Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Darah di Atas Marmer Hitam
Suara ledakan pertama merobek keheningan malam perbukitan dengan kekuatan yang menggetarkan fondasi mansion. Kaca-kaca besar yang biasanya memantulkan kemewahan kini bergetar hebat, beberapa retak membentuk pola jaring laba-laba. Alarm meraung-raung, suaranya menyakitkan telinga, bercampur dengan suara tembakan otomatis yang bersahutan dari arah gerbang depan.
"Aisyah! Masuk ke bawah meja itu! Sekarang!" bentak Arkan. Suaranya bukan lagi suara pria kesepian di perpustakaan, melainkan suara jenderal perang yang sedang memberikan komando terakhir.
Aisyah gemetar hebat. Ia merangkak masuk ke bawah meja kayu jati raksasa di tengah perpustakaan, memeluk lututnya dengan tangan yang masih bersimbah antiseptik. Di luar, ia bisa mendengar teriakan-teriakan dalam bahasa yang kasar, disusul suara benturan baja yang berat.
Arkan tidak membuang waktu. Dengan gerakan yang sangat terlatih meski lukanya belum kering, ia menyambar senapan serbu dari balik lemari buku yang rahasia. Ia menekan tombol di interkom meja. "Leo! Laporan!"
"Tuan! Mereka menabrak gerbang dengan truk lapis baja! Ada sekitar tiga puluh orang dari klan Scorpio! Mereka menggunakan peluncur roket!"
suara Leo terdengar di sela-sela desingan peluru. "Kami mencoba menahan mereka di area parkir, tapi mereka terlalu banyak!"
"Aktifkan protokol Dark Room! Matikan semua lampu gedung, aktifkan sensor panas!" perintah Arkan.
Seketika, mansion itu jatuh ke dalam kegelapan total. Hanya lampu darurat berwarna merah yang berkedip pelan, memberikan kesan mengerikan seperti di dalam neraka. Arkan berdiri di depan meja tempat Aisyah bersembunyi, tubuh besarnya menjadi perisai hidup.
"Jangan bergerak, jangan bersuara," bisik Arkan pelan. "Apapun yang terjadi, jangan keluar dari sini."
Tiba-tiba, ledakan kedua menghantam dinding lantai bawah. Getarannya membuat buku-buku di perpustakaan berjatuhan. Suara langkah kaki sepatu bot terdengar mendekat ke arah perpustakaan. Arkan mengokang senjatanya, matanya berkilat di kegelapan seperti predator yang sedang mengincar mangsa.
Pintu perpustakaan didobrak paksa.
Tiga orang pria bersenjata masuk dengan kacamata night vision. Sebelum mereka sempat membidik, Arkan sudah melepaskan rentetan tembakan yang presisi. Dua orang tumbang seketika di atas lantai marmer. Orang ketiga sempat membalas tembakan sebelum peluru Arkan menembus dadanya.
Aisyah menutup telinganya rapat-rapat, namun ia tetap bisa mendengar suara erangan kesakitan dan bau mesiu yang menyesakkan dada. Ia terisak dalam diam, bibirnya tak henti-hentinya merapalkan doa.
"Arkan! Keluar kau, Xavier!" sebuah suara parau berteriak dari lorong. "Serahkan wanita itu dan kami akan memberikanmu kematian yang cepat!"
Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melempar sebuah granat asap ke arah pintu dan bergerak maju dengan kecepatan yang luar biasa.
Terjadi baku tembak sengit di luar pintu perpustakaan. Aisyah hanya bisa mendengar suara hantaman daging, erangan, dan bunyi logam yang beradu.
Lalu, sebuah ledakan kecil menghantam pilar tepat di samping meja tempat Aisyah bersembunyi. Langit-langit perpustakaan runtuh sebagian. Sebuah balok kayu besar jatuh tepat ke arah Arkan yang sedang berduel dengan musuh terakhir.
"Tuan Arkan!" teriak Aisyah spontan.
Arkan sempat menghindar, namun ledakan itu melempar tubuhnya menghantam rak buku besi. Rak itu tumbang menimpanya. Musuh terakhir, seorang pria bertubuh raksasa dengan luka parut di wajahnya, mendekat dengan pisau komando yang mengkilap.
"Akhirnya, sang Singa Xavier bertekuk lutut," ejek pria itu.
Aisyah melihat Arkan terkapar, darah merembes dari kepalanya dan perban di dadanya sudah memerah sepenuhnya. Melihat Arkan akan ditikam, sesuatu dalam diri Aisyah bangkit. Rasa takutnya kalah oleh insting menyelamatkan nyawa.
Aisyah keluar dari bawah meja. Ia menyambar sebuah patung perunggu berat dari meja dan dengan sekuat tenaga melemparkannya ke arah pria berparut itu. Patung itu mengenai bahu si pria, membuatnya oleng sesaat.
"Lepaskan dia!" teriak Aisyah dengan suara serak.
Pria berparut itu menoleh, matanya liar. "Oh, jadi ini si wanita bercadar itu? Cantik juga matanya. Mari kita lihat apa yang disembunyikan di balik kain ini!"
Pria itu menerjang Aisyah. Namun sebelum ia menyentuh Aisyah, sebuah tembakan tunggal bergema. Kepala pria itu tersentak ke belakang dan ia jatuh tersungkur tepat di depan kaki Aisyah.
