NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Gadis Desa di Sarang Neraka

Bab 7 — Gadis Desa di Sarang Neraka

Malam terasa semakin panjang bagi Amelia Santoso.

Ia masih terduduk di lantai kamar mewah itu dengan tubuh gemetar. Air matanya bahkan belum berhenti sejak tadi. Pikirannya kacau. Dadanya sesak. Dan rasa takut perlahan berubah menjadi putus asa.

Ia benar-benar dijual.

Kesadaran itu terasa seperti mimpi buruk yang terus menghantam kepalanya.

Kamar tempatnya dikurung memang terlihat mahal. Tempat tidur besar, lampu kristal, sofa empuk, bahkan lemari penuh pakaian mahal tersedia di sana.

Namun semua itu tidak mengubah kenyataan bahwa dirinya adalah tahanan.

Amelia perlahan bangkit lalu mencoba membuka jendela.

Terkunci.

Ia buru-buru menuju pintu.

Tetap terkunci.

Napasnya mulai memburu lagi.

“Aku harus keluar…”

Ia kembali memukul pintu dengan panik.

“Tolong! Tolong buka!”

Namun tak ada jawaban.

Suara musik dari lantai bawah terdengar samar, bercampur gelak tawa pria-pria asing yang membuat Amelia semakin takut.

Air matanya kembali jatuh.

Ia memikirkan Nenek Hana.

Wanita tua itu pasti sedang mengkhawatirkannya sekarang.

Dan Raka…

Entah apa yang sedang dilakukan pria itu di desa.

Amelia menutup wajahnya sambil menangis pelan.

Ia menyesal.

Sangat menyesal karena terlalu mudah percaya pada orang asing.

Tok tok.

Suara ketukan pintu tiba-tiba membuat Amelia langsung menegang.

Pintu terbuka perlahan.

Wanita berambut merah yang tadi menyambutnya masuk sambil membawa sebuah kotak besar.

Tatapan wanita itu tajam, tetapi tidak sekejam pria-pria di bawah.

“Bangun.”

Amelia langsung mundur takut.

“Aku ingin pulang…”

Wanita itu menghela napas kecil.

“Semua gadis di sini juga mengatakan hal yang sama saat pertama datang.”

“Aku tidak seperti mereka…”

“Sekarang kau sama saja.”

Kalimat itu membuat Amelia membeku.

Wanita tersebut meletakkan kotak di atas ranjang lalu membuka isinya.

Gaun merah pendek yang sangat terbuka terlihat di dalamnya.

Wajah Amelia langsung pucat.

“Pakai ini.”

“Apa?”

“Kau akan turun sebentar lagi.”

“Aku tidak mau!”

Amelia menggeleng cepat sambil mundur beberapa langkah.

“Aku tidak akan memakai pakaian seperti itu!”

Tatapan wanita itu mulai dingin.

“Kalau kau ingin tetap hidup di tempat ini, dengarkan perintah.”

“Aku tidak peduli!”

Amelia mulai menangis lagi.

“Aku hanya ingin pulang…”

Beberapa detik wanita itu diam memandang Amelia.

Lalu akhirnya ia berkata pelan,

“Namaku Elena.”

Amelia sedikit terdiam.

“Aku juga pernah dijual ke tempat ini.”

Mata Amelia perlahan membesar.

Elena tersenyum pahit.

“Bedanya, tidak ada yang menangis mencariku waktu itu.”

Suasana mendadak sunyi.

Amelia perlahan menurunkan tangannya.

“Apa… kau tidak bisa kabur?”

“Kalau semudah itu, semua wanita di sini pasti sudah pergi.”

Elena berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang.

“Dengarkan aku baik-baik.”

Nada suaranya berubah serius.

“Malam ini ada tamu penting datang. Jangan melawan. Jangan membuat masalah. Dan jangan menatap mata pria-pria itu terlalu lama.”

Tubuh Amelia kembali gemetar.

“Apa mereka akan…”

Kalimatnya terputus karena terlalu takut untuk melanjutkan.

Elena diam beberapa detik sebelum menjawab pelan,

“Aku akan berusaha menjagamu.”

Jawaban itu justru membuat Amelia semakin takut.

Karena berarti sesuatu yang buruk memang bisa terjadi.

Sementara itu…

di sisi lain kota Palermo…

suasana mansion keluarga Moretti dipenuhi ketegangan.

Puluhan pria bersenjata berjaga di berbagai sudut bangunan mewah tersebut.

Di ruang kerja utama, Lorenzo Moretti duduk sambil membaca laporan bisnis ilegal keluarganya.

Wajah tampannya terlihat dingin tanpa emosi.

Marco De Luca berdiri di depan meja sambil menyerahkan beberapa foto.

“Orang-orang Romano mulai bergerak lagi.”

