😊Harap berkomentar dengan sopan ya. Karena komentar anda juga mencerminkan karakter anda.
.
.
.
.
Yola, gadis yatim piatu yang menjadi Bridesmaid di pernikahan sahabatnya sendiri yaitu Lisa. Karena sang mempelai wanita kabur bersama pria lain, Yola terpaksa menggantikannya.
Mau tidak mau, dia menjadi istri dari seorang aktor pendatang baru, Alan. Hidup satu atap tanpa rasa cinta harus mereka lalui bersama dalam pernikahan kontrak.
Semakin lama benih cinta mulai tumbuh di hati Yola, tapi tidak untuk Alan yang masih dibayangi perasaan untuk Lisa. Lambat laun Alan mengetahui cinta Yola untuknya, namun dia ragu untuk membalasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suryani's Yayaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Make a memory 2
Alan yang menyadari gelagat Lisa segera memberi pencerahan "aku nggak apa-apa kok, beneran deh. Soalnya sejak aku kecil mereka nggak pernah memperhatikanku.
Dulu aku home scooling waktu usia SD. Karena ikut pindah sana-sini dengan mereka. Udah bosen, aku memilih tinggal di Indonesia dengan kakek. Dan juga sekolah disana. Pernah aku mendapat juara satu di kelas, mereka hanya bilang. 'Bagus pertahankan' tanpa menoleh dan melihat nilai-nilaiku. Sedih banget dulu. Tapi lama-lama biasa.
Hanya kakek yang memberi dukungan penuh demi kemajuanku. Makanya waktu diberi pilihan tinggal dengan siapa setelah cerai. Aku pilih Mommy, bukan karena mau tinggal dengannya. Melainkan tinggal dengan kakek di Indonesia. Hehe" terangnya menjelaskan yang sejelas-jelasnya agar Lisa tidak merasa bersalah.
"Oo... terus sekarang kamu udah lulus ya?"
Alan hanya mengangguk.
"Mau kuliah di Inggris? Universitas disini bagus-bagus. Kalau kamu kuliah disini, kita bisa sering ketemu. " kata-kata Lisa membuat harapan Alan menjadi tinggi, bahwa saat ini Alan juga ada di hati Lisa. Sedang Lisa berkata demikian murni sebagai teman, tidak lebih.
Woy Alan, mikir! Mana ada cinta tumbuh sekali ketemu. Mungkin harus minum sesuatu yang ada badaknya. (suara hati author).
"Sebenarnya sih mau aja. Tapi gimana dengan kakek. Beliau pasti merindukanku. Saat ini juga sakitnya makin parah." Sedih mengingat kondisi terakhir kakek sebelum Alan berangkat ke London.
"Lagipula lusa aku akan pulang ke Indonesia. Makanya aku ngajak kamu jalan-jalan. Yaah, bikin kenangan kalau aku ke London bukan cuma karena perceraian orang tuaku. Tapi ada cewek cantik yang nemenin jalan-jalan. Haha" Alan menggoda Lisa.
Lisa merasa jengah dengan sikap Alan. "Udah deh. Jangan bercanda. Oh iya. Kamu lulus dari SMA kan? SMA mana? "
"SMA 33 J******a."
"Wah, temanku baru masuk di SMA itu. Dia saat ini kelas satu loh. Lucu banget deh sikapnya. Dia itu nggak kayak anak cewek lain. Tomboy banget dulu. Tapi nggak tahu sekarang udah jadi feminim, mungkin. " Lisa tersenyum mengingat sahabatnya.
"Siapa? " Alan pura-pura penasaran. Agar mendapat lebih banyak obrolan dengan Lisa.
"Namanya Yola. Dulu di SD dia selalu membantuku waktu teman-teman pada ngebully fisikku."
"Cantik kayak gini siapa yang berani bully? "
Lisa mencubit lengan Alan. "kamu kok ngeselin ya. Aku nggak cantik. Biasa Bahkan dibawah standar biasa disini. " teringat perkataan teman-temannya di London yang mengatainya cupu.
"Mereka aja yang buta. Cuma aku dan temenmu itu yang tahu kecantikan kamu. "
"Udah deh. Diem atau pulang, " ancam Lisa. Mendengar hal itu Alan mencari alasan agar mereka tetap disana sampai sore.
"Eh, jangan dong. Ya udah ceritakan lagi tentang temanmu itu. Kali aja nanti di Indonesia aku ketemu dia. Dan kita bisa akrab. Temanmu, temenku juga. " Alan mengedipkan sebelah matanya, genit. Lisa mencubit dengan kasar lengan Alan. Kali ini membuat Lan mengaduh keras. "sakit Lis! "
Lisa memelankan cubitannnya. Dirasa sudah cukup membuat Alan kesakitan dia pun melepaskan. "makanya jangan ngeselin jadi orang! "
"Iya sorry deh. Lanjut gih ceritanya."
