NovelToon NovelToon
Sixth Sense [Rahasia Semesta]

Sixth Sense [Rahasia Semesta]

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:37.2k
Nilai: 5
Nama Author: Alfiyahpna_

[Romansa dua dunia-Fantasi barat-Horor]

Mereka berdua, Osric dan Odelia merupakan pasangan Indigo yang cukup fenomenal. Seifried Osric Gideon, ia tidak bisa dilukai oleh makhluk selain manusia asli. Baik itu setan, roh, hantu atau apapun itu. Tetap saja tidak bisa melukai seorang Osric.

Adora Odelia Aloysius, gadis ini walau parasnya yang jelita, namun mereka yang sudah mati tidak ada yang berani mendekat. Jika, gadis ini mendekat, mereka hilang. Begitupun sebaliknya.

Hingga suatu hari, mereka terjerumus kedalam sebuah kerajaan besar
menjadi pemeran yang harus melakoni perannya. Pengorbanan demi pengorbanan mereka lakukan. Rintangan demi rintangan mereka hadapi.

Dari situlah, terkuak jati diri mereka yang sebenarnya. Seorang Ratu dunia Immortal yang tertidur seratus tahun di dunia manusia terbangun. Lantas, sederet fakta dan akhir seperti apa yang akan mereka temui di ujung kisahnya?

Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiyahpna_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Dimensi

...Selamat membaca!...

...*****...

"Tiga hari ini, kemana saja? Ngapain?"

Osric berdeham. Duduk tegak seraya mengusak surai pirangnya lagi. Ia tersenyum kecil, namun tampaknya, senyum kecilnya begitu berat hingga terlihat sangat dipaksakan. "Gue ada urusan."

Belum juga Odelia mengucap sepatah dua patah kata untuk mengelak jawaban Osric. Osric terlebih dahulu membungkam mulutnya dengan tatapan tajam dan berbicara cepat. "Kali ini, gue gak bisa kasih tahu lo. Berbahaya. Jangan paksa gue berbicara untuk satu hal ini. Mengerti?"

Odelia membeo. "Hah?" Ia mengernyit lantas berkedip. "Lo ngomong apa sih?"

Apa sih dia? Ngerap ya?

Osric menggeleng. Garis wajahnya berganti jenaka. Ia menyeringai lucu. "Kenapa sih, kangen gue ya?

Pedenya!

Odelia lantas memutar bola matanya malas. Mendengus geli, seraya melayangkan tatapan sinis pada Osric. "Dih. Sudah raja miskin, pede juga ya." Cibirnya asal bicara.

"Mau dipasung ya?" Osric menggeram. Ia tersinggung. Jika pada dunianya, apabila gadisnya ini bukan siapa siapa. Hukuman itu pasti akan segera dilayangkan padanya. "Gue bukan raja miskin. Mana ada raja yang miskin."

Mana ada ya? Jawaban yang menarik bagi Odelia. Membuatnya merasa tertantang. Kalau begitu, "gue mau bukti."

Hening seperkian detik.

Keduanya membisu. Raut Odelia melukiskan haus akan jawab. Lain halnya dengan garis wajah Osric yang beralih tanpa riak. Keduanya beradu pandang sekian detik namun tanpa alunan suara diantara keduanya.

Hingga beberapa detik itu terpecahkan. "Lo raja kan?" tanyanya, bersifat mendesak dan menuntut.

"Iya."

"Bawa gue ke kerajaan lo. Itu bukti yang gue mau."

Jeda. Cukup lama.

Detik terlewati. Menit hadir. Diiringi siluet surya, Osric menyeringai picik. Binar matanya bersinar. Sesaat, Odelia melihat dengan jernih, iris hitam Osric yang berganti biru terang. "Keluarkan buku mendiang kakek lo. Lo akan mendapatkan bukti yang lo mau. Sekarang juga."

Odelia mematung. Benaknya kembali berputar. Sepagi ini, dirinya sudah menghalu kah? Benarkah? Atau penglihatannya yang bermasalah? Tapi, masa sih? Odelia tidak pernah sekalipun mengeluhkan persoalan mengenai mata.

Lalu apa? Kenapa demikian? Tunggu dulu. Tenang. Mari berpikir jernih. Manik biru itu terasa tidak asing bukan? Mungkinkah itu, manik biru yang sama kala ia lihat di pagi hari tadi? Atau—

"Lo bukan manusia ya?!" jeritnya histeris. Ia lantas berdiri. Manik coklatnya membelalak. Jantungnya bertalu, menggila. Bergemuruh layaknya badai.

