Menyandang status duda diusianya yang masih sangat muda adalah hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Abrisam Xander Rahadian.
Hatinya telah membeku dan tidak berniat ingin mencari pendamping ataupun sosok ibu untuk putranya semenjak ia merasa dikecewakan dan sakit hati oleh mantan istrinya yang begitu tega meninggalkannya terutama putranya yang usianya belum genap satu tahun yang masih sangat membutuhkannya.
Ingin tau lebih lanjut cerita tentang Abrisam Xander??? Ikuti ceritanya yuk!!🙏😊😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 13
"Tadi pagi Alan melihatmu tidur dilantai saat menjemputmu dan ingin mengajakmu berangkat kesekolah bersama!" Jawab Abrisam sambil menatap Zefanya.
"Hah? Aku tidak ingat! Yang aku ingat tadi pagi setelah mandi aku ingin mengambil roti untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah, kemudian semuanya gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi!" Ucap Zefanya menceritakan kejadian sebelum ia pingsan.
Abrisam hanya diam mendengarkan dan terus menatap Zefanya.
"Ehm..ini jam berapa?" Tanya Zefanya kepada Abrisam.
"Jam lima lebih sebelas menit!" Jawab Abrisam sambil melihat jam tangan mahalnya yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
"Hah?? Selama itu kah aku tidur?" Zefanya terkejut.
"Hmm!" Jawab singkat Abrisam masih sambil menatap Zefanya.
"Apa kalian dari tadi juga menungguku disini?" Tanya Zefanya kembali dengan perasaan yang tidak enak kemudian mengigit bibir bawahnya.
"Ya!" Jawab singkat Abrisam masih selalu menatap Zefanya.
Zefanya masih tidak menyadari kalau sedari tadi Abrisam selalu menatapnya dengan tatapan yang penuh arti.
"Astaga! Aku benar-benar minta maaf ya sudah membuatmu repot!" Ucap Zefanya dengan perasaan semakin tidak enak.
"Emm..terimakasih banyak juga untukmu dan Alan sudah menolongku dan membawaku kerumah sakit! Aku berjanji akan mengganti biaya rumah sakit ini nanti!" Lanjut Zefanya sambil menatap Abrisam dengan perasaannya sangat sungkan karena sudah membuatnya repot.
"Tidak perlu kau pikirkan!" Jawab Abrisam masih menatap Zefanya.
Kemudian Alan terbangun dan Abrisam mengubah posisi Alan menjadi duduk dipangkuannya menghadap kearah Zefanya.
"Kakak Ze!! Kamu sudah bangun??" Tanya Alan saat terbangun dan melihat Zefanya duduk diatas ranjang dengan mata berbinar.
"Iya Alan, terimakasih banyak ya kamu sudah menolong kakak! Maaf juga kakak sudah membuatmu repot!" Ucap Zefanya dengan tersenyum sangat manis kepada Alan.
"Kakak Ze tidak perlu berterima kasih! Aku dan Ayah tadi sangat mengkhawatirkanmu saat melihatmu tertidur dilantai dan bandanmu demam!" Ucap Alan memberitahu kekhawatirannya kepada Zefanya.
"Kalau begitu aku minta maaf sudah membuat kalian khawatir!" Ucap Zefanya dengan wajah penuh haru.
"Tidak masalah kakak Ze!" Jawab Alan dengan tersenyum lebar.
"Ayah, aku ingin duduk dengan kakak Ze!" Ucap Alan meminta kepada Ayahnya supaya membantunya untuk naik keatas ranjang.
Kemudian Abrisam mengulurkan tangannya sambil mengangkat tubuh Alan, dan membantu Alan naik keatas ranjang untuk duduk disamping Zefanya.
Abrisam masih duduk dikursinya sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi dan bersedekap memperhatikan Alan dan Zefanya.
Tak lama dokter yang memeriksa Zefanya tadi masuk bersama dua perawat.
"Maaf, aku akan memeriksa kondisi ibumu dulu sebentar ya!" Ucap dokter itu dengan lembut dan tersenyum manis kepada Alan.
Seketika Zefanya tersentak hatinya saat mendengar dokter yang menyebutkan dirinya sebagai ibu Alan.
Alan menganggukan kepalanya dan tersenyum sangat imut. Kemudian Abrisam menggendong Alan.
Apa?? Ibu?? Aku ibunya Alan?? Andai saja itu benar dan aku bisa menjadi ibunya Alan!
Gumam Zefanya dalam hati sambil berandai-andai.
Zefanya kembali merasakan jantungnya berdegup dengan kencang
Andai saja itu benar kalau ia ibunya Alan.
Dalam hati Zefanya merasa sangat senang apabila Alan memang tidak keberatan menganggapnya sebagai ibunya.
