JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Selalu Begitu.
Desita tersenyum puas menatap lembar kertas yang ada di tangannya, dengan antusias wanita itu membuka lembar demi lembar kertas yang dipegangnya itu. Senyum lebar terpasang di bibir wanita dengan beribu ambisi dan kebencian ini
"Apakah kamu sesenang itu, ma?" tanya sang suami menyela, membuat senyum di bibir Desita menghilang meski hanya sesaat. Ya sesaat, karena senyum itu tercipta lagi, bahkan lebih lebar dari sebelumnya.
"Tentu saja, pa!" kata Desita sambil tersenyum puas.
"Dia memiliki kemampuan untuk mendapat nilai seperti ini dalam semua pelajaran, dia lebih hebat dari Rian ternyata," lanjut wanita itu.
"Yah, walau dia hanya pengganti, dia memerankannya dengan baik dan sempurna. Meski tak mau mengakui, tapi dia berguna juga," tambah Desita menatap suaminya.
"Ha-ah, apa jadinya kalau ada yang mengetahui apa yang kita lakukan, ma?" desah Herman merasa sedikit lelah. Memang dia menyetujui semuanya, tapi dia tak pernah menyangka harus selalu berbohong untuk segalanya mengenai anak mereka.
"Apa peduliku dengan perkataan orang lain? Yang kehilangan bukan mereka, tetapi aku, pa! Aku!" bantah Desita dengan nada cukup tinggi.
"Ha-ah, baiklah ... terserah apa katamu saja, ma!" ucap Herman mengalah, dia tak mau membuat keributan yang akan menjurus cekcok tak berkesudahan. Dia ingin rumah tangga yang damai tanpa harus mengganggu kesehatannya.
"Memang sudah seharusnya terserah mama, pa!" ucap Desita cepat.
"Ahh, Rian-ku sangat-sangat membanggakan! Bahkan dia lebih membanggakan lagi sekarang!" puji Desita. Herman, sang suami hanya mampu menggelengkan kepalanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Adriana mendengarkan dengan seksama semua perkataan gurunya, satu-persatu dari mereka sibuk memuji-muji gadis kecil itu. Adriana memasang tampang senang. Namun, tetap terlihat rendah hati. Meski dia tahu yang dipuji sekarang dirinya karena semua prestasi yang dia perlihatkan, tapi dia masih merasa pujian itu bukan untuknya. Semua itu masih milik sang kakak, bahkan semua tertulis atas nama kakaknya.
Dia hanya mengucapkan terimakasih sambil tersenyum kecil, terlihat seperti bocah yang bahagia tapi juga malu mendapat pujian dari gurunya. Kata luar biasa, sangat hebat, jenius, berbakat, dan sejenisnya selalu diucapkan sebagai pujian untuk dirinya.
"Apa tak ada pelajaran hari ini, Tuan Lucio?" tanyanya sopan pada guru yang mengajarinya ilmu pengetahuan dan sejarah.
"Ho-ho-ho-ho, apa lagi yang bisa diajarkan pada murid berbakat seperti anda?" balas sang guru sekaligus memuji, dari nada suaranya, jelas guru itu teramat senang dan bangga.
Adriana tersenyum kecil. "Tidak seperti itu, pak. Saya masih banyak kekurangan dan harus terus belajar!" ucap gadis kecil tenang.
"Bagus-bagus, sangat rendah hati. Itu juga sesuatu yang patut dibanggakan!" puji guru itu lagi.
"Saya mengatakan yang sebenarnya, bukan bermaksud merendah, pak," balas Adriana menatap sang guru dengan serius, tak lupa dia tersenyum agar sang guru tak salah sangka dengan sikapnya.
"Ekhem, baiklah, jika tuan muda ingin belajar, maka kita akan melanjutkan ke bab selanjutnya!" dehem Lucio, dia mulai menjelaskan dan menceritakan sedikit kisah tambahan sesuai dengan materi yang mereka pelajari saat ini.
Adriana lagi dan lagi hanya mengangguk dan sesekali mencatat penjelasan penting dari gurunya.
