NovelToon NovelToon
KKN DESA MATI

KKN DESA MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Author Melda

6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. HUTAN LARANGAN

Lampu minyak di teras rumah Mbok Darmi berkedip. Angin dari hutan masuk lewat sela-sela dinding kayu.

Di luar, mereka masih di sana. Bima, Riko, Sinta, dan Pak Lurah Karjo yang sudah hangus. Mereka tidak pergi. Mereka hanya berdiri, mengelilingi rumah. Tidak bergerak. Menatap kami dari kegelapan.

Maya masih berlutut di depan Mbok Darmi. Tubuhnya gemetar. Nama MAYA yang dicoret darah di kain kafan itu masih basah, menetes.

Mbok Darmi menatap kain itu dengan wajah sedih. Tangannya yang keriput berhenti menenun.

"Setiap nama yang dicoret... artinya jiwanya sudah diambil hutan... Maya dicoret malam ini... tapi badannya masih di sini... karena dia belum ikhlas..." Mbok Darmi berbisik.

Aku memeluk Maya dari belakang. Tubuh Maya dingin lagi. Sama dinginnya seperti saat di dekat sumur tadi.

"Kak Selvi... aku kedinginan... kakiku gak bisa digerakin..." Maya menangis. Air matanya sekarang bening lagi, bukan hitam.

Farhan yang dari tadi diam di sudut rumah, tiba-tiba berdiri. Dia melihat keluar lewat jendela kecil.

"Mbok... mereka kenapa gak masuk? Kenapa cuma di luar?" tanya Farhan.

Mbok Darmi tersenyum pahit. "Karena rumah ini bukan bagian dari desa... ini Hutan Larangan... mereka gak bisa masuk hutan larangan kalau belum dipanggil... tapi kalau obor terakhir padam..."

Mbok Darmi melihat ke arah obor Pak Lurah yang tadi dibawa Farhan. Obor itu sudah padam total. Hanya arang hitam yang tersisa. Tidak ada api sama sekali.

"Obor sudah padam... berarti perjanjian Pak Lurah sudah selesai... sekarang hutan yang akan nagih..."

Baru saja Mbok Darmi selesai bicara, lampu minyak di teras PADAM. Bukan karena angin. Tapi seperti ditiup oleh seseorang yang tidak terlihat.

GELAP.

Satu-satunya cahaya hanya dari bara api kecil di tungku dalam rumah Mbok Darmi.

Dan dalam kegelapan itu, kami mendengar pintu rumah diketuk.

TOK... TOK... TOK...

Tiga kali. Pelan. Sopan.

"Siapa?" Mbok Darmi bertanya dengan suara keras.

Tidak ada jawaban. Hanya ketukan lagi.

TOK... TOK... TOK...

Maya menjerit. "Kak, itu Sinta! Aku denger suara Sinta manggil aku!"

Aku menutup telinga Maya. "Jangan didengerin, Maya! Itu bukan Sinta!"

Farhan mengambil kayu bakar dari dekat tungku, mengacungkannya seperti senjata. "Siapapun di luar! Jangan masuk!"

Dari luar, terdengar suara. Suara Sinta. Jelas sekali suara Sinta.

"Sel... Vi... Maya... bukain... dingin di luar..."

Itu suara Sinta yang asli. Suara yang aku kenal. Suara yang selalu ceria saat kami berangkat KKN kemarin pagi.

Air mataku langsung keluar. "SINTA?"

"JANGAN!" Mbok Darmi menarik tanganku. "Itu bukan temanmu lagi! Itu hutan yang pakai suaranya! Kalau kamu bukain, kalian semua akan jadi seperti mereka! Tanpa bayangan!"

Ketukan pintu semakin keras. Sekarang bukan hanya satu pintu. Tapi semua dinding rumah diketuk. Dari kanan, kiri, belakang.

TOK TOK TOK TOK TOK TOK!

Seperti puluhan tangan mengetuk bersamaan.

