NovelToon NovelToon
Skenario Semesta Di Jari Manis

Skenario Semesta Di Jari Manis

Status: tamat
Genre:Slice of Life / CEO / Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
​Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
​Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Selamat Bertambah Usia (Secara Biologis)

​Tanggal 14 Oktober.

​Bagi Naya, ini adalah hari keramat. Hari di mana dia resmi bertambah tua satu tahun. Biasanya, di jam 00.00 tepat, ponselnya akan berdering nyaring oleh telepon dari sahabat-sahabatnya, atau setidaknya Oma Ratih yang mengirim stiker WhatsApp gambar kue tart yang berkedip-kedip norak.

​Tahun ini pun sama. Ponselnya banjir notifikasi.

​Tapi Naya menunggu satu notifikasi spesifik. Atau lebih tepatnya, satu ucapan langsung dari pria yang sedang tidur memunggungi dia di sisi lain kasur King Size itu.

​Naya melirik Dhandy. Pria itu masih terlelap, napasnya teratur.

​"Pura-pura tidur apa lupa beneran sih?" gumam Naya kesal.

​Naya sengaja berdeham keras. "Ehem!"

​Tidak ada reaksi.

​Naya menendang selimut agak kasar.

​Dhandy bergerak sedikit, lalu membuka matanya. Dia melirik jam digital. Pukul 05.30.

​"Kenapa kamu gelisah sekali? Ada nyamuk?" suara Dhandy serak khas bangun tidur, yang—sialnya—terdengar seksi di telinga Naya.

​"Nggak ada nyamuk," jawab Naya ketus. "Cuma lagi nunggu... sesuatu."

​"Nunggu apa? Paket? Kurir tidak datang jam setengah enam pagi, Naya." Dhandy bangun, duduk di tepi kasur, meregangkan otot lehernya. Dia berjalan gontai menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi.

​Naya melongo.

​Dia beneran lupa. Fix. Dia nggak inget tanggal lahir istri sendiri.

​"Dasar robot karatan! Di KTP gue kan ada tanggal lahirnya! Pas akad nikah juga disebutin!" Naya memukul bantal Dhandy dengan gemas.

​Pagi itu berlangsung dengan sangat menyedihkan bagi Naya.

​Dhandy bersikap seperti hari-hari biasa. Dia minum espresso-nya, membaca berita saham, dan mengomentari sedikit tentang cuaca.

​"Mas," panggil Naya saat Dhandy sedang membenarkan dasinya di depan cermin.

​"Ya?"

​"Mas tau nggak hari ini tanggal berapa?" pancing Naya.

​Dhandy melirik jam tangannya. "14 Oktober."

​"Nah! Terus? Ada yang spesial nggak?" mata Naya berbinar penuh harap.

​Dhandy berpikir sejenak, keningnya berkerut serius. "Hmm. 14 Oktober... Ah, iya. Batas akhir pelaporan pajak PPh Pasal 21 masa September. Terima kasih sudah mengingatkan. Saya harus cek bagian finance."

​Naya merasa ada batu besar yang dijatuhkan tepat di kepalanya. Pajak?! Dia inget pajak tapi nggak inget ulang tahun gue?!

​"Iya, Mas. Pajak emang paling penting sedunia. Selamat merayakan hari pajak!" seru Naya sarkas, lalu berbalik badan dan membanting pintu kamar mandi.

​Dhandy menatap pintu yang tertutup itu dengan bingung. "Kenapa dia marah? Pajak memang kewajiban warga negara yang baik, kan?"

​Dhandy menggelengkan kepala, mengambil tas kerjanya, dan berangkat ke kantor. Meninggalkan Naya yang menangis bombay di bawah shower.

​Sepanjang hari, Naya menghabiskan waktu dengan mengasihani diri sendiri.

​Dia menolak tawaran makan siang dari teman-temannya dengan alasan "sakit perut" (padahal sakit hati). Dia menghabiskan waktu dengan menggambar ilustrasi sedih: seekor kelinci yang memegang kue ulang tahun sendirian di tengah hujan.

​"Nasib... nasib..." Naya menyendok es krim bucket langsung dari tempatnya sambil duduk di sofa ruang tamu. "Punya suami kaya raya, ganteng, tapi peka-nya minus seribu."

​Sore harinya, sekitar pukul 19.00, Dhandy pulang.

​Naya masih dalam mode "ngambek silent treatment". Dia duduk membelakangi pintu masuk, pura-pura sibuk menonton TV yang menampilkan acara flora dan fauna.

​"Saya pulang," ucap Dhandy.

​Naya tidak menjawab.

​Dhandy mendekat. Dia melihat Naya yang cemberut, toples keripik yang kosong, dan aura mendung yang pekat.

​"Kamu kenapa? Sakit lagi?" tanya Dhandy, nadanya sedikit khawatir.

​"Nggak," jawab Naya pendek.

​"Terus kenapa mukanya ditekuk begitu? Seperti baju belum disetrika."