Lalu, Osric sebenarnya siapa?

"Bukunya, Delia." Sahutnya dengan nada dingin dan otoriter. Sembari menarik Odelia agar duduk di sampingnya. Sedangkan Odelia hanya diam tanpa berucap apapun. Ia tengah bergelut dengan segala anak pemikiran yang berkecamuk hebat.

Ia merasa linglung, sungguh. Ada apa sih? "Sebentar, Ric. Sebentar. Ini gue harus panik atau takut?" Odelia menepuk pipinya sendiri berulang kali. Ia lalu menghadap Osric. Osric menatapnya jengah. "Gue gila ya?"

Osric mendengus. Wajahnya datar sekali. "Buka bukunya sekarang, Delia. Pelindung sudah siap. Aman."

Pelindung? Apa? Bagaimana? Wah. Kenapa Odelia mendadak merasa daya dengarnya bermasalah. Atau, kewarasannya yang bermasalah?

"Gue salah denger ya?"

Osric menggeleng tegas. Ia sungguh mulai merasa jengah. Ia tak pernah menduga respon Odelia yang seperti ini. Norak sekali baginya. Dan kenapa harus seheboh itu? Kemana wibawa gadisnya ini?! "Buka bukunya, Delia. Itu kunci dari semua jawaban pertanyaan lo." Tegasnya lagi.

Odelia menurut, menepis sejenak penasarannya mengenai Osric. Dikeluarkannya buku yang dimaksudkan Osric. Dan berusaha membukanya namun, gagal.

Seperti ada kekuatan magis yang menahannya begitu kencang. Bahkan sekuat ia mencoba membukanya, tetap tidak bisa. Bahkan, anehnya, sekadar bergeser pun tidak. Yang ada tubuh Odelia yang bergerak tak beraturan. Dan bukunya tetap tertutup rapat. Seolah tersegel. Namun, dengan sesuatu yang berbeda.

"Kok gak bisa dibuka sih?" Gumam Odelia, dirinya geram, sudah mencoba berulang kali namun hasilnya sia sia belaka. Hanya mengundang kekesalan.

Dan membuang tenaganya secara percuma. Ia sudah mulai kehausan jawaban. Hingga rasanya di ujung tanduk. Namun, kenapa membuka buku saja terasa sangat sukar? sungguh menjengkelkan.

Namun, ada rasa jengkel yang lebih mendominasi kala manik madunya melirik sekilas Osric yang hanya berpangku tangan sembari menatapnya datar, tanpa menunjukan gerak ingin membantu.

Odelia berhenti. Ia menatap Osric galak sekaligus jengkel. "Heh, lo gak mau bantuin gue?"

Namun, kala Osric menjawab pertanyaannya, gerumul penyesalan itu, seketika menggunung. "Masih ada rakyat. Raja cukup berdiam diri saja."

Berengs*k!

"Gak usah ngumpat. Gue hafal segala ekspresi lo, Delia." Katanya lagi dengan raut datar dan nada yang acuh.

Bertambahlah rasa sebalnya. Ia lantas memalingkan wajahnya dengan amarah yang mencoba ia tahan. Namun, Osric semakin acuh. Ia lebih tertarik pada buku yang tengah di pegang oleh gadisnya. Ia meniliknya, mencondongkan tubuhnya. Mencoba menganalisis, kemungkinan besarnya, ia mengetahui sedikit banyaknya mengenai buku tersebut.

"Kuncinya mana?"

Odelia menoleh, menatap Osric nyalang. "Kunci apaan sih? Ribet amat. Buku begini saja pakai kunci segala. Isinya harta karun apa bagaimana?!"

"Lah, mana gue tahu, itu kan buku lo." Balasnya sewot, tak peduli. Apa sih dia? Kenapa Odelia terlihat dan terdengar begitu kesal? Memangnya, Osric melakukan apa? Ia sedari tadi hanya diam mengamati kok. Tidak melakukan hal aneh yang membahayakan nyawa.

Lagi, karena amarahnya yang mulai menumpuk. Gadis itu mencoba abai. Ia kembali fokus pada buku di tangannya. Jemarinya meraba permukaan cover buku. Pada gambar atau lebih tepatnya ukiran daun maple bagian cover, mulai terasa janggal.

Seharusnya, pada bagian itu sama ratanya dengan yang lain, tapi tidak. Pada bagian itu, sedikit cekung. Kenapa?