Rumah kayu Mbok Darmi yang sudah lapuk itu bergetar. Debu jatuh dari atap.

Mbok Darmi cepat-cepat menarik kain kafan yang dia tenun. Kain putih panjang dengan 6 nama itu. Dia melilitkan kain itu di sekeliling kami bertiga.

"Pegangan kain ini! Jangan lepas! Kain ini ditenun dengan doa! Mereka takut sama doa ibu yang kehilangan anak!"

Kami bertiga berpegangan pada kain itu. Kain itu hangat. Sangat hangat, padahal kain kafan seharusnya dingin.

Saat kami memegang kain itu, ketukan di luar berhenti. Hening lagi.

Tapi dari sela dinding, aku melihat sesuatu. Aku melihat bayangan kami. Bayangan aku, Farhan, Maya, dan Mbok Darmi terpantul di dinding karena cahaya tungku.

Dan aku melihat satu hal yang membuat darahku berhenti mengalir.

Bayangan Maya... tidak ada.

Maya tidak punya bayangan lagi.

Aku melihat ke bawah, ke lantai tanah rumah itu. Bayanganku ada. Bayangan Farhan ada. Bayangan Mbok Darmi ada.

Tapi di tempat Maya berdiri, tidak ada bayangan. Lantainya kosong.

Maya sudah dicoret dari kain. Maya sudah menjadi bagian dari mereka. Hanya saja, raganya masih di sini karena masih memegang kain kafan itu.

"Maya... bayangan kamu..." bisikku pelan.

Maya melihat ke bawah. Dia melihat lantainya. Dia tidak melihat bayangannya sendiri. Perlahan, Maya mengerti.

Maya tersenyum ke arahku. Senyum yang tulus, senyum Maya yang asli, bukan senyum robek.

"Gak apa-apa Kak Selvi... kalau memang giliran aku... aku ikhlas... yang penting kakak sama Farhan bisa keluar dari Hutan Larangan ini..."

Maya melepaskan pegangannya dari kain kafan itu.

"MAYA JANGAN!" Farhan berteriak dan mencoba menarik Maya.

Terlambat.

Saat Maya melepas kain, pintu rumah Mbok Darmi TERBUKA SENDIRI dengan keras.

BRAKK!

Angin hutan yang sangat dingin masuk. Api tungku padam. Gelap total.

Dan dari kegelapan di luar pintu, puluhan tangan pucat masuk, menarik Maya keluar.

Maya tidak berteriak. Dia hanya menatapku untuk terakhir kali.

"Bilangin ke ibu aku... maafin Maya..."

Tubuh Maya diseret keluar, ke dalam kegelapan hutan. Pintu tertutup lagi. Kunci sendiri.

Kami hanya mendengar suara langkah kaki Maya yang semakin jauh, bersama dengan suara gamelan yang tadi menghilang, sekarang terdengar lagi. Semakin keras. Gamelan itu bukan lagi pelan dan sedih, tapi cepat dan marah, seperti musik untuk tarian kematian.

Aku terduduk lemas di lantai. Kain kafan yang tadi kami pegang bertiga, sekarang hanya tinggal dipegang aku dan Farhan. Bagian tempat Maya memegangnya tadi, masih terasa dingin. Sangat dingin, seperti baru saja memegang es balok.

Mbok Darmi menangis. Pertama kalinya aku melihat nenek itu menangis. Air matanya jatuh ke atas kain kafan itu, tepat di atas nama SELVI yang belum dicoret.

"Sudah empat... Bima yang pertama masuk sumur... Riko dan Sinta yang kedua dan ketiga di dalam sumur... Maya yang keempat di hutan larangan... tinggal dua nama lagi di kain... SELVI dan FARHAN..." Mbok Darmi suaranya pecah.

