"Apa aku memakai pengaman?" Satu kalimat dari seorang kapten mengacak-acak rambutnya frustasi.
Yang ada diingatan terakhirnya hanya menghabiskan satu malam dengan seorang wanita yang cantiknya bak bidadari. Wanita yang meminta bayaran untuk menjual keperawanannya.
"Apa aku pada akhirnya harus menikahi seorang bocah!?" Teriaknya frustasi.
***
Di tempat berbeda, seorang siswi SMU tidak sabar rasanya menunggu jam pulang sekolah hanya untuk mendapatkan bayarannya.
Seperti kata salah seorang temannya, memiliki Sugar Daddy yang dapat membelikan apapun.
"Sugar Daddy-ku yang tampan, aku ingin smart phone, aku ingin laptop dan biaya kuliah, aku juga ingin sepatu baru, juga membayar hutang ke kang cilok 25.000..." Batin si cupu membayangkan 35 juta yang akan didapatkannya.
Tapi bagaimana jika hidup tidak sesuai anggapannya? Bukannya uang, Sugar Daddy-nya memberi cincin untuk melamarnya?
Cinderella termalang abad ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
"Dasar minyak jelantah! Jangan main-main! Kamu---" Teriak Niar mengambil garpu hendak melukai Driella.
Plak!
Penghapus papan kesayangan Eri tepat mengenai jidatnya yang lebar."Get out!" Dua kata penuh senyuman yang membuat, Niar terpaku.
"Kamu mau apa!? Berencana mencegat ku pulang sekolah? Asal tau saja, aku selalu membawa cutter untuk meraut pensil, lengkap dengan isian cadangannya. Untuk berjaga-jaga, siapa tau akan berlumuran dengan darah..." Kalimat yang membuat tubuh Niar gemetar, wajahnya pucat pasi. Melarikan diri bahkan hampir dapat dikatakan merangkak beberapa meter. Akibat kakinya terlalu gemetar untuk berdiri.
Tatapan mata Eri..."Psikopat!" batinnya.
Para kutu buku bertepuk tangan atas aksi Eri. Membuat wanita itu kembali duduk penuh senyuman.
"Bagaimana kamu dapat melakukannya?" Tanya Driella penasaran, ingin hidup seperti Eri.
"Mudah! Intimidasi! Orang tidak dapat berfikiran logis dalam situasi emosional. Tanamkan dalam otak kalian, aku dapat membunuhmu. Maka mangsa akan kabur walaupun kamu tidak membawa senjata." Teori yang selama ini diterapkannya.
"Tapi itu tidak akan berhasil jika yang kamu lawan adalah atlet beladiri." Ucap Abdi tersenyum sombong.
"Arsenik, racun yang tidak ada rasa dan tidak ada baunya. Berapa lama kamu akan hidup?" Tanya Eri tersenyum melirik bagaikan iblis, melirik nasi goreng di piring milik Abdi.
Kalimat yang membuat Abdi terbatuk-batuk. Ketakutan dirinya diracuni.
Para kutu buku yang kompak menertawakannya. Mereka cukup mengetahui bahan kimia mana saja yang dijual secara bebas dan yang mana sulit didapatkan. Ini kebalikan dari anak populer yang membully kutu buku. Kali ini kutu buku yang membully-nya.
Eri hanya tertawa, tidak menyadari, Driella selalu menatap padanya. Merekam setiap kata-kata Eri dalam otaknya. Bagaikan anak ayam yang mengikuti apa yang dilakukan induknya.
Bagaimana Satya akan menghadapi anak bau kencur yang telah berevolusi nantinya?
*
Sementara itu di negara lain.
Beberapa koper diletakkan oleh Satya, landasan pacu di tempat terpencil. Setelah beberapa kotak besar diangkut ke dalam pesawat pribadi miliknya. Orang-orang yang melangkah pergi setelah mengambil koper berisikan uang.
Dirinya menghela napas. Pada akhirnya transaksi ini selesai juga. Desain senjata yang akan dibuatkan duplikat oleh Gery.
Satya tinggal pergi singgah transit ke dua negara lagi. Kemudian mengambil handphone-nya yang tertinggal di apartemen, negara terakhir tempatnya transit.
Tidak memakai seragam pilot mengingat pekerjaannya kali ini ilegal. Benar-benar keren, memakai jaket kulit hitam dan celana jeans hitam dengan bagian dalam kaos putih. Tidak lupa mengenakan kacamata hitam. Melangkah mendekati pesawat yang tidak begitu besar.
Hingga.
Plak!
Seorang pemuda memukul punggungnya dengan kencang."Kenapa langsung pergi!? Tidak mampir!? Anak keduaku sudah lahir!" Suara nyaring dari Jeremy (teman Satya).
Pemilik dana terbesar dari usaha sampingan mereka. Usaha jual beli senjata ilegal antar negara. Untung yang dibagi sama rata. Tugas Satya mengerahkan orang-orangnya, Gery mengatasi bagian produksi dan informasi, sedangkan Jeremy? Dia hanya teman kaya yang malas. Pemilik jumlah uang terbesar diantara mereka bertiga.
"Tidak." Ucap Satya menghela napas, menatap kacamata hitamnya yang rusak akibat ulah temannya ini.
"Kenapa!?" Tanya Jeremy penasaran.
"Karena kamu akan bertanya kapan aku menikah dan punya anak." Satya mengernyitkan keningnya.
