NovelToon NovelToon
ROSETA

ROSETA

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Anak Kembar / Tamat
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: odipee

"Wanita murahan."

Roseta terdiam, ditatapnya nanar pria yang baru saja membuatnya bungkam bak menelan duri dan tersangkut ditenggorokan.

Ada apa ini?

Kenapa?

Walau bagaimanapun, Roseta mampu melihat betapa frustasinya seorang Matheo Ranu Pandega disamping perkataan kotornya. Roseta juga tahu di dalam mata berang pria itu menyimpan kegundahan. Roseta mengenal Theo, lebih dari siapapun.

Roseta sungguh ingin penjelasan, namun seolah mulut yang akan mengaga kembali dihentikan olehnya.

"Aku mendengar dari seseorang, kau membawa putrimu? Ah, jika boleh aku tebak, apa itu buah dari perbuatanmu dengan pria itu? Jay?"

Satu tamparan mendarat di pipi Theo.

Roseta merasa panas ditelapak tangannya, ia seperti tertusuk belati di ulu hati. Bagaimana bisa pria yang paling dicintainya berkata dengan tuduhan sedemikian rupa.

"Jangan berbicara lebih atau kau akan menyesal di setiap ucapanmu Matheo Ranu Pandega!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odipee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Khawatir

Benda bulat yang mengeluarkan terik panas itu sudah menggantung di langit, Theo yang baru terbangun mendadak mengrenyit karena silau dari matahari menembus matanya. Theo mendudukkan diri dengan keadaan mengenaskan, pandangannya kini berpindah untuk memindai sekelilingnya, lalu seakan dibungkam dengan keadaan saat matanya melotot pada gelang jam yang sedang dengan santainya menunjukkan pukul tujuh pagi.

"Haiiis, sial, kenapa aku bisa ketiduran di lapangan ini?” rutuknya bersamaan itu mencoba untuk berdiri.

"Aaaakh," ringisnya menyadari saat dirasa kakinya memanas sakit ketika mencoba untuk sedikit melangkah.

Benar kata Braga tadi subuh, luka sobekan itu sangat parah dan harus dijahit. Theo yang sekarang sedang menatap pada kaki itu merasa ngilu sendiri. Ayolah, jangankan untuk dijahit, disuntik saja pria dewasa itu ketakutan setengah mati.

Sedangkan di luar sana, puluhan pasang kaki melangkah ingin memasuki gedung Roses Revolution Elementary School. Theo merutuki dirinya sendiri, sekali lagi ia melewatkan hari untuk menyempatkan waktu mengantar putrinya pergi ke sekolah.

Nampaknya Theo harus segera bergegas untuk meninggalkan tempat ini. Jangan sampai Rahel memergokinya dengan keadaan yang hancur lebur.

Theo lantas berjalan pelan dengan membiarkan telapak kakinya telanjang, keadaan yang sudah sepi karena baru saja bel tanda masuk berbunyi membawa keberuntungan untuknya. Theo tidak perlu khawatir karena Rahel tadi sudah memasuki gedung dengan Yura yang mengantarkannya, pun Theo juga melihat Yura sudah meninggalkan lingkungan sekolah untuk kembali ke rumah, mungkin? Karena mobil yang dikendarai istrinya itu berbalik arah. Theo juga tidak akan peduli kemana dan dengan siapa Yura akan pergi, tidak penting pikirnya.

Setidaknya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di tempat parkir. Theo mulai mencari keberadaan mobilnya. Sedikit melamun dan memikirkan bagaimana caranya mengendarai mobil dengan kondisi yang seperti ini. Pasti ada cara, Theo sangat yakin.

"Uncle," suara nyaring sedikit berteriak mengudara jelas.

Lantas Theo segera menoleh pada sumber suara. Disana berdiri seorang gadis cilik dengan kasa yang menempel di kepalanya. "Bryna," gumamnya.

