[Cerita lain dari Me vs Boss]
[Judul Diperbaharui!]
Bagaimana rasanya memiliki boss yang cerewet dan kepo?
Pasti rasanya mengesalkan, bukan?
Dan itulah hal yang dialami Giselle-sahabat Chelsea- yang menjabat sebagai sekretaris baru di sebuah perusahaan gadget dengan cabang terbesar di Indonesia.
Ia harus rela menghadapi pertanyaan aneh tak masuk akal, ketika sang boss menanyai tentang kehidupan privasinya.
Usia kamu berapa?
Gimana kabar mama?
Sehat-sehat aja, kan?
Kamu ada niatan untuk menikah?
Ada seseorang yang kamu suka?
Tipe cowok idaman kamu, seperti apa?
Apa yang kamu sukai dari cowok?
Dan mau tidak mau, Giselle harus menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari bosnya itu. Kadang dia berpikir,
"Apa yang diinginkan si boss?" gumam Giselle, sembari menatap langit-langit di kamarnya.
Start: 29 Maret 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13. Amarah Mama Amara
Sorenya pukul enam, Giselle sampai di apartemennya dengan diantar oleh bosnya. Salah, tapi digendong dari kantor sampai parkiran oleh Aiden, karena wanita itu sama sekali tidak bangun dari tidur kebonya.
Dan ketika waktu itu mobil milik Aiden mulai bergerak, disitulah Giselle tersadar. Bahwa dirinya sudah tidak lagi berada di dalam ruang kantor bosnya. Melainkan di dalam sebuah mobil.
Setelah kedua matanya terbuka, pemandangan pertama yang Giselle lihat waktu itu adalah, bosnya tengah mengemudikan mobil dengan penuh aura keseksian yang kental.
Ya, bagaimana dia tidak terlihat begitu seksi? Ketika di dalam mobil, dia hanya mengenakan kemeja putih yang sudah sedikit kusut, dengan bagian lengan dari kemejanya yang digulung sampai siku.
Dan disitulah iman seorang Giselle diuji. Pemandangan menggiurkan dari otot-otot lengannya terlihat begitu menggoda. Apa lagi ketika Giselle tidak sengaja melirik jakun bosnya yang terlihat naik turun. Dan jangan lupakan juga keringat yang bercucuran dari dahinya sampai menetes ke wajahnya. Sesekali, Aiden mengelapnya asal.
Aaaaghhh.... Giselle ingin berteriak saat itu juga! Rasanya, dia seperti melihat seorang aktor dari drama Korea favoritnya yang ganteng dan seksinya tidak terkalahkan dengan Aiden.
"Apa ya, nama judul dramanya," gumam Giselle kala itu, hingga membuat Aiden seketika menoleh ke arahnya.
"Udah bangun, Selle?" sahut Aiden. Dan waktu itu, Giselle kembali serasa diuji oleh Sang Ilahi.
Kenapa begitu? Karena Giselle baru saja melihat wajah tampan bosnya yang terlihat basah oleh keringat. Seksi.
"Kok panas ya, Selle?" ucap Aiden, langsung menyadarkan Giselle dari lamunannya kala itu.
Giselle menggeleng kuat kepalanya. Bayang-bayang tentang bosnya terus saja mengganggu pikirannya, padahal saat ini dia sudah tidak lagi bersama bosnya!
Astaga!
Kenapa Aiden terlihat seksi dan menggoda tadi?
Ya Allah, jangan uji Giselle terlalu sulit! Bisa-bisa nanti Giselle khilaf!
Giselle mendesis. Masih berusaha menghilangkan bayangan bos ganteng plus kelewat seksi dari ingatannya.
Bahkan, saat ini Giselle tengah berada di kamar mandi untuk berendam air hangat. Sekaligus untuk membuang semua pikiran aneh tentang Aiden. Tapi yang ada, malah dirinya semakin memikirkan bosnya.
