Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuntut Ilmu
"Ibu, hari ini aku tidak mau sekolah," jawabnya, dari balik selimut itu.
Ibu Elena sama sekali tidak menerima jawabannya, diapun mulai duduk disamping kanan Metallo, "Nak, bangunlah, ini demi masa depanmu biar suatu saat nanti engkau bahagia seperti orang-orang di luar sana. Nak, Ibu tidak mau masa depanmu dibelenggu derita seperti apa yang kita rasakan saat ini."
Mendengar arahan dari Ibunya itu, Metallo mulai beranjak dari tidurnya. Sesaat ia menatapinya dengan mata yang masih sayup, sebelum merangkul Ibu Elena, "Ibu, aku bahagia masih punya kamu walau Ayah telah tiada."
Sedikit tetesan air matanya jatuh ketika menyebut nama Ayahnya, "Ibu, jangan pernah pergi tinggalkan aku seorang diri, iya."
Ibu Elena sangat terharu mendengarkan ujarannya, dia mulai mengelus-elus kepalanya, "Ibu juga bahagia masih punya kamu. Nak, aku sangat senang jikalau melihatmu dalam sukacita. Ibu sangat bahagia, jikalau melihatmu sekolah dan sukses suatau saat nanti."
Perlahan-lahan Ibu Elena melepaskan pelukannya, dan memegang kedua lengan Metallo sembari tersenyum tipis, "Ayolah... Anak, Mami. Senyumlah dulu atuh, mah," pintanya sembari mencubit pipi Metallo dengan penuh kemanjaan.
"Ibu becanda meluluh," pintanya, sedikit terlihat legah ketika Ibunya berkata demikian.
Ibu Elena kemudian memisahkan selimut itu darinya, "Ayolah nak, persiapkanlah dirimu."
"Ya Bu, maafin aku."
"Iya... Iya," jawab Ibu Elena, terbungkus senyuman.
"Metallo... Metallo," guman Ibunnya pelan, dia menggelengkan kepala pelan, mengingat tingkah Metallo yang tidak beda jauh dari suaminya.
Ketika Metallo keluar dari kamar itu, Ibu Elena termenung berlinang air mata, menahan luka yang terpendam karena melihatnya yang masih belia, namun mengarti dengan keadaan yang dirasakannya, sehingga bayang-bayang kasih sayang suaminya nampak dalam kehampaan yang mengusik jiwanya.
"Suamiku, andai saja engaku masih menemani kami, tak mungkin anak kita seperti ini ... Semoga amal ibadahmu diterima alam baka, dan menjadi pendoa bagi kami berdua. Aku berjanji padamu, akan menjaga buah hati kita semampu dan sebisaku."
Ibu Elena tak sadar dengan apa yang diucapkannya terdengar jelas oleh Metallo, yang masih berdiri di depan pintu kamarnya sembari mengusap-usapkan matanya.
"Ah... Kok, Ibu menangis," gumannya pelan, sembari memutarkan badannya untuk melihat Ibunya.
Ia menghentikan langkahnya sebab ucapan dari Ibunya sangat jelas di telinganya. Sedikit tetesan air mata kini mulai merinai membasahi pipinya, 'Ya, Allah ... Lindungilah Ibuku. Berilah dia kesehatan selalu, dan juga berkatilah dia Allah, agar terhindar dari segala musibah.'
Sedikit demi sedikit bayangan Ayahnya pun terlintas di pikirannya, 'Ayah... Dimanakah tampangmu... Kucari raut temui bayangan... Rinduku terpatri didalam kalbu... Kata yang aku ujarkan merinai air mata... Semoga kekal kenanglah bahagia... Harappanku hanyallah satu... Tuntulah dijalan yang benar, jagahilah sesalu kami,' ia menggelengkan kepalanya pelan, mengingat semua kata-kata harapannya hayalah sekedar kerinduan yang menuai baktinya.
Tetesan air matanya menandakan luka yang begitu dalam, sebab tak pernah sedikitpun ia tatap raut wajah Ayahnya, "Ah... Laki-laki tidak boleh menangis," gumannya pelan, sembari manatap Ibunya yang sedang membereskan tempat tidurnya, sebelum melangkah menuju ke ruangan makan dan menyantap hidangan yang ibu persiapkan itu.
*****
"Metal... Metal, ayo kita berangkat sekarang," panggil Festo yang berada di tempat nongkrong mereka.