Aku melihat kain kafan di tanganku dengan lebih jelas dalam cahaya tungku yang tiba-tiba menyala kembali sendiri. Kain itu sekarang berubah. Nama MAYA bukan hanya dicoret. Tapi HILANG. Benang merahnya lepas sendiri, seperti terbakar dari dalam. Tinggal lubang bekas jahitan yang berbentuk nama MAYA. Lubang itu masih mengeluarkan asap tipis berwarna hitam dan bau kemenyan.

Tinggal 5 nama yang masih utuh: SELVI, SINTA, RIKO, BIMA, FARHAN. Tapi SINTA, RIKO, BIMA sudah diambil sumur, kenapa nama mereka masih ada? Harusnya hilang juga?

"Mbok... kenapa nama Riko, Sinta, Bima masih ada? Mereka kan udah..." Farhan bertanya, suaranya gemetar. Dia juga menyadari hal yang sama sepertiku.

Mbok Darmi mengusap air matanya. Dia menarik nafas panjang, nafas yang berat seperti orang yang sudah menahan rahasia selama puluhan tahun.

"Karena sumur belum kenyang... sumur itu butuh 6... tapi yang di dalam sumur itu licik... dia ambil 3, tapi dia tidak hapus namanya di kain... dia sengaja sisain namanya biar kainnya keliatan masih banyak... biar kalian tenang... padahal jiwa mereka sudah tidak ada..."

Jawabannya membuat bulu kudukku berdiri. Jadi selama ini kami ditipu? Kami pikir tinggal 3 orang yang hilang, ternyata...?

"Jadi Riko, Sinta, Bima... mereka sudah..." Aku tidak sanggup melanjutkan.

Mbok Darmi mengangguk pelan. "Mereka sudah jadi warga tanpa bayangan... mereka yang tadi di luar... yang ketuk-ketuk pintu... itu mereka..."

Farhan langsung berdiri dan menendang dinding kayu rumah itu dengan marah. "BANGSAT! JADI KITA DARI TADI DIKURUNG SAMA TEMAN KITA SENDIRI!"

"Farhan, jangan berisik!" Aku menarik Farhan.

Tapi sudah terlambat. Dari luar, suara gamelan berhenti mendadak. Hening total. Hening yang jauh lebih menakutkan daripada suara gamelan tadi.

Diganti dengan suara yang lebih mengerikan.

Suara Maya. Suara Maya yang tertawa cekikikan, sama seperti suara warga tanpa bayangan. Tapi sekarang, suara itu tidak hanya satu. Ada suara Riko, Sinta, dan Bima yang ikut tertawa bersama Maya.

Mereka tertawa di luar rumah. Mengelilingi rumah.

Dan kemudian, mereka mengetuk pintu lagi. Bukan tiga kali. Tapi terus menerus.

TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK!

"SELVI... FARHAN... BUKAIN... GILIRAN KALIAN..." Suara Maya, Riko, Sinta, Bima jadi satu.

Farhan memelukku erat. Tubuh Farhan gemetar hebat. Aku bisa merasakan jantung Farhan berdetak sangat kencang.

"Mbok... gimana cara keluar dari Hutan Larangan ini Mbok? Kasih tau kami Mbok..." Farhan memohon ke Mbok Darmi.

Mbok Darmi melihat ke arah tungku yang apinya semakin kecil. Dia mengambil abu dari tungku itu, dan menaburkannya di atas kain kafan, tepat di atas nama SELVI dan FARHAN.

"Tabur abu ini di kepala kalian... dan lari... lari ke arah timur... jangan pernah lihat ke belakang... seberapa pun mereka memanggil nama kalian... jangan lihat ke belakang... kalau kalian lihat ke belakang... bayangan kalian akan ketinggalan di hutan ini... dan kalian akan seperti Maya..."

Mbok Darmi menyodorkan abu itu ke kami. Abu yang masih hangat.

Aku mengambil segenggam abu itu. Farhan juga.

Saat kami menaburkan abu di kepala kami, tiba-tiba dari luar, terdengar jeritan. Jeritan kesakitan dari suara-suara di luar. Seperti mereka kepanasan.

