Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan aku
Pagi ini awan begitu gelap dan bergelayut di langit seolah akan runtuh saat itu juga. Seperti halnya Alina yang sudah 2 hari ini dia tidak semangat sama sekali. Alina masih memikirkan perkataan Mama Reyhan, pikiran itu membuat konsentrasinya kacau ditambah rasa mual Alina yang terkadang datang membuat tubuhnya semakin lemas.
Dia berjalan lunglai keluar dari kamar mandi, tubuhnya benar-benar lemah sekarang. Takdir memang begitu kejam padanya saat ini, mempermainkan hati dan perasaan Alina. Dia pikir masalahnya sudah teratasi dengan baik, ternyata itu hanya pikirannya saja yang melihat hanya dari satu sisi. Dia tidak berpikir untuk melihat sisi lainnya. Tiba-tiba penglihatan Alina terasa kabur dan semakin gelap, dia coba mencari pegangan untuk menahan tubuhnya
Brug ...!
Doni yang baru saja keluar ruangan mendengar sesuatu terjatuh, dia menoleh ke arah suara.
"Alina itu Alina kan?" Doni melangkah cepat mendekati wanita yang tergeletak di lantai koridor.
Doni membopong tubuh Alina ke dalam ruangan Reyhan.
"Hey siapa yang kau bawa, kenapa kau membawanya ke tempatku? keluar! bawa dia ke tempat lain!" Reyhan protes karena Doni membawa perempuan ke ruangannya.
"Apa anda ingin membuat semua karyawan tau dia hamil, dan kemudian mereka akan mempertanyakan siapa ayahnya?"
"Apa maksudmu?" Reyhan mengerutkan alisnya dan melihat ke arah wanita itu, dia sedikit terkejut dan mengangkat kedua alisnya.
"Panggilkan Bayu sekarang!"
Doni segera mengambil HPnya dan menelpon Bayu.
Bayu adalah seorang dokter muda yang hebat, dia memiliki bakat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Karena profesi keluarganya yang mayoritas seorang dokter membuat Bayu ingin mengikuti jejak mereka.
"Hei ... apa bos mu bisa sakit?" celetuk Bayu memasuki ruangan.
"Periksa dia!" Reyhan mengarahkan pandangan pada Alina. Bayu segera memeriksa wanita yang sedang pingsan itu dan sesekali melirik Reyhan dan Alina bergantian.
"Dia sedang hamil, sepertinya dia mengalami dehidrasi karena morning sickness."
"Tapi tunggu! dia hamil kan?"
"Jangan-jangan dia wanita yang kau maksud? wah ... dia sangat cantik," ucap Bayu menatap kagum Alina.
"Lo udah selesai? cepetan pergi!"
"Wah ... parah Lo, tadi nyuruh dateng cepet-cepet sekarang ngusir,"
"Awas kalo Lo yang sakit, gue kasih pencahar lo," ucap Bayu sambil keluar ruangan diantar Doni.
"Akh ...." Alina membuka mata dan melihat sekeliling, dia terkejut dan langsung berusaha duduk saat menyadari orang yang duduk di kursi sebelahnya.
"kenapa kau bisa pingsan?" tanya Reyhan tanpa melihat Alina.
"Saya tidak tahu, saya permisi dulu terimakasih atas bantuan anda," jawab Alina datar dan hendak beranjak pergi.
Baru akan melangkahkan kakinya Alina kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di sofa, dia menunduk memegangi dahinya yang terasa berdenyut.
"Ayo! aku akan mengantarmu pulang." ajak Reyhan datar.
Alina yang memang merasa sedang kurang enak badan hanya mengikuti saja ajakan Reyhan tanpa menjawab apapun. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka berdua selain Reyhan menanyakan alamat rumah Alina.
Alina membuka pintu rumahnya tapi seketika langkahnya terhenti dan matanya membulat.
"Apa yang mereka lakukan disini?" batin Alina.
Reyhan yang akan menjalankan mobilnya karena sudah melihat Alina membuka pintu juga berhenti, tiba-tiba dia turun dari mobil dan menyusul Alina.
"Kenapa mobil papa ada disini?" batin Reyhan.
"Alina kamu sudah pulang, Nak. Siapa dibelakangmu itu?" tanya ibu Yuni melihat Alina dan Reyhan didepan pintu.
"Ahh. dia–dia." Alina tampak ragu untuk memperkenalkan Reyhan.
"Dia Reyhan anak saya, Bu Yuni," sahut Mama Rani.
"Jadi kamu laki-laki b*j****n yang sudah menghancurkan hidup anak saya?"
"Pergi kamu dari sini! pergi kalian dari sini! kami tidak menerima kalian disini!" Suara ibu Yuni meninggi, dia begitu emosi saat melihat laki-laki yang selama ini ingin dia caci maki berada di hadapannya.
