Karena sifatnya yang terlalu mudah percaya kepada orang lain membuat Nadira terjebak di sebuah kamar dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenali. Saat sadar ia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.
Nadira Laura, atau yang kerap dipanggil Dira hidup sebatang kara di dunia ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia berusia 10 tahun akibat kecelakaan. Hidupnya bertambah hancur saat ia dinyatakan positif hamil.
Keputusan yang ia ambil setelah kecelakaan itu adalah meninggalkan kota ini. Ia tidak berniat mencari lelaki yang telah merenggut kehormatannya. Nadira memutuskan mencari kebahagiaan dan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama calon buah hatinya.
Akankah Nadira mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah sakit
Hari sudah mulai siang, matahari pun memancarkan sinarnya yang terik. Nadira mulia bergulat di dapur memasak menu makan siang untuk dirinya dan anaknya. Hari ini menunya adalah Sayur sop dan Udang goreng tepung. Alta tadi request kalau dirinya ingin makan dengan udang goreng tepung, makanan kesukaannya.
Berbicara tentang Alta, anak itu kebetulan sedang tidak enak badan dan baru saja tertidur. Sudah dari kemarin Alta demam, tapi tadi pagi saat diperiksa oleh Nadira suhu tubuh anaknya itu mulai kembali normal. Setelah selesai kegiatan memasak nya Nadira pun mencuci beberapa pakaian yang telah menumpuk, kebetulan cuaca sedang bagus.
Sambil menunggu cuciannya selesai berputar Nadira mengirim pesan pada salah satu karyawan toko kuenya untuk menanyakan keadaan disana. Niatnya Nadira hari ini akan berkunjung ke toko, tapi keadaan tak memungkinkan.
Nadira
Ris, gimana keadaan toko sekarang? Untuk stok barang yang kurang udah kamu tulisin?
Risma
Alhamdulillah bu, toko baru aja buka udah banyak pengunjung yang beli. Semua stok yang kurang udah saya tulis bu, apa ibu jadi ke toko hari ini?
Nadira
Kayaknya saya gak jadi ke toko hari ini, anak saya dari kemarin demam. Nanti kamu jumlahin aja semuanya terus kirim ke saya, nanti uangnya saya transfer. Maaf ya, ngerepotin kamu buat belanja.
Risma
Loh, gapapa bu. Itu kan emang tugas saya sebagai pegawai ibu.
Nadira
Ya sudah, kamu semangat ya kerjanya. Jangan lupa kirimin ke saya semua rinciannya.
Risma
Baik bu.
Melihat mesin nya sudah selesai berputar Nadira pun segera memindahkan nya ke tempat pengeringan agar lebih cepat. Dirasa semua sudah masuk ke dalam mesin wanita itu segera memutar tombolnya. Ia melirik ke arah jam yang berada di dinding, waktu menunjukkan pukul sebelas lebih. Biasanya anaknya akan bangun dari tidurnya sebelum jam sebelas. Buru-buru Nadira mengeceknya ke kamar, takutnya anaknya sudah bangun namun tidak keluar kamar saja.
Terlihat Alta masih tertidur pulas, namun Nadira melihat nafas anaknya seperti tak beraturan. Ia pun mendekatinya dan mengusap kening anaknya. Panas. Bahkan bisa dibilang sangat panas.
"Alta, nak, sayang, bangun dulu yuk." Nadira berusaha membangunkan anaknya dan mencoba tidak panik.
"Alta, bangun dulu sebentar yuk," ucap wanita itu sambil mengusap pelan pipi anaknya
Perlahan mata Alta mulai terbuka lalu menatap sayu ke arah sang bunda. Sudut bibir anak itu ia tarik sedikit, tersenyum ke arah Nadira.
"Bunda, pusing," lirih Alta
"Kita siap-siap ya, kita pergi ke dokter," ujar Nadira tak tega melihat anaknya seperti itu. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa Alta ke dokter.
Alta menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gak mau bunda, gak mau, Al takut, Al gak mau ke dokter."
"Loh, kok gitu? Kan biar Al cepet sembuh, lagi pula dokternya juga baik loh." Nadira mencoba memberi pengertian kepada Alta agar mau diperiksa.
"Beneran bunda? Bunda gak lagi bohong kan? "
"Emangnya bunda pernah bohongin Alta? Masa iya bunda bohongin anak bunda yang tampan ini," jawab Nadira dengan sabar
Alta terlihat merenung sejenak, "ya udah deh, ayo bunda kita ke dokter, Alta pengen sembuh bunda," putusnya
Mendengar anaknya sudah bersedia untuk pergi ke dokter ia pun segera mengganti baju anaknya serta dirinya agar lebih rapih. Nadira menggendong anaknya setelah mengunci pintu rumahnya dan menunggu Grab pesanannya sampai.
Setelah pesanan Grab nya datang mobil itu langsung meluncur membelah kota Bandung yang cukup padat hari ini. Tapi, karena rumah sakit tujuannya cukup dekat dengan rumahnya jadi ia tidak perlu berlama lama untuk ikut dalam kemacetan lalu lintas ini.
Nadira segera melakukan pendaftaran menuju poli anak, kebetulan hari ini katanya ada dokter baru yang menggantikan dokter lama selama satu bulan dari Jakarta. Dokter itu sangat bagus, sehingga membuat antrian sangat panjang. Seperti yang Nadira lihat saat ini.