"Ayolah! Menikah itu enak, Gery sudah menikah, anakku bahkan ada dua. Tapi kamu? Ada banyak pramugari cantik yang menunggu, anak pengusaha boleh juga. Tidak! Artis saja!" Celoteh Jeremy banyak bicara.
"Aku akan menikah bulan depan." Satya menghela napas berkali-kali mengingat anak yang tengah berada dalam perut sang bocah bau kencur. Akibat kecebongnya yang berhasil berenang dengan baik.
"Dengan siapa? Artis internasional? Apa usianya lebih dewasa darimu? Cita-citamu kan mempunyai kekasih yang berfikiran dewasa, mandiri dan---" Kalimat Jeremy disela.
"Umurnya 18 tahun. Anak SMU biasa, mungkin sekitar satu bulan lagi ujian nasional kelulusannya." Kata demi kata yang membuat bibir Jeremy bungkam sesaat. Menatap serius tapi tidak terlihat pemuda ini bergurau sama sekali.
"Pedofil! Om-om mesum!" Pada akhirnya Jeremy menertawakannya, bahkan terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.
"Sudah aku duga orang sepertimu akan menertawakan ku. Dia semanis peri, kamu tau? Istrimu bukan apa-apanya." Satya mengernyitkan keningnya, wajahnya tersenyum menghina.
"Ingat terakhir kali lima tahun lalu saat kamu menyombongkan betapa sempurnanya tunanganmu?" Tanya Jeremy dengan tawa yang terhenti.
Dua orang yang menghela napas kasar. Mengingat bagaimana mereka merasa benar-benar malu. Jeremy, Gery dan Satya dipermainkan oleh seorang wanita. Ternyata pacar mereka sama.
Tapi segalanya tidak merusak persahabatan mereka. Jeremy dan Gery menemukan wanita lain yang mereka cintai, sedangkan Satya memilih untuk sendiri.
Hingga selama lima tahun trauma memiliki kekasih akibat dikhianati tunangan yang begitu dipercayainya. Dimana harga dirinya? Dirinya bukan hanya diduakan tapi ditigakan.
Karena itu, memiliki wanita setia yang hanya bergantung padanya adalah tekadnya. Namun, bocah bau kencur itu malah lebih mencintai uang receh dibandingkan dengannya.
"Dia akan menjadi setia. Akan hanya menuruti perintahku. Menganggapku sebagai malaikat penyelamat hidupnya. Kali ini aku akan menemukan pasangan ideal, dengan jalan mendidiknya." Kata demi kata dari mulut Satya, membuat Jeremy mengangkat satu alisnya.
"Rasanya familiar? Aku dan Gery adalah contoh nyata. Jangan meremehkan wanita jika tidak ingin dia mengemasi pakaiannya dan meninggalkanmu. Ingat bagaimana Laverna (istri Jeremy) pergi? Ingat bagaimana Gery yang playboy mampus mengemis cinta pada mantan yang disakitinya (Windy, kini istri Gery)?" Kata demi kata yang malah membuat Satya tertawa.
"Ini berbeda! Standar kalian terlalu tinggi! Laverna, dia wanita karier bahkan wakil CEO perusahaan terkemuka, Windy seorang dokter, mereka tidak bergantung pada pria. Malah pria yang akan mengejar-ngejar mereka. Tapi aku? Itulah keuntungan memiliki istri seorang bocah. Dia tidak akan meninggalkanku karena hidupnya akan bergantung padaku." Benar-benar sebuah lelucon garing. Tapi Memang benar bukan? Yang ada di otaknya kini Driella tengah dikucilkan.
Tidak memiliki tempat di masyarakat maupun lingkungan sekolah. Hingga hanya dapat bergantung pada pertanggung jawabannya.
"Kelinci putih kecil dapat mengigit. Bahkan dapat menendang. Terkadang macan putih dalam kandang lebih jinak daripada kelinci liar. Artinya..." Jeremy menghentikan kata-katanya sejenak.
"Artinya?" Satya mengernyitkan keningnya, tidak benar-benar mendengarkan kata-kata ambigu dari sahabatnya.
"Anak SMU sekarang lebih liar daripada wakil CEO wanita. Bagaimana jika istrimu dibawa lari anak muda tampan, ketua geng motor." Kalimat dari Jeremy membuat Satya membulatkan matanya.
"Ta...tapi dia sedang hamil." Satya berusaha tersenyum.
"Mudah! Anak muda jaman sekarang fikirannya sempit, tinggal aborsi saja. Atau bunuh tepat setelah dilahirkan. Aku pernah mendengar banyak kasus serupa." Kalimat dari Jeremy membuat Satya membayangkan apa yang terjadi. Imajinasinya tentang istri penurut dan setia rusak. Berubah menjadi Driella yang dibonceng anak geng motor yang membawa motor sport berwarna merah.
"Dia anak baik-baik. Tidak pernah---" Kalimat Satya disela.
"Aku cabut kata-kataku. Jika dia anak baik-baik dia akan depresi dengan kehamilannya. Dan memutuskan untuk mati bersama anakmu dalam kandungannya. Istri penurut? Setia? Jangan bercanda. Tuan pilot! Semakin tinggi jam terbangmu, maka hati istrimu akan jatuh ke tengah samudra, melebur dan mati. Anakmu? Apa dia masih hidup, jika ibunya mati?"