NovelToon NovelToon
Petualangan Suketi

Petualangan Suketi

Status: sedang berlangsung
Genre:Antagonis Jahat / Era Kolonial / Komedi / Nyai / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:59.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Karma tidak pernah salah alamat.

Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.

Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.

Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?

Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Tan Ai Rou

"Kau lebih kejam dari yang kukira, Raden Ayu." Dia mengecup bahu Kusumawati. "Aku semakin menyukaimu. Aku suka perempuan yang kuat, kejam."

‘Menyukaiku karena aku kejam?’

Alis Kusumawati berkerut dalam.

‘Pria ini benar-benar tidak waras.’

Tapi pikiran Kusumawati sudah berputar ke tempat lain.

Lim Ah Toy bukan nama aslinya.

Perempuan itu Tan Ai Rou, tidak mungkin hanya menjual dan angkat tangan.

Dia sudah kaya. Lima ratus gulden tidak ada apa-apanya dibanding nilai rumah bordil itu.

Jelas sekali tujuan utamanya adalah balas dendam.

Dan pasti ada musuh-musuhku yang berkomplot dengannya.

Kusumawati mengangguk pelan. Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.

Semalam. Pria-pria yang mengejarnya saat dia mencoba kabur. Yang menyeretnya ke gang gelap. Yang nyaris memperkosanya.

‘Pasti anak buahnya.’

‘Mereka bukan kebetulan lewat.’

‘Mereka sengaja ditempatkan di sana.’

‘Untuk memastikan aku tidak kabur. Atau kalau kabur ….’

Kusumawati merasakan bulu kuduknya berdiri.

Kalau Jan Coen tidak datang ...

"Kulitmu dingin, Sayang."

Bisikan dengan napas panas itu membuyarkan lamunan Kusumawati.

Perempuan itu mengerjap.

Baru menyadari bahwa dua kancing kebayanya sudah terbuka. Tangan besar Jan Coen yang hangat menyelinap ke dalam, menempel di lekuk kulitnya yang dingin.

"Kau memikirkan apa?" Bibir Jan Coen bergerak di lehernya. "Sampai tidak sadar aku membuka bajumu?"

Kusumawati menunduk. Menatap tangan yang sekarang membuka kancing yang lain.

"Kau." Suaranya keluar serak. "Kita di jalan."

"Lalu?"

"Orang-orang bisa melihat."

"Biar saja." Kancing ketiga terbuka. "Anggap saja pemandangan gratis."

Kusumawati menepis tangan Jan Coen dengan gerakan kasar.

"Cukup."

Jari-jarinya bergerak cepat, mengancingkan kembali kebayanya satu per satu. Bibirnya menggerutu pelan.

"Aku tadi sudah menceritakan apa yang kau minta. Sekarang penuhi janjimu, lepaskan aku."

Tapi bukannya melepaskan, lengan Jan Coen justru semakin erat melingkar di pinggangnya. Tidak membiarkan Kusumawati kembali ke tempat duduknya sendiri.

"Jan?"

Mata Kusumawati melotot.

"Hm?"

Jan Coen justru menggesek-gesekkan janggutnya ke leher Kusumawati.

"Lepaskan!"

Kusumawati mendorong kepala Jan Coen dengan kesal.

"Tidak mau."

Kepala Jan Coen tegak. Matanya yang tadi santai sekarang berkabut. Wajahnya mendekat ke wajah Kusumawati.

Kusumawati memundurkan wajah.

"Mendekatlah, aku sudah merindukan bibirmu yang cerewet."

Jan Coen berbisik, napas hangat menyapu wajah Kusumawati. Aroma cerutu samar tercium.

"Kau ini tinggal di hutan terlalu lama." Kusumawati berkata dengan nada tajam. "Itu sebabnya kelakuanmu seperti binatang. Terus birahi. Kau terlalu banyak makan apa?"

Jan Coen mengerjap. Tidak tersinggung sama sekali. Tapi dahinya berkerut.

"Kau benar juga." Dia tampak bingung sendiri. "Bersamamu aku seperti selalu ingin bercinta setiap waktu. Apa mungkin …," dia berhenti, menatap Kusumawati dengan ekspresi yang aneh, "seperti ini rasanya orang yang sedang jatuh cinta? Terus birahi? Aku belum pernah seperti ini dengan perempuan."

