Bagaimana jadinya jika persahabatan yang di jalin begitu lama, ternyata menimbulkan benih benih cinta ?
Ya, itulah yang di rasakan oleh Sasikirana, seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA.
Si gadis tomboy, dan selalu menjadi biang ribut di sekolah, siapa yang menyangka ternyata memiliki perasaan cinta pada sahabatnya sendiri.
Akankah Sasi jujur dengan perasaan nya ? ataukah dia akan mengubur dalam dalam perasaan itu ?
Ikuti terus kisah nya, Sasi si gadis tukang bikin rusuh.
Happy Reading 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang !
Flashback 2
"Kamu sebenernya suka kan sama Sasi ?" tanya Bian to the point
Axel yang mendengar pertanyaan dari Bian pun langsung mendongakkan kepalanya. Melihat ke arah Bian tanpa bisa menjawab pertanyaan itu.
"Kalau kamu diam, tanda nya kamu memang suka sama Sasi !!" ucap Bian lagi
"Aku takut akan merusak persahabatan ini kalau salah satu dari kita ada yang menyimpan perasaan," ucap Axel sambil menundukkan kepalanya
"Terus ?" tanya Bian
"Ya nggak ada terusannya Ka, udah sampai situ doang ," jawab Axel asal
Plak
Bian memukul kepala Axel
"Maksudnya, kamu gak akan bilang sama Sasi soal perasaan kamu itu ?" tanya Bian dengan raut wajah yang serius
"No, nggak ka !!"
"Kenapa ?"
"Yang ada dia bakal menghindar dari aku atau lebih parahnya dia bisa aja nggak mau lagi sahabatan sama aku," jawab Axel
"Bodoh !! Jelas jelas Sasi juga suka sama kamu !!"
batin Bian mengumpat kebodohan Axel
"Yasudah !! eh Terus sekarang mau masuk ke dalam apa nggak ?" tanya Bian lagi
"Nggak ah, aku mau pulang aja,"
"Emang kamu nggak mau ketemu Mami sama Papi kamu ?"
"Mau, tapi besok juga bisa kan !" jawab Axel santai
"Dasar anak durhaka ! Orang tua udah di depan mata malah nggak mau ketemu !" cibir Bian
"Bukan nggak mau ketemu, tapi besok juga masih bisa ketemu. Udah ah, lama lama sama Ka Bian bikin aku tambah pusing !!" ucap Axel seraya bangun dari duduknya
"Hatihati pulangnya, jangan mikirin Sasi mulu. BAHAYA," ledek Bian
Axel pun berdecak kesal pada Kaka dari sahabatnya itu, setelah mencium punggung tangan Bian dia segera berjalan ke arah motornya untuk segera kembali pulang.
**
Sementara itu masih di ruang keluarga..
"Kau yakin dengan rencana mu itu Don ?" tanya Tuan Betrand pada Ayah Sasi "Apa kamu sudah bicarakan masalah ini dengan istrimu ?" sambung Papi Axel
"Tentu saja, dan istriku pun sudah setuju," Jawab Tuan Doni, Ayah dari Sasi dan Bian
"Yasudah kalau begitu, semoga Sasi juga setuju dengan rencanamu ini !!"
"Rencana apa ?" tanya Bian yang tiba tiba memotong pembicaraan kedua lelaki paruh baya itu
"Bi, sejak kapan kamu disitu ?" tanya Ayah
"Sejak tadi saat Om Betrand menanyakan tentang rencana Ayah !!" jawab Bian cepat
"Jadi ada rencana apa yang aku tidak tau Ayah ?" tanya Bian lagi dengan tatapan mengintimidasi
"Duduklah.." ucap Ayah menepuk sisi sofanya
"Tadinya besok ayah akan memberitahukan rencana ini di kantor, tapi berhubung kamu sudah mendengarnya, jadi Ayah akan memberitahukannya malam ini !!" jawab Ayah memberi alasan
"Kamu tau kan kita baru membuka cabang perusahaan di Singapur ?" tanya Ayah, Bian pun menganggukkan kepalanya. "Secepatnya kamu akan menduduki jabatan sebagai CEO di perusahaan induk kita, dan Ayah akan mengurus cabang perusahaan yang ada di Singapur itu, Ayah akan merintis nya dari Nol seperti dulu !!" Bian kembali dibuat bingung dengan jawaban Ayahnya
"Ayah dan Bunda akan tinggal di Singapur untuk sementara waktu !!" Bian mengerutkan keningnya. Dia terkejut dengan ucapan sang Ayah.
"Lalu Sasi ?" tanya Bian
"Ayah akan meminta nya untuk tinggal bersama kami di Singapur, dan Ayah akan meminta sasi juga untuk melanjutkan kuliah disana !!"