Lorenzo melirik foto-foto itu sekilas.

“Pelabuhan timur?”

Marco mengangguk.

“Mereka juga mulai bermain di bisnis perdagangan manusia.”

Tatapan Lorenzo langsung berubah lebih tajam.

“Aku benci bisnis kotor itu.”

Marco tertawa kecil.

“Kita mafia, Bos. Tidak ada bisnis yang benar-benar bersih.”

Lorenzo menyandarkan tubuhnya pelan.

“Perdagangan wanita terlalu menjijikkan.”

Kalimat itu membuat Marco diam sesaat.

Karena ia tahu Lorenzo memang memiliki aturan sendiri.

Mafia itu kejam.

Bahkan sangat kejam.

Namun Lorenzo membenci perdagangan manusia sejak lama.

Tok tok.

Salah satu anak buah masuk dengan gugup.

“Bos, ada undangan pertemuan dari Romano malam ini.”

Marco langsung mengumpat pelan.

“Mereka pasti merencanakan sesuatu.”

Namun Lorenzo justru tersenyum tipis.

Senyum dingin yang membuat suasana ruangan berubah menyeramkan.

“Bagus.”

Marco menghela napas pasrah.

Kalau Lorenzo sudah tersenyum seperti itu…

berarti akan ada darah tumpah malam ini.

“Kita berangkat satu jam lagi,” ucap Lorenzo tenang.

Sementara itu…

di gedung tempat Amelia ditahan, suasana mulai semakin ramai.

Musik terdengar lebih keras.

Suara tawa pria-pria mabuk memenuhi ruangan bawah.

Amelia duduk diam di depan cermin sementara Elena merapikan rambutnya.

Gaun merah itu akhirnya terpaksa ia pakai.

Dan Amelia merasa sangat malu dengan pakaian tersebut.

“Aku terlihat aneh…”

Elena menatap pantulan Amelia di cermin beberapa detik.

“Tidak.”

Malah terlalu cantik.

Dan justru itu yang berbahaya.

Suara langkah kaki terdengar mendekat.

Seorang pria bertubuh besar membuka pintu kamar.

“Bos besar sudah datang. Semua gadis turun sekarang.”

Jantung Amelia langsung terasa jatuh.

Tangannya mulai dingin.

Elena menggenggam pelan tangan Amelia.

“Ingat kata-kataku tadi.”

Amelia mengangguk lemah.

Namun tubuhnya terus gemetar saat mereka berjalan turun menuju lantai bawah.

Begitu memasuki ruangan utama…

Amelia langsung merasa sesak.

Puluhan pria duduk sambil minum dan tertawa kasar.

Tatapan mereka langsung tertuju pada para wanita yang turun dari tangga.

Dan tatapan itu membuat Amelia ingin kabur saat itu juga.

“Ada wajah baru rupanya.”

Salah satu pria tertawa sambil memandang Amelia dari atas sampai bawah.

Amelia langsung menunduk takut.

Elena mencoba berdiri sedikit di depan Amelia untuk melindunginya.

Namun seorang pria tua gemuk tiba-tiba berdiri sambil menyeringai.

“Aku mau yang itu.”

Wajah Amelia langsung pucat.

Pria tua itu berjalan mendekat dengan tatapan menjijikkan.

Tangannya hampir menyentuh pipi Amelia—

Namun tiba-tiba…

Dor!

Suara tembakan keras menggema dari lantai bawah gedung.

Semua orang langsung terdiam.

Lalu jeritan mulai terdengar di luar.

“Apa yang terjadi?!”

Beberapa pria buru-buru berdiri sambil mengambil senjata.

Suasana langsung berubah kacau.

Dor! Dor!

Tembakan kembali terdengar.

Kini lebih dekat.

Amelia refleks memegang tangan Elena erat-erat.

“Aku takut…”

Elena juga terlihat tegang.

“Sepertinya ada penyerangan…”

Belum sempat siapa pun memahami keadaan—

Brak!

Pintu utama gedung didobrak dari luar.

Puluhan pria bersenjata masuk dengan wajah penuh amarah.

Baku tembak langsung pecah di tempat itu.

Jeritan para wanita terdengar memenuhi ruangan.

Amelia membeku ketakutan saat melihat orang-orang mulai saling menembak.

Darah muncrat ke lantai.

Meja-meja terbalik.

Lampu kristal jatuh dan pecah.

Suasana berubah seperti neraka dalam hitungan detik.

“Tiunduk!” Elena menarik Amelia bersembunyi di balik sofa besar.

Tubuh Amelia gemetar hebat.

Ini pertama kalinya ia melihat orang ditembak tepat di depan matanya.

Air matanya terus jatuh tanpa bisa berhenti.

“Aku ingin pulang…”

Namun kekacauan malam itu baru saja dimulai.

Dan tanpa Amelia sadari…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!