Kusumawati menghela napas panjang. “Orang jatuh cinta tidak seperti itu. Hanya terus memikirkan. Kau pasti salah makan.”

"Aku tidak makan yang aneh-aneh," Jan Coen mencoba mengingat-ingat. "Aku makan makanan manusia. Tidak seperti di hutan—kadang makan daging mentah, buah hutan, akar-akaran. Tapi entah mengapa, denganmu aku terus seperti ini ...."

Di bawah pantatnya, Kusumawati bisa merasakan sesuatu yang kembali menegang.

‘Baru saja tadi pagi dipuaskan. Dan sekarang sudah ….’

Dahinya berkerut.

‘Apa mungkin ini juga ulah Ai Rou?’

‘Aku diberikan kepada singa besar yang dibuat terus birahi.’

Kusumawati semakin yakin di sekitarnya pasti ada orang-orang Ai Rou. Mengawasi. Memastikan dia tidak kabur, terus dijadikan budak nafsu.

Dan pria ini, yang sekarang menatapnya dengan mata berkabut.

‘Sungguh tidak wajar birahinya.’

"Keti."

Suara Jan Coen yang serak membuyarkan lamunannya.

"Apa?"

"Aku memanggilmu Keti saja." Dia tersenyum. "Mirip Katrijn. Nama Belanda. Lebih mudah di lidah."

“Terserah kau, asal jangan memanggil nama asliku.”

"Keti ...," Jan Coen berbisik lagi, matanya sudah berkabut parah, suaranya parau, "kita ke tempat sepi sebentar. Aku sudah tidak tahan lagi."

Kusumawati menatapnya tidak percaya.

"Atau kau mau di jalanan ramai?" Dia mengedikkan dagu ke jendela kereta. "Aku tidak keberatan. Kita bisa menutupkan tirai. Sensasinya pasti akan lebih nikmat dengan kereta yang bergoyang."

PLAK.

Kusumawati menepuk kesal dahi Jan Coen.

Mata pria itu melebar.

Tapi tidak marah. Justru terkekeh.

“Kau satu-satunya perempuan yang berani memukulku.”

"Cuci kepalamu itu." Kusumawati mendesis. "Biar dingin sedikit. Celupkan ke air kali kalau perlu."

Jan Coen terkekeh lebih keras.

"Sebentar saja, Keti. Kumohon." Tangannya mengelus pinggang Kusumawati. Bibirnya berbicara di balik tengkuk Kusumawati. "Aku tidak akan membuatnya lama. Janji."

"'Sebentar' versimu berbeda dengan 'sebentar' orang biasa."

"Maksudnya?" Jan Coen kembali menegakkan kepala, menatap gemas wanitanya.

"Kau lama selesainya." Kusumawati mendelik. "Jauh lebih lama dari suamiku dulu. Kakiku yang tadi pegal belum hilang, sekarang kau sudah mau lagi?"

“Aku anggap itu pujian. Aku memang tahan lama.”

Tiba-tiba tangan Jan Coen bergerak cepat. Memiting dua pergelangan tangan Kusumawati. Menariknya ke belakang, mengunci di punggung.

Kusumawati menegang. “Lepas. Kau mau apa?”

Jan Coen tidak menjawab, tapi sorot matanya seperti orang mabuk. Jakunnya naik turun dengan berat.

Dia mencoba meronta, menarik tangannya. Tapi tidak bisa bergerak sama sekali. Seperti diikat dengan rantai besi.

Pergelangan tangannya mulai terasa sakit.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu pria ini, Kusumawati merasa takut.

Jan Coen menatapnya dengan mata biru yang menggelap. Napasnya panas menerpa.

"Aku bisa saja memaksakan kehendakku." Suaranya rendah. Berbahaya. "Kau tahu itu."

Kusumawati tidak menjawab. Jantungnya berdegup kencang. Susah payah ia menelan ludah.

"Tapi aku tidak akan melakukannya." Cengkeraman di pergelangan tangannya mengendur sedikit. "Kau milikku yang tersayang. Aku tidak mau menyakitimu."