"Astagfirullah! Ini ada apaan, si? Kenapa Bos Aiden terus ada dipikiran gue?" Giselle bangkit dari bak mandinya dengan perasaan frustasi.
Niatnya yang ingin menenangkan pikiran, malah lebih parah dari sebelumnya.
Karena apa yang dia lakukan saat ini tidak berarti apa-apa, Giselle pun memutuskan untuk menyelesaikan acara berendamnya dan akan diganti dengan acara bocan, alias bobo cantik.
****
Kenan menatap khawatir ke arah ibu mertuanya, ketika sang ibu mertua tengah menangis sesenggukan dipelukan Chelsea. Kenan tahu betul, siapa yang membuat ibu mertuanya ini menangis!
Gara-gara si Aladin itu! Geram Kenan, tertahan di kerongkorangan.
"Mama jangan nangis lagi, dong." Chelsea tidak kuasa melihatnya.
Mamanya ini apa-apaan, si! Ngapain juga nangisin bocah tua kaya Al? Al itu tidak perlu ditangisi. Harusnya, si Al itu diberi pelajaran! Dibogem sekalian! Biar Kenan yang mewakilkan!
"Hiks... Mama itu udah seratus persen percaya sama anak itu soal hubungannya sama Elsa! Tapi dia malah ngecewain mama! Merusak anak orang lain demi kepuasan diri sendiri. Hati ibu mana yang tidak sakit, ketika anaknya melakukan dosa sebesar itu. Ibunya sendiri akan merasa telah gagal mendidik anaknya." ucap Mama Amara, tersedu-sedu.
Chelsea menunduk diam. Entahlah, perkataan sang mama sungguh membuat jiwa keibuannya terguncang. Chelsea jadi ikut membayangkan sendiri, jika yang melakukan seperti itu adalah Kenzo dimasa depan.
Chelsea menggeleng cepat kepalanya. Berusaha untuk menghilangkan pikiran anehnya tentang Kenzo suatu hari.
Tidak!
Jika suatu saat Kenzo sudah dewasa, dia akan terus mendidik anak laki-lakinya supaya bisa menjauh dari hal-hal seperti itu. Chelsea yakin. Suatu saat Kenzo tidak akan seperti itu.
"Lalu, sekarang mama mau gimana?" tanya Chelsea, lembut.
Mama Amara menyeka air matanya kasar. Lalu beranjak dari sofa dengan semangat berkobar 45.
"Mama akan susulin dia ke Singapura!" ujar Mama Amara, setengah berteriak. Jangan lupakan tangan kanan wanita paru baya itu yang dikepal kuat dan diletakan di depan dada kirinya sendiri.
Chelsea dan Kenan hanya bisa geleng-geleng kepala, atas tindakan kekanakan dari Mama Amara.
Kenan lalu menduduki sofa di samping istrinya yang sempat dijadikan tempat duduk oleh mama mertuanya.
"Itu mamanya siapa, Chel?" bisik Kenan, tepat di depan telinga Chelsea.
"Mama kamu juga tahu," balas Chelsea, ikut berbisik.
Mama Amara tidak menyadari tingkah sepasang anak dan menantunya di belakang. Dia hanya fokus pada tekadnya untuk segera pergi dan membunuh Al—itu pun kalau Elsa setuju.
"Mama mau ke kamar dulu, mau beres-beres! Nanti malem, mama bakal langsung berangkat ke Singapura!" kata Mama Amara, sembari melengos meninggalkan ruang tengah rumahnya.
"Awas aja itu si Al! Belum tahu, mamanya siapa!? Heh, gue bunuh juga tuh anak!" gerutu Mama Amara, disela langkah kakinya menuju kamar utama yang terletak di lantai dua.
Kenan terperangah dengan ucapan-ucapan aneh dari sang mama mertua. Tak lama, Kenan lalu menatap istrinya, seolah meminta penjelasan atas sikap Mama Amara yang kelewat menyeramkan itu.