Karena Zefanya sudah sangat menyayangi Alan saat pertama kali melihat Alan, terlebih saat Alan mengatakan kalau ia tidak memiliki ibu.
Membuat Zefanya semakin ingin memberikan kasih sayangnya juga perhatian lebih kepada Alan.
"Suhu tubuh istri anda sudah normal kembali Tuan! Namun kondisinya masih lemah! Dan sebaliknya istri anda dirawat dulu disini!" Ucap Dokter tersebut dengan ramah setelah memeriksa kondisi Zefanya.
"Baiklah, terimakasih!" Jawab Abrisam sambil menggendong Alan.
Apa?? Istri?? Jadi mereka telah mengira kalau aku ini istri Abrisam?? Ibu dari Alan?? Ya Tuhan!! Dan kenapa dia tidak merasa keberatan dengan ucapan dokter itu?? Aku berharap ini akan menjadi kenyataan!!
Gumam Zefanya dalam hati sambil merasakan jantungnya yang semakin deg-degkan, seketika wajahnya juga merona merah merasa malu namun hatinya berbunga-bunga.
Dokter dan kedua perawat pun segera keluar setelah memeriksa kondisi Zefanya.
Zefanya semakin merasakan hatinya berbunga-bunga. Ia terus berandai-andai, kalau saja ia benar-benar menjadi istri Abrisam dan ibu dari Alan, ia pasti akan sangat bahagia.
"Kakak Ze, aku juga akan tidur disini menemanimu sampai kamu pulang!" Ucap Alan yang seketika membuat Zefanya tersadar dari lamunannya karena Alan sudah duduk disampingnya.
"Ehm..Alan, sebaiknya kamu beristirahat dirumah saja ya sayang! Terlalu lama berada dirumah sakit itu tidak baik untuk anak seusiamu!" Ucap Zefanya dengan sangat lembut sambil mengusap kepala Alan dengan penuh kasih sayang.
"Kakak Ze mu benar Alan! Sebaiknya kau pulang dan Ayah yang akan menemaninya disini!" Sahut Abrisam yang duduk dikursi.
Hah?? Dia yang mau menemaniku disini?? Itu berarti kami hanya akan berdua saja disini?? Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam??
Gumam Zefanya dalam hati sambil menggigit bibirnya untuk menahan rasa yang bergejolak dalam hatinya.
Dan Abrisam masih selalu memperhatikan Zefanya.
"Baiklah!" Jawab Alan dengan patuh sambil mengangguk pelan tapi hatinya merasa kecewa.
"Alan sayang, jangan bersedih! Setelah kakak pulang dari rumah sakit, kakak janji akan lebih sering memberikan dongen untukmu!" Ucap Zefanya sambil mengusap lembut kepala Alan dan tersenyum manis kepada Alan.
"Janji??" Tanya Alan sambil mengulurkan jari kelingkingnya kearah Zefanya dengan mata berbinar.
"Janji!!" Jawab Zefanya juga dengan mata berbinar lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Alan kemudian ia memeluk Alan dan tertawa.
"Apa kalian ingin makan sesuatu?" Tanya Abrisam kepada Alan dan Zefanya.
"Ayah, aku mau mie ramen dan sushi!!" Jawab Alan dengan semangat dan menaikkan sebelah tangannya.
"Oke!" Ucap Abrisam.
"Kau ingin makan apa?" Lanjutnya bertanya kepada Zefanya.
"Emm..aku.."
"Kakak Ze tidak usah merasa sungkan! Cepat katakan saja kamu mau makan apa! Ayahku tidak akan keberatan! Iya kan Ayah?" Sahut Alan memotong ucapan Zefanya dan bertanya kepada Ayahnya dengan tersenyum sangat imut.
"Benar!" Jawab Abrisam dengan wajah tanpa ekspresinya sambil menatap Zefanya.
"Ehm..kalau begitu apa saja terserah kamu!" Ucap Zefanya kemudian menggigit bibirnya kembali karena merasa gugup.
Abrisam menghela nafasnya tiap kali melihat Zefanya menggigit bibirnya sendiri.
Kenapa dia hobi sekali menggigit bibirnya! Kenapa aku menjadi merasa gelisah begini?!
Gumam Abrisam dalam hati kemudian mengalihkan pandanganya kearah lain dan menghela nafasnya.
"Baiklah, Ayah akan pesankan makanan untuk kalian!" Ucap Abrisam kemudian meraih ponselnya dan mengirim pesan kepemilik restoran Jepang yang merupakan teman baiknya untuk memesan makanan dan memintanya untuk diantar sekalian.
...***************...
Demi apa, sesusah itu nyari novel yang seru. Btw, mau sekalian rekomendasiin novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib search pakek tanda kurung.
Bagus banget novelnya, tapi ya gitu minim pembaca😈