NovelToon NovelToon
Satriaji Needs A Friend

Satriaji Needs A Friend

Status: tamat
Genre:Teen / Fantasi / Supernatural / Isekai / Light Novel / Tamat
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fadly Abdul f

Di Indonesia mendadak muncul sebuah gerbang yang ternyata di dalamnya terdapat banyak monster khayalan orang-orang, namun kini mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan seorang remaja bernama Satriaji menjadi salah satu seorang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan para monster yang ada, di sisi lain ia mendapatkan kenyataan yang pahit tentang sahabat masa kecilnya yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung.. apa itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 : Satriaji Hampir Mati

Suatu suara membangunkan Satriaji dari tidurnya. Dia membuka tirai, mendapati seorang lelaki yang sebelumnya menembakkan anak panah padanya memukul jendela mobil. Ingin tidak mempedulikan keberadaannya ia terus memukul mobil, berpikir ia akan meminta maaf Satriaji ragu akan hal itu.

Dia beranjak dari tempat keluar dari mobil. Mendapati hari yang sudah malam, anak ini menatapnya penuh kebencian terhadap dirinya buat Satriaji heran mengapa tiba-tiba anak dibawah umur seperti dia diberikan busur serta anak panah asli.

"Ada apa ?" Tanya Satriaji dingin.

"Kau melukai ka---"

"Dik, apa yang kau lakukan ?" Avily datang pada anak ini. Mendengar perkataannya barusan, Satriaji langsung tahu anak kurang ajar ini adik dari perempuan bermasalah baginya. Mata Satriaji melirik ke pepohonan. Dia melihat sesuatu yang tidak asing, di telapak tangan terdapat es runcing sebesar pensil dan Satriaji melemparnya pada salah satu batang pohon.

Mahkluk menyerupai pohon. Mereka menyebutnya raksasa pohon, tapi di mata Satriaji itu hanya kayu berjalan tak punya sopan santun. Dia mengambil senapan serbu, gencar peluru menembak menghujani raksasa pohon tidak membiarkannya pergi ataupun melawan sehingga tubuhnya hancur.

"Sudah kakak bilang jangan keluar!" Si kakak perempuan tegas bicara pada adiknya. Mendengar percakapan mereka berdua, Satriaji baru tahu bila sejenis monster barusan suka menculik seorang anak dan membawa pergi ke suatu tempat. Tanpa diketahui apa maksudnya, itu sebuah kejadian aneh seperti dongeng untuk menakut-nakuti anak tidak keluar dari rumah malam hari.

"Bedanya dongeng di sini bisa jadi kenyataan," kata Satriaji pada malam hari ini. Dia yang sukar tidur kembali memutuskan untuk menemui Artha, dari balik jendela ia sudah melihat mereka sedang makan malam tapi tidak normal bahkan mengerikan. Berniat untuk pergi sebelum mereka terganggu ia mengurungkan niatnya selepas mendengar Artha memanggil namanya.

Dia menoleh ke belakang dan berjalan mendekati tempat keduanya. Masuk ke dalam mobil kelas khusus, Satriaji melihat katana melayang mengeluarkan asap merah muda beserta rantai merah yang mengikatnya. Artha menariknya dan memeluknya dari belakang.

"Sebaiknya kita bicara, duduklah."

"Ha ?" Satriaji membuka mulutnya agak lama. Melihat reaksi akan kalimatnya itu Artha tersenyum mengejek, telapak tangan memukul tempat duduk di sisinya dan dia menjawab dengan duduk di sebelahnya. Seorang kakak membawa dua buah pensil memberi kepadanya.

Yang dipegang Artha sebuah pensil pendek hasil dari rautan berulangkali, pensil itu dibandingkan dengan yang masih panjang. Dia mengatakan kalau saat ini Satriaji bisa menjadi seperti pensil pendek yang tak dipedulikan lagi oleh penulis.

"Kalau kita meraut pensil terus-menerus dengan sengaja, lama-lama kita tidak bisa merautnya lagi dan tidak dipakai kembali.."

"Ah, ya aku ingat.. dulu kak Tedy selalu meraut pensil lalu beli lagi kalau kejadian seperti itu!" Kata Satriaji mengingat masa SMP-nya.

"Kau akan menjadi pensil ini jika terus menerus digunakan dan sebaiknya besok ambil misi yang sama denganku, saat patah raut, dan katakan pada si Akuma itu jangan mentang-mentang memiliki pensil banyak bisa di raut dengan sengaja."

"Ya aku kurang lebih paham.." Satriaji menggaruk kepalanya kelihatan agak bingung. Sesaat setelahnya Artha beranjak dari tempatnya, ia mendorongnya untuk keluar selepas Satriaji menginjak tanah kembali dia berbalik badan melihat seorang teman yang tersenyum.

"Aku memilih mati, daripada saat tak dipedulikan atau tidak sekalipun dilihat oleh orang lain.. itu ialah kematian yang menyiksa." Artha menutup pintu dengan raut wajah sedih, pada akhirnya ia tidak memahami maksud perkataannya dan selalu saja saat-saat kejadian sama seperti perkataannya itu terjadi Satriaji selalu ingat.

Dia menghembuskan napas dan berkata, "ujung-ujungnya aku di nasehati lagi." Dan tak lama suara langkah kaki mendekati Satriaji dari belakang, matanya melirik ke pistolnya bersiap siaga namun selepas melihat siapa yang mendatanginya dari pantulan jendela mobil dia menghela napas.

"Maaf.. bisa kita bicara ?" Avily berada di belakang bertanya kepada Satriaji. Terpaksa berbalik badan, ia melihat perempuan ini tampak ingin mengatakan sesuatu sekalipun susah serta ketakutan. Wajar saja, Satriaji paham jika dirinya berada di posisi perempuan ini pasti akan takut kalau bicara dengannya apalagi telah mematahkan kedua kakinya.

