Sella hanya seorang gadis desa yang terima di nikahkan karena perjodohan. Selama menikah lima tahun dengan Dody, Sella tak pernah merasakan uang lebih. Karena Dody selalu memberikan jatah uang yang minim, hingga Sella harus benar-benar pintar mengatur keuangan. Selama ini Sella diam mendapatkan perlakuan seperti itu, tapi pada saat Dody membawa seorang wanita ke rumah. Sella sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dody bukannya sadar akan kesalahannya, justru ia malah mengusir, Sella.
Mampukah Sella hidup bahagia setelah di usir oleh Dody?
Karena Sella hanyalah seorang wanita desa yang berpendidikan rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
Dody kesal karena usahanya tak berhasil juga. Ia pulang dengan tangan hampa. Bahkan ia tak menyapa orang tuanya yang sedang duduk di teras halaman. Ia nyelonong pergi begitu saja.
"Kamu lihat itu! anak kesayanganmu tidak ada sopan santunnya sama sekali pada orang tua! datang nggak permisi pergi pun nggak pamit," ucap ketus Ayah Budi melihat kepergian Dodi yang tak pamit sama sekali.
"Kalau hal buruk mengenai anak-anak pasti yang disalahkan seorang ibu. Tetapi kalau hal baik pasti kamu membanggakan dirimu sendiri."
istrinya tak mau kalah ia pun membela diri.
"Dari dulu kamu memang seperti ini, mah. Tidak pernah mengakui kesalahanmu dalam mendidik anak-anak. Kamu selalu merasa menang sendiri."
"Dengan cara didikmu yang salah itu, telah membuat anak-anakmu bersikap sombong, angkuh seperti halnya dirimu."
"Kamu lihat sendiri bukan, rumah tangga Dodi saat ini sedang bermasalah? itu karena sikap Dodi yang sangat buruk terhadap Sella."
"Seharusnya kamu memberikan pengarahan dan bimbingan yang baik terhadap Dodi, bukan malah membelanya terus-menerus. Jika anak-anak kita berjalan melenceng, berbelok arah seharusnya kamu menegurnya meluruskannya, supaya anak-anak menyadari akan kesalahannya."
Ibu Budi bukannya menyadari akan kesalahan yang selama ini dia masih saja berkeraa hati bahwa dirinya tidaklah salah.
"Seharusnya papah itu lebih baik menjadi seorang ustad, karena setiap hari bisanya hanya ceramah dan ceramah saja."
"Dodi, anak kita berdua. Yang mendidiknya juga bukan aku saja. Papah juga mendidiknya bukan? tetapi ketika ada suatu permasalahan kenapa aku yang disalahkan? papah juga harus mengoreksi diri papah sendiri dong."
Ayah Budi geram mendengar apa yang barusan di katakan oleh istrinya," jika kamu menjadi istri orang lain, pasti kamu sudah di tampar atau di cerai oleh suamimu. Untung saja aku masih punya hati nurani, jika tidak sudah dari dulu aku cerai dirimu, mah! karena kamu terlalu berani pada suami!"
Saat itu juga Ayah Budi bangkit dari duduknya, dan ia berlalu pergi dari hadapan istrinya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah karena percuma saja menasehati istrinya yang bersifat keras kepala.
*******
Tak terasa pagi telah datang, Dody pun merasa bingung. Karena mamahnya sudah tidak mau mengurus Putra, sedangkan ia tidak tahu bagaimana cara mengurus anaknya tersebut.
"Bagaimana ini, repot sekali seperti ini? Mamah keterlaluan sekali tidak mau mengurus Putra, sehingga aku harus mengurusnya sendiri."
Dodi memandikan Putra dan ia tidak tahu kebiasaan mandi Putra itu dengan menggunakan air hangat. Dia asal saja memandikan anaknya sehingga Putra pun menangis sambil menggigil kedinginan.
"Nggak mau huk huk huk... dingin papah.."
Dodi semakin kebingungan ketika Putra menangis semakin keras pada saat dimandikan," papah hanya ingin memandikanmu, tetapi kenapa kamu malah menangis seperti ini?"
"Aku tidak pernah mandi dengan air dingin, pah. Mama Sella selalu menyiapkan air hangat untuk mandi aku. Mana mamah Sella, pah?"
Dodi menarik napas panjang, ia sebenarnya sangat marah kepada anaknya itu, tetapi ia berusaha menahan kemarahannya. Karena ia tak ingin Putra semakin ketakutan, jika melihat dirinya marah-marah.