"Mereka takut abu doa... CEPAT LARI SEKARANG!"

Mbok Darmi membuka pintu belakang rumahnya. Pintu kecil yang tadi tidak kami lihat. Dari pintu itu, terlihat jalan setapak kecil yang gelap, menuju ke arah timur.

Aku dan Farhan tidak berpikir dua kali. Kami lari. Kami lari keluar lewat pintu belakang, meninggalkan rumah Mbok Darmi.

Kami tidak melihat ke belakang. Kami terus lari ke timur, seperti pesan Mbok Darmi.

Di belakang kami, kami mendengar suara Mbok Darmi berteriak, dan suara pintu rumahnya yang dibuka paksa.

BRAKK!

Lalu suara Mbok Darmi yang menjerit. Dan setelah itu... suara tawa Maya, Riko, Sinta, Bima yang semakin keras.

Kami terus lari. Air mata mengalir di pipiku. Aku tidak tahu apakah Mbok Darmi masih hidup atau sudah...

Dan di depan kami, di ujung jalan setapak itu, ada cahaya. Cahaya lampu yang terang.

Apakah itu jalan keluar dari Hutan Larangan?

Atau itu justru... Balai Desa lagi?

Atau itu justru... Balai Desa lagi?

Aku memicingkan mata. Cahaya itu kuning, temaram, seperti cahaya lampu petromak yang ada di balai desa tempat kami tinggal. Bukan cahaya putih terang seperti lampu motor. Ini cahaya yang aku kenal. Cahaya yang sudah 7 hari ini menerangi malam-malam teror kami.

Farhan yang ada di sampingku juga melihatnya. Dia menggenggam tanganku lebih erat.

"Selvi... jangan-jangan..." Farhan tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi aku tahu apa yang dia pikirkan.

Kami baru saja lari mati-matian dari balai desa, masuk ke Hutan Larangan, ketemu rumah Mbok Darmi yang ternyata kuburan, kehilangan Maya, dan sekarang setelah lari ke arah timur sesuai pesan Mbok Darmi... kami malah balik lagi?

Tidak mungkin. Tidak mungkin hutan ini sekejam itu.

Tapi semakin kami dekati cahaya itu, semakin jelas bentuknya. Sebuah bangunan kayu yang besar, dengan teras yang lebar. Ada kentongan yang tergantung di depannya. Ada sumur tua di belakangnya yang pintunya terbuat dari batu besar.

Itu Balai Desa. Balai Desa yang sama. Balai Desa tanpa bayangan.

Kaki ku lemas. Aku jatuh terduduk di tanah yang becek. Air mataku yang tadi sudah kering, keluar lagi.

"Kita muter-muter doang... kita balik lagi ke tempat awal... kita gak pernah keluar dari hutan ini, Han..." Aku berbisik dengan suara hancur.

Farhan juga terduduk di sampingku. Dia memukul tanah dengan kepalan tangannya. "BANGSAT! JADI KITA DIKURUNG! DARI TADI KITA CUMA MUTER DI SITU-SITU AJA!"

Tapi ada yang aneh. Balai desa di depan kami ini... lampunya menyala sangat terang. Semua jendelanya terbuka. Dari dalam terdengar suara orang tertawa, suara piring dan gelas beradu, seperti ada pesta.

Padahal balai desa yang kami tinggalkan tadi, gelap, sepi, dan dikelilingi warga tanpa bayangan.

"Han... denger gak? Ada suara pesta?" tanyaku.

Farhan mengangguk. Dia juga mendengarnya. Suara gamelan yang tadi menyeramkan, sekarang berubah menjadi musik dangdut koplo yang ceria. Ada suara orang karaoke.

Kami berdua saling pandang. Apakah kami salah lihat? Apakah ini balai desa yang berbeda?

Dengan langkah yang sangat pelan dan gemetar, kami mendekati balai desa itu. Semakin dekat, semakin jelas suara pesta itu.