Theo keheranan, ini sudah masuk jam pelajaran pertama 'kan?

Kenapa bocah yang diketahui Theo adalah seorang Bryna yang mempunyai kelebihan tenaga berkeliaran di tempat ini? Theo tersenyum dari jarak yang tidak begitu jauh saat Bryna berjalan menghampirinya. Gadis itu sedikit terburu dengan tas ransel yang masih berada digendongnya. Theo memperkirakan jika Bryna sama sekali belum masuk ke kelasnya hanya sekedar untuk menaruh tas miliknya.

Kedua mata Bryna mulai berkaca-kaca setelah menyadari sosok tinggi dihadapannya ini sedang kesakitan. Bryna adalah makhluk yang sangat peka, dengan sekali melihat ia dapat mengetahui kaki Theo sedang terluka.

"Uncle, itu kenapa?" tanyanya polos sembari berjongkok.

Telunjuk mungilnya itu tanpa jijik meraba kaki Theo yang sangat jelas menampakkan sobekan yang lumayan besar.

Sedangkan Theo diam-diam menahan perih, Bryna tidak sadarkah dirimu jika itu sangat menyakitkan?

Namun, tanpa di duga, Bryna membuka ransel dan mengambil kain merah bermotif bunga mawar yang tidak sengaja dibawanya karena otak kecilnya tadi pagi mengatakan jika ia harus membawa kain itu. Entahlah, bagaimana bisa kebetulan ini terjadi, bahwa kain itu bisa dijadikan tumbal untuk menyelamatkan orang.

Ok. Nampaknya Bryna sangat berlebihan dalam berkata-kata tentang menyelamatkan orang hanya dengan sehelai kain saja.

"Uncle, kakinya diangkat dulu bisa?" tanyanya yang sebenarnya sedikit memerintah. Terdengar sangat jelas dengan nada yang dikeluarkannya, pun wajah itu juga memerah menahan tangis.

Theo menuruti, dengan telaten Bryna membungkus telapak kaki pria itu diiringi dengan segala cerocosannya, "Bagaimana bisa ini terjadi, Uncle? Apa Uncle ini anak kecil seperti Bryna? Kenapa ceroboh sekali!”

Setelah selesai membalut kaki milik Theo, Bryna segera berdiri masih dalam mode marahnya. Mata bulat itu masih setia memandang kasihan ke arah bawah yang tentunya masih terfokus dengan telapak kaki Theo yang sudah terbalut kain.

"Maafkan Bryna, Mom," gumamnya pelan.

Theo jelas mendengar dan dengan spontan alisnya ditautkan karena keheranan. "Bryna minta maaf pada siapa?" tanyanya.

Bryna mendongak sedikit memiringkan kepala, nampaknya pertanyaan Theo bukanlah yang diinginkan olehnya. Pasalnya tadi itu Bryna tidak sengaja mengucapkannya. "Hehehehe, minta maaf pada Mommy, Uncle," jawabnya diakhiri dengan ringisan.

Theo semakin keheranan. "Kenapa?"

"Ya karena ulah Uncle, kain kesayangan Mommy jadi korban untuk membalut kaki Uncle," jawab Bryna ringan.

Jujur, mood Bryna benar-benar kacau. Sebenarnya, hari ini Roseta tidak mengijinkan Bryna sekolah oleh sebab kepalanya masih butuh untuk istirahat. Tapi Bryna adalah pemaksa yang ulung, maka dari Roseta pasrah dan menuruti.

Sedangkan saat ini Theo tampak terkejut, bukannya apa-apa, hanya saja mendengar Bryna menyebut ibunya dengan terus-terusan membuat Theo semakin tergerus layaknya hama yang butuh dihancurkan.

"Bisa 'kan Uncle jangan ceroboh lagi!! Bryna tidak suka melihat Uncle terluka."

