Setelah 15 belas tahun di luar negeri, akhirnya Arsen memilih pulang, Karena desakan dari maminya, tujuannya tidak lain tidak bukan untuk membalas seorang gadis yang telah mempermalukan keluarganya serta membuat cucu kesayangannya mendekam di penjara khusus remaja.
Arsen yang tidak tahu permasalahan yang sebenarnya dengan sadisnya menghancurkan gadis tak berdosa itu. Merenggut kesuciannya, membuat ia di keluarkan dari sekolah sebulan sebelum ujian kelulusan bahkan mempermalukan nama besar keluarganya, tidak sampai disitu Iya bahkan menawarkan gadis itu kepada teman temannya.
Sungguh tega bukan! lalu apa jadinya jika ia tahu wanita yang ia hancurkan adalah wanita yang menguasai relung hatinya selama ini?
Yang lebih menyakitkan, perbuatannya membuat gadis kecilnya harus terikat pernikahan dengan orang lain yang tidak mencintai tanpa gadis kecil itu bisa menolak.
Lalu bagaimana Arsen memperbaiki semuanya. Apakah penyesalan seorang Arsen dapat mengembalikan gadis kecilnya.
Langsung aja yuk mampir 🤗
NB: Siapkan tissue dan ukur tensi darah terlebih dahulu. Karena Cerita ini akan sedikit menguras emosi dan dan air mata.🤣🤣
Vi_ via sudah siap Dengan komentar terpedas kalian nanti.🤣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara peresmian
waktu berjalan dengan begitu cepatnya, matahari kini telah kembali ke peraduannya berganti dengan bulan yang menyinari gelapnya malam.
Acara Peresmian villa telah berjalan sesuai yang diinginkan, kini saatnya para tamu undangan menikmati suguhan pesta kecil-kecilan yang di sediakan kedua orang tuanya Dila, sambil menanti malam pergantian tahun yang tinggal menunggu beberapa jam saja.
Malam itu Dila, menggunakan long dress berwarna hitam serasi dengan yang di gunakan kedua orang tuanya, Sedangkan Mira mengunakan long dress berwarna putih tulang bertali spaghetti, yang di sediakan mamanya Dila. sedangkan untuk Intan sendiri, Hana menyiapkan gaun yang sama dengan Mira yang membedakan hanya warnanya saja, Mira putih tulang sedangkan Intan berwarna putih.
" Hai." Sapa Arsen, kepada ketiga gadis yang tengah duduk bersenda gurau itu.
" Om Arsen." Ucap Intan begitu histeris. " Om disini juga." Tanyanya.
" Iya dong, kan om di undang." Jawab Arsen. " Kalian bertiga?" Arsen menunjuk mereka secara bergantian.
" Kalau kita, di khususkan om! kan orang tua dia yang punya Villa ini." Intan menunjuk kearah Dila.
" Oh gitu." Arsen mengangguk-angguk kepalanya.
" Dia siapa om?" Intan dan Dila menatap kearah Yudha.
" Dia teman om! kenalin om Yudha." Arsen memperkenalkan Yudha kepada mereka.
" Yudha."
" Dila, intan." Ucap mereka sambil gantian berjabat tangan dengan Yudha. Sedangkan Mira tidak terlalu menghiraukan, bahkan untuk mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Yudha saja tidak.
" Nama Kamu siapa?" Tanya Yudha, sambil mengulurkan tangannya kepada Mira
" Mira." Jawab Mira sambil mengantungkan kedua tangan di depan dadanya.
Melihat sikap Mira yang acuh, Arsen semakin menaruh benci kepadanya, Seandainya tidak ada orang di sekeliling Mira, mungkin Arsen sudah menghancurkan kesombongan gadis itu sekarang juga.
" Kita boleh gabung sama kalian." Tanya Arsen.
" Nggak."
" Boleh."
Ucap ketiganya kompak, tentunya dengan jawaban yang berbeda. Mira menolak dan kedua sahabatnya membolehkan.
" Terima kasih." Ucap Arsen dengan tidak tahu malunya, ia mendaratkan bokongnya di kursi yang berada tepat di samping Mira, Sedangkan Yudha duduk bersebelahan dengannya.
Draarrrtt Drrraattt..
Saat tengah Asyik bercerita ponsel Dila berbunyi, Dila pun izin kepada mereka untuk mengangkat teleponnya.
" Mira, Aku mau ke toilet, kamu mau ikut nggak?" Tanya Intan. Mira yang tengah asyik membalas chat dengan kedua kakaknya, menggeleng kepala sebagai jawaban. " Ya udah bentar ya." Intan pun pergi, tinggal Mira, Arsen dan Yudha.
Seolah alam tengah berpihak kepadanya, Arsen tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada sedikit pun, di saat Mira masih tetap Fokus pada ponsel di tangannya. Arsen langsung mengeluarkan botol berukuran sangat kecil dari saku celananya, kemudian meneteskan tiga tetes cairan itu kedalam minuman Mira, Yudha pun ikut ikutan, menaruh sesuatu kedalam minuman Intan dan Dila.
Tidak berselang lama, Dila dan intan pun kembali ketempat duduk mereka. " Ra." Panggil Intan.
" Hmmm." Mira mengangkat wajahnya menatap Dila.
" Balapannya di tunda, soalnya polisi udah tahu."
" Ya Ko gitu sih! padahal aku bela belain kesini juga! tahu gitu mending aku di rumah aja." Ucap Mira, wajahnya terlihat begitu mengemaskan saat cemberut seperti sekarang ini.
" Mau bagaimana lagi, dari pada kita ketangkap! mending di tunda kan."
" Tau ah."
" Jangan ngambek gitu dong." Ucap Dila sambil meminum minumannya.
" Udah, belum rejeki itu mah!" Sahut intan. tetapi raut wajah Mira masih sama.
" Nak Arsen, jam berapa datangnya?" Tanya papanya Dila saat menghampiri tempat duduk putrinya.
" Belum lama kok om." Jawab Arsen, sekenanya.
" Terima kasih ya, sudah mau menghadiri undangan Om." Ucap papanya Dila saat mereka berjabat tangan.
" Ma." Panggil papanya Dila, kepada Hana mamanya Dila.
" Ada apa pa." Tanya Hana saat menghampiri suaminya itu.
" Kenalin, ini Arsen anaknya, Anggara." Hana dan Arsen pun berkenalan. " Tolong kamu bilang sama bibi siapin kamar buat dia dan temannya." Lanjutannya.
" Tapi, pa! kamar di Villa ini sudah penuh! kecuali, kamar mereka." Tunjuk Hana kepada Dila dan kedua sahabatnya.
" Ya udah Tante pakai kamar intan Aja, nanti biar intan, tidurnya sama Mira aja." Ucap Intan.
" Makasih ya sayang! kamu pengertian banget." Hana mengusap kepala intan. " Ya udah sekalian aja kalian bertiga tunjukkin kamarnya." Sambung Hana lagi.
" Siap Tante." Ucap Intan sambil memberi hormat.
" Ya udah kalian silahkan nikmati acaranya! saya tinggal dulu ya." pamit papanya Dila, di susul Hana mamanya.
.
.
.
.
Bersambung.