"HAH ?" Bian tidak percaya dengan jawaban Ayahnya itu "Lalu Axel ?" Bian kembali bertanya lagi
"Axel ?" jawab Tuan Betrand dan Ayah bersamaan, mereka heran kenapa Bian menyebut nama Axel, padahal dalam hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Axel
"Maksud Bian, Sasi dan Axel kan bersahabat sejak dulu, memang nya mereka mau dipisahkan begitu saja ?" Bian dengan cepat meluruskan maksud kata katanya tadi
"Singapur itu dekat Bian, dia bisa bulak balik untuk bertemu Sasi kalau dia mau !" jawab Ayah enteng
"Yasudah, Bian serahkan semuanya sama Ayah, semoga Sasi juga setuju dengan rencana Ayah ini !!"
"Tapi Ayah minta jangan katakan apapun pada Sasi dulu, termasuk pada Axel, Ayah mau bicara langsung dengan Sasi !!" pinta Ayah lagi pada Bian, karna jika sampai Axel tau rencana ini, pasti dia akan langsung memberitahukan nya pada Sasi.
"Baik Ayah !!" Jawab Bian pasrah
Flashback Off
**
Dikamar Sasi..
"Bun, nanti kita liburan kemana setelah Sasi selesai ujian akhir ?" tanya Sasi yang berbaring di apit oleh Bunda dan Mami nya.
"Kamu ini, ujiannya saja belum dimulai udah mikirin liburan !" jawab Bunda
"Bagaimana kalau ke Hongkong bersama Mami dan Papi ?" potong Mami Winda
"Mau mau mau !!" jawab Sasi cepat dengan tersenyum lebar
"Nanti kalau kamu kesana yang ada kamu akan menghambat pekerjaan Mami dan Papi, Sasi !!" seru Bunda "No, Bunda tidak mengizinkan nya ! Gimana kalau kita ke Singapur aja ?" usul Bunda yang langsung mendapat tatapan dari Mami Winda.
"Singapur ? Mau ngapain disana Bunda ?" tanya Sasi lagi "Sasi nggak mau kalau cuma liat patung Merlion doang, Sasi kan bukan anak kecil lagi Bun, Sasi maunya yang unik dan seru !!" sambungnya lagi
"Tapi disana kan ada banyak tempat wisata lain yang bisa kamu kunjungi !"
"Bagaimana kalau kita bicarakan ini setelah kamu selesai ujian nanti ? Hoaamm... Mami ngantuk banget," seru Mami Winda menyela pembicaraan mereka. Setelah itu akhirnya mereka memutuskan untuk segera beristirahat.
Flashback Off
**
Tok Tok Tok
"Masuk !" suara Ayah dari dalam ruangan kerjanya
Ceklek
Suara pintu yang dibuka dari luar oleh seseorang
"Sini sayang..!" Ayah meminta putrinya untuk masuk ke dalam ruangan
"Ayah, Sasi jadi takut, sebenernya ada apa sih ?" tanya Sasi khawatir saat melihat keseriusan di wajah sang Ayah
"Tidak ada apa apa. Ayah cuma pengen ngobrol berdua aja sama kamu," jawab Ayah seraya mengelus pucuk kepala putrinya
Kini mereka berdua duduk saling berhadapan di sofa yang berbeda di dalam ruangan kerja Ayah.
"Ujian kamu kapan dimulai ?" tanya Ayah sambil menyeruput kopi yang tadi di siapkan oleh Bunda
"Beberapa hari lagi, memangnya kenapa ?" Sasi kembali bertanya
"Setelah lulus nanti, rencananya kamu akan melanjutkan kuliah kemana ?"
"Belum tau." jawab Sasi cepat "Ayah, please deh jangan muter muter begini, Sasi makin penasaran !" ucap Sasi tidak sabaran, karna dia tau Ayah nya itu tidak suka berbasa basi
"Ha ha ha, wajahmu semakin menggemaskan kalau kesal begitu !" tawa Ayah memecah kesunyian di ruangan itu
"Begini sayang, setelah kamu lulus sekolah nanti, Ayah dan Bunda akan pindah ke Singapur !" Ayah menjelaskan perlahan agar dapat dengan mudah di mengerti oleh putrinya itu "Mungkin untuk beberapa tahun kami akan tinggal disana,"
Sasi masih diam, mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Ayahnya.
"Ayah akan memberikan kamu dua pilihan !! Kamu boleh ikut tinggal bersama Ayah dan Bunda, atau tetap disini bersama Ka Bian ?"
.
Hening...
Sasi belum juga menjawab pertanyaan dari Ayahnya itu.
10 detik...
30 detik...
1 menit...
...
...