"Kata ayahanda, pakai kunci yang mendiang kakek lo kasihkan. Coba saja." Celetuknya lagi, karena turut dibayangi rasa ingin tahu.

Tubuh Osric semakin mendekat, merapat pada tubuh Odelia. Wajahnya kian condong pada buku. Instingnya mengatakan, bahwa buku itu bukanlah buku biasa. Ada sesuatu yang melingkupi benda itu dan membuatnya tertarik.

Shit! What the— ini sihir?!

"Mendiang kakek perasaan gak pernah kasih kunci deh, Ric."

Osric tergagap. Diksi dalam kepalanya yang terususun apik, tiba tiba saja surut. Sekarang, ia mengerti. Namun, ada hal lain yang membuatnya masih kekeh digandrungi penasaran. Kuncinya.

"Mungkin gak ya? Kalau kuncinya itu, bukan kunci biasa. Coba lo ingat ingat lagi, Del. Benda apa yang pernah mendiang kakek lo kasih dan benda itu berharga buat lo."

Memori Odelia terus berputar, menerawang jauh. Mengingat masa kebersamaannya dengan mendiang sang Kakek yang kini telah tiada. "Seinget gue, Kakek pe–" mata Odelia membelalak, diam sejenak.

Jeda.

"Gue inget!" Serunya bersemangat.

Odelia berdiri, merogoh saku roknya. Mengeluarkan sebuah kunci mobil yang mana terdapat daun maple berwarna merah maroon berukuran sedang yang menggantung pada tangkainya.

Itu adalah gantungan kunci kesayangannya, hadiah dari mendiang kakeknya sewaktu ia berulang tahun yang ke tujuh tahun. Sudah lama sekali memang. Tapi entahlah, bagi Odelia gantungan itu unik. Dan satu satunya memori yang ia ingat hanya itu. Tidak tahu mengapa. Dan itu pun, ingatan yang samar.

Bagian menariknya adalah, daun maple itu seperti asli. Namun, setelah ditilik lagi, sepertinya juga bukan. Karena, jikalau daun asli, jelas sudah layu dimakan usia. Benarkan?

Dengan tergesa, Odelia mencopotnya dan menerapkannya pada bagian yang sedikit cekung. Dan pas! Otomatis, bukunya terbuka. Memancarkan kilaunya yang menyilaukan. Benda ini benar benar spesial ya? apa sih? batin Odelia, mulai gamang. Sepertinya, pemikirannya mengenai buku ini yang buku biasa, adalah kesalahan besar.

Seketika, netra kelam Osric dan netra coklat Odelia beradu pandang. Keduanya melayangkan ekspresi bingung. "Kok kosong?" tanya Odelia.

"Coba dibalik, mungkin dilembar selanjutnya." Osric mencoba memberi saran dengan tenang. Dan–

–Kosong.

Lembaran kertas berwarna kecoklatan itu benar benar bersih dari coretan tinta. Bahkan setitik goresan pun tidak ada. Hingga ke lembar berikutnya.

Bahkan buku ini sangat rapi seolah baru saja dibukukan. Sama sekali tidak ada lipatan. Bukankah ini mencurigakan tapi, menarik? Well, mengingat buku ini yang usianya tentu sudah sangat tua.

Odelia terdiam lagi. Ia tengah berpikir. Kenapa dengan bukunya? Astaga. Lalu, apa istimewanya hingga mendiang kakeknya sampai berpesan agar merahasiakan buku ini?

"Gak usah mikir keras gitu. Gue tahu." Osric mengulas senyum tipis, ia mengusap lembut gurat lipatan pada dahi gadisnya. "Percaya ke gue ya?" Ujarnya, seraya merampas paksa buku yang ada pada tangan Odelia cepat. Ia menunduk, sesaat memejamkan mata lantas kembali membuka matanya.

Biru?

Odelia terkesiap, menatap Osric kebingungan dan terpana diwaktu yang bersamaan. Irisnya, manik mata Osric, biru? kemana manik hitamnya? "Osric."

Jeda.

Osric memang sengaja membiarkan gadisnya, dengan sejuta asumsi yang pasti sudah bercokol dalam benaknya. "Ini bukan buku biasa, buku ini dilapisi sihir." Pemuda itu menoleh. Lantas menyeringai.

Mata birunya semakin berkilat terang. Namun, meski begitu, binar hangatnya, menatap manik madu Odelia yang tengah menatapnya tanpa berkedip, penuh kasih. Meski riak wajahnya telah tiada.