"Kenapa?" bukannya mengerti dengan kode-kode dari Kenan, seperti biasa, Chelsea selalu loading. Dan ini yang membuat Kenan semakin gemas saja pada wanita itu.
"Gak tahu ah. Gak peka!" ketus Kenan. Lalu memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
"Lha? Kamu kenapa si?" tanya Chelsea. Kenan tidak menjawab.
"Kalo kamu penasaran sama sesuatu, langsung aja tanyain! Jangan pake kode-kode segala! Kamu pikir kita lagi pacaran apa?" Chelsea dengan kesal, membeberkan segala uneg-uneg yang selalu ia simpan sendirian. Ia kesal, karena Kenan tidak pernah langsung bicara padanya.
Malah pake kode!
Sudah tahu, Chelsea suka loading!
"Gak jadi, ah. Udah basi," balas Kenan. Tatapannya tertuju ke depan tv yang baru saja dia nyalalan lewat remot.
"Terserah!" balas Chelsea, tidak peduli.
****
Malamnya, tepat pukul tujuh, Mama Amara sudah bersiap dengan segala persiapannya menuju bandara.
Chelsea sama sekali tidak terkejut. Toh, dia sudah tahu sedari sore tadi.
"Semuanya udah siap?" tanya Chelsea, mencoba memastikan.
"Hem, mama berangkat sekarang. Bilang sama Ken, mama udah berangkat," ucap Mama Amara ketus, sembari berusaha menggeret kopernya.
"Chelsea bawain koper mama, ya?" tawar Chelsea, mencoba untuk berbaik hati dengan mood mamanya yang sedang hancur itu.
Mama Amara terlihat berpikir sejenak, lalu pada akhirnya dia mengangguk.
"Ya udah bantuin! Cepetan! Mama udah gak sabar pengen rebus hidup-hidup abang kamu itu!" ucap Mama Amara, menggebu.
Chelsea hanya diam dan tersenyum maklum. Namanya juga ibu-ibu, pikir Chelsea. Lalu dia berusaha menggeret koper milik mamanya menuju halaman rumah.
Dan tepat sekali, ketika Chelsea baru saja sampai di ambang pintu, seorang sopir pribadi dikeluarganya langsung berlari ke arah Chelsea dan mengambil alih koper itu.
"Biar saya saja, Nona." kata sopir itu yang diangguki Chelsea.
"Hati-hati ya, Pak, saat nyetirnya. Ini udah malem, harus lebih hati-hati."
"Iya, Non. Pasti! Kalau begitu, saya izin pamit untuk antarkan Nyonya dulu," kata sopir itu yang kembali, hanya dibalas anggukan oleh Chelsea.
Setelah mama beserta sopir sudah siap berada di mobil, Chelsea langsung melambaikan tangannya sampai pada saatnya mobil yang mereka tumpangi sudah berjalan menjauhi pekarangan rumahnya. Ralat, rumah mamanya.
"Mama udah berangkat, sayang?"
Chelsea terkesiap, mendengar suara sahutan dari belakang tubuhnya yang bisa dia ketahui, bahwa pemilik suara itu adalah suaminya, Kenan.
"Hobi banget ngagetin!" cetus Chelsea, lalu berjalan meninggalkan Kenan yang termenung di depan pintu rumah.
"Kok marah?" tanya Kenan heran. Entah pada siapa. Yang pasti, Chelsea sudah tidak berada didekatnya lagi.
****
Triing... Triing...
Bunyi ponsel disebuah ruang kamar berbunyi nyaring, hingga membangunkan sang pemilik kamar tidur itu yang baru saja memejamkan mata mereka, setelah mengakhiri profesi mereka sebagai orang tua siaga.
Ya, mereka adalah Chelsea dan Kenan. Beberapa jam yang lalu, kedua bayi mereka rewel di tengah malam secara tiba-tiba. Hingga Kenan dan Chelsea seberusaha mungkin untuk menenangkan mereka sampai satu jam lamanya.