​"Mas nggak usah peduliin saya. Urusin aja tuh pajak Mas!" sembur Naya, lalu berdiri hendak kabur ke kamar.

​Namun, tangan Dhandy menahan lengannya.

​"Ikut saya," kata Dhandy.

​"Ke mana? Saya ngantuk!"

​"Sebentar saja. Jangan membantah."

​Dhandy menarik Naya (dengan lembut) menuju lorong apartemen. Bukan ke kamar utama, tapi ke arah kamar ketiga. Kamar yang selama ini tertutup rapat dan Dhandy bilang itu adalah "Gudang Arsip" yang tidak boleh dimasuki Naya.

​Dhandy berhenti di depan pintu itu. Dia merogoh saku, mengeluarkan kunci.

​"Buka," perintah Dhandy pada Naya.

​Naya menatap pintu itu curiga. "Mas mau ngurung saya di gudang karena saya ngambek?"

​"Imajinasimu terlalu liar. Buka saja."

​Dengan ragu, Naya memutar kunci dan membuka pintu.

​Gelap.

​"Saklarnya di kanan," instruksi Dhandy.

​Naya meraba dinding, menemukan saklar, dan menekannya.

​Klik.

​Lampu menyala. Dan Naya ternganga.

​Ruangan itu bukan gudang arsip. Sama sekali bukan.

​Ruangan itu telah disulap menjadi Studio Lukis impian.

​Lantainya dilapisi parket kayu yang hangat (bukan marmer dingin). Di tengah ruangan berdiri sebuah easel (penyangga kanvas) kayu jati yang kokoh. Di sudut ruangan, terdapat meja kerja drafting table yang bisa diatur kemiringannya, lengkap dengan lampu belajar architect lamp yang estetik.

​Dan yang membuat Naya hampir menangis: Ada rak dinding besar yang penuh dengan art supplies. Cat akrilik merek Winsor & Newton (yang mahal banget), set kuas berbagai ukuran, kertas watercolor tebal, dan kanvas-kanvas kosong yang siap dilukis.

​"Ini..." suara Naya tercekat. "Ini apa, Mas?"

​"Ruang kerja kamu," jawab Dhandy datar, berdiri di belakang Naya dengan tangan di saku celana. "Saya perhatikan kamu sering menggambar di karpet ruang tamu atau di meja makan. Itu buruk untuk postur tulang belakang. Nanti kamu bungkuk di usia 40."

​"Jadi... Mas nyiapin ini?"

​"Saya juga lelah melihat ceceran penghapus karet di meja makan saya. Jadi, saya buatkan zona khusus. Di sini ada air purifier khusus untuk menyedot bau cat minyak, jadi tidak akan menyebar ke ruangan lain. Lantainya juga sudah dilapisi coating anti-noda. Kamu boleh menumpahkan cat di sini sepuasnya tanpa saya omeli."

​Naya berbalik menatap Dhandy. Matanya berkaca-kaca. Alasan Dhandy memang terdengar pragmatis dan "pelit kebersihan", tapi Naya tahu butuh usaha besar untuk menyiapkannya.

​"Kapan Mas bikin ini? Katanya ini gudang arsip?"

​"Sudah dicicil sejak seminggu lalu. Kuncinya saya pegang supaya kamu tidak mengintip sebelum selesai."

​Dhandy kemudian melangkah masuk, mengambil sebuah kotak kecil dari atas meja drafting. Bukan kotak perhiasan. Tapi kotak gadget.

​"Dan ini," Dhandy menyerahkannya pada Naya. "iPad Pro terbaru dengan Apple Pencil. Saya lihat tablet gambar kamu yang lama layarnya sudah retak dan sering lag. Itu tidak efisien untuk workflow pekerjaan kamu."

​Naya menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Ini adalah alat tempur impian setiap ilustrator.

​"Mas..." air mata Naya akhirnya tumpah. "Mas tau hari ini ulang tahun saya?"

​Dhandy mengangkat alis, seolah pertanyaan itu bodoh.

​"Tentu saja saya tahu. Saya menghapal data pribadi istri saya di luar kepala. Kanaya Larasati, lahir di Bandung, 14 Oktober, pukul 09.15 pagi, berat lahir 3,2 kg."

​"Terus kenapa tadi pagi diem aja?!" Naya memukul dada Dhandy sambil menangis. "Saya pikir Mas lupa! Saya sedih tau!"

​"Saya tidak lupa. Saya hanya menunggu momen yang tepat. Memberikan hadiah di pagi hari saat kita buru-buru itu tidak hikmat," jawab Dhandy santai, membiarkan dirinya dipukuli pelan oleh istri kecilnya.

​"Jahat! Mas jahat!" Naya terisak, tapi kemudian dia memeluk Dhandy erat-erat. "Makasih... makasih banget. Ini kado terbaik yang pernah saya dapet."

​Dhandy kaku sejenak, lalu perlahan tangannya naik, menepuk-nepuk punggung Naya dengan kaku.

