Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Adi Dan Cita
Hujan turun rintik-rintik di luar sana. Adi tampak keluar dari rumah menuju motornya dan bersiap memakai jas hujan saat Ibunya ikut keluar menyusul.
"Jadi nyari Cita?"
Tanya Ibu.
Adi mengangguk.
"Iya Bu, ngga tenang kalau belum ketemu Cita langsung."
Sahut Adi.
Bang Angga yang juga menyusul keluar tampak berdiri bersandar di bingkai pintu, menatap adiknya yang kini sibuk memakai jas hujan.
"Kalau sudah ketemu ajak pulang ke sini saja Di."
Kata Ibu pula.
Adi mengangguk.
"Iya Bu, memang Adi akan ajak Cita pulang ke rumah kita saja."
Kata Adi.
Bang Angga menghela nafas. Ia tahu betul adiknya itu aslinya sudah lama suka dengan Cita, tapi tak pernah berani mengatakannya langsung pada Cita.
Adi kemudian pamit pada Ibunya, naik ke motor dan segera melajukan motornya menjauhi pelataran rumah.
Ibu Adi menghela nafas.
Tampak Ibu menatap Angga sebelum kemudian masuk ke dalam rumah lagi.
"Cita pasti sedang ada masalah di rumahnya, tapi kenapa dia malah memilih pergi ke tempat teman yang lain bukan di sini."
Kata Ibu.
Angga menutup pintu lalu menguncinya.
"Mungkin dia kan mikir ngga enak Adi temen cowok."
Sahut Angga.
Adi memang tidak cerita soal Cita yang ikut supir ekspedisi. Adi hanya cerita sama seperti pada Ayah Cita, jika ia sudah dikasih tahu teman perempuan sekelas Cita soal posisi terakhir Cita.
Adi melajukan motornya cukup kencang. Tak ia pedulikan rinai hujan yang semakin lama semakin deras.
Adi terus memacu kuda besinya. Menerobos guyuran hujan dan membelah pekatnya malam.
Hingga kemudian dia sampai di pool yang siang tadi ia datangi, seorang satpam menghentikan Adi yang ingin langsung masuk ke dalam.
Satpam yang berjaga saat ini bukan lagi satpam yang sama, tampaknya sudah ada pergantian sif.
"Pak, saya cari Bang Damar."
Kata Adi.
"Bang Damar? Adik siapanya?"
Tanya Pak satpam.
"Bilang saja teman Cita, penting banget ketemu Bang Damar."
Kata Adi tak sabar.
Pak Satpam sejenak melihat Adi, lalu menyuruhnya menunggu sebentar di pos satpam.
"Saya panggilkan sebentar, tadi kayaknya sih sudah masuk pool."
Kata Pak Satpam.
Adi mengangguk.
Adi kemudian menurut duduk di bangku kayu panjang dekat pos.
Hujan masih turun deras. Pak Satpam berjalan terburu menggunakan payung hitam ke arah garasi dan kemudian menuju ruangan pengurus.
Beberapa supir mengatakan Damar masih laporan di dalam.
Tok tok tok...
Pak Satpam mengetuk pintu yang terbuka itu.
Damar sudah selesai laporan namun tampaknya sedang berbincang dengan salah satu pengurus tentang rute pengiriman besok.
"Bang Damar, maaf, ada yang cari Bang, katanya penting."
Kata Pak Satpam.
"Siapa?"
Tanya Damar mengerutkan kening sambil berdiri dari duduknya.
"Temannya Cita kata dia."
Jawab Pak Satpam.
"Teman Cita?"
Gumam Damar, lalu bergegas keluar lalu mengikuti pak satpam.
Adi tampak masih duduk di bangku kayu panjang tatkala Damar sedikit berlari menghindari hujan menuju ke arahnya.
Dua mata mereka bertemu pandang.
Sejenak saling diam. Merasa tidak asing. Hingga kemudian.
"Adi bukan?"
Damar yang lebih dulu ingat.
Ia ingat karena dulu sering bertemu Adi di rumah Cita. Kadang juga saat Damar diberi tugas mengantar atau menjemput Cita les, sering bertemu Adi juga, bahkan beberapa kali mengantar Adi pulang sekalian.
Adi yang kemudian juga jadi ingat jika itu Bang Damar yang dulu masih SMA saat ia SD dengan Cita langsung tersenyum lebar.
Ah lega rasanya, ternyata supir ekspedisi yang dimaksud adalah Bang Damar, jadi sudah jelas Cita tidak aneh-aneh seperti yang dikatakan Desi dan teman-temannya.
**---------**
Damar menghela nafas begitu selesai mendengar semua cerita Adi. Sementara itu hujan sudah mulai mereda.
"Tadi pagi Cita demam tinggi, aku ajak ke dokter tidak mau, jadi aku belikan obat saja."
