NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Bakat Lama Dimas

Madiun siang itu menyambut dengan terik yang khas, namun angin yang berembus di pelataran rumah besar bergaya Jawa-kolonial itu membawa aroma melati dan sedap malam yang menenangkan. Tenda dekorasi berwarna putih dan emas berdiri megah, menampung ratusan tamu undangan yang hadir untuk merayakan pernikahan sahabat lama Dimas semasa di pondok.

Dinara duduk di deretan kursi tamu undangan bagian depan, tepat di bawah hembusan misty fan yang sedikit mengurangi rasa gerah. Ia mengenakan gamis brokat berwarna nude yang senada dengan jilbabnya, tampil anggun namun tetap bersahaja. Di tangannya, sebuah kipas kecil terus bergerak, sementara matanya tak lepas menatap panggung utama.

Di atas panggung, suasana mendadak berubah saat beberapa pria dengan sarung seragam dan jas hitam naik membawa rebana. Dan di sana, di posisi paling tengah, suaminya berdiri dengan mikrofon di tangan. Dimas tampak sangat berbeda. Wibawanya terpancar bukan sebagai penulis yang santai, melainkan sebagai seorang penampil yang menguasai panggung.

"Assalamualaikum warahmatullah," suara Dimas menggema melalui sound system yang berkualitas tinggi. Berat, jernih, dan sangat mantap.

Setelah pembukaan singkat yang diselingi candaan khasnya yang membuat tamu undangan tertawa, Dimas memberi kode pada tim hadroh di belakangnya. Detik berikutnya, suara tabuhan terbang yang ritmis dan sinkron mulai memenuhi udara.

Dimas mulai melantunkan sebuah nasyid pujian kepada Baginda Nabi. Suaranya meliuk-liuk dalam teknik ghunnah dan makhraj yang sempurna. Dinara terpaku. Ia sering mendengar Dimas melantunkan adzan atau mengimami shalat di apartemen, namun melihat suaminya "beraksi" di depan publik dengan energi seperti ini adalah hal baru baginya.

Tiba-tiba, di tengah lagu, Dimas mengarahkan pandangannya tepat ke arah kursi tempat Dinara duduk. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang hanya dikhususkan untuk istrinya, sebelum melanjutkan bait berikutnya dengan penuh penghayatan.

Seorang ibu-ibu di sebelah Dinara menyenggol lengannya pelan. "Mbak, itu suaminya ya? Suaranya bagus sekali, bikin adem hati."

Dinara hanya bisa tersenyum simpul dengan pipi yang mulai merona. "Nggih, Bu. Matur nuwun."

Setelah tiga lagu yang memukau, Dimas turun dari panggung diiringi tepuk tangan riuh. Ia tidak langsung menuju meja prasmanan, melainkan langsung menghampiri Dinara. Keringat tipis tampak di dahinya, namun wajahnya terlihat sangat puas.

"Gimana, Dek? Mas masih layak jadi bintang panggung, kan?" tanya Dimas sambil menerima tisu yang disodorkan Dinara.

"Bagus banget, Mas. Dinara sampai merinding dengarnya," jawab Dinara tulus. Ia membantu menyeka keringat di pelipis Dimas dengan gerakan natural yang membuat beberapa mata tamu undangan menatap iri pada keharmonisan mereka.

"Lho, itu tadi baru pemanasan. Sebenarnya Mas mau nyanyi sepuluh lagu lagi, tapi kasihan pengantinnya nanti malah kalah saing sama Mas," seloroh Dimas. Ia mengajak Dinara berdiri. "Ayo, kita makan dhisik. Mas sudah lapar tingkat dewa ini. Katanya kalau di Madiun begini, sambal tumpangnya juara."

Mereka berjalan menuju area prasmanan. Dimas dengan sigap mengambilkan piring untuk Dinara, memastikan istrinya mendapatkan porsi yang pas sebelum ia memenuhi piringnya sendiri. Saat sedang mengantre, beberapa teman lama Dimas menghampiri.

"Wah, Dim! Iki toh sing jarene 'berlian' dari Blitar?" tanya seorang pria bertubuh tambun yang merupakan teman sekamar Dimas dulu. "Pinter kamu milihnya, pantesan nggak pernah kelihatan di Surabaya, ternyata sibuk jadi supir pribadi istri cantik."

Dimas tertawa lepas, merangkul pundak temannya itu. "Lho, ya jelas. Ini bukan cuma berlian, ini masa depan hukum Indonesia. Kenalkan, ini Dinara, istriku."