Ingin meminta maaf padanya, malah sebaliknya, Avily menundukkan kepala mengajukan permintaan pada Satriaji. Sontak lelaki ini terdiam kaget tak bisa berkata apapun. Dia melihat kedua telapak tangan, sebuah gambar rantai seperti tato buat remaja ini kelihatan seperti ingin menerkam gadis di hadapannya dan membunuhnya.

"Maafkan aku.." tunduk Avily merasa bersalah. Pandangan mata lawan bicaranya mengeras, kemarahan tampak jelas namun paksaan untuk memendam amarahnya mulai mendinginkan pikirannya lagi.

Dia menunjuknya, "Perintahku yang pertama, pergi ke kamarmu dan.."

"Itu terlalu cepat bagiku!" Potong Avily sebelum Satriaji menyelesaikan lontaran katanya.

"Pergi ke kamarmu dan tidur," ujar Satriaji pergi meninggalkan Avily yang tengah angkat kaki sendirian menuju tempat beristirahat. Akan tetapi Avily terlihat ingin ikut dengannya. Tetapi rasa takut menguasainya, kini ia kembali ke kamarnya untuk mengikuti perintah dari tuannya.

***

Beberapa jam yang lalu,

Avily menghembuskan napas kecewa tidak mendapatkan energi sihir dari seseorang yang memiliki energi sihir yang besar. Apalagi kapasitas energi akhirnya hanya sedikit, ia menatap para manusia yang sedang mengajari para anak-anak dan ternyata pengetahuan dari manusia dari dunia lain sangat berkembang maju.

Dia mengetahui kalau para manusia hanya memiliki kapasitas energi sihir yang kecil. Karena ingin tahu serta iseng saja, ia melakukan sihir penilaian pada semua manusia dan kedua matanya bersinar terang melihat para manusia satu persatu.

Mencari keberadaan mereka yang punya energi sihir yang melimpah, ia kaget begitu ada dua orang yang memilikinya tetapi anehnya mereka berdua ialah manusia. Hanya saja. Dia merasakan sesuatu yang mengerikan dari tubuh Artha, sedangkan Satriaji memiliki energi sihir yang biasa dan normal.

"Rasanya seperti melihat jutaan mayat," kata Avily berkeringat melihat kapasitas energi serta kekuatan Artha yang bahkan melebihi seekor naga. Dia menghentikan penilaian lewat mata. Beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri Satriaji yang punya kapasitas energi yang besar dan mampu unykm membantunya.

"A-Anu! Aku ingin minta tolong!"

"Ha ? Mau aku potong kakimu ?!" Tanya Satriaji setengah membentak. Setelah mendengar permintaannya menjawab tanpa pikir panjang.

"Artha, jangan begitu.. mau minta tolong apa ? Dia akan membantumu kok!" Artha tersenyum lembut. Mendengar perkataan si kak Tedy, Satriaji terpaksa menerima permintaan dari gadis ini dan mereka pergi meninggalkan Artha bersama Akuma yang sedang mengatur strategi untuk pergi ke negara manusia tanpa memperlihatkan niat menjajah.

Meminta untuk meminjam energi sihirnya untuk melakukan sihir yang terdapat di buku, dengan senyum Avily meminta pertolongannya karena ingin menggunakan sihir ini sejak lama. Dan karena Tan punya pasokan energi yang cukup, ia tidak bisa melakukannya dan setelah tahu kalau dirinya bisa menggunakan cara lain dia begitu senang sekali.

1
Diambil Oleh Anggur
aaa thanks Thor ma bonus nya makin sayang author deh
margo and me
Semangat Thor! Jiwa membaraku masih semangat baca semua update-anmu! Mau berapa ratus aku tungguin!
Surya Putra
plot awal cerita seperti pada umumnya kenapa tiba-tiba ada gerbang yang di dalamnya ada monster.

tapi, yang aku tahu disini sepertinya monster di dalam gerbang tidak bersalah kan? mungkin hanya zombie yang menyerang saja

yang mulai menyerang duluan juga manusia dari bumi, apakah ada kesalahan dalam mengartikan TULISAN DI PINTU itu?
Surya Putra
Hah? salah nulis ya thor kok Sarah sih wkwk Harunya darah
....: ngokey 🗿👌
total 3 replies
Surya Putra
ehh, gw kira darahnya bakal kembali ke tubuh.

lalu, kata "Sebaiknya jangan terlalu memikirkan mengapa aku tak mau satu kelompok denganmu"

apakah ia akan meminum darah dari hewan yang ia buru?
Surya Putra: minum darah bukan kanibalisme, maybe wkwk
total 2 replies
SquigglyMunchkin
cerita ini lebih lucu dibanding yg lain
adalahdarling
Jaga kesehatan selalu ya thor.. aku kebawa perasaan banget nih huhuhu
moonstrucktraveller
Thor aku ini manggil author lho bukan Thor temennya Kapten Amerika, jadi dimohon segera untuk up bab selanjutnya!
SongbirdGarden
Kak author semangat!! jangan lupa istirahat dan liat yang seger-seger biar ga pusing nulis next bab!
WillofWashington
Ceritanya ngeri sedaaaapppp like like like lanjut
skyeandstaghorn
Thor, ceritamu bikin moodku seperti pelangi wkwkw
Zahra Fitria
tu ada nama Fauzan ama satriaji kok kaya ada yng aneh y ?🤔
....: oh maaf, awalnya aku mau pake nama Fauzan tapi diubah jadi Satriaji.. eps ini belum di edit 😌
total 1 replies
....
Luangkan waktunya untuk like, komentar + masukan cerita ini ke daftar bacaan anda :)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!