Arkan berdiri dengan sisa tenaganya, memegang pistol dengan tangan yang bergetar hebat. "Sudah kubilang... jangan keluar... dari bawah meja..."
Setelah mengucapkan itu, Arkan ambruk. Senjatanya terlepas dari genggamannya.
"Tuan Arkan!" Aisyah berlari menghampiri. Ia berlutut di samping Arkan, menarik tubuh pria itu dari reruntuhan rak.
Kondisi Arkan sangat kritis. Serpihan ledakan menusuk bahunya, dan luka lamanya terbuka lebar. Napasnya pendek-pendek, menunjukkan adanya pendarahan internal atau paru-paru yang tertekan.
"Leo! Leo, Anda di mana?!" Aisyah berteriak ke arah interkom di meja yang masih menyala.
"Nona? Saya di tangga barat! Kami sudah mengamankan area bawah, tapi musuh masih ada di luar!" suara Leo terdengar panik.
"Tuan Arkan sekarat! Bawa peralatan medis ke perpustakaan sekarang! Saya harus mengoperasinya di sini, dia tidak akan bertahan sampai ke rumah sakit!" perintah Aisyah dengan nada yang sangat otoritas, nada seorang dokter di ruang gawat darurat.
Beberapa menit kemudian, Leo dan dua orang pengawal masuk dengan napas tersengal. Mereka membawa tas medis besar yang memang selalu tersedia di mansion.
"Tuan..." Leo jatuh lemas melihat kondisi bosnya.
"Jangan hanya berdiri di situ! Nyalakan lampu darurat yang lebih terang! Saya butuh air bersih, alkohol, dan benang bedah!" Aisyah mulai merobek kemeja Arkan dengan gunting medis.
Di tengah desingan peluru yang masih terdengar dari kejauhan dan asap yang memenuhi ruangan, Aisyah mulai bekerja. Tangannya yang mungil kini tidak lagi gemetar. Ia menyuntikkan anestesi lokal, membersihkan luka dengan cekatan, dan mulai menjahit pembuluh darah yang pecah di dada Arkan.
Setiap detik terasa seperti jam. Aisyah bekerja di bawah cahaya lampu baterai yang dipegangi Leo. Keringat membasahi dahi Aisyah di balik cadarnya. Ia bisa merasakan denyut nadi Arkan yang semakin melemah di bawah jemarinya.
"Jangan mati, Arkan... Jangan mati..." bisik Aisyah terus menerus. Bukan karena ia takut pada musuh, tapi karena ia menyadari bahwa di balik segala kekejamannya, pria ini baru saja mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya.
Setelah hampir dua jam bertaruh dengan maut, Aisyah akhirnya menyandarkan punggungnya di kaki meja. Tangannya yang tertutup sarung tangan medis kini merah sepenuhnya oleh darah Arkan. Arkan masih pingsan, namun napasnya sudah mulai stabil dan pendarahannya telah berhenti.
Leo menatap Aisyah dengan rasa hormat yang mendalam. Ia belum pernah melihat keberanian seperti itu, bahkan dari anggota mafia paling tangguh sekalipun. "Nona... Anda baru saja menyelamatkan nyawa orang yang paling dicari di negeri ini. Untuk kedua kalinya."
Aisyah tidak menjawab. Ia menoleh ke arah jendela yang hancur, melihat fajar mulai menyingsing di balik perbukitan. Semburat warna oranye mulai muncul, perlahan mengusir kegelapan malam yang mengerikan itu.
"Bagaimana dengan kakak saya?" tanya Aisyah lirih.
"Tuan Hamdan aman, Nona. Paviliun timur tidak tersentuh serangan. Dia sangat khawatir pada Anda, tapi saya melarangnya keluar demi keselamatannya."
Aisyah mengangguk pelan. Ia menatap wajah Arkan yang tertidur karena pengaruh obat. Dalam kondisi tidak sadar seperti ini, Arkan tidak tampak seperti monster. Ia hanya tampak seperti pria yang membawa beban terlalu berat di pundaknya.
Tiba-tiba, jemari Arkan bergerak kecil. Ia perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah Aisyah yang masih duduk di sampingnya dengan pakaian yang berlumuran darah.
Arkan mencoba bicara, suaranya hanya berupa bisikan parau. "Aisyah... kau... berdarah?"
Aisyah menyentuh dahi Arkan dengan lembut. "Ini darah Anda, Tuan Arkan. Bukan darah saya. Anda selamat."
Arkan menatap tangan Aisyah yang masih mengenakan sarung tangan medis berdarah. Ia tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa syukur yang tak terucapkan. "Kau... dokterku... malaikatku..."
Lalu Arkan kembali terlelap, kali ini dalam tidur yang lebih tenang.
Aisyah menyadari satu hal yang menakutkan malam itu. Di tengah darah dan mesiu, di dalam benteng yang hancur ini, hatinya mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Rasa simpati? Rasa iba? Atau sesuatu yang lebih berbahaya dari peluru klan Scorpio?
Ia tahu, sejak malam ini, ia tidak akan pernah bisa benar-benar membenci pria ini lagi. Dan itulah konflik terberat yang sesungguhnya: mencintai seseorang yang dunianya adalah kegelapan, sementara ia adalah milik cahaya.