Hingga 5 menit pun berlalu, Tapi Sasi masih juga diam..
"Sayang ?" Ayah akhirnya berjalan menuju sofa di mana putrinya itu duduk, di usapnya punggung Sasi "Tidak apa, kalau kamu belum bisa menjawab itu sekarang, lagi pula masih beberapa minggu lagi kan ? Masih banyak waktu untuk kamu berpikir !!" Ayah mencoba menenangkan kekhawatiran yang begitu terlihat di wajah Sasi
"Sebenernya untuk apa Ayah dan Bunda tinggal disana ?" kalimat pertama yang diucapkan oleh Sasi
"Ayah akan menghandle anak perusahaan yang baru saja Ayah dirikan disana !" jawab Ayah seraya menatap mata putrinya
"Kan bisa bulak balik Ayah, Singapur kan dekat, hanya butuh waktu 2 jam kan Ayah bisa langsung nyampe disana !!"
"Iya, Ayah mengerti maksud kamu ! Tapi daripada kita menghabiskan biaya untuk penerbangan itu setiap hari, bukankah jauh lebih baik kalau kita tinggal disana untuk sementara waktu !"
"Pikirkanlah dulu, Ayah dan Bunda tidak akan memaksakan apa yang kamu tidak mau lakukan !" Ayah menutup kalimatnya, dia menggenggam tangan Sasi dengan erat
Masih jelas terlihat, kerisauan di wajah putrinya itu. Tapi Ayah tidak mau keputusan nya ini akan menjadi beban pikiran bagi Sasi. Apalagi ujian akhir sekolah sudah dekat, jangan sampai mengganggu pelajarannya nanti.
Setelah itu Sasi pun meninggalkan ruang kerja Ayahnya.
**
"Sayang.." Bunda memanggil Sasi dari arah ruang keluarga.
Sasi hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai dua.
"Bi.." panggil Bunda pada putranya, yang juga berada di ruang keluarga
Bian pun mengangkat kedua alisnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun
"Coba kamu susul adikmu ke kamar, Bunda khawatir sama dia." pinta Bunda
"Biarin aja dulu Bun, Sasi pasti butuh waktu untuk sendiri !" Bian kembali menonton acara tv kesukaan nya, yaitu pertandingan piala dunia yang sedang berlangsung
bug
Bunda melemparkan bantal kecil ke arah Bian.
"Okay okay.." ucap Bian saat mendapatkan tatapan tajam dari Bundanya. Dia pun segera bangun dari duduknya, dan berjalan menuju ke kamar Sasi
**
Tok Tok Tok
"Dek.."
Ceklek
Tanpa menunggu jawaban adiknya, Bian langsung masuk ke kamar Sasi.
Bian mencari ke semua sudut ruangan, tapi Sasi tidak ada disana. Dia pun berjalan ke arah balkon dikamar itu.
"dek, kamu ngapain disini ? ini udah malem, ayo masuk !!" Ajak Bian pada adiknya
"Ka.." Sasi mulai membuka suaranya "Sasi bingung !!" Sasi membalikkan tubuhnya dan segera memeluk Bian
"Ayo kita masuk dulu, kita ngobrol di dalem ya !" ucap Bian lembut, dia mengerti bagaimana keadaan Sasi sekarang. Biasanya mereka akan selalu ribut jika berdua, tapi kini Bian menurunkan egonya, agar adiknya itu nyaman berada disisinya. Dia yakin, pasti sekarang ini Sasi butuh tempat untuk bercerita.
"Ka, apa boleh Sasi tetep disini sama Ka Bian ?" tanya Sasi, saat mereka sudah ada di dalam kamar dengan Bian yang duduk di kursi kecil menghadap ke arah adiknya, sementara Sasi duduk di pinggiran tempat tidurnya
"Tentu saja boleh !" jawab Bian cepat
"Tapi Ayah dan Bunda gimana ?" tanya Sasi lagi
"Gimana apa nya ? Ya, biarin aja Ayah dan Bunda disana, siapa tau nanti pas balik lagi kesini kamu punya adik baru !!" jawab Bian dengan entengnya
"KAKA !!" pekik Sasi "aku lagi serius tau !!"
"Iya iya, sorry !" Bian tersenyum, akhirnya adiknya itu kembali ke mode galaknya "Eh, tapi memang kamu tidak mau punya adik baru ?" tanya Bian kembali diiringi dengan gelak tawanya
"Ka, please deh, jangan bahas yang nggak penting !"
"Ya, siapa tau kan kamu bosen gitu jadi anak bungsu !"
