Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 14
Beberapa hari kemudian. Fatih dan Inara melakukan foto prewedding. Walaupun tak bersentuhan, dalam foto tersebut masih nampak romantis.
Mereka sama-sama tersenyum dan saling menatap satu sama lain. Kang fotografer pun ikutan salah tingkah di buat calon pasangan tersebut.
"Coba anda ke sini, pak." Kang fotografer memberi arahan pada Fatih membuat Fatih hanya menurut dan seterusnya hingga foto prewedding usai.
Setelah fotonya selesai, mereka singgah di cafe untuk makan siang. Fatih tahu Inara punya maag dan harus makan tepat waktu makanya ia buru-buru untuk fotografer mengambil gambar mereka.
"Nanti gus kirim fotonya ke ponselku, iya," pinta Inara membuat Fatih mengangguk.
Tak berlangsung lama makanan yang mereka pesan pun datang. Dan Fatih protes sebab makanan yang di pesan Inara tak sesuai.
"Enggak apa-apa gus, ini aku makan juga kok."
"Tidak Inara, kamu alergi cumi-cumi. Tolong kalian ganti ini, kan tadi saya pesan cuma ayam tumiskan? Kenapa kalian membawakan kami cumi-cumi?" tanya Fatih.
Pelayan itu menunduk sedikit dan membereskan meja keduanya. Inara pun menghela napas panjang.
"Lain kali konsisten kerjanya," ucap Fatih.
"Udahlah gus, cuma masalah kaya gitu enggak usah di besar-besarin."
Gus Fatih hanya mengangguk. Pelayam itu pun pergi untuk membuatkan pesanan baru Fatih.
"Inara?" tanya seseorang membuat mereka menoleh.
"Kelly?" Inara berdiri dari duduknya.
Kelly, Mila langsung memutar tubuh temannya itu. Mereka memang tak salah lihat, mereka kira yang duduk di depan mereka tuh hanya mirip Inara saja.
Kelly dan Mila langsung memeluk Inara. Tapi Inara malah hanya diam. Masih ada rasa kecewa terhadap mereka yang permah meninggalkannya sendirian di kamar club.
"Inara, maafin kami, Ra. Untung lah lo baik-baik aja, gue kira lo udah di apa-apain. Kita nyari lo, tapi saat ke rumah kontrakan lo, lo udah enggak ada di sana."
Namun, tidak bisa ia terus-terusan kepada temannya. Mau gimana pun andai bukan mereka, pertemuan pertamanya dengan Fatih tidak akan pernah terjadi.
"Enggak apa-apa, gue baik-baik aja." Inara melepaskan pelukan mereka.
"Ini siapa, Nar?" tanya Mila melirik ke arah Fatih.
Inara tersenyum tipis dan menatap Fatih yang menundukan pandangannya ke bawah.
"Sombong banget, kita enggak di sapa malahan nunduk."
"Ustt... Enggak boleh gitu. Gue kenalin, dia gus Fatih," ucap Inara membuat mereka beroh saja.
Pantas saja laki-laki itu menunduk. Orang Fatih pandai agama, enggak ingin menatap wanita terlalu lama atau apalagi wanita berpakaian terlalu terbuka seperti mereka.
"Gus Fatih juga calon suami gue. Minggu depan Insya-Allah," seru Inara.
Hal itu membuat Fatih yang sedang menunduk seketika tersenyum mendengar ucapan Inara.
"Apa? Yang benar aja, Inara? Lo bakal nikah minggu depan? Kok secepat itu? Dan sangat mendadak. Kita baru dua minggu loh enggak ketemu, bisa-bisanya lo udah berubah drastis dan mau nikah sama seorang gus?"
"Hahah." Inara hanya tertawa.
"Gimana ceritanya?" tanya Kelly.
"Inara kapan kamu akan memakan, makanan mu?" tanya Fatih menoleh sebentar.
Inara yang sibuk mengobrol langsung kembali duduk. Kelly dan juga Mila yang mengerti langsung berpamitan, karena mereka pasti akan canggung.
"Inara gue butuh undangan lo, jadi lo harus buatin gue undangan spesial, ok? Ok, kami pergi dulu." Kelly menarik tangan Mila pergi dari sana.
Sepeninggalan mereka berdua. Inara dan Fatih pun memakan, pesanan yang sudah datang saat Inara mengobrol dengan kedua temannya.
"Tadi siapa?" tanya Fatih.
Inara menelan makanannya sebelum menjawan pertanyaan laki-laki di depannya.
"Teman aku di club dulu," jawab Inara.
Fatih memgangguk. Mereka pun lanjut makan hingga selesai, dan Fatih mengantar Inara pulang.
Inara dan kakaknya sudah pindah di rumah yang lebih layak lagi, itu pemberian Fatih. Padahal Inara, Dewi menolaknya. Namun, Fatih tak bisa di bantah.
Sesampainya di depan rumah, Fatih menekuk wajahnya. Kata uminya mereka tak bisa bertemu lagi setelah akad pernikahan nanti, sesuai tradisi mereka. Pengantin wanita dan pria tak boleh saling bertemu.
"Kangen dong."
"Kan bisa chatan, kan? Lagian bentar lagi kok udah sah," seru Inara.
"Enggak bisa di percepat? Besok gitu, langsung nikah aja. Biar ketemu tiap hari sama kamu," ucap Fatih.
Inara terkekeh. Begitulah Fatih, jika mereka akan berpisah tak ingin pergi sebelum Inara memberinya ancaman atau janji.
"Udahlah, gus mending pulang cepat gih."
"Kamu ngusir, aku Nar?" tanya Fatih memalas.
"Bukan gitu gus. Umi bilang apa? Kita enggak bisa bertemu sebelum akad nikah selesai kan? Jadi gus tahan dulu buat enggak ketemu sama aku. Demi kita juga kan, gus?