​"Selamat bertambah usia secara biologis, Naya," ucap Dhandy. Ucapan ulang tahun paling tidak romantis sedunia. "Semoga... um... semoga tingkat kedewasaan kamu juga bertambah seiring bertambahnya umur. Dan semoga kamu sehat terus, supaya tidak merepotkan saya dengan bubur ayam tengah malam."

​Naya tertawa di sela tangisnya. Dia mendongak, menatap wajah Dhandy yang mencoba terlihat cool.

​"Mas nggak bisa ya bilang 'I love you' atau apa gitu?"

​"Itu melanggar kontrak Pasal Pamungkas," Dhandy mengingatkan.

​"Oh iya. Lupa," Naya nyengir, menghapus air matanya. "Tapi studio ini boleh saya pakai selamanya?"

​"Selama kamu masih jadi istri saya, ya. Itu fasilitas tunjangan istri."

​"Oke. Saya bakal jadi istri Mas selamanya kalau gitu. Demi studio gratis," canda Naya.

​Dhandy terdiam mendengar kata "selamanya". Ada desiran hangat di dadanya.

​"Ayo keluar. Ada satu hal lagi," ajak Dhandy.

​"Apa lagi? Mobil baru?"

​"Bukan. Makanan."

​Mereka kembali ke ruang makan. Di atas meja, sudah tersedia sebuah kue.

​Bukan kue tart besar bertingkat. Hanya sebuah Petite Gateau (kue kecil perorangan) dari patisserie paling mahal di Jakarta. Kue cokelat mousse yang mengkilap (mirror glaze), dengan hiasan emas yang bisa dimakan (edible gold).

​Ada satu lilin kecil menyala di atasnya.

​"Tiup," perintah Dhandy.

​Naya memejamkan mata, memanjatkan doa dalam hati.

'Tuhan, makasih buat studio ini. Makasih buat Mas Dhandy yang aneh tapi baik ini. Tolong jagain hati saya supaya nggak baper... eh, kayaknya udah telat deh. Ya udah, jagain aja supaya Mas Dhandy juga baper sama saya.'

​Fuuuh.

​Lilin padam.

​"Potong kuenya. Itu cokelat Valrhona. Kandungan kakaonya 70%. Bagus buat antioksidan," Dhandy menjelaskan spesifikasi kue layaknya sales.

​Naya memotong kue itu, menyuapkan potongan pertama ke Dhandy.

​Dhandy mundur. "Saya tidak makan manis malam-malam."

​"Aaa! Sekali aja! Kan ulang tahun istri!" paksa Naya.

​Dhandy menghela napas, lalu membuka mulutnya sedikit. Menerima suapan itu.

​"Enak?"

​"Manis," komentar Dhandy singkat.

​"Mas," Naya menatap Dhandy serius. "Makasih ya. Hari ini dari zonk banget jadi hari terbaik."

​"Sama-sama. Sekarang, habiskan kuemu. Besok kamu harus mulai bekerja di studio baru. Saya mau lihat hasil investasi saya. Saya mau kamu menggambar sesuatu buat saya."

​"Mas mau digambarin apa? Potret diri Mas yang ganteng?"

​"Bukan," Dhandy menunjuk dinding ruang tamu yang kosong dan polos. "Saya butuh lukisan abstrak besar untuk menutupi dinding itu. Daripada saya beli lukisan mahal yang saya tidak paham artinya, mending kamu yang buat. Temanya: 'Ketertiban dalam Kekacauan'."

​Naya tertawa. "Itu mah tema rumah tangga kita, Mas!"

​Dhandy tersenyum tipis. Sangat tipis. "Mungkin."

​Malam itu, Naya menghabiskan waktu di studio barunya, mencoba semua cat dan kuas. Dhandy duduk di kursi drafting, membaca buku sambil sesekali melirik Naya yang belepotan cat di wajahnya (untung studionya anti noda).

​Dhandy sadar, dia baru saja melanggar satu prinsip efisiensi keuangannya: Mengeluarkan uang banyak untuk sesuatu yang tidak menghasilkan profit langsung.

​Tapi melihat senyum Naya yang merekah lebar malam ini... Dhandy merasa Return on Investment (ROI)-nya sudah terbayar lunas.

...****************...

Bersambung.....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Alissia
ngakak bacanya nay🤣🤣🤣🤣
destiana
ceritanya bagus banget
destiana
lucu banget sih lu nay🤣🤣🤣🤣
Vera Ellen
👍
Septi Lahat
ceritanya indah,,Terima kasih tuk karya nya kak thor,, sukses terus selanjutnya😍😍😍
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
lumayan seru🙂
Riana Zahrah
suka bgt yang gak bertele-tele gini, semoga hidup mu juga gak bertele-tele ya penulis.
ms. S
ceritanya simpel tapi mengena bgt, suasana mendukung bikin suasana hati yg mengggeltik di tiap adegan. suka karena episode nya sedikit tapi bagus bgt. good job. semoga novel ini byk yg baca setelah ini
Pappan Boquet
intinya w suka ceritanya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!