"Ibu–bu tenanglah Bu. Ibu jangan seperti ini." Alina memegang lengan ibunya mencoba menenangkan.
Hati Reyhan sedikit terusik mendengar perkataan yang baru saja Ibu Yuni ucapkan. Dia tidak menyangka karena perbuatannya seorang Ibu akan merasakan dampaknya. Dia benar-benar lupa ada orang tua yang akan ikut terluka saat anaknya dilecehkan.
"Mereka bilang mereka ingin melamarmu dan bertanggungjawab, bagaimana mungkin Ibu membiarkanmu menikah dengan pria sepertinya, Nak. Kamu tidak akan pernah bahagia bersamanya." suara ibu bergetar sambil memegangi pipi Alina.
"Alina saya tau Reyhan sudah melakukan kesalahan, saya akan memberi pelajaran pada anak kurang ajar ini," ucap papa Raka melirik tajam ke arah Reyhan.
"Jika ibu Yuni dan Alina mau menerima lamaran kami ... saya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untuk Alina tapi saya berjanji akan memperlakukan Alina dengan baik seperti anak kami sendiri. Kami akan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap Alina."
"Benar Alina, Tante berjanji Tante akan merawatmu dan cucu Tante dengan baik." timpal mama Rani bersungguh-sungguh
"Alina–Alina ...." Alina terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Apa Tante benar-benar berjanji tidak akan mengambil hak asuh anak ini?"
"Iya Tante berjanji, Nak."
"Alina ... Alina me–menerimanya," jawab Alina diiringi dengan air mata yang mengalir dari kedua netranya.
"Alina apa yang kamu katakan, Nak? kamu bilang sendiri kita akan membesarnya berdua. Ibu tidak rela kamu menikah dengan pria sepertinya." Menunjuk ke arah Reyhan yang hanya diam mematung tanpa bisa berkata apapun.
"Ibu ini untuk kebaikan kita dan juga anak Alina kelak. Ibu tidak perlu khawatir, Bu. Alina tidak apa-apa." Alina tersenyum berusaha meyakinkan ibunya.
Ibu Yuni menangis memeluk putri semata wayangnya itu, bagaimana mungkin putri yang selama ini dia harapkan akan memiliki suami yang bisa menyayanginya dan menjaganya dengan baik malah harus menderita seperti ini. Air mata ibu Yuni tidak bisa terbendung, dia tau betul bagaimana Alina jika sudah membuat keputusan tidak ada yang bisa mencegahnya. Ibu Yuni juga yakin Alina sudah memikirkan keputusannya ini dengan baik, akhirnya dia hanya bisa pasrah menerima keputusan yang diambil Alina.
Keluarga Reyhan sudah pulang karena sudah larut malam. Mereka sudah memutuskan atau lebih tepatnya orang tua Reyhan yang membuat keputusan karena ibu Yuni hanya diam saja dan merespon dengan kata 'ya' saja. Reyhan dan Alina akan menikah hari Sabtu lusa, karena Alina yang sedang hamil dan mudah lelah mereka memutuskan untuk mengadakan ijab qobul saja. Mereka tidak ingin menunda-nunda karena kehamilan Alina akan semakin membesar.
"Ibu. Ayo istirahat, Ibu pasti capek." Alina mengajak ibunya ke kamar, setelah ibu Yuni masuk kamar Alina pun juga naik ke kamarnya.
Alina duduk lantai sisi ranjangnya, dia mengambil foto seorang pria dari dalam laci dan memeluknya, menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut.
"Mas, maafkan aku, Mas."
"Aku masih mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu." Tangis Alina pecah, hatinya hancur saat melihat foto itu. Dia merasa dirinya telah berkhianat saat ini.
Sepanjang malam Alina menangis. Sebenarnya dia sangat berat mengambil keputusan ini tapi demi nama baik keluarganya, demi masa depan anaknya dia tidak punya pilihan lain.
—————————————
Aku sedang kehilangan...
Merasa hampa...Benar-benar putus asa
Merasa tak lagi berarti...Semua jadi serba salah..Aku benar-benar kosong
Entahlah...
Semua membenamkan aku dalam masalah yang rumit
Aku terperdaya dengan keadaan yang menyulitkan..
Rasanya ingin beranjak pergi tapi aku menetap disini..Pada jiwa yang sepi
Ketika kata tak lagi bisa jadi penawar Kupikir hanya mati obatnya
Tapi seketika aku tersadar ... Aku masih memiliki Ibu
Dia adalah obat untuk semua lara hatiku
Aku mengaku malu
Dia memperlihatkan kebahagiaan ketika dia dalam keputusasaan
Namun aku merasa tak percaya diri
Aku tau ini hanya cobaan
Perasaan yang tak karuan ini
Aku yakin semua akan berlalu...–unknown*
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