"Maafkan papah ya Putra, ya sudah mandinya nggak usah lama-lama, nanti kamu malah masuk angin. Kamu nggak usah tanyakan lagi Mamag Sella, dia nggak akan pulang. Nanti papah carikan mamah baru."
Dengan gampangnya Dodi mengatakan hal itu kepada anaknya yang masih berusia lima tahun. a
Anaknya bukannya diam, dia malah semakin menangis menjadi-jadi.
" Aku nggak mau mamah baru, yang aku mau Mamah Sella."
"Putra, hentikan tangismu! pagi ini kita akan ke sekolah, jadi jangan terus kamu menangis seperti ini. Jangan buat papah hilang kesabaran hingga berbuat kasar kepadamu!"
Setelah mendapatkan bentakan dari Dodi, Putra pun berusaha meredakan tangisnya.
Dengan sangat malas Dodi memakaikan baju sekolah kepada Putra, tanpa lupa ia menyuapi anaknya untuk sarapan. Setelah itu ia mengantarkan Putra ke sekolahannya.
Sepulang mengantarkan Putra ke sekolah, Dodi melamun di teras halaman. Dia merasa bosan karena tidak melakukan aktivitas apapun.
"Jika seperti ini terus, aku bisa stress karena terlalu lama menganggur di rumah. Masa iya, aku setiap harinya berkutat mengurus Putra? tidak sewajarnya hal itu aku lakukan, karena itu adalah pekerjaan seorang wanita."
"Melelahkan sekali ternyata mengurus seorang anak, apalagi anaknya luar biasa seperti Putra."
"Oh iya, kata Dodo pagi ini temannya akan mengembalikan kontak mobil dan juga surat-suratnya. Sebaiknya aku ke rumah mamah lagi untuk menanyakan hal itu kepada, Dodo."
Dodi melangkah menuju ke rumah orang tuanya untuk menemui adik semata wayangnya. Tetapi ia melihat adiknya sedang mondar-mandir kebingungan di terasa halaman seraya tangannya beberapa kali menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Dodo, kamu kenapa terlihat panik dan bingung seperti itu?" Dodi merasa heran melihat tingkah adiknya tersebut.
"Aku telah ditipu, Mas," ucapnya singkat.
"Ditipu, maksudnya bagaimana?" Dodi semakin penasaran dan semakin ingin tahu dengan apa yang barusan dikatakan oleh adiknya.
"Aku telah ditipu oleh temanku sendiri, yang aku pikir dia adalah teman baikku, mas."
Dodo merasa ketakutan sehingga dia bertele-tele dalam berucap.
"Kamu dari tadi ngomong ditipu-ditipu melulu! katakan yang jelas, jangan bertele-tele seperti ini!" Dodi pun naik pitam.
"Anu, mas. Aku ditipu sama temanku yang meminjam mobil. Nomor ponselnya tidak bisa dihubungi, dan yang aku dengar dari beberapa teman-temanku dia juga pernah melakukan hal yang sama kepada yang lainnya."
"Dimana dia pura-pura meminjam mobil, tetapi setelah itu mobil ia jual. Dan dia pergi jauh begitu saja."
"Ada yang memberitahuku, saat ini temanku sudah terbang ke luar negeri dengan membawa lari semua uang hasil penjualan beberapa mobil."
Dodi begitu kesal dan sangat marah mendengar kabar buruk tersebut," dasar bodoh! untuk apa kamu kuliah mahal-mahal tetapi jalan pikiranmu terlalu pendek dan gampang dibodohi oleh orang! nyesel aku mengeluarkan banyak uang untuk membayar kuliahmu dulu."
"Ujung-ujung kamu tidak bekerja menganggur saja. ketika aku memberikan mobil untuk modal usaha, malah kamu salah gunakan seperti ini. Jika sudah terjadi hal buruk seperti ini, lantas apa yang akan kamu lakukan, hah?"
Dodo hanya diam saja, ia tertunduk lesu. Ia menyadari akan kesalahannya hingga ia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Seperti ini saja yang kamu lakukan hanya bisa diam kan? setelah apa yang terjadi, mana tanggung jawabmu, hah?"
Dodi sudah tak bisa lagi menahan rasa amarahnya, ia mencengkram kerah baju adiknya.
"Ini musibah, Mas. Bukan unsur kesengajaan. Kenapa Mas memojokkanku, seolah-olah ini kesalahanku?"
orng tua mcm ap
Dan tetap lah jadi orang baik... aamiin
tamat belum vote... maaf ya Thor....