Bryna berkata dengan memohon sekaligus ada sedikit nada marah. Gadis itu seolah-olah merasa dunianya hancur hanya karena melihat Theo dengan keadaan mengenaskan. Jika dipikir, Bryna sedikit berlebihan mengingat Theo bukanlah orang yang patut ia perdulikan.

Tapi entah bagaimana, kedua orang tersebut bisa dekat dengan sendirinya. Mungkin ikatan darah memang tidak bisa mengalahkan apapun halangan yang melintang sekaligus menjadikan hambatan.

Sayangnya Theo maupun Bryna sama-sama tidak tahu apa-apa dan hanya mengikuti skenareo yang sudah tersusun rapi di naskah penulis dan menjadi lakon atas arahan dari sutradara.

"Uncle diam terus. Bryna benar-benar tidak suka Uncle seperti ini."

Bukannya tersinggung, kini Theo mengulas senyum lebar mencoba menunjukkan bahwa dirinya dalam kondisi yang sangat baik dan Bryna tidak perlu merasa khawatir seperti itu. Theo seakan lupa jika Bryna adalah anak dari wanita yang dulu menghianatinya. Bagian paling dalam di hati Theo mengatakan tidak perlu untuk membenci anak super perhatian seperti Bryna.

Theo mengakui jika Bryna sudah menarik perhatiannya semenjak kali pertama mereka bertemu. Pria itu masih sangat ingat dengan Bryna yang menangis dan tiba-tiba dapat menggugah hatinya untuk membuat gadis itu tenang. Semenjak awal, Theo sudah menaruh hati.

Sembari menarik Bryna untuk dipeluk, Theo berujar, "Bryna cerewet sekali ya. Uncle tidak kesakitan," ucapnya menenangkan.

"Bohong, itu sangat sakit sekali," Bryna menjawab disusul dengan gelengan cepat sebagai penguat bantahannya.

Jelas sekali jika yang dikatakan Theo adalah kebohongan. Lihat saja, saat ini pria itu sedikit meringis tau-tau ada kedutan di kakinya dibagian yang terdapat luka, bahkan berkali-kali juga kedutan itu datang.

"Uncle tidak bohong Bryna. Ini tidak sakit," sanggah Theo tetap pada pendiriannya.

Bryna mendongak sembari melepas pelukan yang Theo berikan. Gadis itu menatap Theo dengan lekat. "Ayo kita ke rumah sakit, Bryna akan meminta Mommy untuk menjahit luka Uncle," pintanya yang sebenarnya bukanlah permintaan, melainkan perintah.

Theo stagnam, lidahnya tercekat tidak tau harus menjawab apa.

Rumah Sakit?

Mommy Lily?

Artinya, ia akan segera bertemu Roseta lagi dengan masih membawa luka hati yang belum sembuh sama sekali.

"Bisakah aku bertemu dengannya lagi," batin Theo meringis.

1
Sri Siti
seru
starlaa
lanjut
starlaa
bryna ini jngan jangan jenius ya. awal episode 1 kayaknya dia berhubungan dengan kakak nya Braga deh
🌻Ruby Kejora
Karyanya bagus kk⭐⭐⭐⭐
Dara
Jangan cari penyakit Rose
Dara
Lho....maksudnya gmn sih theo?
Dara
Theo benar2 bodoh dlm urusan asmara
Dara
Benar kata Braga...daddy nya bodoh
Dara
Sgt bagus penyajian konfliknya thor👍👍👍
Dara: Bukan hampir..tp semua🤩
Karena apa cb.....
total 2 replies
Dara
😢
Dara
Aku syuka
Dara
rodelent itu kayaknya mama si theo
Dara
Lihat ketulusan Jay rosita...buka hatimu
Sari Supartini
hai kak jangan lupa mampir yah di karya aku maribsaling dukung
Dara
Keren bgt ceritanya
Fin
Bagus
Fin
Suka sekali
Ella
Bagus bgt
Yana
Wajib baca
Happy
Huwaaa bagus bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!