Dinara menyalami teman-teman Dimas dengan takzim. Obrolan singkat itu penuh dengan nostalgia masa pondok, tentang bagaimana Dimas dulu sering disabet sarung karena telat latihan hadroh atau bagaimana ia selalu menjadi favorit para ustadz karena suaranya.

Selesai makan, mereka duduk di pojok area undangan yang agak sepi, di bawah pohon mangga yang rindang. Dimas menyesap es sirupnya dengan nikmat.

"Mas..." panggil Dinara pelan.

"Dalem, Sayang?"

"Tadi... lagu yang terakhir itu, Mas tujukan buat siapa?" tanya Dinara sedikit menggoda.

Dimas menaruh gelasnya, lalu menatap Dinara dengan tatapan yang mendalam, kehilangan sejenak sifat jahilnya. "Dek, semua syair pujian itu memang buat Rasulullah. Tapi, rasa syukur yang Mas rasakan saat melantunkannya, itu karena Allah sudah kasih Mas nikmat berupa kamu. Mas tadi nyanyi sambil batin, 'Ya Allah, terima kasih sudah kasih hamba teman hidup yang mau mengerti pria aneh seperti saya'."

Dinara terdiam. Di tengah keramaian pesta pernikahan di Madiun ini, ia merasa seperti hanya ada mereka berdua.

"Mas ini... katanya nggak mau alay, tapi omongannya lebih puitis dari novelnya sendiri," gumam Dinara sambil menunduk, mencoba menyembunyikan senyumnya.

"Lho, ini bukan alay. Ini namanya testimoni jujur," jawab Dimas kembali ke mode bercanda. "Oiya, habis ini kita nggak langsung balik Surabaya ya. Mas mau mampir sebentar beli brem buat Ibu di Blitar. Kalau kita pulang nggak bawa oleh-oleh, bisa-bisa pintu rumah di Blitar dikunci dari dalam pas kita berkunjung nanti."

Dinara tertawa kecil. "Nggih, Mas. Terserah Mas saja."

Perjalanan ke Madiun ini memberikan sudut pandang baru bagi Dinara. Ia melihat sisi lain Dimas yang religius namun tetap santai, seorang pria yang mampu menempatkan diri di mana pun ia berada. Dimas bukan hanya pelindung di Surabaya yang keras, tapi juga kebanggaan di tengah komunitas lamanya.

Saat mereka berjalan kembali menuju parkiran SUV hitam mereka, Dimas membukakan pintu untuk Dinara dengan gerakan formal yang dibuat-buat.

"Silakan masuk, Ibu Hakim. Perjalanan menuju toko brem segera dimulai," ujar Dimas sambil membungkuk hormat.

"Mas Dimas! Malu dilihat orang!" seru Dinara, namun ia masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang membuncah bahagia.

Di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin, Dimas sempat mengusap kepala Dinara yang tertutup jilbab. "Makasih ya, Dek, sudah mau ikut. Mas tahu kamu capek, tugas kuliahmu juga menumpuk. Mas janji, nanti di tol Mas nggak akan berisik, kamu boleh tidur sepuasnya."

"Dinara nggak capek kok, Mas. Melihat Mas nyanyi tadi... rasanya semua capeknya hilang," jawab Dinara tulus.

SUV itu perlahan meninggalkan area pesta, membelah jalanan Madiun yang mulai teduh oleh bayang-bayang sore. Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda. Ada rasa saling memiliki yang semakin kuat. Standar sembilan belas tahun yang dulu menghantui mereka kini terasa jauh di belakang, digantikan oleh kenyataan manis bahwa mereka adalah dua jiwa yang dipertemukan bukan hanya oleh keinginan orang tua, melainkan oleh takdir yang jauh lebih indah.

"Mas, nanti kalau di Surabaya, sekali-sekali nyanyi hadroh lagi ya di apartemen?" pinta Dinara.

"Boleh. Tapi bayarannya mahal, Dek," sahut Dimas sambil melirik jahil.

"Apa bayarannya?"

"Cukup doakan Mas tiap habis shalat, biar Mas kuat cari nafkah buat beli semua buku hukum yang kamu mau," bisik Dimas lembut.

Dinara tersenyum, menyandarkan kepalanya di jok mobil. Madiun hari ini menjadi saksi, bahwa di balik kejahilan seorang Dimas, tersimpan hati yang begitu luas untuk mencintai dan menghargai istrinya dengan cara yang paling bersahaja namun menyentuh jiwa.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!