Di teras balai desa, ada banyak orang. Orang-orang desa yang kami kenal. Pak Lurah Karjo yang masih hidup, tidak hangus. Ibu-ibu PKK yang sedang masak di dapur. Bapak-bapak yang sedang main gaple.

Dan di tengah-tengah mereka, ada Bima, Riko, Sinta, dan Maya!

Mereka berempat sedang duduk di tikar, tertawa, makan sate dan minum es teh! Wajah mereka ceria, tidak pucat, tidak bermata hitam!

"MAYA! RIKO! BIMA! SINTA!" Aku berteriak dan berlari ke arah mereka.

Mereka berempat menoleh ke arahku dan Farhan. Wajah mereka kaget, lalu senang.

"SELVI! FARHAN! KALIAN DARI MANA AJA? KITA UDAH NYARIIN KALIAN DARI TADI! KATANYA KALIAN HILANG DI HUTAN!" Maya berlari memelukku.

Aku memeluk Maya erat. Tubuh Maya hangat. Tidak dingin. Ada bayangannya! Aku melihat ke bawah, bayangan Maya ada!

Riko dan Bima juga memeluk Farhan. Sinta menangis memelukku.

"Vi, kamu kenapa nangis? Wajah kamu pucat banget?" Sinta mengusap air mataku.

Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya menangis. Apakah semua yang terjadi tadi hanya mimpi? Apakah sumur, warga tanpa bayangan, kain kafan, Mbok Darmi, semua itu hanya mimpi buruk karena kami tersesat di hutan?

Pak Lurah Karjo datang menghampiri kami sambil membawa dua piring sate.

"Anak-anak KKN... kalian bikin pak Lurah khawatir aja... sudah, makan dulu... ini pesta perpisahan KKN kalian... besok kalian kan udah mau pulang ke kampus..." kata Pak Lurah dengan senyum ramah.

Pesta perpisahan? Besok pulang?

Aku melihat kalender yang tergantung di dinding balai desa. Tanggalnya: 28 Agustus 2025. Tanggal terakhir KKN kami. Padahal tadi pagi, tanggal masih 21 Agustus.

Apakah kami hilang di hutan selama 7 hari tanpa sadar?

Farhan juga bingung. Dia melihat ke arahku, berbisik, "Vi... ini aneh... tapi mungkin kita halusinasi karena kelaparan..."

Aku mengangguk. Mungkin memang begitu.

Kami duduk di tikar bersama teman-teman kami. Makan sate yang rasanya enak sekali. Minum es teh yang segar. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari diteror, aku merasa tenang.

Maya menyandarkan kepalanya di bahuku. "Kak Selvi, maafin aku ya kalau aku ngerepotin selama KKN..."

Aku mengelus rambut Maya. "Gak apa-apa, Maya..."

Tapi saat aku mengelus rambut Maya, tanganku merasakan sesuatu yang aneh. Rambut Maya basah. Sangat basah dan dingin, seperti rambut orang yang baru tenggelam.

Dan saat aku melihat ke bawah, ke piring sate yang sedang kami makan...

Sate itu bukan sate ayam.

Itu adalah jari-jari manusia yang dibakar. Jari-jari yang masih memakai cincin. Cincin yang aku kenal. Cincin milik Pak Lurah Karjo.

Es teh di gelas kami bukan es teh. Tapi air keruh dari sumur, dengan jentik-jentik hitam yang berenang di dalamnya.

Dan tikar yang kami duduki... bukan tikar. Tapi kain kafan putih panjang yang tadi kami pegang. Kain kafan dengan 6 nama.

Aku melihat ke sekeliling. Orang-orang desa yang sedang pesta... wajah mereka meleleh. Mata mereka hilang, menjadi lubang hitam. Senyum mereka robek sampai ke telinga.

Pak Lurah Karjo yang tadi ramah, sekarang tubuhnya hangus terbakar, tapi masih tersenyum sambil menawarkan sate jari manusia itu.

