NovelToon NovelToon
DENDAM MAWAR

DENDAM MAWAR

Status: tamat
Genre:Thriller / Roh Supernatural / Balas Dendam / Horor / Tamat
Popularitas:283.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Muzu

Sebut saja Mawar, sebuah nama yang diambil dari tumbuhan perdu, berduri, berbau wangi, dan berwarna indah. Mawar juga melambangkan romantisme, cinta, keindahan, dan keberanian. Namun, gadis yang bernama Mawar ini tidaklah seperti gambaran dari definisinya. Tragedi mengerikan membuat sang mawar menjadi layu, kering, dan dipenuhi oleh dendam yang membara.


Dari tragedi itu, Mawar tidak hanya menjadi korban kebiadaban para penjahat, ia pun harus menanggung fitnah yang mengarah padanya.


Dalam kondisi batin yang terguncang hebat, Mawar meneguhkan hatinya untuk membalas dendam tragedi nahas yang menimpa diri dan keluarganya.


Bagaimana cara Mawar dalam membalaskan dendam dan siapakah yang dapat menghentikannya? Simak terus ceritanya dalam novel yang kalian baca ini!


Kisah ini murni dari karangan dan imajinasi author. Selamat Membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujang dan Brama 1

Ujang Hihid sebenarnya belum mencapai umur 40 tahun, tetapi setelah memasuki dunia hitam, wajahnya dipenuhi oleh garis tak beraturan dari luka yang didapatkannya selama menggeluti profesi sebagai pembunuh bayaran. Meskipun demikian, tubuhnya masih terlihat kekar dan jika diperhatikan secara teliti, Ujang Hihid merupakan pria yang cukup tampan. 

Kehidupan sehari-harinya tidak jauh dari alkohol dan wanita. Ia yang merupakan seorang spesialis dalam organisasi pembunuh bayaran, hanya bekerja sesuai dengan keahliannya. Tidak pernah sekalipun ia mengubah haluan pekerjaannya, karena baginya, menjadi pembunuh bayaran adalah ladang yang sangat menguntungkan. Bayaran sekali aksi bisa menghidupinya selama setahun penuh, menjadikannya tak perlu repot-repot dengan pekerjaan lain.

Ia pun tidak terikat oleh urusan keluarga. Satu-satunya benang merah kehidupan keluarganya adalah seorang anak laki-laki hasil dari hubungannya dengan salah satu gundik langganannya. 

Kini, setelah terakhir kali ia mendapatkan perintah membunuh sepasang pengusaha properti ternama, Ujang lebih sering menghabiskan waktunya di dalam rumah. Menikmati hasil sampai menerima panggilan tugas.

Ujang yang tengah asyik mencekik botol minuman dikejutkan dengan suara motor anaknya yang baru pulang dari sekolah. 

“Brengsek, gua jual juga itu motor!” geram Ujang yang langsung melemparkan botol ke arah pintu.

Suara botol pecah dari dalam rumah berhasil membuat Mawar menyeringai dingin. Ia kemudian menatap Brama dengan tatapan penuh tanya.

“Bokap gue emang gitu kelakuannya. Dibawa santai aja,” ujar Brama yang sedikit tidak nyaman.

Brama membuka pintu dan langsung menarik tangan Mawar, membawanya masuk ke dalam rumah, mencoba meredakan ketegangan yang menggelayut.

“Ganti cewek lagi, lu, Bram,” celetuk Ujang tanpa ampun begitu melihat Mawar yang masih asing baginya.

Brama mendengus lirih, merasa canggung, lalu berkata, “Brama anak baik, Beh.”

Namun, Ujang tak berhenti sampai di situ. “Hilih, jangan ngeles lu, Bram. Eh tapi, cakep juga cewek baru lu.” 

Ujang bangkit lalu menyodorkan tangan ke arah Mawar. Akan tetapi, Mawar enggan menyambutnya. Ia memilih bersembunyi di belakang punggung Brama.

“Nggak apa-apa. Sambut aja!” pinta Brama sambil menarik Mawar.

“Sudah, biarkan saja … mending lu bawa cewek lu ke kamar. Jangan lupa pake helm, biar ga bunting. Ha-ha!” ejek Ujang dengan nada sinis, membuat suasana menjadi tidak nyaman.

