Tajuk Hendrawan adalah seorang CEO muda yang terkenal akan keuletannya, tapi saat dia jatuh cinta kembali dengan seseorang yang tiga tahun lalu pernah hadir dalam hidupnya, membuat semuanya berubah, bahkan Tajuk yang belum merelakan cinta lamanya memilih untuk mengejarnya kembali, apa lagi perpisahannya dahulu karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab, membuat Tajuk tidak bisa menerima kenyataan perpisahan mereka.
sedangkan Rindu adalah seorang wanita biasa, sebagai karyawan biasa tidak ada hal yang menonjol darinya. sampai saat kisah cintanya yang rumit terulang kembali. Kini cinta segitiga yang di alaminya begitu membuat Rindu serba salah.
Alfian orang yang paling peduli akan Rindu, mencintai Rindu dengan setulus hati. Bahkan Alfian dengan sabar menanti kesiapan Rindu menerima cintanya.
Lantas bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Bagaimana kisah asmara mereka???
Silahkan di baca ya!!
PERINGATAN!!!
BANYAK TYPO DIMANA MANA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Seperti biasa Rindu bekerja dengan baik, semua laporan yang di kerjakannya selalu membuat Bu Inggrid sangat puas, walau pun dia belum lama bekerja di perusahaan itu, namun apa pun yang dia kerjakan selalu memuaskan.
Ting...
Sebuah pesan masuk di ponsel Rindu, sekilas dia melihat nama yang ada di layar ponselnya.
"Kak Alfian." Gumam Rindu.
* Alfian *
"Gimana kabarnya?, udah beberapa hari ga ketemu."
* Me*
"Aku baik mas, mas sendiri gimana?"
*Alfian*
"Aku selalu baik berkat do'amu, oh ya, Aku sekarang ada di London, mungkin bisa sampai enam bulan di sini, karena ada masalah di kantor cabang London."
*Me*
"Semangat ya dan semoga cepat selesai masalah di sana."
* Alfian *
"Bahagia banget jika kamu selalu memberiku semangat."
Rindu pun meletakkan ponselnya di meja dan tidak membalas lagi pesan dari Alfian, dia melanjutkan lagi kerjanya, Tanpa sepengetahuan Rindu, ternyata Tajuk selalu memantaunya lewat CCTV dan alat penyadap.
"Alfian? siapa lagi Alfian itu, bagaimana aku tidak khawatir jika begitu banyak lelaki yang berusaha mendekatimu." Gumam Tajuk yang mendengar suara Rindu menyebut nama Alfian, bahkan aktifitasnya terlihat jelas di CCTV.
Tajuk terus mengamati Rindu, dia penasaran dengan nama Alfian yang tadi di sebut oleh Rindu ketika berbalas pesan, soal Bram tadi malam saja masih mengganggu pikirannya dan kini ada nama Alfian, benar-benar bisa membuat Tajuk naik tensi.
"Jangan-jangan dia sudah ada laki-laki lain, makanya dia beralasan kalau sudah cerai denganku,oh, ini tidak bisa di biarkan, aku tidak akan membiarkannya terjadi." Geram Tajuk sambil mengepalkan tangan.
"Joe, segera ke ruangan ku sekarang." Panggil Tajuk melalui ponselnya.
"Baik tuan." Jawab Joe.
Selang lima belas menit Joe memasuki ruangan Tajuk, suasana dingin bahkan terkesan horor membuat Joe tidak nyaman. Tatapan Tajuk yang begitu tajam dan rahang yang mengeras pertanda dia sedang marah.
"Tuan memanggil saya ke sini apa tuan menginginkan sesuatu?" Tanya Joe.
"Kamu tahu siapa yang akhir-akhir ini sedang dekat dengan Rindu?" Tanya Tajuk dengan ekspresi datar andalannya.
"Saya kurang tahu Tuan, karena begitu banyak yang berusaha mendekati nyonya diperusahaan ini." Kata Joe.
"APA!! Banyak yang ingin mendekati Rindu?." Tanya Tajuk yang terlihat shock mendengar jawaban dari Joe.
"Iya tuan, setahu saya salah satu yang menyukai nyonya adalah Bram."
"Bram?." Kata Tajuk sambil mengernyitkan keningnya, karena nama Bram yang dia ingat adalah teman Rindu yang beberapa hari lalu makan bersama dengan Rindu di kantin.
"Benar tuan."
"Apa dia kerja satu devisi dengan Rindu?" Tanya Tajuk semakin penasaran.
"Tidak Tuan, Bram manager pemasaran." Jawab Joe.
"Baiklah kalau begitu kamu boleh keluar sekarang." Ucap Tajuk dengan ekspresi datar.
"Baik Tuan, saya permisi."
Joe pun keluar dari ruangan Tajuk yang masih dengan suasana horor tersebut, sepeninggalan Joe dari ruangannya, kini Tajuk tampak bingung memutar otaknya agar tidak ada yang mendekati Rindu.
Jam makan siang pun tiba, seperti biasanya Rindu dan Mitha akan pergi ke kantin untuk makan siang, karena Rindu membawa bekal dia hanya memesan minuman es milo susu kesukaannya.
"Hay Yang, aku cariin ternyata kamu di sini." Kata Bram yang baru datang dan langsung duduk di samping Rindu, Mitha dan Rindu saling pandang pertanda tidak mengerti kenapa Bram mencarinya.
"Ada apa mencariku?" Tanya Rindu ketus, dan dia pun melanjutkan makan makanannya.
