"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 | Masa Lalu Sang Roh
Kalara menatap roh air yang seakan tengah bertarung dengan dirinya sendiri. Roh air itu sesekali akan mengamuk dan sesekali nampak sangat sedih. Ketika ia mengamuk, aura dendam dan kebencian terpampang nyata diwajahnya. Sementara bila ia tengah sedih, itu benar-benar mengeluarkan aura penuh keputusasaan dan sangat menderita. Kalara masih mencoba mendekatinya, namun sangat sulit karena perubahan sikap yang sangat cepat itu.
"Mari kita bicara. Apakah kamu bisa mendengarku?"
Kalara mencoba mengajak roh air yang dalam keadaan sedih berkomunikasi. Namun tubuh itu bergetar ketakutan. Kalara jelas melihat bahwa gadis air itu menaruh rasa takut padanya.
Kalara mencoba mendekat, "Tidak apa. Jangan takut, aku bukan orang jahat—!"
Sebelum menyelesaikan kata-katanya, gadis roh itu lebih dulu menyerangnya. Berubah ke mode mengamuk dan mencoba mencabik Kalara dengan sulur airnya. Kalara menghindarinya dan kembali mundur.
"Hey, bisakah kamu mendengarku? Aku ingin bicara denganmu. Aku bukan orang jahat, percayalah!" bujuk Kalara mencoba menenangkan roh air yang mengamuk itu.
Kalara melangkah perlahan mendekati sosok gadis roh dan menunjukkan senyum tulus. Berusaha keras untuk memperlihatkan bahwa ia tidak mengancam. Sulur itu bergerak menjebak tubuh Kalara. Merematnya hingga membuat Kalara meringis menahan rasa sakit. Namun Kalara tak melepas senyum diwajahnya. Tak ingin membuat roh air itu ketakutan dan makin marah jika ia menggunakan kekuatannya.
Kalara menatap mata merah roh air yang menampakkan kesedihan itu. Mata Kalara melebar bersamaan dengan melebarnya mata dari roh air itu.
...🌙...
Dalam keheningan, Kalara tiba-tiba membuka matanya dan sadar bahwa dia sedang ada ditempat lain. Kalara berada disebuah pedesaan yang ramai dan terlihat cukup tua. Pedesaan itu dikelilingi perbukitan. Jalur sungai kecil tercipta memisah beberapa bangunan desa dan menjadi dua wilayah. Bangunan-bangunan rumah dari tumpukan batu dan dinding kayu itu dibangun berjarak. Memberi kesan tanah luas desa itu. Kalara menatap sekelilingnya dengan terkejut.
Ia bertanya pada binatang sihirnya, "Minette. Dimana kita?"
Tak mendapati jawaban, Kalara mencoba bertanya kembali. Namun hasilnya sama. Tak ada yang membalas pertanyaannya. Ia mencoba menutupi pakaiannya yang ternoda darah, tak ingin orang-orang berpikiran aneh saat melihatnya. Namun, orang-orang disekitar sana tak menatap padanya, berbeda dari kebanyakan orang lain yang mungkin akan melihatnya karena penampilannya yang berbeda.
"Aku harus menjauh dari sini." Gumam Kalara.
Ketika ia berbalik, sebuah kuda berlari cepat kearahnya. Membuatnya melebarkan mata karena terkejut namun tak sempat mengelak. Kalara memejamkan mata dan menghalangi tubuh bagian depannya dengan tangannya, namun kuda itu melewati tubuh Kalara. Menembus seakan Kalara itu adalah angin.
"Apa?" beo Kalara kebingungan.
Ia menatap tubuhnya yang memang terlihat sedikit transparan. Ia kembali memandang sekelilingnya.
Ia membatin, "Dimana aku?"
Tempat berganti menjadi sebuah lautan. Kalara benar-benar ada di dalam lautan, namun ia masih bisa bernapas dengan hidungnya. Mata birunya yang seakan bercahaya bergerak liar menatap sekitarnya. Dan menemukan sesuatu bercahaya disebelah karang besar. Mendekatinya dengan berenang pelan, Kalara mendapati sosok roh air yang nampak menangis dicelah karang.
Kalara mencoba mendekati dan menyentuhnya, namun ada semacam dinding pelindung transparan yang menahan pergerakannya.
"Dinding pelindung?" gumamnya pelan.
Isakan roh air memenuhi indra pendengar Kalara. Sementaa dirinya tak bisa melakukan apapun.
"Ayah, Ibu. Bagaimana aku bisa menjalani hidup tanpa kalian?" gumam gadis bermanik biru cerah itu.
"Aku ingin mati."
Kalara tersentak. "Hentikan! Jangan bertingkah bodoh!"
Kalara menggedor dinding pelindung itu ketika melihat bahwa gadis roh air itu menciptakan sebuah pedang dari air. Nampak runcing dan panjang. Gadis itu mengarahkan pedangnya kedadanya.
"Hentikan!" pekik Kalara bersamaan dengan sesuatu yang terjatuh kelautan.
Gadis itu sontak menghentikan acara akan bunuh dirinya dan mendongak. Matanya membelalak ketika melihat seseorang tenggelam dalam keadaan tak sadarkan diri. Kalara pun sama terkejutnya, namun ia tak bisa melakukan apapun. Melihatnya, gadis roh itu berenang menuju seseorang itu. Pria berambut hitam kecoklatan dengan balutan pakaian sederhana.