Rupanya Metallo baru saja menikmati hidangan yang Ibunya sediakan, sehingga dirinya pun mulai mencari akal, "Tunggu... Aku lagi mengenakan seragam, nih,” cetusnya, mengelabuhi Festo.
"Buruan... Metal!”
karna terburu-buru, langsung saja ia kenakan seragam sekolahnya yang telah dipersiapkan oleh Ibunya walaupun tak mandi.
"Bu, Aku pergi dulu, ya,” pintanya, seraya mengambil beberapa gorengan yang diletakkan di atas meja makan.
Melihat itu, Ibu Elena langsung menegur dia, "Kok, kamu tidak mandi, sih?”
Ia memandangi Ibunya dengan sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya, "Tak apa-apalah Bu, sudah telat, nih,”
"Hm..." Ibu Elena menggelengkan kepal pelan, "Ya, sudalah. Hati-hati, Nak."
"Iya, Bu;” jawabnya, seraya bergegas menghampiri Festo.
Ketika melihat Metallo, kedua bola mata Festo terbuka lebar, raut wajah dia menjadi cemberut, "Apa ada yang salah dengan dirimu? Mimpi apakah engkau semalam, hingga engkau tak mandi?” tanya Festo, kebingungan melihatnya.
Ia menggaruk-garukkan kepalanya pelan,"Tak terpikirkan oleh aku tentang itu. Walapun parasku sedikit hitam, rambut sedikit kriting dan tak pula mandi, badan kutetap wangi. Nih ... Cium ini,“ iapun mengulurkan baju yang tak sempat dikenakannya. "Wangi kan?“
Festo mengkerutkan dahinya lantas baju itu sangat wangi, dan mulai mengangguk pelan, "Wangi... Benar-benar wangi. Apa yang hendak engkau bubuhkan di baju ini?”
"Hem..." kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya, sedangkan sebelah dari kakinya agak keatas, "Tidaak usah engkau tahu. Tu! Lihat itu Kucing, walaupun tak mandi bertahun-tahun tetap saja di panggil manis." Ia kemudian tertawa kecil, sebelum menepuk dadanya, "Apakah engkau tahu, tampangku ini, dipangil apa?”
Festo memandang dengan raut wajah yang cemberut, sedangkan kedua alis matanya sedikit terangkat, "Diriku saja tak pernah aku pandang, apalagi dengan dirimu,” jawab Festo penuh kekesalan, karena terlihat jelas keningnya yang mengkerut.
"Hitam manis, loh,” pekiknya.
[Hahahahaha...] Terlihat jelas dari jauh Faelo menertawakannya, hingga membuat dirinya sedikit tersinggung sebab Faelo ialah orang yang paling menghormatinya walau seumuran.
Tatapan mata Metallo menjadi sinis ketika mendengar suara tawa dari Faelo. Ia kemudian menggit bibir bawahnya, "Ada apa dengan dirumu? Memangnya apa yang kuperbuat, sehingga engkau menertawakan aku?”
"Hey, Metal. Tanpang engkau nampak keputihan. Tu! di atas mulut dekat hidungmu,” jawabnya, diikuti tawa yang menggelegar.
"Ah, masa. Padahal tak kupoles bedak,” pintanya, penuh kebingungan.
"Hey ... Ingusmu tuh, meleleh,” cetusnya.
Mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak, seraya melanjutkan perjalan ke sekolah.
Sekolah mereka cukup jauh, sebab demi mencapai lembaga pendidikan mereka harus melewati beberapa kampung. Perjalan yang melehkan bagi mereka, tetapi demi ilmu mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalani semuanya, walaupun tak tabah akan keadaan. Ketiganya sangatlah malas, oleh karena itu mereka selalu saja terlambat ke sekolah.
*****
Mey dan beberapa teman mereka yang lain telah sampai, sedangkan Metallo dan kedua temannya yang lain masih berada di kampung mereka.
Sebelum apel pagi dimulai, satu demi satu teman mereka mulai menanyakan keberadaan Metallo.
"Dimana, Metal?" tanya Indri.
"Hm... Jangan-jangan dia tidak sekolah, karena kemarin tidak beribadah," cetus salah seorang gadis yang berada di depan ruangan kelas mereka.
Mey tidak memberikan penjelasan apapun melainkan mengajak Indri memasuki ruangan mereka, untuk menyimpan tas mereka sebab apel pagi telah dimulai.
Setelah mengikuti apel pagi, mereka pun langsung bergegas ke ruangan mereka untuk mengikuti pelajaran Agama.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??