Anzykiya terpaksa harus menyamar menjadi cupu untuk melaksanakan tugas dari Ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Kamu harus membalas semua apa yang telah the woman lakukan,karena apa yang ia katakan semuanya tidak benar,"
"Setelah semua urusannya selesai kamu harus menikah dengan anak kandung darwis."
Di dalam melaksanakan tugas dari sang Ayah tanpa Kiya ketahui jika ternyata ia di bantu oleh Seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya_Mentari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Dari tadi Laksa terus berjalan mondar-mandir tidak tenang,hari sudah malam tetapi Kiya tak kunjung pulang.
"Semoga Nona Kiya baik-baik saja," gumam Laksa.
Laksa terus berjalan mondar-mandir tidak karuan,ia menelfon Kiya tetapi tidak di angkat oleh Kiya.
"Kemana Leo membawa Nona Kiya pergi," lirih Laksa.
Ia kembali melirik jam dinding dan menunjukan pukul 23.00.
.....
Di tempat lain,Kiya dan Leo sedang duduk di sebuah kursi yang panjang berdua menikmati seorang yang sedang beryanyi sangat merdu.
Kiya sangat mendengarkan nyanyian itu,tanpa sedari tangan Leo yang menempel di pinggul nya sedari tadi.
Saat selesai Leo memberi kode untuk meminta penyanyi itu pergi dari sini.
"Sudah selesai,saatnya kita pulang," ucap Kiya dan menatap ke atas langit yang semakin gelap.
"Lihat hari sudah larut malam."
Leo tidak perduli mau sampai pagi asal dengan Kiya saja di sisinya.
"Masih ada lagi,aku mau berbicara sesuatu kepadamu,"
"Bicara apa? Cepat katakan!"
Sebenarnya Kiya sudah tidak tahan untuk berlama-lama disini.Ia yakin jika di rumah, Laksa pasti sangat mengkhawatirkan dirinya.
Tangan Leo mengenggam kedua tangan Kiya mereka saling berhadapan satu sama lain.
Tatapan Leo membuat jantung Kiya berdetak tidak karuan.
"Aku mencintaimu saat pandangan pertama,dan aku ingin kamu menjadi pacarku," ucap Leo.
Degh!
Tiba-tiba jantung Kiya berhenti berdetak,ini sangat mendadak bagi Kiya.
Kiya belum siap untuk menerima cinta Leo atau berpacaran dengan Leo,ia masih butuh waktu walaupun sebenarnya ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi dirinya.
"Aku butuh waktu untuk menjawabnya," sahut Kiya.
Leo mengangguk paham tentu saja Kiya butuh waktu,karena mereka baru beberapa hari mengenal.
"Ya aku ngerti," sahut Leo.
Mereka pun pulang,di dalam perjalanan tidak ada lagi pembicaraan antara mereka.
Kiya juga tidak menyangka jika ternyata Leo akan menembaknya secepat ini.
Sampai di rumah Kiya,Kiya keluar sendiri dan mobil Leo langsung pergi dari sana.
Kiya masuk ke dalam rumah dan mendapati Laksa yang duduk,Kiya berjalan mendekat ke arah Laksa.
"Nyonya Kiya sudah pulang? Apakah Nona baik-baik saja?"
"Iya kau lihat sendiri,aku baik-baik saja bukan," ucap Kiya tersenyum.
Kiya duduk di sebelah Laksa,Laksa tersenyum sembari mengangguk kecil sekarang Ia bisa lega.
"Syukurlah kalau Nona Kiya baik-baik saja," ucap Laksa.
Laksa menatap wajah Kiya yang seperti kebingungan.
"Sepertinya ada yang Nona Kiya pikiran saat ini? Nona bisa cerita kepada Saya,siapa tau saya bisa membantu nya," pinta Laksa.
Seketika Kiya menatap ke Laksa,lalu ia tersenyum simpul.
Tidak salah kan jika Kiya bercerita kepada tangan kanannya ini bukan.
"Tadi Leo menembak ku," lirih Kiya.
Seketika mata Laksa membulat sempurna berani sekali Leo,baru beberapa hari kenal dengan Kiya saja sudah menembak nya.
Laksa tau Leo bukan menembak dengan menggunakan senjata,ia menundukkan kepalanya menarik nafas dalam mencoba untuk tenang.
"Nona Kiya menerimanya?"
Kiya menggelengkan kepalanya "Aku belum siap untuk berpacaran dengan nya,kamu tau sendiri kan bagaimana bisa aku berpacaran dengan seorang musuh ku sendiri?"
"Ini terlalu berat,aku sama sekali tidak mencintai Leo! Sama sekali tidak! Sedangkan dalam hubungan berpacaran harus di dasari oleh cinta satu sama lain."
Laksa mengangguk kan kepalanya ia menatap wajah Kiya yang terlibat bimbang,jika Laksa berada di posisi Kiya pasti juga akan melakukan itu.
"Tapi Nyonya Kiya,dengan Nona Kiya berpacaran dengan Leo akan semakin mempermudah untuk membalaskan dendam Nyonya Kiya," sahut Laksa.
"Memang benar,dan itu yang aku inginkan waktu pertama kali aku dekat dengan Leo,Tetapi.....Ini terlalu cepat untuk ku,cepat sekali Leo telah menembak ku."
Kiya menyenderkan kepalanya ke sandaran sofa menarik nafas dalam,Laksa memeluk tubuh Kiya ke dalam dekapannya yang hangat.
Kiya membalas pelukan Laksa,ia membenamkan wajahnya di dada bidang milik Laksa.
"Nyonya Kiya adalah wanita yang mandiri dan kuat,aku yakin Nona Kiya bisa melakukan ini semua!"
"Mungkin kau benar Laksa," sahut Kiya lirih.
Sekuat apapun Kiya adalah seorang wanita,ia memiliki perasaan.
......
"Loe bertemu dengan nya tadi di kampus?" ucap Bimo dengan menghisap sebatang rokok.
Raga yang sedang duduk di kursi memainkan gitar langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari Bimo,ia mengangguk kan kepalanya dan mengangkat alisnya.
"Iya,aku sangat bahagia akhirnya aku bisa melihat wajahnya secara dekat," ucap Raga sembari tersenyum puas.
"Wajahnya terlihat sangat cantik ternyata," lanjut Raga.
Bimo berjalan mendekat ke arah Raga dan mengambil gitar yang di pegang Raga,lalu terduduk di kursi sebelah Raga.
"Tentu lah namanya juga wanita," sahut Bimo asal.
Bimo dan Raga sebenarnya bukan sekeluarga tetapi seorang sahabat,mereka tinggal satu kost.
Kuliah Raga tidak sama sekali dengan Bimo,Bimo kuliah di sebelah kost nya sementara Raga kuliah sangat jauh dari kost nya.
Kenapa? Karena untuk bisa bertemu dengan Kiya tentunya.
"Apa kamu tidak rindu dengan keluarga mu,masa hanya karena wanita itu kamu rela pergi dari rumah?"
Seketika senyuman di bibir Raga pudar,orang tuanya selalu saja menjodohkan nya dengan wanita pilihan nya mereka sendiri.
Walaupun Raga bilang tidak,tetapi tetap saja mereka memaksa Raga untuk mau menerima perjodohan mereka.
"Sebenarnya aku pergi dari rumah bukan karena wanita itu,tetapi karena aku malas di jodohkan terus!"
Bersambung....