Dia mencondongkan wajah, bibir menyentuh telinga Kusumawati. Napasn panasya menderu di telinga Kusumawati yang dingin.

"Jadi ... turuti saja permintaanku. Dengan sukarela. Nikmati prosesnya. Dan aku akan memperlakukanmu seperti ratu."

Kusumawati menelan ludah.

‘Pilihan macam apa ini?’

‘Dipaksa atau menurut "dengan sukarela"?’

‘Sama saja!’

Tapi cengkeraman di tangannya mengingatkan satu hal yang sudah dia lupakan sejak tadi.

Jan Coen bukan pedagang. Bukan pejabat sipil yang bisa diajak berdebat.

Dia perwira. Terlatih untuk membunuh.

Dan Kusumawati, seorang Raden Ayu yang selama ini dilindungi pelayan dan pengawal, tidak punya kekuatan fisik untuk melawannya.

‘Tidak sekarang.’

‘Nanti. Saat dia lengah. Saat ada kesempatan.’

"Baiklah."

Suaranya keluar pelan. Menyerah.

Cengkeraman di tangannya langsung terlepas. Membawa dua tangan Kusumawati ke bibirnya. Mengecup lembut.

Jan Coen tersenyum lebar.

"Tapi," Kusumawati mengangkat dagu, "di penginapan. Bukan di pinggir jalan. Aku tidak mau digagahi seperti pelacur murahan di semak-semak."

Jan Coen tampak berpikir sejenak.

Lalu mengangguk.

"Baiklah. Penginapan." Dia mengetuk dinding kereta dua kali dan berteriak, "Kusir! Cari penginapan terdekat!"

"Baik, Tuan!"

Kereta berbelok. Kusumawati menghela napas panjang.

‘Hari ini akan sangat panjang.’

1
Astuti Puspitasari
Arjo lebih muda dan ga ada yang nyetir keputusannya, ga ada yang korup juga di belakangnya. Ga kaya bupati lama yang hanya wayang, ga bisa menentukan kebijakannya sendiri, bahkan hidupnya pun ditentukan ibunya /Grievance/
Muhammad Arifin
keti gak tau...klw anak ai rou,jatuh cinta sama putri residen.jd dech PDKT ma bapaknya 😁😁😁
Ricis
subjektif ya keti, biar anak musuh jg klo bagus ya bilang bagus.
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
ʟᴀɴɢɪᴛ ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©§͜¢•🦢🍒
Semakin kesini semakin seru ndoro
RJN
Keti mengira kalo anaknyaa benar2 membencinya... 🥺🥺
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhhh kan meski putra dr org lain tp lisht haslinya
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Ario Umbaran
Padahal si bupati putra ai rou itu lg patah hati cintanya ditolak anak residen..

Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
Zia Zee
Ndorooo.. aku padamu 😭😭😭
maturnuwun uda update🙏
Haniza Putri
jadi kngen arjo ama Agnes
Elsker
kandang macan jadi rumah yang nyaman yah nyai Keti
Elsker
arjo mmg lebih cekatan..apalagi udah ada something ama residennya 🤣🤣🤣
Kustri
jan coe betul
keti memuji anak tiri'a🤭🤭🤭jd malu

arjo blm up lg... kangen ulah'a yg bikin senyum"😊
Fetri Diani
akhir nya gusti ayu menemukan cinta sejati... selamat ya ndoro... semoga samawa.. bahagia selama lama nyaa.... 💃💃.. amin🙏😄
Astuti Puspitasari
Semangat beberesnya keti 😍
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
yg sebelumnya menjadi tokoh
antagonis di tumbuh kan menjadi tokoh yang bgtu penting di kisah baru
uniq sekalii ndoro Kusumawati
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
ayoo semangat berbenah nyonyah keti
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu bukan rumah menurut keti ,jan
pastii mirip kandang kudaa
🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
kenapa kau begtu mempesona keti
kau wanita terkuat yg pernah di temukan ,
🤧🤧
Fitriatul Laili
singa betina mulai mengaum🤣
RJN
gak usah bingung2 Jan. biarlah nyonya rumah berkuasa didalam rumah. biar nyonya rumah merasa nyaman dan betah tinggal disitu... walaupun para jongos dan kamu pasti bakalan lebih repot... 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!