Dijodohkan dengan seorang laki laki dari usia bayi tanpa diketahui, yang ternyata laki laki itu adalah musuh bebuyutannya di sekolah. Namun perjodohan sudah tidak bisa lagi untuk dihindari.
Bagaimana kisah kehidupan Arin dan Rafa selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Sampainya di sekolah, langsung saja Arin masuk ke dalam kelas. Tas ransel pink sudah diletakkan di atas meja untuknya menyandarkan kepala.
"Lapar" lirih Arin memegangi perut.
Dari sepulang sekolah kemarin, tak satupun makanan masuk ke dalam perutnya. Pagi ini pun Rafa tak masak hingga berangkat tanpa sarapan.
"Buat Lo nih dari anak OSIS, katanya hadiah soalnya Lo engga telat hari ini" ucap seorang teman kelas Arin menyodorkan dua roti dan juga dua susu coklat.
"Ha?" heran Arin menerima dengan ragu.
"Udah sih Lo makan aja, kalau engga mau sini buat Gue" seru gadis berambut bob yang masih berdiri di samping meja Arin.
"Nih satu satu sama Gue, entar kalau nih ada racunnya Kita bisa mati barengan" seru Arin cengengesan membuat temannya bergidik tak mau menerima roti juga susu coklat yang diberikan Arin.
Takut di kerjai oleh anak OSIS, Arin memilih untuk tak memakan roti ataupun susu yang di titipkan pada teman kelas nya. Pasalnya Ia tak pernah akrab sama sekali dengan anak OSIS, dan berpikir ulang tentang hadiah yang mereka berikan.
Karena datang masih terlalu pagi, Arin memutuskan untuk turun dan mencari makan di luar sekolah sebentar. Kakinya melangkah cepat menuju parkiran untuk mengambil motor dan cepat Ia naiki.
"Kemana?" tegur Rafa baru keluar dari ruang OSIS dan berpapasan dengan Arin yang sudah membawa motor.
" /Makan, Gue lapar" singkat Arin masih duduk di atass motor.
"Gue udah beliin Lo roti sama susu, emang Lo engga terima?" tanya cowok yang masih menahan setir motor matic milik istrinya.
"Oh jadi itu Lo ? makasih ya, Gue kira anak ngerjain Gue jadi engga berani makan takut ada racunnya" jelas Arin cengengesan, di sambut senyum Rafa.
"Makan gih" senyum Rafa mengusap lembut ujung kepala istrinya.
Secepatnya Arin menepis tangan Rafa dan mengingatkan suaminya jika kini mereka berada di sekolah. Tersadar akan hal itu, Rafa mulai berdehem dengan mata melirik kesana kemari dan ternyata memang keduanya sudah di perhatikan dari tadi oleh banyaknya siswa berlalu lalang.
"Balik sana!" tegas Rafa seraya berteriak seperti biasa pada Arin.
Dengan menahan senyum akan perubahan drastis Rafa, Arin memutar motor untuk Ia letakkan kembali di tempat parkir. Bibirnya masih terkatup menahan tawa mengingat tingkah Rafa yang langsung berubah cepat.
Begitu Arin pergi, Rafa langsung menghampiri anggota OSIS lain di dekat gerbang siap mengintai siapapun yang melanggar peraturan. Buku pelanggaran sudah Ia pegang lengkap dengan pulpen.
Wajah dingin serta cupu nya bertingkah seolah tak terjadi apapun, walau Ia menyadari tatapan dari anak anak lainnya yang tengah merasa aneh.
"Lo pacaran sama barbar?" tanya Alex merangkulkan tangan pada pundak Rafa.
"Engga" singkat dingin cowok yang masih setia berdiri di dekat gerbang tersebut.
"Bener juga sih, mana mau tuh barbar sama cupu kaya Lo" tawa Alex terbahak, langsung mendapat tatapan dingin Rafa dan seketika berhenti tertawa.
Mendapat tatapan dingin mematikan dari balik kacamata sahabatnya, Alex pun perlahan menurunkan tangan pada pundah Rafa sambil matanya melirik ke arah lain.
"Bel mana ya, kagak bunyi bunyi" seru Alex perlahan berlalu pergi dan seketika berlari menuju ruang OSIS.
Di dalam ruang OSIS, Alex mencoba mengintip sejenak dan masih dilihatnya Rafa melirik tajam ke arahnya, membuatnya langsung bergidik ngeri.
Tak lama bel masuk pun berbunyi dan semua murid memasuki kelas, sedangkan Arin sudah di dalam kelas dari tadi melahap dua roti juga dua susu coklat yang sengaja di belikan suaminya ketika perjalanan ke sekolah.
Soal’y wktu bru rilis saya ikutin smpe selesai
Eh pas pngen baca lgi ko di potong gini cerita’y
Jdi aneh deh
nganter ditimpuk ma rafa hahah