NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Berlian di Tengah Barisan Pedang

Lampu kristal raksasa di aula utama Istana memantulkan cahaya pada ribuan medali emas yang tersemat di dada para perwira. Namun, saat pintu besar terbuka dan pengumuman kedatangan Keluarga Eisenberg menggema, seluruh ruangan mendadak hening.

Daisy melangkah masuk dengan keanggunan yang menghancurkan napas siapa pun yang melihatnya. Ia mengenakan gaun malam berwarna midnight blue yang terbuat dari beludru premium, dengan potongan off-shoulder yang memamerkan bahu putih porselennya dan leher jenjang yang tanpa cacat. Rambut hitamnya yang panjang disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan membingkai wajahnya yang mungil. Ia tidak memakai banyak perhiasan, hanya kalung safir pemberian Raja yang berkilau di dadanya—sebuah pernyataan bahwa ia adalah keponakan kesayangan takhta.

Di sampingnya, Matthew berdiri tegap dalam seragam kebesaran Jenderal Agung yang berwarna hitam dengan aksen emas. Wajahnya sedingin es, namun matanya yang dark blue terus-menerus memindai sekeliling seperti predator yang sedang menandai wilayah.

"Jenderal," sapa seorang perwira muda dari divisi infanteri, matanya tidak bisa beralih dari Daisy. "Istri Anda... sungguh sebuah pemandangan yang langka bagi kami di militer."

Matthew tidak membalas senyuman perwira itu. Sebaliknya, ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Daisy. Telapak tangannya yang lebar menempel erat di lekukan pinggang istrinya, menarik Daisy begitu dekat hingga bahu mereka bersentuhan tanpa celah.

"Terima kasih atas pujiannya, Letnan," suara Matthew berat dan penuh tekanan, seolah tiap kata adalah peringatan. "Tapi Saya harap Anda tidak lupa bahwa ada laporan strategi yang harus Anda selesaikan besok pagi."

Letnan itu langsung menunduk gugup dan berpamitan. Daisy melirik Matthew dari sudut matanya. "Anda terlalu kasar, Jenderal. Dia hanya menyapa."

"Dia tidak hanya menyapa, Daisy. Dia menatapmu seolah kau adalah rampasan perang," bisik Matthew di dekat telinga Daisy, napasnya yang hangat membuat Daisy sedikit merinding. Tangannya di pinggang Daisy tidak melonggar sedikit pun; justru semakin posesif.

Di sudut aula yang lebih tenang, keluarga besar telah berkumpul. Duchess Eleanor, ibu Matthew, berdiri dengan anggun meskipun tampak sedikit kesepian tanpa kehadiran Sang Nenek yang sedang terbaring sakit di kediaman utama. Di sisi lain, keluarga besar Daisy—Keluarga Kerajaan—sudah menunggu.

"Daisy!"

Dua pria bertubuh tegap dengan wajah yang sangat mirip dengan Daisy melangkah maju. Mereka adalah kakak laki-laki Daisy. Kakak tertuanya, Arthur, tampak sangat kontras dengan seragam militernya karena ia sedang menggendong seorang bocah perempuan yang kini sudah berusia 7 tahun itu bernama Lily. Lily adalah duplikat Daisy dalam versi mini, dengan mata cokelat madu yang bulat dan rambut ikal yang lucu.

"Paman Jenderal!" Lily berseru riang, tangannya yang mungil berusaha menggapai kerah seragam Matthew yang kaku.

Matthew membungkuk sedikit, wajahnya yang kaku melembut sesaat—sebuah pemandangan langka yang membuat Daisy terpaku. Matthew membiarkan Lily menyentuh medali keberaniannya.

"Halo, Lily," ucap Matthew pendek. Suaranya tidak lagi terdengar seperti Jenderal, melainkan seperti pria yang sedang berusaha memahami dunia anak-anak.

"Kalian berdua tampak sangat serasi," sahut kakak kedua Daisy, Julian, yang berdiri sambil merangkul istrinya. Sang istri tampak sedang hamil besar, tangannya terus mengusap perutnya yang membuncit dengan raut wajah yang sangat bahagia. "Kami dengar Glanzwald sekarang jauh lebih hidup sejak Jenderal Matthew pulang."

