Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Bab 15
Lorong belakang kerajaan itu tidak seperti yang dibayangkan orang-orang tentang istana. Tidak ada ukiran emas, tidak ada tirai mewah yang melambai lembut. Yang ada hanyalah dinding baja dingin, lampu putih pucat yang berkelip seperti mata yang kelelahan, dan bau logam panas yang menggantung di udara seperti kabut tipis.
Langkah kaki mereka bertiga terdengar pelan, tapi menggema panjang.
Tok.
Tok.
Tok.
Bumi berjalan di belakang, jantungnya berdetak lebih cepat dari langkah kakinya sendiri. Di depannya, Nuri dan Pam bergerak seperti bayangan yang tahu arah pulang. Pakaian pasukan yang mereka kenakan membuat mereka tampak menyatu dengan lingkungan, tapi bagi Bumi, semuanya terasa seperti menyusup ke sarang binatang buas yang sedang tidur.
Di setiap sudut lorong, dua prajurit berjaga. Wajah mereka tertutup helm, tubuh mereka kaku seperti patung.
Namun Nuri tidak melambat.
Pam tidak ragu.
Dalam satu gerakan yang hampir tidak terlihat—
“Brak!”
Satu prajurit jatuh, lehernya dipelintir.
Yang satunya belum sempat bereaksi, Pam sudah meluncur ke belakangnya, lengannya melilit, lalu—
“Klik.”
Sunyi kembali.
Bumi menelan ludah. Tangannya sempat gemetar, tapi ia tetap mengikuti.
Sesekali, ketika situasi terlalu sempit atau waktu terlalu cepat, Bumi ikut membantu. Tendangan seadanya. Pukulan yang lebih banyak panik daripada teknik.
Namun cukup.
Mereka terus maju.
“Kakak jago banget…” bisik Bumi, matanya masih terpaku pada tubuh prajurit yang tergeletak.
Nuri tidak menoleh. Ia hanya menyeka sedikit darah yang menempel di sarung tangannya.
“Makanya mereka bisa percaya aku itu Ratu mereka.”
Nada suaranya datar. Tidak sombong. Tidak juga rendah hati. Hanya… fakta.
Kalimat itu menggantung di kepala Bumi.
Ratu.
Kakaknya.
Ia masih belum bisa menyambungkan dua hal itu dalam satu logika.
Nuri berhenti di depan sebuah pintu besi besar. Permukaannya penuh goresan, seperti sudah berkali-kali menahan sesuatu yang ingin keluar… atau masuk.
Panel kode menyala redup di sampingnya.
Jari Nuri bergerak cepat.
Beep. Beep. Beep.
Klik.
Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan suara desis panjang seperti napas tua.
Di baliknya—
Sebuah ruangan raksasa.
Bumi terdiam.
Mesin-mesin menjulang tinggi seperti hutan besi. Pipa-pipa melilit ke segala arah, berdenyut dengan cahaya biru dan merah. Suara dengung rendah memenuhi ruang, seperti gumaman makhluk raksasa yang tidur di bawah lantai.
Udara di sini lebih hangat. Lebih hidup.
“Ini tempat apa?” tanya Pam, matanya menyapu setiap sudut. Rambutnya yang sedikit keluar dari balik topeng bergerak halus terkena aliran udara panas.
“Generator,” jawab Nuri sambil berjalan masuk. Tangannya meraih panel di dinding, lalu mematikan beberapa kamera pengawas satu per satu. Lampu merah kecil di sudut-sudut ruangan padam.
“Inti bumi ada di bawah sana,” lanjutnya, menunjuk ke arah lantai yang bergetar halus. “Energinya diambil, diolah… jadi listrik. Kota ini hidup dari sini. Dua puluh empat jam.”
Bumi menunduk.
Ia bisa merasakan getaran itu.
Seperti berdiri di atas jantung planet.
“Kakak udah berapa lama di sini?” tanyanya pelan.
“Setahun.”
Jawaban itu ringan.
Terlalu ringan untuk sesuatu yang terdengar begitu berat.
Bumi berhenti berjalan.
“Hah?!”
Suara itu keluar begitu saja.
Ia menatap Nuri, mencoba mencari tanda-tanda bercanda. Tapi tidak ada.
“Aku pindah ke sini pas ada maling motor…” Bumi mulai bicara cepat, seolah mencoba mengejar cerita yang tertinggal. “Kakak bisa masuk ke dunia ini pas lagi ngapain?”
Langkah Nuri melambat.
Ia berhenti.
Berbalik.
Matanya menatap Bumi dalam.
“Pas lagi lihat kamu niban maling.”
Bumi terdiam.
Kalimat itu seperti membuka pintu kenangan yang ingin ia tutup.
“Aku lihat dia mukul kepala kamu…” suara Nuri sedikit berubah. Lebih berat. “Aku mau teriak.”
Hening.
“Tapi dia nembak aku.”
Bumi mengerutkan kening.
“Nembak? Maling bawa pistol?”
“Iya.” Nuri tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana. “Aku ketembak. Dan bangun… di penjara bawah tanah tempat ini.”
