NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Duke...

Kepala Christina mendengung hebat, seolah ada ribuan lebah yang bersarang di dalam tengkoraknya. Di tengah rasa sakit itu, sebuah nama muncul dengan jelas, memaksa bibirnya yang gemetar untuk mengucapkannya.

"Sybilla... Davenport."

Itu bukan namanya. Atau setidaknya, bukan nama yang ia kenal sebagai Christina. Gelombang memori baru itu menancap kuat, memberitahunya bahwa ia kini adalah Sybilla Davenport, putri tunggal dari Count Felix Davenport dan Lady Diana Davenport, bangsawan terhormat dari Wilayah Aethelgard, sebuah negeri pegunungan yang terkenal dengan tambang kristal birunya yang abadi dan kabut perak yang tak pernah hilang dari lembah-lembahnya.

Ingatan itu terus mengalir, membawa serta beban takdir yang telah direncanakan sejak sebelum ia bisa berjalan. Sejak usia empat tahun, Sybilla telah dijodohkan dengan Duke Cyprian Mendelssohn, penguasa Kepulauan Skyrosia.

Skyrosia bukanlah wilayah biasa. Dalam peta dunia ini, Skyrosia adalah gugusan pulau yang melayang di angkasa, terikat pada bumi hanya oleh rantai raksasa berbahan logam kuno yang disebut Adamant. Wilayah kekuasaan Cyprian yang unik itu terkenal dengan angin abadi yang menggerakkan kincir-kincir raksasa penghasil energi, serta kuda-kuda bersayap yang menjadi tunggangan utama para kesatrianya.

Sejak kecil, Sybilla dididik dengan keras dan tanpa ampun. Tidak ada waktu untuk bermain boneka atau berlarian di taman. Ia diajarkan etiket istana yang rumit, seni meracik racun dan penawar, strategi politik, hingga cara berbicara dengan nada yang tepat untuk meluluhkan hati seorang Duke yang berkuasa. Semua itu demi satu tujuan: menjadi Duchess Skyrosia yang sempurna.

Kini, usianya baru genap 14 tahun. Tubuhnya masih muda, rapuh, dan belum siap menghadapi beratnya mahkota duchess. Namun, berita yang baru saja menyusup ke dalam memorinya membuat darah Sybilla (atau jiwa Christina di dalamnya) berdesir cemas.

Duke Cyprian Mendelssohn, yang kini berusia 27 tahun, telah pulang.

Ia baru saja kembali dari Medan Perang Kegelapan di Perbatasan Bawah, sebuah konflik berdarah yang telah berlangsung selama lima tahun melawan makhluk-makhluk dari dimensi lain. Cyprian pulang sebagai pahlawan perang, penuh dengan luka scars dan reputasi yang menakutkan. Dan menurut tradisi yang kejam di dunia ini, pernikahan mereka akan segera dilaksanakan begitu sang Duke menginjakkan kaki di tanah daratan.

Sybilla menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Mata ungu itu tampak ketakutan, namun wajah itu memaksakan topeng ketenangan yang telah dilatih selama sepuluh tahun terakhir.

"Ia sudah pulang," bisik Sybilla, suaranya bergetar. "Dan aku harus siap menjadi istrinya."

Di luar kamar, suara lonceng istana mulai berbunyi, menandakan kedatangan rombongan Duke dari pelabuhan udara. Waktu bagi Sybilla Davenport untuk berpura-pura telah habis. Kini ia harus menghadapi nasibnya, dengan jiwa Christina yang terjebak di dalamnya.

Tiba-tiba, pintu kamar itu terbuka dengan lembut. Seorang pelayan wanita paruh baya masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi teh dan handuk hangat. Wajahnya penuh kekhawatiran.

"Selamat pagi, My Lady," sapa pelayan itu dengan suara berbisik, membungkuk hormat. "Duke telah kembali pagi ini. Namun, Anda tidak perlu repot-repot menyambutnya di ruang utama. Marchioness Ganesha sudah memberi tahu kami bahwa Anda sedang dalam keadaan tidak sehat dan perlu istirahat total."

Mendengar kata 'Duke', jiwa Christina di dalam tubuh Sybilla bergetar hebat.

Memori asli Sybilla membanjiri pikirannya seperti air bah yang dingin. Ia teringat jelas apa yang terjadi kemarin sore. Tekanan batin yang tak tertahankan, ketakutan mendalam menghadapi Duke Cyprian yang dingin dan tak pernah sekalipun menunjukkan kehangatan padanya selama bertahun-tahun, serta rasa putus asa karena merasa hanya dianggap sebagai alat politik, mendorong Sybilla asli untuk melakukan tindakan nekat. Ia lari ke taman istana dan menceburkan diri ke danau yang beku, berniat mengakhiri hidupnya.

