mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: warisan di puncak sunyi
Angin berdesir lembut di atas Puncak Sunyi, membawa aroma tanah tua dan getaran kekuatan yang nyaris terlupakan. Lin Xieng berdiri mematung di depan formasi cahaya yang perlahan memudar. Tubuhnya masih bergemetar akibat visi dari dunia ilusi tadi—perang kuno, makhluk berjubah bayangan, dan sosok wanita bermata darah yang menyebutnya sebagai warisan yang tak seharusnya ada.
“Siapa mereka sebenarnya?” gumamnya pelan.
Yufei mendekat, wajahnya suram namun tenang. “Yang Tak Bernama… bukan hanya sebutan. Ia adalah bagian dari makhluk purba yang bahkan dunia ini sudah mencoba untuk melupakan. Ia tidak berasal dari alam ini, Xieng. Dia—dan para bayangan itu—datang dari celah antara dimensi, tempat kekosongan menjadi asal dan akhir segalanya.”
Lin Xieng menunduk menatap ukiran nama ayahnya. “Jadi ini sebabnya ayah menghilang?”
“Sebagian.” Yufei mengusap permukaan batu yang dingin. “Ayahmu tahu bahwa darah naga kuno yang mengalir dalam dirinya—dan sekarang dalam dirimu—adalah kunci. Tapi bukan untuk membuka kekuatan, melainkan untuk menjaga gerbang tetap tertutup.”
Tiba-tiba, batu ukiran itu bergetar. Formasi yang tadinya tenang menyala kembali, dan dari dalamnya keluar bayangan samar—sosok tinggi mengenakan jubah perak dengan rambut panjang tergerai.
“Lin Zhan…” bisik Yufei, air mata menggenang di pelupuk matanya.
Bayangan itu menatap Lin Xieng, lalu bicara dengan suara yang seolah menggema dari masa lalu. “Anakku… jika kau mendengar ini, maka dinding antara dunia telah mulai retak. Aku tak punya banyak waktu. Dengarkan baik-baik.”
Lin Xieng mengepalkan tangan, menahan gejolak emosi.
“Bayangan Kekosongan tidak dapat dihancurkan. Mereka hanya bisa disegel. Darah kita—warisan naga purba—adalah satu dari tiga kunci segel itu. Dua lainnya telah hilang… atau mungkin sudah jatuh ke tangan mereka. Kau harus menemukan mereka. Jangan percaya siapapun, bahkan di antara para sekte besar.”
Suara itu mulai memudar, dan dalam kilasan terakhir, Lin Zhan berbisik, “Carilah Istana Naga Tersembunyi. Di sanalah asal kekuatan sejati kita… dan jawaban dari semua pertanyaanmu.”
Cahaya menghilang. Udara menjadi berat.
Yufei menarik napas dalam. “Istana Naga Tersembunyi… tempat yang bahkan legenda pun ragu menyebutnya nyata.”
Lin Xieng berdiri. Di matanya, keyakinan mulai menyala. “Kalau itu kunci… maka ke sanalah aku akan pergi.”
Langkah Lin Xieng menggema di lorong batu yang memanjang dari Puncak Sunyi. Bersama Yufei, ia menyusuri jalur rahasia yang dulu digunakan para penjaga naga. Di tangan Xieng, batu giok warisan Lin Zhan kini memancarkan cahaya redup keunguan, seolah menunjukkan arah.
**
Di sisi lain dunia, di Istana Bayangan yang terletak di bawah tanah ribuan zhang, sebuah ritual tengah berlangsung. Tiga makhluk tinggi berjubah ungu berdiri mengelilingi altar hitam, dan di tengahnya, pusaran kekosongan terbuka sedikit demi sedikit.
“Pewarisan naga telah aktif,” kata salah satu makhluk. “Segel pertama akan segera melemah.”
Yang lainnya mengangguk. “Tinggal menunggu Sekte Langit Retak menyerahkan gerbangnya. Lalu… kebangkitan bisa dimulai.”
**
Sementara itu, di kedalaman Gunung Darah, Wan Lei berdiri di depan cermin spiritual yang memantulkan bayangan Lin Xieng.
“Keturunan naga… aku akan memburumu. Dan saat waktunya tiba, darahmu akan jadi batu loncatan untuk kebangkitanku.”
**
Di malam yang tenang di Puncak Sunyi, Lin Xieng menatap langit berbintang.
“Jika dunia ini harus kupertaruhkan demi kebenaran… maka biarlah begitu.”
Angin membawa bisikan gaib, dan di kejauhan, suara naga menggema samar. Panggilan warisan telah dimulai—dan takdir mulai menuliskan ulang jalannya.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
narasi doang, membosankan