Blurb :
"Aku rela berkorban demi dirimu, Mas. Bahkan, dengan sukarela memberikan uang gajiku kepadamu. Tapi kenapa, teganya dirimu memberikan semuanya kepada selingkuhanmu!"
Airin benar-benar merasa kecewa atas apa dilakukan oleh Aldi suaminya. Airin merasa di lecehkan dan tidak dihargai.
Hingga Airin berpikir untuk mengakhiri pernikahannya dan berniat untuk balas dendam.
Akankah rencananya berhasil atau ia berubah pikirannya dan menerima Sonia untuk jadi istri kedua suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipihpermatasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14.Cerai?
"Napa? Kok terkejut banget ya saat aku menghampirimu, Mas?"
Airin merangkul lengan suaminya lalu, tersenyum.
"Ka-kamu lagi ngapain disini?"
Aldi merasa gugup dan benar-benar tidak percaya kini sang istri ada di sampingnya.
"Jangan sentuh kekasihku, wanita gatal!"
Sonia beranjak dari tempat duduknya dan melepaskan tangan Airin yang merangkul lengan Aldi.
Deg. Wanita itu merasa terkejut saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Sonia.
Airin menatap kesal sang suami, kemudian menatap sinis Sonia.
"Aku enggak salah dengar? Kamu kekasihnya Aldi?"
Wanita itu menyilangkan kedua tangannya dan memutarkan matanya dengan malas.
"Iya, napa emangnya?" Sonia menatap tajam Airin.
"Terus kamu siapa? Berani sekali menyentuh dia!"
Wanita itu mendorong Airin hingga jatuh ke bawah lantai sehingga membuat Airin meringis kesakitan.
"Kamu baik-baik ajakan?"
Seorang pria berjalan menghampiri Airin dan mengulurkan tangannya.
"Iya, aku baik-baik aja kok, Pak."
Airin memegang tangan pria tersebut, kemudian segera berdiri. Perasaan wanita itu benar-benar marah saat Sonia memperlakukan dirinya dengan kasar.
"Kasar banget sih jadi orang! Kamu hanyalah kekasih si pria brengsek itu! Sedangkan aku istrinya si pria bajingan itu!" bentak Airin menatap tajam Sonia.
Deg. Sonia terbelelak karena merasa terkejut mendengar perkataan wanita yang kini ada di depannya.
"Coba jelaskan sama aku, Aldi, siapa dia?"
Sonia menatap Aldi dengan tatapan sinis.
"Dia, istriku," Aldi menundukan kepalanya.
Airin langsung menatap sinis Sonia dan berharap wanita itu mundur.
"Oh, jadi dia istrimu? Wanita mandul yang belum memiliki anak dari hasil pernikahan kalian? Sungguh kasihan sekali."
Sonia tertawa mengejek sambil menatap Airin.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya dan merasa sangat marah saat Sonia menghina dirinya.
"Barusan kamu berkata apa, hah?" Airin menatap tajam Sonia.
"Wanita mandul!" Sonia menatap tajam balik Airin.
Airin mengangkat satu tangannya, lalu menampar wanita yang kini ada di depannya.
Sonia meringis kesakitan karena ulah Airin yang menampar dirinya dengan keras. Wanita itu mengusap pipinya yang terasa panas.
"Kurang ajar, kamu! Berani sekali menamparku!"
Sonia tidak terima Airin menampar dirinya. Dia menampar balik Airin akan tetapi, harus gagal karena tangannya di tahan oleh seseorang.
"Lepaskan tangan, Sonia!"
Aldi menatap tajam Bram dan meminta agar pria itu melepaskan tangannya yang mengcengkram tangan Sonia.
Bram pun dengan segera melepaskan tangan Sonia.
"Mau kalian apa sih? Ini tempat umum jangan cari keributan disini!"
Aldi menatap sang istri dan Bram bergiliran.
"Apakah kamu enggak salah bicarakan? Tentu aja aku kesini karena kamu tega selingkuh, Mas!" Airin menatap tajam suaminya.
"Kenapa kamu tega lakuin ini, Mas? Aku selalu setia menemimu dan kamu balas dengan sebuah pengkhianatan!"
Wanita itu sambil memukul dada bidang suaminya dan sangat marah.
"Salah ya, bila aku memiliki wanita lagi? Seorang laki-laki enggak apa-apa mempunyai dua istri juga asal bisa adil aja."
Aldi tersenyum pada sang istri dan berharap Airin mau menerima kenyataannya.
"Benar-benar gila ya, Mas! Aku enggak sudi bila harus di madu!" Airin menatap Aldi.
