➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDR 14#Obrolan dan Penjagaan
Ajakan Bagas menyudahi kemelut di dalam pikiran Fay. Gadis itu melupakan apa yang seharusnya dilakukan karena harus memenuhi tanggung jawab dunia nyata terlebih dahulu. Pagi yang cerah meski lalu lintas kota terlihat cukup padat. Namanya juga kota besar, jadi wajar saja selalu padat kendaraan di jalan raya.
"Fay, tadi kamu lagi lihatin apa?" Bagas melirik ke arah Fay yang duduk di sebelahnya dengan santai dengan punggung bersandar ke kursi.
Pertanyaan sang kekasih membuat Fay mengambil ponselnya dari saku, lalu ia membuka sebuah aplikasi yang memang masih on meski tak ada orang tahu. Kemudian di tunjukkan dimana halaman pertama menampilkan sebuah beranda pemilik akun.
Posisi Bagas yang menyetir harus menurunkan kecepatan agar bisa melihat apa yang ditunjukkan oleh Fay, "Itu bukannya I'd laman penulis milik Asma, ya? Kamu bisa membuka?"
"Begitulah, niatku cuma mau cari tahu dari sini saja. Siapa tau ada obrolan yang bisa menjadi petunjuk, tapi keburu dipanggil kamu tadi. Sebenarnya kita kurang apa sih? Semua sudah dilakukan loh," Fay menghela napas panjang karena tak lagi bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Apa kalian tau rasa kehilangan? Rasa yang biasanya hadir tapi tiba-tiba hilang tanpa jejak. Selama ini ia bisa berdebat dengan kakaknya tanpa rasa khawatir, lalu mendadak tidak ada tempat berbagi yang bisa memahami dirinya. Mengenal bukan berarti kenal. Akan tetapi paham pastilah mengerti.
Tatapan mata nanar bercampur kerinduan menyadarkan Bagas akan kasih sayang antara kakak dan adik tak sedarah. Hubungan Fay dan Asma selalu seperti hubungan ia dan Reyhan. Saling melindungi, mengasihi agar tak seorangpun berani melukai. Ikatan yang nyata melalui tindakan dan bukan sekedar kata.
"Tidak ada yang kurang dalam pencarian Asma hanya saja kita diminta bersabar. Aku kangen sikap dingin dan nakalnya yang selalu menjadikan Rey pria terpolos di dunia. Andai saudaraku tau memiliki istri yang bisa menghandle pekerjaan tanpa harus memberikan ceramah.
"Sikap manjanya selalu menjadi hal manis yang bisa meluluhkan hati Rey. Jika cinta di hati keduanya sejati, aku percaya mereka akan bersatu kembali. Asma akan pulang tapi kita yang menunjukkan jalannya. Bersabar sebentar lagi, kita bisa lakukan itu.
"Lagi pula, Allah memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan yang kita harapkan. Meski begitu do'a tetap dipanjatkan agar takdir berbaik hati menjadikan harapan kita menjadi kenyataan. Bukan begitu Fay?" Bagas menyudahi mode ceramahnya dengan pengajuan pertanyaan.
Memang benar semua itu, hanya saja sudah satu bulan dan semua jalur telah dilewati. Dimanakah kelalaian mereka saat melakukan pencarian? Ia sendiri merasa bingung karena apapun yang dilakukan Bagas dan juga Rey selalu lebih banyak diam tetapi trus bertindak tanpa henti.
Akhirnya mobil memasuki halaman sebuah gedung pencakar langit yang merupakan pusat perbelanjaan. Seperti biasa, Bagas memarkirkan mobil di area khusus agar mempermudah jalan mereka keluar jika terjadi sesuatu yang emergency. Lalu kedua insan itu turun bersamaan.
"Bagas, pagi ini kalian saja ya yang ikut rapat. Aku pengen keliling cari sesuatu, boleh tidak?" tanya Fay menghentikan langkah Bagas yang ada di sebelahnya.
Tatapan mata beralih menatap wajah sang kekasih, "Boleh tapi izin Rey dulu. Modenya masih samar, jangan sampai justru mengubah arah pembicaraan. Ayo, kita sudah ditunggu diatas."
Perjalanan kembali dilanjutkan tanpa obrolan. Mall yang menjadi tempat pertemuan merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal meski bukan cabang pusatnya. Terlihat begitu banyak pengunjung sehingga membuat Bagas langsung menggandeng tangan Fay tanpa permisi.
Fay memang bisa berjalan sendiri tapi melihat keramaian yang ada. Ia tak ingin gadis itu mulai merasa tidak nyaman. Jadi akan lebih baik menjaganya sampai tempat tujuan bahkan saat menaiki tangga lift harus berdiri di belakang sang pujaan hati agar tak ada yang mengusik.
"Fay, ponselmu masukin dulu!" tegas Bagas membuat Fay berbalik ke belakang tetapi tubuh tidak seimbang membuatnya limbung ke depan.
Melihat itu, Bagas sigap memegang pinggang gadis yang kini jatuh ke pelukannya. "Sudah kubilang hati-hati, Fay." peringatannya diabaikan dimana sang kekasih masih diam dalam pelukan. "Fay, yakin tidak mau lepas?"
Tanpa disadari Bagas, saat ini Fay terdiam karena melihat wajah yang sangat familiar di bawah sana. Entah itu wajah sang kakak atau bukan tetapi jelas sekali begitu mirip hanya saja penampilan lebih anggun dan berkelas. Apa ia tengah bermimpi? Tiba-tiba tubuhnya terhuyung kembali berdiri tanpa sandaran, tatapan mata teralihkan menatap pria yang ada di hadapannya.
"Kenapa malah melamun?" tanya Bagas menyentak kesadarannya tetapi yang ditanya justru berjalan meninggalkan ia dengan langkah kaki menuruni lift menuju lantai bawah lagi.