“Jangan didengar omongan babeh gue. Bercanda aja dia,” kata Brama dengan nada memelas, khawatir jika Mawar akan tersinggung dan memutuskan untuk pulang.

Namun Mawar hanya diam saja tanpa ekspresi, menyimpan segala perasaan dan reaksi di dalam hatinya.

“Beh, jaga omongannya! Brama udah berubah jadi anak baik, kok, Beh.”

“Baik kata lu …? Eh, Bocah, sudah berapa anak gadis yang menggugurkan kandungan karena kelakuan lu? Enak aja lu ngomong baik. Lu kira semua itu siapa yang bayar kalau bukan gue, babeh lu.”

“Sabar dong, Beh, jangan ngegas gitu. Brama ajak Mawar ke sini ada tujuan mulia, Beh. Dia mau berterima kasih sama Babeh karena dulu pernah nolongin Mawar.”

“Lah …! Kapan itu?” Ujang menatap Mawar penuh selidik, mendekatkan wajahnya mengendus Mawar yang menatapnya penuh arti.

Begitu Ujang mendengus, semerbak mawar merasuki indra penciumannya. Seolah menjadi anjing yang mencari makanan di tempat sampah, ia mendengus dengan penuh nafsu, mencoba meraih aroma mawar yang tercium begitu kuat dari tubuh sang gadis. Namun, sesuatu yang aneh terletak pada reaksi tubuh Ujang yang bertolak belakang dengan aroma mawar yang seharusnya memikat.

Wajah Ujang berubah menjadi kaku sejenak, matanya memperlihatkan kebingungan dan ketidaknyamanan. Ia menciumnya seperti mencium bau bangkai yang sangat busuk. Tubuhnya secara naluriah bergidik, merasakan kengerian yang sulit dipahami. Beberapa saat kemudian, ia kembali fokus mengamati Mawar.

“Gue gak ingat siapa lu, dan gue gak pernah merasa pernah menolong lu ataupun memakai lu,” kata Ujang dengan nada tegas, mencoba merangkai ingatannya yang berkabut.

Mawar dengan sikap dinginnya, menjawab, “Tidak masalah, Pak. Saya ke sini untuk mengganti uang yang pernah Bapak kasih.” 

Tanpa ragu, Mawar merogoh saku lalu memberikan beberapa lembar pecahan merah ke tangan Ujang.

“Banyak betul. Sepertinya lu anak orang kaya?” Ujang semringah melihat uang yang diterimanya.

“Kalau begitu, saya permisi dulu.” Mawar langsung berbalik pergi tanpa memedulikan keberadaan Brama yang terdiam melihat tingkah bapaknya yang berubah cepat ketika berurusan dengan uang.

Beberapa detik kemudian, Brama tersadar dan keluar menyusul Mawar. Namun, ketika ia mencari keberadaan Mawar, gadis itu sudah menghilang tanpa jejak. 

“Ke mana dia? Cepat banget menghilang!” gumam Brama, memutar tubuhnya mencari Mawar, namun ia tak menemukan jejak gadis itu di sekitarnya.

“Kenapa lu, Bram?” tanya Ujang, merasa kasihan melihat Brama yang lesu memasuki rumah.

“Gara-gara Babeh, dia jadi pergi. Padahal Brama pengen nyicipin dia, Beh.”

“Ha-ha! Tadi lu bilang udah jadi anak baik, tahunya masih busuk juga kelakuan lu.”

“Strategi, Beh.”

“Mending lu porotin tuh cewek. Kan lumayan buat jajan lu, Bram.”

“Itu udah Brama rencanakan, Beh.”

“Bagus, itu baru anak gue.”

Malam hari, dentuman irama musik memecah kesunyian di dalam rumah yang dipenuhi bau minuman keras. Suasana gelap dan meriah diwarnai oleh dua gadis yang meliuk-liuk dalam tarian tak senonoh di depan kedua pria lintas generasi, Ujang dan Brama. Keduanya duduk sambil menenggak minuman seraya menggoyangkan kepala, terhanyut dalam alunan musik yang memabukkan.

