Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.
Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.
"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.
Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli gaun malam
Farel lalu memesankan sarapan untuk mereka berdua. Farel memesan dua mangkuk bubur ayam.
"Ayo di makan!" titah Farel pada Sarah.
"Terimakasih, mas," jawab Sarah sembari mengambil mangkuk berisi bubur ayam dari tangan suaminya.
Mereka pun lalu menyantap sarapan mereka. Setelah selesai sarapan, Farel segera membayar apa yang tadi mereka makan. Farelpun kembali menggandeng tangan istrinya untuk berjalan-jalan di sekitar taman.
"Apa kamu sudah capek?" tanya Farel sembari melirik ke arah istrinya. Sarah hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Tapi sebaiknya kita pulang saja. Nanti agak siangan kita jalan-jalan ke mall," jelas Farel yang diberi anggukkan oleh Sarah.
Mereka pun lalu kembali lagi ke hotel. Sampai di hotel Sarah duduk di sofa menyalakan televisi sedangkan Farel pergi ke kamar mandi. Setelah Farel dari kamar mandi, dia menyuruh istrinya untuk membersihkan diri, "Kamu tidak mau ke kamar mandi juga?" tanya Farel.
"Oh iya, mas. Aku mau ke kamar mandi," jawab Sarah pelan lalu segera pergi ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Sarah keluar dari kamar mandi, dilihatnya suaminya sedang duduk di sisi tempat tidur sembari menatap ke arahnya. Sarah terlihat salah tingkah di tatap seperti itu.
"Kemarilah!" titah Farel sembari menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
Sarah menganggukkan kepalanya lalu melangkah mendekati suaminya kemudian duduk di sebelah suaminya tanpa membalas tatapan suaminya itu. Dia terlihat sangat gugup. Jantungnya mulai berdetak kencang. Walau mereka telah melewati malam pertama, tapi tetap saja Sarah selalu berdebar jika berdekatan dengan suaminya itu. Apalagi jika suaminya menatapnya dengan tatapan yang intens, jantung Sarah semakin berdebar kencang.
Farel mulai mendekatkan wajah mereka berdua lalu mencium lembut pucuk kepala istrinya. Sarah memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari suaminya itu yang tanpa dia sadari tiba-tiba dia sudah berada dalam gendongan suaminya dan suaminya itu membaringkannya di atas tempat tidur.
Sarah membuka matanya hingga pandangan mereka bertemu. Farel menganggukkan kepalanya yang di balas Sarah dengan berkedip satu kali sembari menganggukkan kepala. Farelpun lalu menggumamkan doa seperti biasa saat dia hendak mencampuri istrinya.
Sarah tidak bisa menutupi rona bahagia di wajahnya. Senyum tersungging di bibir tipisnya saat merasakan setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi saat mereka baru saja selesai menuntaskan hasrat di pagi menjelang siang ini.
"Mandi dulu setelah itu kita pergi ke mall!" titah Farel lembut sembari mengusap pucuk kepala Sarah.
Sarah menganggukkan kepalanya lalu bangkit hendak duduk di sisi tempat tidur sembari mengenakan pakaiannya. Wanita itu bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Pukul sepuluh pagi, Farel dan Sarah sudah rapi. Mereka segera turun ke bawah. Mereka menunggu di depan hotel sampai sebuah taksi lewat. Farel menyetop taksinya lalu membukakan pintu taksi untuk Sarah. Taksi pun melaju meninggalkan hotel.
"Kemana, mas?" tanya sopir taksi ramah.
"Ke Mall terdekat saja, pak," jawab Farel.
Sarah menoleh ke arah suaminya. Ke Mall? Oh iya ya semalam mas Farel memintaku membeli gaun malam yang sama seperti yang Umi kasih. Duh, kok mas Farel masih ingat, sih. Sarah membatin.
Tak berselang lama, taksi berhenti di sebuah Mall. Farel turun di ikuti oleh istrinya setelah membayar ongkos taksi. Sampai di depan pintu Mall, Farel menggandeng tangan istrinya. Sarah menurut saja.
Baru beberapa menit memutari Mall, Farel tiba-tiba membelokkan langkah kakinya ke sebuah toko.
