Dan sekarang, kita akan menyelesaikan apa yang mereka mulai."
Rencana mereka dimulai dengan sebuah langkah berisiko: mengonfrontasi Komisi Yudisial Pusat di ibu kota, melewati otoritas lokal yang korup.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah keluar dari toko, sebuah iring-iringan mobil hitam mewah berhenti tepat di depan "The White Bloom".
Bukan mobil mafia. Ini adalah mobil dinas pemerintah dengan pelat nomor khusus.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi turun dari mobil. Wajahnya tampak berwibawa namun dingin. Namanya adalah Senator Bramantyo, kepala komite yang menangani penyitaan aset-aset organisasi kriminal di wilayah tersebut.
"Tuan Arkan Dirgantara," ucap Bramantyo saat memasuki toko. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap sekeliling toko bunga dengan tatapan meremehkan. "Kudengar kau menyimpan sesuatu yang bukan milikmu. Sesuatu yang bisa mengganggu stabilitas ekonomi kota ini jika jatuh ke tangan yang salah."
Arkan berdiri di depan Liana, secara naluriah melindunginya. "Senator, Anda datang terlalu pagi untuk membeli bunga duka. Kecuali jika Anda merasa posisi Anda sedang terancam."
Bramantyo terkekeh hambar.
"Mari bicara jujur.
Dokumen yang diberikan Hendra padamu... itu adalah aset negara sekarang. Jika kau mencoba membongkarnya, kau hanya akan membuka borok banyak orang penting. Kau akan menghancurkan sistem yang sudah mapan. Serahkan dokumen itu padaku, dan aku pastikan kau dan gadis ini bisa hidup mewah di luar negeri selamanya. Tanpa kejaran mafia, tanpa ketakutan."
Liana melangkah maju dari balik punggung Arkan. Matanya berkilat marah. "Hidup mewah di atas tanah tempat keluarga kami dibantai? Anda menyebut itu tawaran? Itu adalah penghinaan bagi setiap nyawa yang hilang sepuluh tahun lalu!"
Wajah Bramantyo mengeras.
"Gadis kecil, kau tidak tahu betapa luasnya jurang yang kau coba lompati. Idealismemu tidak akan memberimu rumah. Kekuasaanlah yang melakukannya."
"Kekuasaan Anda dibangun di atas abu rumah kami," balas Arkan dingin. "Dan kami datang untuk mengambil kembali abunya."
Bramantyo berbalik, berhenti di ambang pintu.
"Kalian punya waktu 24 jam. Setelah itu, aku tidak bisa menjamin keselamatan toko bunga yang cantik ini. Ingat, Arkan...
terkadang pemerintah bisa lebih kejam daripada mafia jika menyangkut uang triliunan rupiah."
Setelah kepergian sang Senator, suasana toko menjadi sangat mencekam. Mereka tahu bahwa mereka tidak hanya melawan sisa-sisa preman jalanan sekarang, melainkan melawan sistem yang memiliki hukum di tangan mereka.
"Kita butuh bantuan," bisik Liana. "
Kita tidak bisa melakukan ini berdua."
Arkan menatap Pak Hendra yang sejak tadi diam di pojok ruangan.
"Hendra, kau bilang ada faksi di dalam intelijen yang masih bersih. Siapa mereka?"
Hendra mengangguk pelan. "Mereka disebut 'Unit 9'.
Pasukan khusus yang hanya patuh pada konstitusi, bukan politisi. Tapi untuk menjangkau mereka, kita harus masuk ke dalam sarang serigala: Gedung Arsip Negara di pusat kota. Di sana tersimpan salinan digital primer yang tidak bisa dimanipulasi oleh Bramantyo."
Malam itu juga, Arkan dan Liana bersiap. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, mempersiapkan peralatan sabotase elektronik yang pernah Arkan kuasai dulu. Liana tidak lagi membawa pistol sebagai senjata utama, melainkan sebuah flash drive terenkripsi yang berisi seluruh data pembanding dari Hendra.
"Jika kita tertangkap, mereka akan melabeli kita sebagai teroris," Arkan mengingatkan saat mereka berada di dalam mobil, menatap gedung pencakar langit di kejauhan.
Liana tersenyum tipis, menggenggam tangan Arkan. "Kita sudah dicap sebagai pembakar dan pelayan mafia. Menjadi teroris demi kebenaran sepertinya bukan peningkatan yang
buruk."
Mereka menyelinap masuk melalui saluran ventilasi bawah tanah, melewati sistem keamanan laser dengan ketangkasan yang luar biasa. Arkan melumpuhkan para penjaga dengan peluru bius, sementara Liana meretas gerbang logika server utama.
Saat Liana berhasil menyambungkan flash drive-nya, layar monitor di depan mereka menampilkan ribuan transaksi gelap yang menghubungkan The Void, Baskoro, dan Senator Bramantyo. Itu adalah bukti konspirasi tingkat tinggi yang jauh lebih besar dari sekadar sengketa tanah.
"Arkan, lihat ini!" seru Liana pelan.
"Mereka berencana meratakan seluruh Sektor Selatan untuk membangun kasino mewah dan pusat pencucian uang internasional. Inilah alasan mereka ingin membunuh setiap saksi sepuluh tahun lalu!"
Tiba-tiba, lampu merah darurat menyala di seluruh ruangan. Suara sirine meraung memekakkan telinga.
"Akses ilegal terdeteksi di Sektor 7. Kunci seluruh pintu keluar!" suara otomatis bergema.
"Kita terjebak!" Arkan menarik Liana saat pintu baja mulai tertutup otomatis.
Mereka berlari menembus koridor yang gelap, suara sepatu bot pasukan keamanan terdengar mendekat dari segala arah. Namun, tepat di ujung koridor, sebuah pintu rahasia terbuka. Seorang pria berseragam taktis tanpa lencana memberi isyarat pada mereka.
"Unit 9?" tanya Arkan ragu.
"Cepat masuk, atau kalian akan menjadi sejarah di gedung ini!" perintah pria itu.
Mereka masuk ke dalam lift darurat yang meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Di dalam sana, Arkan dan Liana saling berpandangan. Mereka baru saja memulai perang yang sesungguhnya. Bukan lagi perang dengan peluru, tapi perang untuk merebut kembali hak asasi manusia yang telah dicuri.
"Apapun yang terjadi," bisik Arkan di tengah guncangan lift,
"kita akan membangun kembali rumah itu, Liana. Sebuah rumah yang tidak akan pernah bisa terbakar lagi."
Liana mengangguk, mendekap data berharga itu di dadanya. Pondasi keadilan telah diletakkan, dan kali ini, mereka tidak akan membiarkannya menjadi abu.