"Siap untuk berpetualang, ratuku?" Osric kembali menyeringai picik, tangannya menarik tangan Odelia paksa lalu digenggamnya erat. Osric mendekat. Membisiki gadisnya seraya mengubah ekspresinya berangsur angsur. Sebelumnya, ia menarik napasnya panjang dan dalam. "Ini bukti yang lo mau. Kita, pulang. Ke tempat seharusnya, kita berada."

Jeda. Odelia membisu. Ia menatap Osric, meragu? sedang Osric hanya menatapnya dalam. "My queen. Percaya gue, bisa?"

Odelia mengangguk saja. Gerumul dalam dadanya seketika menguat. Begitu bergemuruh. Ia tak sabar, tetapi ada perasaan yang jauh lebih kuat dari itu. Cinta? Bukan! Tapi seperti, penghianatan? dan tiba tiba saja, amarah menggelegak dalam dadanya.

"Enchastra diora."

Seketika, buku itu bersinar terang. Kemilaunya begitu memancar kuat. Dengan sendirinya, buku itu membolak balik lembar buku secara cepat hingga bermunculan baris demi baris kalimat. Diiringi gambar. Layaknya peta. Ada bendera dan kerajaan pada titik tertentu yang kian meluas di setiap lembar.

Hingga menit berikutnya, tubuh sepasang insan itu ditarik menuju dunia yang jauh berbeda. Di dunia yang baru bagi sang ratu setelah sekian lamanya meninggalkan rumah dan jati dirinya.

1
PORREN46R
uda mampir ya
PORREN46R
gak bisa berkata-kata lagi aku ceritanya bagus dan nyambung tidak seperti cerita ku
Future~
aku like dulu semuanya, nanti ku baca
ᏉᎨᎾᏁᎯ
ini lagunya beauty n d beast bukan sih thor??
Alfiyahpna_: benerrr kak yang main emma
total 1 replies
ᏉᎨᎾᏁᎯ
𝚙𝚊𝚗𝚐𝚎𝚛𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚓𝚞𝚐𝚊 😊
ᏉᎨᎾᏁᎯ
😅 𝚑𝚊𝚗𝚝𝚞 𝚟𝚎𝚛𝚜𝚒 𝚖𝚒𝚕𝚎𝚗𝚒𝚊𝚕 𝚔𝚊𝚢𝚊𝚔𝚗𝚢𝚊
ᏉᎨᎾᏁᎯ
𝚊𝚠𝚊𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚐𝚞𝚜 𝚝𝚑𝚘𝚛, 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 😉
ᏉᎨᎾᏁᎯ
𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚜𝚞𝚔𝚊 𝚐𝚎𝚗𝚛𝚎 𝚑𝚘𝚛𝚘𝚛 𝚜𝚎𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚒𝚗𝚒
Alfiyahpna_
Okay, HALLO!!!

Well, aku keknya udah mulai terlupakan. Yep, oke gapapa. Karena aku juga sejujurnya lupa dengan novel ini, maaf lurrrrr.

Ekhem, cek gelombang yaa. Masih ada ga si yang nungguin ceritanya? mau lanjut apa enggaaaa?

Komen ya lurr! sip. Suwun, lur.
Alfiyahpna_: aw makasi kakaaak😍
total 2 replies
Nelin Agustin
cepetan up min gak sabar nihhh
Om Rudi
tiga like dari Alma Fatara
Om Rudi
dua like dari Alma Fatara
Om Rudi
waktu terus berganti

Perjalanan Alma Mencari Ibu mulai dukung
💓Yhan💓
Hadir memenuhi undangan, aku uda masukin fav ya.. saling suport🥰
Sejahtera
Ditunggu lanjutannya , Kak ^_^
Nelin Agustin
thor jangan lama lama up nya 😭
Alfiyahpna_: Maaf beb, suka lupa punya novel disini😭
total 1 replies
Syaila
Bagi gue, masih jadi yang terfav dan terdabes Thor!💖
Alfiyahpna_: Makasih loh yaa❤
total 1 replies
Syaila
The best ever😍
Alfiyahpna_: ❤❤❤❤❤❤❤
total 1 replies
Eva Santi Lubis
Pertama lanjut thor semangat
Alfiyahpna_: Huhu, makasih kak sudah support selalu❤
total 1 replies
_rus
Aku mampir kembali, Thor. Dengan 9 like, maaf kalo telat datang... 😁

Salam Hangat dari "Sebuah Kisah Cintaku" 😆🙏🏼
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!