Mungkin begitulah alasan kupu-kupu magis itu datang. Sosok cahaya merah-biru tersebut sepertinya mencari pengganti untuk mengisi kembali rongga jiwa Sybilla yang telah kosong akibat kematian tragisnya. Entah mengapa, takdir memilih Christina, seorang gadis dari dimensi lain dengan latar waktu yang jauh berbeda, untuk mengisi kekosongan itu.

Panik melanda Christina. Insting pertamanya adalah lari. Ia mundur selangkah, lalu berbalik dan segera berlari keluar kamar, meninggalkan pelayan yang terkejut.

"My Lady! Tunggu!" seru pelayan itu, namun Sybilla sudah melesat keluar.

Pelayan itu gemetar. Ia tahu kondisi mental My Lady sedang sangat rapuh. Melihat Sybilla lari dengan wajah pucat pasi, sang pelayan langsung berpikir buruk. Apakah My Lady tidak terima dirinya masih hidup? Apakah ia akan mencoba bunuh diri lagi?

Kaki mungil Sybilla berlarian cepat di sepanjang koridor istana yang megah. Lantai marmer yang dingin terasa menyengat telapak kakinya yang hanya dibalut kaos kaki tipis. Napasnya tersengal-sengal. Saat sampai di pertigaan koridor, ia berbelok tajam ke kiri tanpa melihat sekeliling.

Bruk!

Ia menabrak keras sebuah tubuh yang tegap dan kokoh bagai tembok batu.

Tubuh rapuh Sybilla terpental ke belakang, lalu terjerembab jatuh ke lantai dengan suara gedebuk yang menyakitkan. Gaun tidur sutra tipis yang ia kenakan tersingkap akibat jatuh tersebut, menampakkan betis dan pahanya yang seputih porselen, kulit yang jarang tersentuh sinar matahari langsung.

"Awgh..." erangnya pelan. Ia meringis, menatap tangannya yang memerah dan sedikit tergores akibat gesekan dengan lantai kasar.

Perlahan, dengan jantung berdegup kencang, Sybilla mendongak. Air matanya tiba-tiba menggenang, siap tumpah.

Di hadapannya, berdiri sosok yang membuat darahnya membeku. Seorang pria tinggi menjulang, dengan bahu bidang dan postur tubuh yang memancarkan aura kekuasaan mutlak. Tatapan mata emasnya yang dingin dan tajam menatap Sybilla tanpa sedikit pun ekspresi di wajahnya yang sangat tampan namun menakutkan.

Mata berwarna keemasan itu perlahan meneliti penampilan Sybilla yang jauh dari kata sopan. Rambut perak yang acak-acakan, gaun tidur yang berantakan, dan kaki telanjang yang terekspos di tengah koridor umum.

Ya... itu dia. Duke Cyprian Mendelssohn.

Pria dengan mata emas langka yang dikabarkan bisa melihat kebohongan seseorang, rambut perak indah yang dipotong rapi militer, dan tubuh kekar yang dipenuhi luka-luka perang yang justru membuatnya semakin mengerikan di mata Sybilla asli maupun Christina. Kehadirannya begitu mendominasi, seolah udara di koridor itu habis tersedot oleh gravitasinya.

Sybilla merasa pusing luar biasa, dunia berputar di sekitarnya, tapi ia berusaha memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Kakinya gemetar hebat.

Pelayan yang tadi mengejarnya akhirnya tiba, napasnya tersengal. Wanita itu terkejut bukan main saat melihat siapa yang dihadapi Sybilla. Wajahnya langsung pucat pasi, lebih merinding melihat penampilan tidak pantas My Lady-nya di hadapan sang Duke.

Tanpa ragu, pelayan itu langsung berlutut di hadapan Duke Cyprian, menempelkan dahinya ke lantai.

"Ampun, Your Grace! Ampun!" ratapnya ketakutan. "Hamba bersalah tidak menjaga My Lady dengan baik!"

Segera setelah meminta ampun, pelayan itu bangkit dan membantu Sybilla berdiri, memapah tubuh rapuh yang hampir roboh kembali itu.

Cyprian tidak segera berbicara. Ia hanya menatap Sybilla dalam-dalam dengan mata emasnya yang sulit ditebak. Hening yang mencekam meliputi koridor tersebut selama beberapa detik yang terasa seperti abadi.

Akhirnya, suara bariton yang dalam dan dingin terdengar, memecah keheningan.

"Aku kemari untuk menengokmu, Lady Sybilla," ucap Cyprian datar, tanpa nada marah namun juga tanpa kehangatan. "Marchioness bilang kau sedang tidak baik-baik saja pasca... insiden di danau."

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

1
❄Snow white❄IG@titaputri98
Semangat Thor😍😍😍
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!