Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Welcome to Djogja
"Aldi?" tanya Haura sambil melihat sekeliling mobil, Aldi yang duduk tertunduk di pojok belakang mobil pun tidak menjawab panggilan Haura.
Haura merasa aneh karena di dalam mobil hanya dirinya dan Aldi saja, karena ia tidak ada rasa curiga apapun, Haura memutuskan untuk pergi menghampiri Aldi yang sedang duduk di kursi belakang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Haura ke Aldi sambil melongokkan wajahnya ke wajah Aldi, namun Aldi masih saja tertunduk memejamkan matanya dengan wajah yang pucat seperti orang sedang sakit.
Saat Haura mencoba memegang pundak Aldi, tiba-tiba tubuh Aldi terasa dingin, dengan cepat sosok Aldi membuka matanya dan menoleh ke Haura, Haura yang kaget pun melepaskan pegangannya di pundak Aldi, dan menjauh mundur dari Aldi perlahan dengan penuh ketakutan.
"Si, siapa kau? Kau bukan teman ku!" teriak Haura terbata, namun Aldi yang sudah berdiri dan berjalan mendekati Haura pun langsung mencekik Haura hingga dirinya sulit bernafas.
"Kem ... Balikan ... Teman ... Ku!" ujar Haura yang sulit bicara karena cengkraman di lehernya semakin kencang, dan membuatnya semakin sulit bernafas.
Wajah Aldi pun semakin menyeramkan dan semakin pucat pasi. Haura yang semakin kesulitan pun mencoba menepis tangan Aldi dengan sekuat tenaga.
Setelah kejadian di rest area malam itu, Haura memang lebih banyak diam selama di perjalanan dan lebih memilih untuk memejamkan matanya, entah hanya untuk berpura-pura tidur atau bahkan memang dia sedang tidur.
"Ra, bangun Ra! Kau bisa dengar suara ku?" tanya Ari sambil memegang pipi Haura, mencoba membangunkannya karena Ari lihat Haura tertidur gelisah, seperti bergumam sesuatu namun tidak jelas apa yang diucapkan.
"To ... Long ...." ucapnya lirih terbata sambil tangannya bergerak seperti menahan sesuatu. Tubuhnya dipenuhi keringat dingin, matanya masih terpejam, dengan cepat Ari memegang kening Haura dan mencoba membaca doa, kebetulan Haura dan Ari memeluk kepercayaan yang sama.
Nafas Haura tiba-tiba terengah-engah, didalam mimpinya ia masih saja di cekik oleh makhluk yang menyerupai Aldi, dengan tenaga terakhirnya yang ia miliki, ia memejamkan mata dan membaca doa. Perlahan namun pasti, kini yang terdengar di telinga Haura adalah suara Ari, ia berusaha membuka matanya, dan seketika ia bangun dari tidurnya. Haura bingung melihat para kakaknya dan semua teman-temannya termasuk Aldi sedang menatap khawatir padanya, Haura menatap ke Ari yang tersenyum padanya.
"Syukurlah ...." ucap Ari, tanpa mengatakan apapun Haura langsung memeluk tubuh Ari yang ada di hadapannya, dan menumpahkan tangisannya.
"Aku takut Kak ...." lirih Haura sambil memeluk Ari, matanya memejam menahan rasa takut yang menghantui dirinya. Ari bingung dan merasa canggung atas pelukan dadakan Haura padanya. Tangannya meragu antara ingin membalas pelukan Haura atau tidak sambil menatap ke Al. Al hanya mengangguk pelan tanda mengiyakan kepada Ari untuk membalas pelukan Haura. Ari pun menepuk-nepuk punggung Haura mencoba menenangkan gadis yang mirip dengan adiknya itu.
"Tenanglah, itu hanya mimpi buruk, ambil nafas prlahan. dan banyak-banyaklah berdoa." ucap Ari, Haura pun menuruti masukan Ari, ia mencoba mengatur nafasnya, dan membaca doa apa yang ia yakini.
Dewa dan Arindita yang sudah turun dan berdiri di depan pintu masuk mobil penumpang pun speachless dibuatnya. Dewa yang melirik ke Arindita tersadar jika kini Arindiita ikut takut karena kejadian itu, Dewa memegang jari jemari Arindita berusaha memberi tahu gadis itu bahwa semua baik-baik saja dan tidak perlu takut. Arindita hanya menoleh sekilas kee Dewa lalu menatap Haura kembali.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Ari yang melepas pelukan Haura, Haura pun membersihkan mukanya dari sisa-sisa air mata saat ia menangis tadi.