Kata Damar.
Adi tersenyum hambar.
"Cita sama sekali ngga aktifin hp nya Bang, saya bingung nyari ke mana-mana."
Ujar Adi.
"Kalian pacaran?"
Tanya Damar.
Ditanya begitu Adi langsung gugup dan salah tingkah.
Damar tertawa.
"Ke rumah Abang saja kalau mau ketemu Cita, sebentar Abang ambil tas dulu, mumpung hujan juga udah reda kan."
Kata Damar.
Adi mengangguk.
Adi berdiri untuk melepas jas hujannya, sementara Damar berlari menuju garasi menuju mobilnya untuk mengambil tas kecilnya.
Baru setelah itu menuju motornya dan menemui Adi lagi di pos.
"Bawa motor sendiri yah?"
Tanya Damar.
Adi mengangguk.
"Ikutin Abang aja."
Kata Damar pula.
Adi bergegas menuju motornya setelah mengucapkan terimakasih pada pak satpam.
Adi kemudian melajukan motornya mengikuti Damar yang berada di depannya mendahului.
**---------**
Rumah itu kecil dan sederhana. Berada di gang kecil di tengah pemukiman yang cukup padat.
Adi sampai bingung memarkirkan motornya, tapi Damar menyuruh Adi meletakkan motornya di samping rumah saja meskipun itu akan sedikit menghalangi pintu samping rumah Damar.
Damar kemudian mengetuk pintu rumahnya sejenak, terdengar suara langkah kaki mendekat sebelum kemudian pintu itu terbuka dan tampak Bi Imah berdiri di sana.
Bi Imah tampak sedikit terkejut manakala ia melihat Damar pulang tak sendirian, namun bersama Adi.
Yah, setelah kemarin malam pulang bersama Cita, malam ini Damar pulang bersama Adi.
Bi Imah setiap malam jadi dibuat jantungan terus.
"Malam Bi."
Adi membungkuk memberi salam.
"Siapa coba Bu?"
Tanya Damar pada Ibunya yang tak yakin masih ingat Adi.
Bi Imah mengerutkan kening menatap pemuda tampan di hadapannya.
"Siapa ya?"
Gumam Bi Imah lirih.
Tampaknya ia tak bisa mengingat Adi.
Adi tersenyum.
Damar merangkul Adi.
"Maklum Adi semakin tampan, jadi Ibu pangling."
Kata Damar.
Mendengar Damar menyebut nama Adi, barulah terlihat Bi Imah membulatkan matanya menatap Adi.
"Ah ya Tuhan, Nak Adi yang teman Non Cita bukan?"
Bi Imah terkejut.
Adi mengangguk seraya tersenyum.
"Sekarang bukan teman Bu, tapi pacar."
Seloroh Damar membuat Bi Imah terkekeh.
Adi jadi kembali salah tingkah.
"Ah Bang Damar gosip nih, ngga enak akunya kalau Cita denger."
Kata Adi.
Bi Imah langsung mempersilahkan Adi masuk.
Adi dan Damar masuk beriringan.
"Mau ketemu Cita, di mana dia Bu?"
Tanya Damar.
Bi Imah menunjuk kamar Ulfa.
Kamar itu letaknya di dekat ruang depan rumah mereka.
"Nanti Bi Imah lihat yah, kayaknya sih belum tidur, soalnya baru sepuluh menit lalu minum obat."
Kata Bi Imah.
"Iya Bi."
Sahut Adi.
"Tadi sore akhirnya ke dokter Bu?"
Tanya Damar.
Bi Imah mengangguk.
"Panasnya turun tapi muntah-muntah. Kata dokternya lambung Non Cita bermasalah."
Kata Bi Imah seperti berbisik, lalu setelah itu berjalan menuju kamar di mana Cita menginap.
"Non..."
Bi Imah membuka pintu dan mendapati Cita yang sedang membaca buku.
Cita menengok ke arah Bi Imah yang melongok di pintu.
"Yah Bi."
Sahut Cita.
"Belum tidur kan? Ada yang jenguk."
Kata Bi Imah.
"Jenguk? Siapa?"
Tanya Cita terkejut.
Bi Imah tak menyahut, Bi Imah melambaikan tangan untuk meminta Adi mendekat saja.
Adi menurut, ia menghampiri Bi Imah.
"Masuklah, Non Cita belum tidur."
Kata Bi Imah.
Adi tampak tak enak, bagaimanapun Cita ada di kamar sendirian.
"Bi Imah yakin kalau kalian tidak akan melakukan hal yang dilarang."
Bi Imah tersenyum.
Adi jadi tampak tertunduk malu.
Ia akhirnya melangkah memasuki kamar.
Cita melongo melihat Adi masuk.
"Ta."
Sapa Adi saat keduanya akhirnya saling bertatapan.
**---------**