Daisy tersenyum tipis, meski hatinya berdenyut melihat kebahagiaan kakak iparnya. "Kami hanya mencoba menjalani protokol dengan baik, Kak Julian."

Ayah dan Ibu Daisy mendekat, menyalami Matthew dengan rasa bangga yang besar. Namun, suasana hangat keluarga itu tetap terasa canggung bagi Matthew. Ia merasa seperti orang luar yang sedang mencoba masuk ke dalam lingkaran kehangatan yang tidak pernah ia miliki di keluarganya sendiri yang kaku.

Setiap kali ada pangeran dari negara tetangga atau bangsawan muda yang mendekat untuk menyapa Daisy, tangan Matthew di pinggang Daisy akan mengencang. Ia seolah-olah ingin berteriak pada dunia bahwa wanita ini adalah miliknya, bahwa tidak ada satu pria pun yang boleh menatapnya lebih dari tiga detik.

"Anda tampak sangat tegang, Jenderal," bisik Daisy saat mereka berdiri agak jauh dari kerumunan keluarga untuk mencicipi sampanye. "Tangan Anda meremas pinggang saya terlalu kuat. Ini akan meninggalkan bekas."

Matthew mengendurkan sedikit pegangannya, tapi tetap tidak melepaskannya. "Banyak serigala di ruangan ini, Daisy. Mereka melihatmu bukan sebagai penulis lagu atau keponakan Raja, tapi sebagai berlian yang ingin mereka curi dari genggamanku."

Daisy menyesap minumannya, menatap kerumunan dengan pandangan tenang. "Mungkin karena Anda memperlakukan saya seperti barang berharga yang disimpan di brankas, Jenderal. Orang-orang jadi penasaran ingin melihat isinya."

Matthew menatap Daisy dalam-diam. Ia melihat bagaimana cahaya lampu kristal memantul di mata istrinya. Rasa haus yang ia rasakan pagi itu di bawah selimut kembali muncul. Ia ingin membawa Daisy pulang sekarang juga, mengunci pintu Glanzwald, dan memastikan tidak ada mata lain yang bisa melihat kecantikan ini.

"Aku tidak memperlakukanmu sebagai barang, Daisy," ucap Matthew dengan suara yang sangat rendah, hampir tenggelam oleh suara musik orkestra. "Aku memperlakukanmu sebagai satu-satunya hal yang membuatku merasa masih memiliki jiwa setelah pulang dari neraka perbatasan."

Daisy tertegun. Ini adalah pertama kalinya Matthew berbicara dengan nada yang begitu jujur, tanpa embel-embel protokol atau laporan militer. Namun, Daisy segera menepis rasa haru itu. Ia teringat kembali pada Maira. Apakah Matthew juga mengatakan hal yang sama pada gadis itu?

"Kata-kata Anda sangat puitis untuk seorang Jenderal," sahut Daisy dingin. "Tapi saya lebih menghargai kejujuran daripada metafora."

Malam itu, sandiwara sebagai pasangan sempurna tetap berlanjut. Matthew terus merangkul Daisy, memperkenalkan istrinya pada rekan-rekan jenderalnya dengan rasa bangga yang tidak bisa ia sembunyikan. Di depan umum, mereka adalah simbol kemegahan dan kekuatan Kerajaan.

Namun, di dalam hati Matthew, ia merasa kalah. Ia menyadari bahwa meski tangannya memegang pinggang Daisy dengan sangat kuat, hati wanita itu tetap berada ribuan mil jauhnya darinya. Dan di balik kecantikan Daisy yang mempesona seluruh tamu undangan, Matthew tahu bahwa dia sedang menggenggam mawar yang penuh dengan duri es yang siap melukainya kapan saja.

Saat acara berakhir dan mereka berjalan menuju mobil, Lily kecil melambai pada mereka dari pelukan Arthur. "Bibi Daisy, Paman Jenderal! Jangan lupa kerumahku untuk bermain denganku!"

Matthew mengangguk pelan, namun tangannya masih mendekap pinggang Daisy dengan posesif saat ia membukakan pintu mobil untuk istrinya. Di dalam kegelapan mobil yang meluncur kembali ke Glanzwald, keheningan kembali menyelimuti mereka—sebuah keheningan yang penuh dengan rasa cemburu yang belum tuntas dan kerinduan yang tak terucapkan.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!