“Kalau tiap malam bisa begini, gue bakal bahagia banget jadi anak lu, Beh,” celetuk Brama, terkekeh dalam suasana yang begitu panas.

“Makanya lu harus pinter cari duit,” sahut Ujang yang langsung berdiri dan ikut bergoyang dengan kedua gadis sewaannya, menambah kegilaan malam ayah dan anak tersebut.

“Bram, lu bawa nih cewek ke kamar lu!” imbuhnya seraya mendorong tubuh seorang gadis ke arah Brama, mengisyaratkan kesenangan malam yang harus mencapai puncaknya.

“Siap, Beh,” kata Brama langsung menangkap tubuh si gadis yang tersungkur ke arahnya.

Ia kemudian membawa si gadis ke kamarnya yang berantakan, dan begitu pintu tertutup, suasana semakin panas, Brama mencium si gadis dengan penuh napsu. Lenguhan demi lenguhan terdengar syahdu dari keduanya. 

“Bang, aku bersihkan dulu keringatku, biar permainan kita lebih asyik,” kata si gadis setelah melepaskan diri dari pergumulan, memberikan sentuhan tambahan kegilaan malam.

“Nanti saja,” sungut Brama tidak ingin menggantungkan kenikmatan malamnya.

Gadis itu tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya dan bergegas meninggalkan Brama, meninggalkan kenikmatan yang menggelayut di pikiran sang remaja.

“Sialan!” sungut Brama. Ia akhirnya membiarkan si gadis keluar dari kamarnya.

Sementara di ruang tengah, Ujang terlibat dalam pergumulan intens dengan gadis yang berada di bawah tubuhnya. Lengan keduanya bertautan, dan lenguhan panjang mereka memenuhi ruangan, harmonis dengan dentuman musik yang merudapaksa keheningan malam.

“Gila, sudah berkali-kali kita melakukannya, punya lu masih sempit aja, Neni. Lu pakai apa sih?” tanya Ujang sambil meningkatkan intensitasnya, membenamkan diri dalam sensasi surgawi.

“Cuma rutin minum jamu aja, Bang. Awas aja kalau Abang keluar duluan, bayarannya harus dua kali lipat!” jawab Neni sambil terus melenguh, menikmati olah tubuh mereka yang memacu.

1
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe_👻ᴸᴷ
Org menerka² belum tentu benar padahal ya 🚶
𝙸𝚗𝚍𝚊𝚑 𝙵𝚊𝚝𝚒𝚖𝚊𝚑
ambil paket sekolah bisa juga mawar
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: Paket C ya 😁
total 1 replies
Hartini Donk
namanya lucu banget thor violeta van tjoeran sama dengan kran dong pancuran...🤣🤣🤣
Hartini Donk
mengerikan
Hartini Donk
bahasamu kayak puisi ....halus menggetarkan jiwa
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: Terima kasih sudah berkenan membacanya
total 1 replies
Hartini Donk
gambaran terlalu nyata utk dibayangkan sadis thor perih perutku...
falea sezi
othor nya cwek apa cwok
falea sezi
anjirr mual bacanya
falea sezi
tolol harusnya lu sembunyi bukan malah menjerit tolol
falea sezi
kaya tp g punya satpam atau bodyguard hadeh bodohnya lu harusnya sewa bodyguard bayangan
neng ade
ayah nya Gavin target selanjut nya..
ga nyangka aja bisa berbuat busuk sm Mawar ..
neng ade
ngeri .. sereemm bikin merinding
neng ade
ayah dan anak sama2 bejad nya
neng ade
karya yang luar biasa.. cerita nya bagus tapi horor juga
neng ade
disini nama2 tokoh nya bikin ngakak padahal cerita nya tegang 😂
neng ade
Brama blm tau siapa Mawar sebenar nya dia bisa membaca rencana licik mu itu
neng ade
Mawar masih bisa sekolah meski pun dipindahkan.. apakah Mawar akan melanjutkan sekolahnya
neng ade
Paijo.. Paijo .. 😂
neng ade
dalam suasana tegang dan mencekam gitu jadi ketawa juga pas dengar nama nya Paijo Icikiwir..
neng ade
dendam Mawar semoga dapat terbalaskan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!