Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan
Nara merasa ini adalah hari tergila dan terlelah dalam hidupnya, setelah dinas keluar kantor tadi Nara mempunyai sedikit waktu untuk pulang kerumah mengambil baju, make up serta rambut palsunya. Dengan tergesa Nara berias ala femme fatale di stasiun MRT, memakai baju dress floral selutut tanpa lengan menyesuaikan dengan karkater palsu yang dia perankan dan juga sepatu hak tinggi yang dia kenakan. Berlari dengan menggunakan sepatu hak tinggi karena hampir tertinggal kereta dan bagian terburuknya adalah Nara harus berdesakkan di MRT karena bertepatan dengan jam pulang kantor, sialnya MRT benar benar penuh. "Aku bisa pingsan jika seperti ini, Tuhan apa dosaku??" Nara menjerit dalam hatinya karena dia benar benar tergencet dalam desakan lautan manusia. "Ini seperti kolam pencucian kentang!!!" Nara bisa menangis karena kepanasan dan rasa lelahnya.
"Dimana sih?? Katanya di pintu lobby utara!" Nara berlari dan terengah mencari titik temunya dengan Rey. Begitu kereta sampai di tujuan Nara hanya bisa berlari kencang karena waktu janjiannya sudah hampir tiba. "Ah itu dia." Nara mengatur pola nafasnya begitu melihat Rey berdiri menunggunya. Harus Nara akui pesona pria itu memang luar biasa, bahkan dengan berdiri dia begitu saja banyak pasang mata yang melihat terkagum kagum padanya, "Kenapa di sekitar pak direktur itu bisa seperti memancarkan sinar?? Penampilannya benar benar karya seni tingkat dunia."
Naras masih terengah menghampiri Reynold, "kamu terlambat!" Tegas Rey.
"Hah? Apa??" Nara melihat arlojinya untuk memastikan karena dia sangat yakin dia datang tepat waktu. "Kita kan janjian pukul 07.30 ini..."
"Kamu telat 1 menit." Rey memperlihatkan arlojinya menunjukkan pul 07.31 di hadapan wajah Nara.
'Kreeekkkk' lagi lagi lembar kewarasan Nara mulai semakin membesar retakannya, "Tapi kan ini hanya 1 menit tuan Rey." Katanya penuh penekanan.
Dia tidak tau betapa kesusahannya aku untuk datang tepat waktu!!
"Karena ini pertemuan mendadak tolong maafkan keterlambatanku yah tuan Reynold." Nara tersenyum dengan terpaksa.
Orang miskin sepertiku harus naik kereta, kamu yang terbiasa dengan mobil dan supir mana mengerti!!!!
"Kan kita sudah membuat janji dari beberapa hari yang lalu."
Nara mendengus kesal, Itu kan hanya pikiran anda!!!
"Tapi sebenarnya ada apa tuan Reynold mengajak saya bertemu??"
Rey menatap manik mata Nara dalam, "Karena aku merindukan kamu."
Nara terdiam mendengar ucapan Rey, A.. apa yang dia ucapkan tadi??? Apa apaan pria ini?!
Sejujurnha tanpa bisa dia kontrol pipi Nara merona dan degup jantungnya memacu lebih kencang.
"Memangnya ada masalah??" Rey memasukkan tangannya ke kantong jas dan mencondongkan badannya kearah Nara. "Alasan apalagi memangnya jika seorang pria mengajak wanita bertemu? Semua orang juga pasti berpikir demikian kan?" Rey menyunggingkan senyumnya.
Nara bersingut mundur, jika dia tidak bergerak cepat bisa bisa Rey mendengar gemuruh degup jantungnya. "Ta.. tapi hubungan kita tidak bisa di katakan ada perasaan rindu seperti itu, dan tidak bisa jika ingin bertemu langsung bertemu." Jawab Nara gugup.
"Memangnya apa hubungan kita?" Senyum Rey semakin menawan dan lagi lagi pria itu semakin mencondong mendekati Nara.
"Hu.. hubungan yang tidak melibatkan perasaan antara atasan dan bawahan." Nara semakin gugup.
"Hebat, aku tidak salah memilih orang. Berarti kamu tau juga alasan untuk kita bertemu kan?" Rey menegakkan badannya dan bersidekap
"Alasan?" Nara semakin bingung.
"Latihan." Rey berkata mantap dengan sinar kepercayaan dirinya.
"Latihan??" Wajah Nara tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.