"Emang kaka mau dirumah ini ada bayi ?" tanya Sasi "Seharusnya tuh ya bukan Ayah dan Bunda yang punya bayi lagi, tapi Kaka !!" balas Sasi
Pletak
Suara sentilan di kening Sasi terdengar begitu nyaring
"aw.." Sasi reflek mengusap usap keningnya
"Makanya jangan sembarangan kalau ngomong !"
"Lah, Kaka duluan yang nyari gara gara !"
"Udah ah.." Bian bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar
"Kaka mau kemana ? aku belum selesai ngomong !!" teriak Sasi
"udah nggak mood !" jawab Bian tanpa menoleh ke belakang
"Ck, dasar ! Dia yang mulai tadi !!" Sasi berdecak kesal
Sasi pun sebenernya tau, jika membahas masalah pernikahan atau semacamnya pasti kakaknya itu akan selalu menghindar.
**
Pagi harinya..
Cup
"Pagi Bun.." ucap Sasi seraya mencium pipi bundanya
"Ayah, kayanya bunda masih mimpi deh, ini beneran anak kita ?" tanya Bunda pada suaminya,
Ayah pun hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari istrinya itu, ini adalah kali pertama dalam sejarah peradaban di keluarga kecilnya, Sasi putri mereka bisa bangun pagi dan sekarang sudah rapih memakai seragam sekolahnya.
"Apaan sih bun ? ko aneh gitu liat Sasi ?" tanya Sasi
"Ya aneh lah, kamu kan biasanya harus di teriakin dulu baru bisa bangun pagi !!" Bian yang menjawab pertanyaan adiknya tadi "Liat tuh.." Bian menunjuk ke arah jam dinding yang ada di ruangan itu
Waktu menunjukkan pukul setengah 7 pagi,
"Aku telat salah, sekarang aku udah rapih jam segini salah juga !!" ucap Sasi seraya mengambil selembar roti tawar yang ada di atas meja makan
"Bukan salah, tapi HERAN !" seru Bunda dengan penekanan di akhir kalimatnya "kamu kan si putri tidur !!" sambungnya lagi
"Ck..udah ah Sasi mending berangkat sekarang daripada jadi bahan ledekan terus !!" ucap Sasi dengan mulut yang masih berisikan roti yang di makannya
"hey, mau berangkat pake apa ?" tanya Ayah, pasalnya Ayah sudah melarang Sasi untuk mengendarai sepeda motor kesayangannya itu
"pake si Black Mamba lah Ayah, masa mau jalan kaki, yang ada kalau jalan kaki bisa besok nyampe sekolahnya !!" Jawab Sasi cepat
"No no no..!!" Ayah menggelengkan kepala nya bersamaan dengan jari telunjuknya yang diacungkan keatas seraya di goyangkan ke kiri dan ke kanan, menandakan bahwa dia melarang Sasi untuk berangkat dengan motornya
"aaaa Ayah.. sekali ini aja ya, please !!" rengek Sasi sambil mengatupkan kedua tangannya
"Kamu kan bisa berangkat sama Ka Bian kaya biasanya dek !!" kini Bunda yang bersuara, sementara Bian masih sibuk menyantap sarapan paginya, dia malas kalau harus ikut ikutan melarang adiknya yang susah di atur itu.
"Kali ini aja Bunda, tuh liat Ka Bian nya juga masih makan, Sasi pengen berangkat sekarang."
"Sasi kan sengaja bangun pagi biar bisa bawa si Mamba Ayah, Sasi kangen banget udah lama nggak berduaan sama dia,"
"kamu ini, udah kaya ke pacar aja pengennya berduaan, !!" jawab Ayah
"Ya Yah ya, please !!" Sasi kembali memohon
Ayah menarik nafas panjang, di hembuskannya dengan perlahan. Pantas saja putrinya ini sering mendapatkan julukan "cewe jadi jadian". Bagaimana tidak dikatakan seperti itu, sedari kecil dia selalu berebut mobil mobilan dengan Kakaknya. Bahkan dulu Axel sering dibuat menangis oleh putrinya itu.
Sekarang bahkan lebih parah, dia lebih suka naik motor gedenya dibandingkan naik mobil di antar jemput seperti anak anak pada umumnya.
"Bun, kamu ngidam apa sih dulu ?" tanya Ayah seraya memijat mijat kepalanya sendiri
Bunda pun hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan sang suami.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, Sasi pun di izinkan untuk membawa motor gedenya hari ini. Tapi dengan catatan, pulang sekolah nanti dia harus langsung pulang kerumah, tidak ada nongkrong nongkrong dengan genk motornya itu.
Ya, Sasi memang sering pulang terlambat. Setelah pulang sekolah dia selalu nongkrong bersama kawan kawannya. Entah itu teman di tim basket sekolahnya atau teman teman yang dia kenal di jalanan, yaitu genk motornya.
*
*
🌺🌺🌺