"Masuklah. Pilih yang kamu mau. Kalau sudah selesai, bilang sama mas!" titah Farel dengan suara lembut sembari mendorong Sarah masuk ke dalam toko dengan gerakan pelan.
Sarah menoleh, "Hhmm, mas nggak masuk?"
"Hhh, toko pakaian wanita. Mas tidak enak masuk," tolak Farel halus.
"Hhhmm, baiklah, mas," sahut Sarah. Setelah wanita itu masuk, ada beberapa laki-laki yang masuk menemani pasangannya.
Dengan malu, Sarah buru-buru memilih beberapa pakaian dalam dan juga gaun tidur seperti yang suaminya mau.
Setelah selesai memilih, Sarah mendekati suaminya yang sudah menunggu di dekat kasir.
Farel mengulurkan sebuah kartu ke tangan istrinya, "Kamu pakai kartu ini. Pinnya tanggal lahir Umi. Apa kamu ingat?"
"Hhmm, iya, mas. Aku ingat tanggal lahir Umi," sahut Sarah yakin.
"Ya sudah kamu bayarlah. Mas tunggu di luar!" titah Farel dan langsung melangkah keluar dari toko.
Sarah pun langsung membayar barang belanjaannya. Setelah itu buru-buru menghampiri suaminya di luar.
"Mas, maaf. Habisnya banyak ini," ucap Sarah sembari mengulurkan kartu ke tangan suaminya dengan kepala tertunduk.
"Tidak apa-apa. Ayo kita cari lagi apa yang kamu butuhkan," ajak Farel lalu menggandeng tangan Sarah.
Farel membelanjakan beberapa pakaian untuk istrinya itu. Sampai banyak sekali kantong belanjaan yang mereka bawa.
"Kita cari makan siang di sini setelah itu cari masjid," ajak Farel.
Mereka mencari restoran yang ada dalam mall lalu mencari meja yang kosong. Farel lalu memesan makanan untuk makan siang mereka berdua. Dan tidak sampai menunggu lama, pesanan mereka pun datang. Fadil dan Sarah menikmati makan siang mereka tanpa bicara sepatah pun.
Setelah makan siang, Farel dan Sarah mencari masjid yang ada di dalam mall untuk melaksanakan ibadah salat zuhur. Setelah selesai salat zuhur mereka memutuskan untuk pulang.
"Kita pulang sekarang saja," ajak Farel yang diberikan anggukan oleh Sarah.
Dengan menggunakan taksi mereka lalu kembali ke hotel. Sarah yang kelelahan langsung tertidur setelah merapikan barang belanjaannya sementara Farel duduk di sofa, sibuk dengan gawainya.
Tiba-tiba Sarah terbangun karena mendengar suara azan zhuhur. Sarah lalu duduk di sisi tempat tidur. Matanya mencari ke sana kemari sosok suaminya namun tidak dia ketemukan.
Akhirnya Sarah tahu suaminya sedang ada di balkon karena mendengar suara suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang. Sarah bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke arah balkon. Ternyata benar suaminya ada di sana sedang menelepon seseorang.
"Baiklah-baiklah, saya secepatnya akan menemui kamu setelah urusan saya selesai. Sudah dulu ya." Farel menyimpan kembali handphonenya ke saku celananya.
Sarah kembali duduk di sisi tempat tidur. Pikirannya menerawang. Kenapa mas Fareo begitu misterius? Siapakah seseorang yang diteleponnya? Seperti memaksa mas Farel untuk menemuinya. Apa itu pacarnya mas Farel? Tapi tidak mungkin mas Farel punya pacar.
Aku percaya mas Farel bukan tipe lelaki seperti itu. Dia tidak akan mencari istri dengan jalan pacaran. Lalu siapakah orang yang teleponnya? Sudah berapa kali aku mendengar mas Farel menjanjikan bertemu dengan seseorang. Aku tidak tahu orang itu laki-laki atau perempuan. Sarah memijat-mijat kepalanya yang pusing.
"Sarah, mandilah. Kita sholat berjamaah!" titah Farel membuyarkan lamunan Sarah.
"Iya, mas." Sarah pun bangkit berdiri lalu pergi ke kamar mandi.
tetap semangat up'nya
semangat thor...biar crazy up ya
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