"nggak mood. " jawabnya cuek.
"Iya deh. Aku minta maaf. Janji nggak gitu lagi ke depannya" Alan mengacungkan kedua jarinya ke atas. Bibirnya mengerucut sok imut.
Lisa tersenyum geli. Ingin tertawa lagi. Namun berusaha ditahan. Dia merasa kadang tingkah Alan seperti anak-anak kadang juga seperti orang dewasa yang sok menasihati. Tapi hal itulah yang membuat Lisa suka berteman dengan Alan.
"Aku dulu tuh, gendut dan cupu. Saat ini sih, udah ngejalanin diet. Dan untungnya berhasil. Tapi kalau untuk merubah penampilan, aku masih belum pede. "
Alan menatap dalam wajah Lisa." sebenarnya kamu begini aja udah cantik. " Lisa melotot, kembali akan melayangkan cubitan andalan.
Alan buru-buru menolaknya "eh, jangan main cubit dong. Aku belum selesai. Maksud aku setiap wanita itu memiliki kecantikan sendiri-sendiri. Sedangkan orang lain hanya menilai cantik berdasarkan standar mereka."
Mendengar hal itu Lisa menarik kembali tangannya.
"kamu nggak usah pedulikan omongan orang lain yang bikin toxic pikiran. Semangat aja, perubahan itu nggak ada yang instan. Buat mereka menyesal karena udah meremehkanmu. Caranya dengan lebih berprestasi dari mereka. " kata-kata Alan ini membuat Lisa tersenyum. Memang benar, saat ini prestasi Lisa memang jauh di atas teman-temannya.
"Oke. Aku terima nasihat dari kakak Alder! " dia menyambut Alan dengan jabat tangan. Alan pun menerimanya.
"Jalan lagi yuk. Sambil ngobrolin teman kamu juga boleh, " ajak Alan sambil berdiri. Lisa mengiyakan.
Mereka berjalan-jalan di sekitar danau. Sudah kedua kalinya hal ini dilakukan. Pertama waktu pertemuan mereka yang tidak disengaja. Kali ini mereka berjalan beriringan.
"Temanku itu suka banget sama basket. Waktu SMP dia masih ngotot mempertahankan model rambut cepaknya. Alasannya ya itu. Karena mau jadi pemain basket. Orang tuanya melarang dia dandan kayak anak cowok. Takutnya nanti keterusan sampai dewasa dan punya perilaku menyimpang. " sampai disini mereka tertawa.
"Soalnya dulu suka banget peluk-peluk aku. Terus terus pernah kan ke toko sama ibunya. Disuruh beli sendiri celana dalam. Eh, dia malah beli celana dalam cowok." kali ini mereka benar-benar terpingkal.
"Orangtuanya takut ntar dia suka sesama jenis? " Alan bertanya sambil menahan tawa.
"Iya." jawab Lisa yang masih tidak berhenti tertawa. "Eh, udah dong. Kasihan temenku diomonin dibelakang. " berhenti tertawa.
"Udah tenang aja, dia nggak tahu kok. " Alan masih tertawa.
Sedang di lapangan basket SMA 33 J*****a anak-anak basket putri sedang latihan sistem defense yang merupakan teknik pembobolan pertahanan lawan. Seorang gadis yang berada dibawah ring sebagai guard berkali-kali bersin. Sedikit lengah badannya ambruk saat disenggol lawan latihannya.
Salah satu temannya membantu berdiri. "Kamu nggak apa-apa kan? sakit? " tanyanya.
"nggak apa-apa" jawab gadis itu, masih saja bersin.
"kamu pasti sakit nih, bersin mulu" temannya tadi ngotot.
"enggak. kayaknya ada orang yang ngobrolin aku deh. "jawabnya dengan pede.
" Moyang lu itu. Kecewa punya keturunan kayak elu. Cewek apa cowok sih ni anak. " jawab temannya yang lain, yang disambut tawa dari teman-temannya. Sedang gadis itu cemberut kemudian hendak membalas anak itu.
"Eh, kamu minta dihajar ya. Sini kamu! " teriaknya.
Tapi, pelatih keburu meniup peluit. "Sudah, sudah. Lanjut latihan. Porkab sebentar lagi dimulai. Latihan harus serius. Jangan bercanda mulu. " bentak beliau.
Sedang anak-anak tadi kembali ke posisi semula.
🏀🏀🏀🏀🏀🏀🏀🏀🏀🏀🏀🏀
Bang Alex beli permen
Ke Bogor malah shopping
Boleh like boleh komen
Pokok e happy reading
Mau berbalas pantun boleh di kolom komentar. 😆
Nggak juga nggak apa-apa.
Tingkiyu...
yola yola
mochi mochi
apa kabar
sialan bgt lo jd cowok...sini lo klo brani
bikin sambungan cerita ny donk
jgn berhenti belajar dan mencoba...😘😘😘