"Siapa?" tanya Chelsea, dengan suara serak khas baru bangun tidur.
"Ck, mami." kata Kenan. Kedua matanya masih menyipit, belum terbuka sepenuhnya.
"Angkat jangan?" tanya Kenan, beralih menatap istrinya.
"Angkat. Takutnya penting! Gak biasanya mami telponin kita tengah malam begini," Chelsea menjawab dengan suara pelan, diiringi kedua bola matanya yang perlahan tertutup kembali.
Dengan malas, Kenan mengangkat sambungan telpon itu yang tak lain dari Mama Lucy.
"Kenapa, Mi?"
"Besok jam delapan pagi, kamu sama menantu kesayangan mami langsung ke Inggris!" ucapan tegas dari seberang sana, mampu menyadarkan Kenan. Tak sadar, gerakan tubuhnya di atas tempat tidur, membuat Chelsea kembali terbangun dari tidurnya.
"Ngapain ke Inggris?" tanya Kenan. Suaranya terdengar sedikit meninggi. Raut wajah kantuknya seolah hilang setelah mendengar penuturan mengejutkan dari sang mami.
"Papa kamu katanya kangen sama kamu. Katanya, dia juga belum sempat lihat menantunya. Sekalian, mami juga mau jengukin Oma kamu. Mau ya, Ken?" suara Mama Lucy terdengar melembut. Kenan yang awalnya hendak menolak, jadi merasa tidak tega.
"Tapi, mih—" ucapan Kenan terpotong,
"Nak, dia papa kamu lho! Mama mohon," suara Mama Lucy, membuat Kenan di ambang kebingungan.
Namun entah pemikiran dari mana, Kenan akhirnya mengangguk setuju tanpa Mama Lucy tahu.
"Iya. Kenan sama Chelsea besok langsung ke Bandara,"
Bandara? Batin Chelsea bertanya.
"Tapi Kanza sama Kenzo, gimana? Mereka harus dibawa juga?" pertanyaan Kenan, sontak membuat Chelsea semakin penasaran tentang apa yang sedang pria itu bicarakan dengan Mama Lucy.
"Minta tolong sama Mama Amara aja, ya? Mereka gak boleh dibawa ke Inggris! Cuacanya tidak bagus untuk bayi usia tiga bulan," kata Mama Lucy. Kenan hanya mengangguk. Rasa kantuk mulai kembali menguasai dirinya.
"Berangkatnya jam sepuluh pagi, bisa gak mih? Kita masih punya urusan,"
"Iya udah. Terserah kalian, yang penting kalian harus sudah ada Di Inggris setelah mami tiba!" Kenan hanya mengangguk, lalu tanpa pikir panjang dia langsung mematikan sambungan telponnya sepihak.
"Apa katanya, Ken?" tanya Chelsea, yang sudah kepo sedari tadi.
"Tidur, sayang. Besok aja aku jelasinnya, aku udah gak kuat. Aku ngantuk!" Kenan mulai merebahkan dirinya kembali di samping Chelsea, sembari menaikan selimutnya sampai batas bahu.
"Tapi—" ucapan Chelsea terpotong, saat Kenan dengan seenaknya menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Membuat Chelsea tidak berdaya, hingga pada akhirnya, Chelsea pun terlelap dipelukan Kenan. Tanpa protes, satu kata pun.
To be continue...
Giselle
Aiden
Chelsea
Kenan
Haii!!!
Part ini khusus dibanyakin Chelsea Kenan ny yaaa...
Langsung ketuk tombol like and comment ny dungs!
Double up iniii! Cius iiih...
Ehm, mau lanjut???
Like and comment duluu, baru lanjut😋
btw met ultah ya thorrrr,,, mga makin sukseeeeeesssss
awal yg menarik, lucu...
punya bos iseng bngt y...
jejak...