Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri di Balik Kelopak Mawar
Satu tahun telah berlalu sejak fajar berdarah di galangan kapal itu. Kota ini seolah sudah melupakan nama besar The Void, namun bagi Liana, ingatan itu tersimpan rapi di balik setiap kelopak bunga yang ia rawat. Toko bunga "The White Bloom" kini menjadi oase kecil yang harum di sudut jalan yang tenang.
Arkan benar-benar menepati janjinya. Setelah menjalani hukuman yang diringankan karena kerja samanya dengan intelijen pusat, ia keluar dengan identitas baru. Tidak ada lagi setelan jas mahal atau aroma cerutu. Arkan kini lebih sering terlihat mengenakan kaus hitam polos dengan lengan digulung, memamerkan otot lengan yang kini bekerja untuk mengangkat pot-pot terakota besar, bukan lagi senjata.
"Arkan, pesanan lili untuk Nyonya Rosa sudah siap?" tanya Liana dari balik meja kasir. Ia sedang merapikan pita satin merah.
Arkan muncul dari gudang belakang, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil. "Sudah di atas motor. Aku berangkat sekarang."
Liana menatap punggung Arkan sejenak. Ada ketenangan yang aneh melihat pria yang dulu paling ditakuti di kota ini kini sibuk memastikan bunga lili tidak layu di bawah terik matahari. Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap berhenti tepat di seberang toko.
Mobil itu tidak bergerak selama sepuluh menit. Mesinnya tetap menyala, mengeluarkan suara menderu halus yang memicu insting waspada dalam diri Liana.
"Arkan," panggil Liana, suaranya merendah.
Arkan yang baru saja akan menaiki motornya berhenti. Ia mengikuti arah pandang Liana. Matanya yang tajam menyipit. Sebagai mantan penguasa bawah tanah, ia tahu persis jenis mobil dan cara parkir seperti itu. Itu adalah unit pengintai.
"Masuk ke dalam, Liana. Kunci pintu depan," ucap Arkan. Suaranya berubah, kembali ke nada dingin dan otoriter yang dulu ia gunakan saat memimpin ribuan orang.
"Tapi Arkan—"
"Lakukan sekarang!" tegas Arkan tanpa menoleh.
Liana segera masuk dan memutar kunci, namun ia tetap mengintip dari balik tirai tipis. Arkan berjalan tenang menuju mobil sedan itu. Ia berdiri tepat di samping kaca pengemudi yang perlahan turun.
Di dalamnya duduk seorang pria muda berambut pirang dengan bekas luka bakar di lehernya. Vigo. Dia adalah salah satu letnan kepercayaan Baskoro yang berhasil meloloskan diri saat penggerebekan setahun lalu.
"Lihatlah sang legenda kita," sindir Vigo, suaranya serak dan penuh kebencian. "Dari penguasa kota menjadi pelayan toko bunga. Apa kau juga belajar cara merangkai bunga duka untuk dirimu sendiri, Arkan?"
Arkan membungkuk, menatap Vigo dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Aku sudah memberikan semua yang kalian inginkan. Uang, jalur distribusi, bahkan kepala ayahku sendiri. Pergilah, Vigo. Jangan paksa aku menarik kembali apa yang sudah kukubur."
Vigo tertawa sinis.
"Kau menghancurkan keluarga kami, Arkan. Banyak anak buah kita yang membusuk di penjara karena mulutmu. Kami tidak butuh uangmu. Kami butuh rasa sakitmu."
Vigo melirik ke arah jendela toko, tepat ke arah Liana yang bersembunyi. "Gadis itu... dia adalah satu-satunya alasan kau masih bernapas, kan? Bagaimana jika aku membuatnya merasakan api yang sama seperti sepuluh tahun lalu?"
Dalam gerakan yang hampir tidak tertangkap mata, tangan kanan Arkan melesat masuk ke jendela mobil, mencengkeram leher Vigo dan membenturkan kepalanya ke kemudi.
BRAK!
"Sentuh dia," bisik Arkan dengan suara yang sangat rendah namun mematikan,
"dan aku akan memastikan kau memohon agar kematian datang lebih cepat. Aku masih tahu di mana setiap anggota keluargamu bersembunyi, Vigo. Jangan pernah menguji batas kesabaranku."
Arkan melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Vigo terbatuk-batuk, wajahnya memerah, namun ia menyeringai penuh kemenangan. "Kau sudah kembali, Arkan. Monster itu masih ada di sana. Kita lihat seberapa lama kau bisa melindunginya."
Mobil itu melesat pergi, meninggalkan debu yang berterbangan. Arkan kembali ke toko dengan langkah berat. Saat ia masuk, Liana langsung menghampirinya, meraih tangan Arkan yang gemetar karena amarah yang tertahan.
"Mereka kembali, kan?" tanya Liana lirih.
Arkan menatap Liana dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan aku. Seharusnya aku tahu masa lalu tidak akan pernah benar-benar mati. Mereka mengincarmu untuk menghancurkanku."
Liana menarik napas panjang. Ia berjalan ke arah laci di bawah meja kasir, mengambil sebuah benda yang selama ini ia sembunyikan di balik tumpukan kertas. Sebuah pistol Glock-17.
"Aku tidak akan membiarkan mereka merusak apa yang sudah kita bangun, Arkan," ucap Liana sambil mengokang senjata itu dengan mantap. "Jika mereka menginginkan perang, maka mereka akan mendapatkannya di depan pintu toko bunga ini."
Arkan tertegun melihat keberanian di mata Liana. Ia menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang ketakutan di depan api. Liana adalah pasangannya dalam segala hal—termasuk dalam kegelapan.
"Malam ini kita tidak akan tidur di sini," ucap Arkan sambil mengambil senjata dari tas rahasianya. "Kita akan mengubah permainan. Jika mereka memburu kita, maka kita yang akan menjadi pemburunya."