"Memangnya aku bisa membawa kamu langsung bertemu dengan kakekku, kamu yang bahkan tidak mengenal aku secara pribadi. Kakek sangat sensitif dan teliti, dia pasti akan langsung menebak semua sandiwara ini jika kita terlalu kaku di hadapannya."
Nara memasang wajah kesal mendengar ucapan Rey.
Setidaknya aku tau sedikit tentang dirimu, terutama masalah kejiwaanmu itu!
"Kakek harus percaya bahwa kita akan menikah, dan yakin pada dirimu. Maka dia tidak akan mengganggu aku lagi. Oleh sebab itu kita harus terlihat sangat natural!"
"Itu kan sama saja anda menipu kakek anda." Nara bersidekap menyipitkan matanya memandang Rey.
"Aku rasa kamu tidak ber hak berkata demikian." Tatapan mata Rey menghunus dalam dan kalimat penuh penekanan membuat Nara salah tingkah dan tertawa hambar karena diingatkan akan dosa dosanya.
"Sa.. saya kan hanya pekerja sambilan. Tapi tuan Rey benar benar menipu kakek anda." Nara membuang pandangannya ke segala arah.
"Yasudah jika ketahuan kakek, menikah sungguhan juga tak masalah." Rey bersidekap tersenyum miring.
"Ap.. apa? Lagi lagi anda seenaknya! Pernikan itu bukan mainan, sudah saya katakan berulangkali!" Nara memang harus banyak bersabar menghadapi pria di hadapannya.
"Baiklah jika begitu kamu mau latihan apa tidak??"
"Latihan yah latihan." Nara rasanya ingin menangis menghadapi pria dengan masalah kejiwaan ini.
Dasar suka seenaknya saja huhuhu...
"Kalau begitu.." Rey langsung mengamit tangan Nara dan saling mengaitkan jemari mereka.
"Apa yang anda lakukan???" Nara shock.
"Berlatih kontak fisik!" Jawab Rey mantap.
"kenapa sampai harus seperti ini?" wajah Nara kembali merona.
"kan sudah aku katakan, kakek sangat sensitif." Rey tersenyum. "Kamu mau jalan jalan?" Tanpa menunggu jawaban, pria itu menggandeng Nara dan berjalan jalan santai di taman.
Aku tidak perduli dengan kakek anda yang sensitif!! Karena sekarang jantungku yang sensitif!!
Nara sangat gugup karena untuk pertama kalinya dia berjalan berdua seperti ini dengan seorang pria. Meski statusnya janda tetapi Nara tidak punya banyak pengalaman dengan pria.
Tanpa dirasa mereka berjalan sampai pada danau buatan hang di terangi cahay lampu di sekililing danau.
"Waaaah aku baru tau jika malam hari disini cantik sekali." Nara memandang takjub pemandangan di hadapannya.
Rey menatap wajah Nara, "Iya, cantik sekali."
Tanpa sadar Nara menoleh pada Rey dan mendapati pria itu menatapnya membuat dia menjadi gugup. "Ah ini kita sudah berjalan sejauh ini," Nara mengangkat tangannya yang masih terkait dengan tangan Rey. "Aku rasa kita sudah cukup bergandengan tangannya." Nara tertawa kaku.
Rey memasang wajah datar, "Nona Narnia." Ucapnya.
Mendemgar nama itu membuat Nara bergidik mual.
Astaga nama itu!! Tolong! kenapa juga aku tidak menyebut nama yang lain sih?!
"Jika sedang bekerja, kerjalah dengan sungguh sungguh dan totalitas." Rey melirik matanya pada tangan mereka yang masih saja bertautan, "Memangnya mudah mendapatkan uang dari orang lain." Acuh Rey.
Mendengar penuturan Rey membuat Nara emosi seketika dan menghempas tangan Rey kasar. "Kalau begitu aku tidak akan menerima uangmu!!"
Aku orang yang paling tau betapa susahnya mengumpulkan uang bahkan untuk membayar sewa toko orang tuaku aku bekerja pontang panting!!
Melihat Rey terdiam dan memandang tangan yang di hempas Nara membuat wanita itu takut. Ini namanya menyesalan diakhir, apa aku terlalu kasar dan berlebihan??! Panik Nara.
Rey mengadahkan kepalanya dan tersenyum manis pada Nara.
"Terimakasih mau bekerja dengan sukarela, nona Narnia."
Nara hanya bisa membiarkan air matanya meleleh dalam senyuman perih mendengar penuturan Rey.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.