Disarankan membaca Novel "Bumi Tanpa Senja" terlebih dahulu.
Novel ini akan banyak bercerita tentang asisten Tuan Muda Dirgantara yaitu Jefri yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan salah satu karyawan Coffee Shop bernama Jingga.
Tapi dikarenakan kesibukannya dalam bekerja mengurus perusahaan Dirgantara membuatnya jarang sekali sempat bertemu dengan gadis yang bernama Jingga itu.
Hingga pada akhirnya ketika ia bertemu kembali dengan Jingga, ternyata gadis itu sudah memiliki calon suami, anak pak lurah, yang bernama Bayu.
Akankah Jefri melupakan Jingga dan mencari wanita lain sebagai pendamping hidupnya?
Atau mungkinkah ia akan merebut Jingga dari Bayu?
Penasaran?
Yuk simak kisah mereka!
Note :
- Kisah lanjutan Bumi dan Senja juga ada disini
- Kisah Marcel dan Nesya juga akan muncul di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hary As Syifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kesal Pada Bayu
“Ibu bercanda kan, Bu?” tanya Jingga yang tak percaya pada apa yang ia dengar barusan.
“Ibu serius. Mana mungkin ibu main-main dengan hal penting seperti ini,” jawab ibu terang-terangan.
“Kalau ibu tau ini hal penting, kenapa ibu tidak bertanya dengan Jingga dulu? Kenapa memutuskan sepihak, Bu?” Terselip kekecewaan pada perkataannya ini.
“Ini keputusan yang terbaik buatmu, Jingga,” jawab ibu seenaknya.
“Ibu seharusnya tanya dulu padaku,” protes Jingga dengan kesal.
“Kau sudah kami jodohkan dengan anak Pak Lurah. Keluarga mereka sudah banyak membantu kita. Kau harus menerima Bayu sebagai suamimu. Dia juga anak yang baik. Kurang apa lagi? Seharusnya kau bersyukur dia naksir denganmu. Dia juga rajin menjemputmu pulang kerja. Dia cocok untukmu.”
“Tapi bukan dia yang aku suka, Bu,” bantah Jingga lagi.
“Halah! Suka urusan belakangan. Kalau sudah nikah nanti lama-lama juga suka.” Perkataan ibu seolah tak mau dibantah.
Jingga menarik nafas dalam-dalam agar dapat meredam emosinya. Ia harus tahan, jangan sampai ia marah pada wanita yang sudah bersusah payah melahirkannya itu. Lagipula ibu pasti tidak mau kalah berdebat dengannya. Ia harus bicara pada ayahnya juga besok.
Dan yang pasti, ia juga harus bicara pada Bayu. Ia kesal sekali pada Bayu saat ini. Padahal tadi pria itu bilang kalau ia bersedia menunggu Jingga menjawab perasaannya. Tapi nyatanya sekarang, pihak keluarganya malah sudah mau melamar saja.
Jingga tak bicara apa-apa lagi. Ia segera masuk ke kamar dan mengabaikan ibunya yang masih mau bicara padanya.
“Dasar! Pembohong! Penipu! Di depanku bilangnya bersedia menunggu. Di belakangku malah langsung mau melamar. Dia tau aku susah menolak kalau sudah berurusan dengan ibu, makanya dia melibatkan ibu langsung kali ini,” omel Jingga pada Bayu saat ia sudah berada di kamarnya.
Saking kesal, ia lalu memukul-mukul bantalnya dengan kedua tangannya. Ia sungguh kesal dengan Bayu. Ia menganggap bantal itu adalah wajah Bayu.
“Aku tidak menyukaimu. Bagaimana aku bisa menikah denganmu? Harusnya kau sadar itu!” Jingga bicara pada bantal yang dianggapnya Bayu.
“Aku cuma menyukai Tuan Jefri,” ucap Jingga dengan lirih. Bahunya tampak merosot. Matanya sudah mulai memanas. Ia sedih karena harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya.
Jingga lalu mengambil bantal itu dan menutup wajahnya. Ia menangis sesenggukan saat itu. Ia benar-benar tak mau menikah dengan Bayu. Sebaik apapun pria itu, di hatinya hanya ada nama Jefri.
Sementara itu orang yang ia pikirkan baru saja kembali dari rumah sakit mengunjungi Tuan Muda Dirgantara. Rasanya hari itu Jefri lelah sekali. Makin hari makin banyak yang harus ia kerjakan.
Jefri masuk ke dalam apartemennya yang masih gelap gulita lalu menyalakan beberapa lampu saja. Ia langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Jefri mengecek handphone-nya. Ada email yang harus ia balas sesegera mungkin.
Ia pun tak jadi tidur. Ia memutuskan untuk pergi membuat kopi ke dapur. Jefri menaruh bubuk kopi dan sedikit gula ke dalam cangkirnya lalu menambahkan air panas. Aroma kopi langsung merasuk ke dalam hidungnya.
Srrruuuuppppp.
“Ahhh, enaknya,” seru Jefri yang baru saja menyeruput kopi buatannya sendiri.
“Tapi lebih enak lagi kopi di Coffee Shop itu. Ah, aku jadi ingin kesana lagi. Mungkin besok malam aku akan kesana. Sudah lama juga aku tidak bertemu gadis itu. Kira-kira bagaimana kabarnya,ya?” ucap Jefri pada dirinya sendiri.
Drrrt drrtt drrrt drrttt.
Suara getaran di handphone-nya menandakan ada sebuah pesan masuk. Jefri mengambil handphone-nya lalu membaca pesan masuk itu.
‘Kak, kenapa tidak membalas pesanku dari kemarin? I miss you.’
Jefri tampak mengetik sesuatu. Awalnya ia mau membalas pesan itu, tapi kemudian ia hapus lagi. Ia tau benar siapa yang mengirim pesan itu padanya, tapi ia masih belum mau membalasnya saat itu.
.
Bersambung......
dpt notif update cuma satu d biarin dulu,, mana tau ada tambahan ny gtu,, ternyata emang cuma satu 🤭