Pam ikut terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, wajahnya tidak hanya waspada, tapi juga… iba.
“Awalnya aku bingung,” lanjut Nuri. “Tapi bingung itu nggak penting. Yang penting… aku harus hidup.”
Ia menoleh ke depan lagi.
“Ayo.”
Mereka masuk ke lorong lain yang lebih sempit. Ujungnya adalah sebuah lift dengan pintu baja yang dingin.
Saat pintu terbuka, mereka masuk tanpa bicara.
Lift naik.
Pelan.
Sunyi.
Hanya suara mesin yang menggeram pelan.
Bumi menatap bayangannya sendiri di dinding logam. Wajah di balik topeng itu terasa asing. Seperti bukan dirinya lagi.
Ding.
Pintu terbuka.
Angin langsung menerpa wajah mereka.
Roof top.
Langit terbuka luas. Udara malam terasa dingin, kontras dengan panas gua dan generator tadi. Di kejauhan, kota terlihat seperti lautan lampu yang berkilau.
Mereka berjalan cepat, menyeberangi jembatan sempit yang menghubungkan dua menara. Di bawah, jurang gelap menganga seperti mulut yang siap menelan siapa saja yang jatuh.
Langkah Bumi sempat goyah.
Namun ia terus maju.
Sampai akhirnya mereka tiba di menara utama.
“Ini kamar Raja Arbuck,” bisik Nuri, mengintip dari jendela.
Pam melihat sekeliling. Sepi.
“Terlalu sepi… nggak ada penjaga.”
“Karena aku tahu kalian akan datang.”
Suara itu membuat Bumi merinding.
Di dalam ruangan, seorang pria berdiri dari kursinya. Tubuhnya tegap, tapi matanya… kosong.
Raja Arbuck.
Mereka masuk lewat jendela.
Ruangan itu luas, tapi sederhana. Meja kerja besar, rak penuh dokumen, dan jendela lebar yang menghadap kota.
Nuri maju lebih dulu.
Ia menjelaskan tentang cincinnya. Tentang keinginannya kembali ke masa lalu.
Arbuck mendengarkan tanpa memotong.
“Aku tahu kamu bukan dari dunia ini,” katanya akhirnya. “Penasihat spiritualku sudah meramalkan.”
Ia tersenyum tipis.
“Seorang ratu adil akan datang.”
Ia menunjuk Nuri.
“Itu kamu.”
Bumi hampir tertawa.
Namun yang keluar hanya gumaman tak percaya.
“Mana mungkin…”
Nuri meliriknya tajam.
“Mana mungkin elu jadi penolong dunia ini?” bisiknya.
Bumi terdiam.
“Aku?” suaranya pelan.
Arbuck mengangguk.
“Setelah ratu adil, akan datang seorang pria. Penolong dunia ini.”
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
“Dia,” kata Arbuck, menunjuk Bumi.
Bumi menggeleng cepat.
Tidak.
Ini terlalu besar.
Terlalu tidak masuk akal.
Nuri hanya mengangkat bahu, seolah berkata: ya sudah, terserah.
Arbuck melepaskan cincin dari jarinya.
Gerakannya pelan.
Seperti melepas sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari dirinya.
Ia menyerahkannya pada Nuri.
“Jika kamu ingin menolong sang penolong… maka aku harus merelakanmu.”
Nuri menerima cincin itu. Tangannya sedikit gemetar.
“Pergilah,” lanjut Arbuck. “Tapi jangan sampai dunia tahu. Jika mereka tahu… maka semua akan berubah terlalu cepat.”
Ia tersenyum kecil.
“Dan diktator itu… akan runtuh.”
Nuri mengangguk. Lalu, tanpa ragu, ia mendekat dan mencium pipi Arbuck. Sebuah perpisahan yang singkat. Tapi berat.
Mereka pergi. Kembali melalui jalan belakang. Menyusuri bayangan. Menghindari cahaya. Sampai akhirnya masuk ke hutan. Pesawat kapsul itu masih menunggu. Di dalam, suasana terasa berbeda. Lebih aman. Lebih nyata.
Bumi duduk di kursi pilot dan menyalakn mesin, “Emma, bawa kita ke California.”
“Siap.”
Jet menyala. Bergetar. Getaran halus merambat ke seluruh kabin.
Pam duduk di samping, diam. Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya entah ke mana.
Bumi menoleh ke Nuri.
“Jadi… kakak yang ngasih energi inti bumi ke alien?”
Nuri mengangguk.
“Dan… nolong masyarakat?”
Anggukan lagi.
Bumi tersenyum kecil. Kagum. Bangga. Bingung. Semua bercampur jadi satu.
“Gimana ceritanya, Kak?”
Nuri bersandar di kursinya. Menatap langit yang mulai menjauh di balik kaca. Senyumnya tipis. Sedikit pahit.
“Kamu pasti nggak akan percaya,” Nuri tersenyum sinis, mengingat kejadian masa setahun yang lalu yang mengerikan, namun berhasil ia lewati.