"MAKAN... MAKAN YANG BANYAK... BIAR KENYANG... BIAR BETAH DI SINI... SELAMANYA..."

Maya yang bersandar di bahuku, mengangkat kepalanya. Wajah Maya yang cantik tadi, sekarang menjadi hitam, dengan mata tanpa putih, dan air mata hitam yang mengalir.

"Kak Selvi... kenapa ditinggalin... di hutan... dingin..."

Aku menjerit. Jeritan yang paling keras sepanjang hidupku.

Ternyata kami tidak pernah keluar dari Hutan Larangan. Balai desa pesta ini adalah tipuan. Tipuan terakhir dari hutan agar kami mau tinggal selamanya.

Farhan langsung menarikku berdiri. Dia membalikkan meja sate itu. Dia mengambil obor yang ada di sudut balai desa dan melemparkannya ke tengah-tengah pesta tipuan itu.

Api menyambar kain kafan yang menjadi tikar. Api membesar dengan sangat cepat.

Warga tanpa bayangan itu menjerit. Bukan jeritan kesakitan, tapi jeritan marah.

"PERGI! KALIAN HARUS PERGI DARI SINI! JANGAN MAKAN MAKANAN MEREKA!" Suara Mbok Darmi tiba-tiba terdengar dari belakang kami.

Kami menoleh. Mbok Darmi berdiri di pintu balai desa, dengan tubuh yang sudah setengah transparan. Dia melambaikan tangan, menyuruh kami lari keluar.

Kami berdua lari keluar dari balai desa yang sekarang terbakar. Di belakang kami, pesta itu berubah menjadi lautan api. Dan di dalam api itu, aku melihat Bima, Riko, Sinta, Maya, dan Pak Lurah berdiri, menatap kami sambil tersenyum.

Api itu tidak membakar mereka. Mereka adalah bagian dari api itu.

Kami terus lari. Lari menjauhi balai desa yang terbakar. Dan kali ini, kami benar-benar keluar dari desa.

Di depan kami, ada jalan aspal. Ada lampu jalan. Ada suara mobil dari kejauhan.

Kami berhasil keluar dari Hutan Larangan.

Tapi saat aku melihat ke belakang untuk terakhir kalinya...

Balai desa itu sudah tidak ada. Yang ada hanya hamparan hutan belantara yang gelap dan sunyi. Tidak ada bekas kebakaran sama sekali.

Hanya ada satu sumur tua di tengah hutan, dengan pintu batu yang perlahan-lahan...

Menutup.

BRAKKK!

[BERSAMBUNG KE BAB 14. RUMAH MBOK DARMI - VERSI ASLI YANG BARU]

1
Nandan Waluya
Mantap ceritanya kak 💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sebelum baca BAB 6, aku coba jawab pertanyaan Kak Melda di akhir BAB ini...

Jawabannya adalah...

Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Di akhir BAB, aku bayangin begini:

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya membayangkan skenario spesial:

Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...

🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya pasti cuma berdiri aja sambil senderan tembok, menatap satu-satu semua temen KKN. Terus tersenyum aja lihat mereka begitu... hihihi...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya bangun dari rebahan, jalan deketin Selvi, dan bilang sama dia, "Gimana? Mau tukeran posisi ketua sama gue, gak?"
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo ada saya di dalam ceritanya, pasti saya udah rebahan santai... sambil bilang, "Nikmati aja dulu... hehehe..."
Author Melda: Nah kan 😈 Cocok jadi ketua penunggu sumur ini mah
"Nikmati aja dulu hehehe" - kata penunggu sumur ke mahasiswa KKN
Fix kakak aku jadiin bos terakhir ya 😂
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kok saya malah ngerasa semakin seru ya kalo ada di tim mereka??? 🤭🤭🤭
Author Melda: Wkwk sama kak aku nulisnya aja keringetan 😭
Yaudah sini gabung tim KKN Desa Kalijatiny
Posisinya: divisi nganter makanan ke sumur jam 12 malam 🤝
Gaji: 1 nyawa wkwk
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sudah diduga... Pasti warganya keluar malam-malam...
Author Melda: Wkwk pinter banget nebaknya kak 😈
Tapi... yang keluar malam-malam itu bukan warganya doang...
Ada yang "nemenin" mereka juga 👀
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Eh, bentar-bentar... Si nenek itu bisa menjawab salam???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ini pihak kampusnya gak cari tahu dulu kah soal Desa Kalijatinya???
Author Melda: Bener kak 😭 itu juga yang jadi pertanyaan mahasiswa nya di cerita
Katanya sih "Desa tertinggal, butuh mahasiswa"
Padahal... ada udang di balik batu wkwk
Tunggu plot twist nya di bab selanjutnya yaa
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sumpah, baru BAB pertama aja, udah ngeri banget begini suasana Desa Kalijatinya. Terbayang jelas di imaninasi. Tapi seru juga sih bisa KKN di desa macam gitu... hehehe... 😍😍😍
Author Melda: Hehe makasih udah ngerasain seremnya kak 😈
Tapi... kalau kakak yang KKN di Desa Kalijatiny,
berani gak jaga sumur jam 12 malam sendirian? 👀
Bab 7 udah tayang yaa... siap-siap merinding lagi
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Mending pulang aja gak, sih???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Berasa kayak mau uji nyali dari pada mau KKN...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kalau saya ikut di tim mereka, terus dapat ucapan kayak begini sih, langsung merinding sumpah...
na-an
aku gak ngerti deh kak
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐
na-an
seru banget kak! sekarang juga udah lebih teratur alurnya. semangat ya!😁
Author Melda: makasih banyak kak na-an! 🥹❤️ seneng banget kalau sampai BAB 14 udah lebih teratur alurnya! BAB 15 nya lagi direview nih kak bentar lagi tayang, KAIN KAFAN SELVI bakal lebih ngeri lagi! ditungguin ya kak!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
merinding sih kak ame seram juga pasti terinspirasi sama film kkn ya kak
Author Melda: Hai kak @Ar.world makasih udah mampir di Bab 12! 🥺 Iya kak ada inspirasi dari film KKN, tapi ini kisah nyata dari desaku sendiri kak yang aku kembangin jadi cerita... Tungguin ya kak, Bab 13 Hutan Larangan lebih serem lagi, Maya bakal dicoret! 👻
total 1 replies
Author Melda
Guys menurut kalian BIMA masih bisa diselamatin gak? 😭 Atau dia udah jadi bagian warga tanpa bayangan selamanya? Komen #SaveBima kalau mau Selvi selamatkan Bima, komen #BimaUdahMati kalau udah ikhlasin! Aku baca semua komen kalian!
#@.Ar.world(。・ω・。): waduh kalo menurut ku bima kayaknya gak Selamat
total 1 replies
na-an
maaf kak selpi, boleh dikasih tahu gak nama-nama tokohnya? aku cukup bingung siapa aja karakternya karena muncul tanpa diperkenalkan di bab 1😅
Author Melda: Halo kak na-an makasih banyak udah baca dan udah kasih tau kak! 😭🙏 Maaf banget ya bikin bingung, kemarin di BAB 8-10 memang ada typo nama dari aku, udah aku benerin semua kok kak!

Ini 6 tokoh utamanya ya biar gak bingung lagi:

Tim KKN 6 orang:
1. SELVI - aku sendiri, ketua KKN
2. MAYA - sahabat aku, yang peka sama hal gaib
3. SINTA - yang paling cantik
4. RIKO - yang bawa kamera terus
5. BIMA - yang badan besar (yang hilang di sumur)
6. FARHAN - yang kocak

Maaf ya kak kalau sempet muncul nama lain selain 6 itu, itu salah ketik aku. Sekarang udah fix semua! Makasih ya udah ingetin, komen kakak membantu banget! Ditunggu lanjutannya di BAB 11 yaa ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!