"Kenapa enggak mau? Oh, aku tau, apakah karena pria brengsek ini yang membuat dirimu jadi berpaling? Ternyata sama aja kamu tuh murahan tau!"
Airin menampar suaminya dan tidak terima di katakan murahan. Sungguh tidak menyangka suaminya berkata seperti itu, serta malah membalikan keadaan.
"Barusan bilang apa, Mas? Siapa yang murahan, Mas? Dia atasan kerjaku bukan siapa-siapa!" Airin menatap suaminya.
Sonia sangat marah melihat Aldi di tampar oleh Airin.
"Istri macam apaan menampar suaminya begitu aja!"
Sonia menatap Airin, kemudian menatap Aldi.
"Sudahlah, Mas, istri seperti dia tuh harus di tinggalkan! Udah mandul, enggak tau diri!" omel Sonia.
"Jaga mulutmu! Sembarangan sekali kalo bicara. Sebenarnya siapa yang murahan? Justru kamu sendiri yang murahan! Udah tau punya istri tapi tetap nekat godain orang, dasar pelakor!"
Bram menatap Sonia benar-benar tidak menyangka bisa jadi perusak dalam rumah tangga orang lain.
"Justru aku lebih bahagia bersama dengannya karena dia mampu memberikan anak untukku!" ucap Aldi.
"Kalian tau? Aku sedang hamil anaknya dan bentar lagi aku akan segera menikah!" Sonia sambil menatap Airin.
Deg. Airin membulatkan matanya merasa terkejut. Hatinya kini bagaikan di tusuk ribuan jarum dan di sayat-sayat oleh pisau. Wanita itu tidak menyangka sang suami tega melakukan hal itu.
Airin mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh dan mencoba kuat di hadapan sang suami serta Sonia.
Wanita cantik itu tersenyum kemudian menatap Aldi dan Sonia bergiliran lalu, bertepuk tangan.
"Kalian kayaknya bahagia sekali ya? Dengan pede dan bangganya mempamerkan kehamilanmu?" tanya Airin.
"Tetapi sangat di sayangkan karena hasil dari perzinahan! Kalo mau bikin anak, menikah dulu baru bikin anak. Bukannya pake depe, lalu menikah!" sindir Airin.
"Jangan sok suci jadi orang! Lagian itu urusanku bukan urusanmu jadi jangan ikut campur!" bentak Sonia.
Aldi menatap Airin kemudian mencengkram lengan istrinya dengan kasar. "Jangan munafik, aku tau pasti kamu juga melakukan hal yang sama kan dengan pria bajingan itu?"
Bram langsung melepaskan tangan Airin, lalu mencengkram kerah Aldi.
"Benar-benar gila ya, kamu tega sekali memfitnah istrimu? Lagian aku enggak seperti kalian yang suka berlebihan," ucap Aldi.
"Kamu bayar berapa dia? Gimana sangat menikmatinya kan?"
Aldi semakin bertanya dengan pertanyaan yang membuat Bram semakin emosi.
Tiba-tiba pria itu memukul bibir bawah Aldi sehingga sedikit mengeluarkan sedikit darah. Aldi mengusap bibirnya lalu, menatap tajam Bram.
"Jangan maen kekerasan dasar munafik! Apa salahnya bilang jujur aja, jangan sok pura-pura mu-"
Ucapan Aldi harus terputus saat Airin menampar pipinya kembali.
"Aku sungguh sangat kecewa sama kamu, Mas! Sekarang kamu tuh berubah, suka kasar dan enggak pernah peduliin aku! Aku tau karena dia kan? Ya sudahlah jika itu terbaik buat kamu lebih baik kita bercerai, Mas!"
Air mata yang tadi dia tahan tiba-tiba terjatuh begitu saja. Sakit, memang sakit bila kita harus berpisah dengan orang yang selama ini berada di samping kita. Akan tetapi, itu lebih baik dari pada bertahan banyak menyisihkan luka dan tidak pernah menafkahi lahir dan bathin.
Aldi terbelelak saat mendengar perkataan sang istri dan dengan semudah itu dia mengucapkan agar kita mengakhiri semuanya.
"Baiklah, jika itu mau-mu, aku enggak masalah kita bercerai! Karena aku sudah mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari kamu dan sesuai dengan kriteriaku!"
Aldi menatap sang istri dan sepakat untuk bercerai. Pria itu memilih hidup bersama dengan anak pemilik perusahaan yang terkenal itu.
Airin pun segera pergi dari hadapan Aldi dan berjalan menuju keluar dari restoran tersebut.
"Airin, tunggu ...." teriak Bram.
Pria segera berlari menyusul Airin yang telah pergi dari restoran tersebut.