Dikhianati kekasih dan juga sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Gea Anastasya. Gadis 24 tahun itu sangat syok melihat secara langsung pengkhianatan dari dua orang yang sangat ia percayai.
Rasa kecewa Gea membuatnya mati rasa terhadap pria manapun, sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Duda anak satu yang berhasil mematahkan janji Gea pada dirinya untuk tidak membuka hatinya kepada siapapun.
Mau tau cerita selanjutnya? Langsung klik subscribe yaaa!!! ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 14 : Aku Hamil Mas!
Sudah 2 hari Intan tidak masuk kerja dikarenakan ia sedang sakit demam dan memilih untuk beristirahat saja di rumah kontrakannya. Meski sudah meminum obat penurun panas, Intan merasa tidak ada perubahan sedikitpun yang ada justru Intan merasa semakin parah hingga ia mengalami mual-mual.
Karena sudah tak tahan dengan sakit yang tengah dideritanya, Intan mencoba meminta pertolongan kepada Radit agar membawanya pergi berobat ke klinik terdekat.
Tak berselang lama, Radit datang untuk membawa Intan ke klinik terdekat dan sesampainya disana Intan hanya diperiksa sebentar, kemudian ia diberi beberapa resep obat yang harus ia minum sampai ia benar-benar sembuh.
Intan menolak resep obat tersebut, ia hanya ingin dirawat dan tidak ingin pulang ke rumah. Akan tetapi, Radit tidak bisa jika harus membiarkan Intan dirawat dikarenakan Radit tidak ada waktu untuk menemani Intan di rumah sakit selama masa perawatan.
Intan hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang dikatakan Radit pada dirinya.
“Kita pulang sekarang,” ucap Radit setelah menebus resep obat milik Intan dan memberikan obat tersebut kepada Intan.
Sampailah mereka di rumah kontrakan yang ditempati oleh Intan dan dengan lembut Radit membantu Intan masuk ke dalam rumah.
“Aku pulang sekarang, kamu beristirahatlah. Ini ada uang untukmu kalau-kalau kamu mau pesan go food,” ujar Radit seraya memberikan yang tunai sebesar 1 juta kepada Intan.
“Mas Radit tidak ingin menginap disini saja?” tanya Intan berharap Radit mau menginap dan tidur bersamanya, mengingat dirinya sedang sakit.
“Aku tidak bisa, Intan. Besok pagi aku harus mengurusi ayam pesananku dari Jombang dan jumlahnya tentu tidak sedikit. Bukankah kamu tahu bagaimana sibuknya aku?” tanya Radit.
Intan mengiyakan dengan sedikit rasa kecewa. Sekalipun ia memaksa, Radit sudah pasti akan menolak karena Radit akhir-akhir cukup sibuk dengan usaha ayam gorengnya.
Sesaat setelah Radit pergi, Intan perlahan berjalan masuk ke dalam kamarnya dan memesan beberapa makanan untuk mengisi perutnya.
Sekitar satu jam Intan menunggu pesanan Intan datang, Intan perlahan membuka pintu rumahnya dan membayar biaya makanan yang ia pesan.
Intan menelan salivanya ketika melihat makanan yang ia pesan begitu menggoda untuk segera dinikmati. Meski dalam keadaan sakit, Intan merasa kalau ia harus menghabiskan semua makanan didepannya dengan lahap.
Keesokan pagi.
Intan bangun tidur dengan kondisi tubuh yang jauh lebih baik, namun saat ia hendak turun dari ranjang tidurnya ia merasa pusing serasa dunia seperti tengah berguncang hebat.
Intan mencengkram kuat sisi ranjang agar ia tak jatuh dan cukup lama dalam posisi duduk dengan terus mencengkram kuat sisi ranjang, rasa pusing yang dirasakan Intan perlahan menghilang dan berganti menjadi rasa mual yang tak tertahankan.
Intan berusaha berjalan menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang harus segera ia keluarkan.
“Uweekk.. uweekkk...” Intan memuntahkan makanan semalam yang ia makan.
Setelah memuntahkan isi perutnya di toilet, Intan membasuh wajahnya dan memutuskan untuk memiliki alat tes hamil.
Intan baru menyadari kalau ia terlambat datang bulan dan gejala yang sedang ia rasakan adalah gejala wanita yang sedang mengandung.