Begitulah keseharian yang dijalani Adriana setiap harinya. Dia tak mengeluh sekalipun dirinya merasa lelah. Saat malam pun gadis kecil itu masih membuka buku dan membaca beberapa lembar sebagai tambahan, tak jarang darah keluar dari hidungnya yang kecil. Tubuhnya yang mungil tak kuat menahan semua aktivitas yang dia lakukan, masih untung dirinya tak berakhir terbaring di tempat tidur karena sakit akibat kelelahan dan kurang istirahat.
Adriana dan 'Si Bodoh', juga masih bertukar pesan. 'Si Bodoh' tak pernah lagi mencoba menelepon, dia mengatakan akan menunggu hingga sobatnya yang menelepon duluan.
Adriana masih tak tahu siapa nama asli dari teman kakaknya itu, ingin bertanya langsung, tapi dia paham itu tak bisa dirinya lakukan. Sebagai Rian, dia pasti tak akan lupa siapa nama temannya sendiri.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Siang ini, tepat saat makan siang, Desita menyampaikan sesuatu pada anaknya. "Rian, beberapa hari lagi kolega papamu akan mengelar pesta, kita akan hadir di sana, jadi bersiaplah!" ucap Desita sambil menatap Adriana yang tak jadi menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Mom, apa boleh Rian tak ikut?" tanyanya, meski dia tahu jawaban apa yang akan Desita berikan.
Desita menggeleng sesuai perkiraan Adriana. "Tentu kamu harus ikut, sayang! Hari ini kita akan membeli beberapa tuxedo yang cocok untukmu," balas Desita tak terbantahkan.
"Mom, jas Rian banyak yang belum terpakai di lemari," kata Adriana berharap bisa menolak untuk pergi keluar bersama Ibunya.
"A-a-a-a, kamu butuh pakaian baru untuk menghadiri pesta kali ini! Turuti saja perkataan mama, sayang," ucap Desita memaksakan kehendaknya.
"Tenang saja, papamu yang akan membayar semuanya!" lanjut wanita itu seraya tertawa kecil.
Adriana mengangguk, dia menunduk sambil menyuapkan makanan yang tak jadi dia makan tadi. Rasa lapar telah hilang sempurna berkat ucapan Desita barusan. Nafsu makan gadis kecil itu melayang entah ke mana, memikirkan akan berbelanja mengelilingi mall dan menghabiskan banyak waktu saja sudah membuatnya lelah. Apalagi harus menjalaninya secara langsung, pasti lebih melelahkan daripada yang dia bayangkan bukan.
"Rian susah kenyang, mom. Rian akan ke atas dan segera bersiap," ucap Adriana, dia melompat turun dan segera meninggalkan meja makan tepat setelah Desita menganggukkan kepala.
"Jangan berlari Rian, tak usah buru-buru! Mama akan menunggu," ucap Desita menggelengkan kepalanya.
"Kyaa, bukankah tuan muda kita terlihat sangat bersemangat! Dia pasti senang menghabiskan waktu bersama nyonya besar!" ucap salah satu pelayan dengan suara pekikan tertahan, tentu saja dia hanya berbisik pada teman di sampingnya.
Pelayan satunya mengangguk setuju. "Benar-benar, semakin hari tuan muda kita terlihat semakin imut dan bersinar! Kamu juga lihatkan bagaimana cara tuan muda melompat tadi?!" bisiknya dengan suara pelan.
"Ahh, tuan muda kita adalah yang paling keren!" timpal pelayan yang berbisik pertama kali.
Keduanya adalah pelayan yang sangat menyukai Adriana, mereka merasa beruntung memiliki tuan muda yang baik hati dan tak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh. Tuan muda mereka malah teramat mandiri, bisa membersihkan kamarnya sendiri tanpa bantuan mereka. Tugas mereka hanya mengambil cucian kotor yang ditaruh tuan muda mereka di keranjang kotor. Selebihnya, dilakukan sendiri oleh tuan muda yang sangat mereka sayangi. Mereka tak tahu, Adriana melakukan itu agar resiko rahasianya terbongkar mengecil. Dia tak mau, pelayan menyentuh barang pribadinya selain yang dia izinkan saja. Mana dia tahu kelakuannya yang seperti itu membuat pelayan menyukai dirinya, bahkan menganggap dia sebagai anak majikan yang ramah dan loyal pada pelayan.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