"Manusia."
Gadis itu membawa pria tadi naik kepermukaan. Kalara tak lepas mengikuti keduanya.
Ketika Kalara menembus kepermukaan, tempat ia berada telah berubah. Kini tak ada air, tak ada jejak basah ditubuhnya. Hanya ada padang luas dengan banyak bunga dan kupu-kupu berwarna warni yang berterbangan dengan bebas. Kilauan embun dan cahaya matahari memendar menjadi satu. Gemericik air sungai kecil terdengar sebagai musik lembut.
"Dimana lagi aku?" gumam Kalara.
Srett~
Kalara berbalik mendadak ketika merasakan seseorang melewatinya. Ketika ia menoleh, ia mendapati gadis roh dan seorang pria berpakaian rapih dengan warna yang lembut. Keduanya bergandengan tangan dengan wajah bahagia.
Melihat wajah pria itu, Kalara tersadar bahwa pria itu adalah sosok yang ditolong roh air itu dilaut.
"Nuhel, bisakah kita istirahat sebentar disini? Kakiku sangat lelah."
Roh air berujar dengan pelan. Roh air mampu mengubah kakinya yang semula berbentuk pusaran air menjadi bentuk kaki seperti manusia, namun kaki roh air tak bisa digunakan berjalan dengan jarak jauh dan waktu yang lama.
Pria bernama Nuhel itu tersenyum sembari mengusap rambut biru roh air. "Baiklah, kita istirahat sebentar. Haruskah aku mencarikanmu air?"
Roh air menggeleng dan tertawa ringan. "Aku bisa menariknya kesini, Nuhel. Kamu lupa, ya?"
Tangan roh air nampak bergerak kecil. Tak lama, air meliuk diudara dan mengambang dihadapan keduanya berbentuk gumpalan dan melebar seakan menari, mengikuti gerakan tangan roh air.
"Aletica, aku mencintaimu." Ucap Nuhel membuat Aletica menatapnya.
Kalara menyaksikan keduanya dengan tangan yang menutup bibinya yang melengkungkan senyuman geli. Rasanya, ia eperti mengintip pasangan yang sedang memadu kasih tanpa ketahuan.
Aletica menyunggingkan senyuman. "Aku juga mencintaimu."
"Mereka manis sekali. " Batin Kalara memegangi kedua pipinya yang menghangat dan memerah.
"Bunuh dia!"
"Bunuh saja iblis itu!"
"Iblis!"
"Dasar iblis! Dia pantas mati!"
Teriakan menggema diseluruh desa. Orang-orang dengan wajah marah mengelilingi Aletica yang terikat disebuah tiang dengan pakaian putih yang ternoda oleh darah. Kalara membelalakkan matanya melihat kejadian tiba-tiba itu. Detak jantungnya berkali-kali lebih cepat. Kalara menutup bibirnya dengan tangan tanpa sadar.
"Bunuh dia!"
"Hentikan!! Jangan menyakitinya! Hentikan!" teriakan itu membuat Kalara menoleh.
Nuhel terikat dan bersimpuh ditanah. Ditahan beberapa algojo dengan tongkat ditangan mereka. Penampilannya berantakan. Ternoda tanah dibeberapa tempat. Kalara kembali membelalak saat melihat seorang pria melangkah mendekati Aletica dengan obor ditangannya.
"Tidak mungkin!" panik Kalara.
Ia berlari menembus orang-orang. Berusaha sebisa mungkin meraih api ataupun Aletica. Namun mustahil. Suara teriakannya tak dipedulikan. Bahkan sihirnya tak bisa ia gunakan.
"Tidak!! Jangan!" panik Kalara sama seperti Aletica saat melihat obor makin mendekat ke tumpukan kayu dan minyak bakar dibawah Aletica yang ketakutan dan lemah, bahkan untuk menggunakan kekuatannya.
"Jangan!!" teriak Nuhel putus asa ketika melihat tubuh kekasihnya termakan oleh api yang menyala-nyala.
"Aarhhhhhhhh!!!"
Aletica menjerit penuh kesakitan, sementara Kalara menangis sembari berusaha menggunakan kekuatannya. "Tidak, tidak, tidak! Kenapa aku tak bisa menggunakan kekuatanku?!"
"ALETICA!!" jerit Nuhel.
...🌙...
Kalara sadar dengan tersentak. Tubuhnya dan kesadarannya dibawa kembali pada saat ia dicengkram oleh sulur air. Ketika sosok roh air itu juga seakan tersentak kecil, sulur air menghilang. Dengan sigap Kalara memunculkan bola hitam dan menggunakannya untuk mengambang. Menyisakan Kalara dan roh air yang sama-sama terduduk diatas air.
"Maafkan aku," Kalara menjeda ucapannya.
"Maafkan aku karena tak bisa menyelamatkan masa lalumu, Aletica." Lanjutnya membuat sepasang mata merah itu melebar dan perlahan terkelupas tertiup angin, menampakkan sepasang mata biru yang indah.
Roh air itu bergumam, "Itu, ... namaku."
gak ketebak