"Cuman kangen aja, dan ingin memastikan kenapa tadi malam kamu tidak datang ke karaoke." Kata Bram dengan senyum khasnya.
"Cie, loe ga kangen sama gue juga Bram?" Tanya Mitha menggoda Bram.
"Idih kenapa gue harus kangen sama elo? Nanti Ayang aku cemburu, bisa berabe urusannya, iya gak Yang?." Ucap Bram sambil menggoda Rindu. Namun Rindu tidak memperdulikan ocehan Bram, Rindu hanya memakan makanannya dengan lahap.
"Ehm!! Boleh saya bergabung?" Suara Tajuk tiba-tiba dari belakang Bram dan Rindu.
Mitha yang memang sudah tahu hubungan Rindu dan Tajuk seakan memberi kode pada Bram untuk pindah, Bram yang mengerti langsung pindah di samping Mitha, Rindu pun menoleh ke arah Tajuk yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Silahkan Tuan." Kata Bram mempersilahkan.
"Mana bekalku yang kusuruh kamu siapkan? Untuk makan siangku kali ini." Kata Tajuk sambil melirik ke arah Rindu yang asyik makan tanpa menghiraukan kedatangannya.
"Sudah saya titipkan ke Joe tadi pagi, Tuan." Kata Rindu.
Sebenarnya Tajuk sudah tahu kalau bekal yang d siapkan Rindu tadi di meja kerjanya, tapi Tajuk sengaja untuk mendatangi Rindu apa lagi setelah tahu kalau Bram menyukai Rindu, Seakan Tajuk tidak rela ada yang mendekati Rindunya.
"Benarkah? Kenapa Joe tidak memberitahuku soal itu." Kata Tajuk seakan sedang berpikir, Rindu yang melihat hal itu memutar bola matanya malas.
"Kalau memang belum makan biar saya pesankan tuan, anda mau makan apa?" Tanya Rindu lalu berdiri.
"Gak perlu, ikut aku sekarang." Ucap Tajuk yang berdiri dan menarik pergelangan tangan Rindu.
"Eh." Kata Rindu terkejut.
Mitha dan Bram saling pandang dengan ulah sang CEO yang menarik tangan Rindu.
"Mereka berdua ada hubungan apa sih, mith?" Tanya Bram penasaran. Mitha hanya mengangkat kedua bahu sebagai jawaban.
Sesampai di ruangannya, Tajuk menarik Rindu untuk duduk di sofa. Tatapan Tajam Tajuk saat ini tidak bersahabat sama sekali, tersimpan amarah di dalamnya.
" sekarang jelaskan padaku, apa hubunganmu dengan Bram?" Kata Tajuk dingin sambil melihat tajam ke arah Rindu.
"Apa maksud mas?" Kata Rindu bingung dengan sikap Tajuk.
"Apa karena itu kamu seakan membenarkan soal perceraian kita?, atau jangan-jangan kamu yang sudah merencanakan ini untuk menjerat laki-laki di luar sana?" Ucap Tajuk tajam dan mengurung pergerakan Rindu dengan tangannya. Mendengar kata tajam Tajuk yang seperti itu Rindu sangat shock, dia menatap Tajuk seakan tidak percaya bahwa itu terucap dari mulut Tajuk.
"Oh, begitukah yang mas pikirkan?" Kata Rindu dengan menepis tangan Tajuk untuk memberinya celah pergi dari ruangan itu.
"Lantas apa? Tiga tahun aku mencarimu setelah ketemu kamu seakan tidak mengakui aku sebagai suami, dan kamu juga meminta untuk tidak mempublikasikan soal hubungan kita, lantas apa lagi alasan kamu selain untuk dekat dengan lelaki itu?" Kata Tajuk emosi dengan tatapan tajamnya tidak lepas dari Rindu.
"Kalau Mas berpikir seperti itu, maka anggap saja itu benar, sekarang tolong biarkan saya pergi dari sini, permisi tuan." Kata Rindu menepis kasar tangan Tajuk dan beranjak untuk pergi.
"Tunggu." Kata Tajuk dan meraih pergelangan tangan Rindu.
"Ya Tuan, apa ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya Rindu di sela-sela sedihnya ataa tuduhan Tajuk.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Bram atau lelaki manapun, kamu itu istriku, milikku dan aku tidak suka ada orang yang mengganggu milikku sampai kapan pun." Kata Tajuk.
Deg...
Seketika jantung Rindu berdetak kencang mendengar ucapan Tajuk. Kedua pipinya merah merona. Tanpa berniat untuk menjawab Rindu pun menghentakkan tangan Tajuk lalu dia pergi untuk kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
'Apa-apaan, seenaknya saja Mas Tajuk bersikap seperti itu, pokoknya sebelum ada bukti yang di bilang Mas Tajuk kemarin, bahwa bukan dia yang mengirim surat cerai itu, aku tidak akan menuruti semua kata-katanya.' Batin Rindu.
Tajuk yang terbakar api cemburu itu selalu terbawa emosi, ruangan yang tadinya rapi kini seperti kapal pecah, semua berkas berserakan di lantai, bahkan beberapa barang juga sudah mendarat mulus di lantai ruangannya.
☆Bersambung ke eps 14 yaa...
semangat 💪💪
jgn main potong" ajha 😏😏😏
rindu bilangnya ke Alfian tajuk yg meninggalkan
aku baru terjumpa dgn novel mu
keren sungguh jalan ceritanya.
ada sambungannya tak?