"Bunda, ini masih lama gak sih? Alta kan pengen cepet sembuh, capek pusing terus," ujar Alta yang mulai merasa bosan karena duduk kelamaan
"Sabar ya nak, ini tinggal dua antrian lagi loh, setelah itu baru deh kita masuk."
"Eumm, ya udah deh," jawab Alta walaupun sedikit cemberut
Setelah cukup lama menunggu nama Alta pun dipanggil oleh suster yang jaga depan pintu ruangan dokter itu. "Pasien atas nama Altamis Ziyad silahkan masuk."
Cklek..
"Permisi dok," sapa Nadira yang melihat dokter itu sedang tertunduk menulis sesuatu
"Silahkan duduk."
Nadira pun duduk di kursi depan meja dokter yang telah disediakan, tak lupa menaruh anaknya untuk duduk di sebelah nya.
"Hallo adik kecil," sapa dokter tersebut lalu membaca kertas yang berada di tangannya, "namanya Alta betul? Altamis Ziyad?" tanyanya
"Kok dokter bisa tau nama Alta bunda?" tanya anak laki-laki itu pada sang bunda
"Kan tadi sebelum kesini kita daftar dulu di depan, makanya dokter bisa tau nama kamu," jelas Nadira
"Oh, gitu, kalau dokter namanya siapa?" tanya Alta
"Nama dokter, dokter Afnan."
Alta yang mendengar jawaban dokter tersebut hanya manggut-manggut saja seolah mengerti.
"Oke, apa yang Alta rasain akhir akhir ini? Apa pusing? Mual? Atau gimana?" tanya dokter Afnan
"Iya, aku sering pusing, terus pengen muntah, badan aku panas semua, terus aku suka gatel gatel. Padahal kan aku sering mandi dokter," ungkap Alta menjelaskan apa yang dirasakannya selama dua hari terakhir
Dokter Afnan mengangguk paham, "sekarang kita periksa dulu ya."
Alta disuruh berbaring di ranjang yang tersedia di ruangan tersebut lalu dokter Afnan pun memeriksa anak itu dengan teliti agar tidak salah mendiagnosa. Pemeriksaaan tidak lama, Alta disuruh kembali untuk duduk.
"Mohon maaf sebelumnya ibu, apa kemarin Alta memakan brokoli? Lalu apa ibu atau ayahnya memiliki alergi terhadap brokoli?" tanya dokter Afnan kepada Nadira
"Saya kemarin memang memberikan anak saya makanan yang terdapat brokoli di dalamnya, tapi itu juga untuk pertama kalinya. Dan saya tidak memiliki alergi terhadap brokoli," jelas Nadira
"Apa ayahnya alergi terhadap brokoli?" tanya Dokter Afnan lagi namun Nadira bungkap tak mau menjawab. Afnan yang melihat itu pun seolah mengerti. "Baiklah, anak ibu ini alergi terhadap brokoli, yang dimana alergi ini adalah alergi turunan, entah dari ayah atau ibu sang anak. Lalu karena anak ibu masih demam, saya sarankan untuk dirawat saja selama satu hari, itu pun jika ibu berkenan."
Mendengar penuturan itu Nadira sedikit bingung menimang nimang keputusannya karena takut salah. "Baiklah dok, anak saya lebih baik dirawat disini saja," putusnya
Nadira hanya takut jika ia memaksa untuk membawa Alta pulang dan merawatnya di rumah akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan dan ia tidak tau cara mengatasinya. Lebih baik ia menuruti saran dokter saja.
"Nanti akan ada suster yang membawa ibu ke ruang rawat yang telah di siapkan."
Belum sempat Nadira menjawab, anak laki-laki disampingnya mengeluarkan suaranya. "Alta, gak mau nginep di rumah sakit bunda," ucapnya dengan suara yang sangat pelan
"Loh, kenapa sayang?" tanya Nadira
"Alta takut bunda, kata temen Alta rumah sakit itu menyeramkan," tuturnya
Dokter Afnan yang mendengar itu pun tersenyum kecil. "Alta, rumah sakit itu tidak menyeramkan. Apalagi, ada om dokter disini, pasti tidak menyeramkan. Nanti kalau Alta dirawat disini, om dokter bakal kunjungin ruangan tempat Alta nginep, nanti om dokter juga bakal temenin," jelasnya
Bukan tanpa maksud ia membujuk anak itu untuk dirawat, mungkin jika secara fisik anak itu terlihat baik baik saja tapi keadaan tubuhnya mengatakan tidak. Anak itu sangat lemah dan harus mendapat nutrisi yang tepat.
"Beneran ya om? Jangan bohong, kalau bohong nanti Alta marah!" ancam anak itu
"Beneran dong, om nanti bakal temenin Alta, kalau perlu semalaman," kata dokter Afnan
"Oke deh." Tercipta senyum kecil di bibir anak laki-laki itu.
Nadira serta Alta yang berada dalam gendongannya pun mengikuti kemana arah suster membawa mereka menuju ruangan yang akan Alta tempati malam ini. Sesampainya di ruangan ternyata Alta sudah tertidur kembali dan itu cukup memudahkan suster untuk memberikan infus kepada anak itu.