Intan memaksakan diri untuk pergi ke apotek terdekat karena ia harus tahu apakah ia sedang berbadan dua ataukah hanya demam seperti yang dikatakan oleh dokter yang sebelumnya memeriksa kondisi kesehatannya.
“Aku harus mengetahui pasti apa yang terjadi padaku,” ucap Intan yang saat itu tengah mengecek alat tes hamil yang sudah ia beli beberapa saat yang lalu.
Intan terkejut melihat hasil testpack yang sebelumnya ia beli menunjukkan garis dua yang artinya bahwa ia tengah mengandung.
“Aku hamil? Itu artinya aku sedang mengandung bayi dari Mas Radit,” ucap Intan dengan tangan gemetar.
Tanpa pikir panjang, Intan bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Radit untuk memberitahu tentang kehamilannya.
“Mas, ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin aku sampaikan. Tolong Mas Radit datang kemari,” pinta Intan melalui telepon.
Radit mengiyakan permintaan Intan dan segera mengakhiri panggilan tersebut
Sambil menunggu Radit datang, Intan memilih untuk beristirahat di kamarnya dengan tenang.
Sekitar 2 jam menunggu, Radit akhirnya datang menemui Intan.
“Kamu ingin menyampaikan hal penting apa padaku?” tanya Radit yang nampak kesal.
Intan meminta Radit untuk mengambil sebuah kotak berwarna putih diatas meja yang sebelumnya telah Intan taruh. Intan kemudian meminta Radit untuk membuka dan melihat benda apa yang didalam kotak berwarna putih tersebut.
“Apa ini?” tanya Radit penasaran.
“Aku hamil Mas!” Intan begitu semangat memberitahu bahwa dirinya tengah hamil.
“Apa? Apa maksud kamu tadi?” tanya Radit yang belum paham dengan apa yang Intan katakan.
Intan memeluk Radit dan kembali menjelaskan bahwa dirinya saat itu tengah hamil habis buah cinta mereka.
“Intan, aku sedang sibuk. Masalah ini kita akan bahas nanti setelah semua pekerjaanku selesai,” balas Radit seraya melepaskan pelukan Intan.
“Radit, aku sedang hamil anakmu. Kenapa respon kamu cuek begini?” tanya Intan yang cukup terkejut dengan respon Radit yang terlihat seperti sedang mengabaikan dirinya.
“Iya Intan, aku tahu karena kamu memberitahuku. Akan tetapi, aku masih sibuk dan karena kamu menghubungi pada saat aku sibuk, maka aku menunda pekerjaan ku untuk datang kesini. Sekarang aku tahu kamu sedang hamil, itu artinya kita akan membahasnya lain hari setelah pekerjaanku selesai. Sekarang kamu istirahat ya,” terang Radit panjang lebar.
Radit berbalik badan dan bergegas pergi karena masih banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan.
Sepanjang perjalanan menuju kedai miliknya, Radit terlihat kebingungan. Pria itu terus memikirkan tentang kehamilan Intan.
“Apa Intan benar-benar hamil?” tanya Radit bermonolog sambil terus mengemudikan mobilnya menuju kedai miliknya.
Selepas kepergian Radit, Intan mencoba untuk tenang dan memutuskan pergi ke rumah sakit saat itu juga. Intan ingin mengetahui usia janin yang tengah dikandungnya dan akan mulai meminum vitamin khusus Ibu hamil agar janin yang dikandungnya sehat.
Intan memakai jasa taksi online karena kebetulan cuaca saat itu mendung dan khawatir jika tiba-tiba hujan turun.
Sampailah di rumah sakit. Gea mengambil nomor antrian khusus untuk pemeriksaan kandungan.
“Mau periksa ya Mbak?” tanya seorang wanita dengan perut yang sudah membesar.
“Iya Mbak, ini pertama kalinya saya datang kemari,” jawab Intan seraya membelai lembut perutnya yang masih rata.
“Tidak ditemani suaminya Mbak?” tanya wanita itu lagi.
Aku tidak mungkin jujur mengatakan kepada Mbak ini kalau aku belum menikah. Lebih baik aku berbohong saja, lagipula tidak akan ada yang tahu. (Batin Intan)
“Kebetulan suaminya saya sedang bekerja diluar kota,” jawab Intan seraya tersenyum lebar untuk menutupi kebohongannya.