"Terima kasih Kak, aku minta maaf sudah memeluk Kak Ari." ucap Haura sambil tertunduk malu.
"Tidak apa-apa, bukankah sesama teman harus saling menolong?" ucap Ari ke Haura. Entah kenapa ada rasa aneh di dadanya saat mendengar kata 'teman' yang keluar dari mulut Ari untuknya, Haura pun menepis fikirannya itu dengan segera, dan menyunggingkan senyuman di wajahnya.
"Ayo kita turun, akan tidak enak kalau tuan rumah lihat kejadian ini." ucap Al sambil mengajak semuanya turun dari mobil karena kini mereka sudah ada di halaman depan villa besar milik orang tua Dewa.
Mereka pun turun dari mobil dan terperangah saat melihat betapa luasnya villa milik keluarga Dewa. Hingga kini mereka sudah ada di pintu masuk utama dan disambut oleh pelayan-pelayan yang ada di villa tersebut.
"Ayo masuk, maaf jika sepi karena kedua orang tua ku sepertinya masih tidur, kalian bisa ke kamar tamu, nanti diantar oleh ara pelayan villa. Untuk kamar para pria ada di kamar pojok, kamar wanita di sebelahnya. Kalau kalian haus atau ingin menonton TV kalian bisa lakukan apapun dirumah ini." ujar Dewa panjang lebar.
"Tolong siapkan susu atau teh hangat untuk kami ya Mbak. Jika mereka ingin sesuatu tolong dibantu buatkan saja, mereka semua teman-teman ku. Oia tolong siapkan sarapan untuk kita semua jam ujuh pagi ya." ucap Dewa sambil tersenyum ramah ke salah satu ibu pelayan utama di villa milik sang Daddy.
Mereka pun mulai memasuki kamar yang sudah Dewa infokan, betapa terkejutnya mereka yang melihat begitu luasnya kamar yang akan mereka tempati. Awan lebih dulu masuk pun memilih untuk menghempaskan tubuhnya ke kasur dan membuang tas miliknya entah kemana.
"Argh, akhirnya aku menemukan kasur juga, empuk sekali." ujar Awan, sikap konyol Awan pun disambut tawa oleh Al, Aldi, Ari, dan Dewa.
"Kau ini jorok sekali Wan, cuci dulu kaki mu sana!" perintah Ari ke Awan, namun Awan lebih memilih duduk di pinggir kasur sambil menatap Ari.
"Siap Bos." ucapnya, dan langsung memeluk Ari tiba-tiba. Mengulang kembali reka adegan pelukan dirinya dengan Haura.
"Bagaimana rasa pelukan ku? Lebih enak mana dengan pelukan Haura?" ledek Awan, Ari yang dijahili Awan pun mendorong tubuh Awan untuk menjauhinya.
"Ish kau ini, tidak ada rasa apapun. Aku menganggapnya seperti Adik ku, ingat itu Wan." uaja Ari kesal, entah kenapa Ari jadi lebih sensitif, mungkin karena rasa lelah yang ia rasa, ditambah dengan ia harus membantu Haura tadi. Bagi mereka yang memiliki sixth sense, tubuh mereka akan melemah, tenaga mereka seperti terkuras jika sudah berhubungan dengan makhluk tak kasat mata.
"Sudah-sudah, lebih baik kalian cuci kaki, cuci muka dan lanjut tidur, nanti jam tujuh kita bangun untuk sarapan, dan bertemu dengan kedua orang tua ku. Aku akan tidur di sofa, kalian bisa menggunakan kasur itu." ucap Dewa sambil menunjuk ke arah kasur yang ia maksud.
"Kau kan punya kamar kenapa kau lebih memilih untuk tidur disini yang bahkan kau hanya bisa tidur di sofa?" tanya Al ke Dewa, Dewa pun hanya tersenyum.
"Aku hanya ingin tidur bersama-sama, sepertinya akan lebih asyik bukan?" tanya Dewa balik. Mereka semua hanya mengangguk setuju.
Bersambung ....
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...