NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — SUAMI YANG TERLALU TENANG

Sejak insiden jemputan di lobi kampus yang disaksikan puluhan pasang mata sore itu, sosok Muhammad Rasyid Al-Faruqi berubah menjadi hantu yang terus mengayun-ayun di kepala Aurel.

Pria itu menjadi sesuatu yang teramat sangat mengganggu pikirannya.

Bukan karena Rasyid sering datang membawa ceramah panjang atau nasehat agama yang memojokkan—justru karena Rasyid melakukan hal yang sepenuhnya bertolak belakang. Pria berpeci hitam itu memberi Aurel kebebasan yang rasanya hampir tidak masuk akal untuk ukuran seorang suami sekaligus ustadz di lingkungan pesantren kaku.

Rasyid membiarkan Aurel melakukan banyak hal.

Pria itu sama sekali tidak keberatan ketika Aurel pergi menghabiskan waktu bersama Maya seharian untuk belanja di mall pusat kota. Pria itu mengangguk tenang saat Aurel pamit pergi ke perpustakaan kampus hingga sore untuk mengejar tenggat revisi draf skripsinya. Bahkan ketika Aurel beberapa kali memilih berkumpul bersama teman-teman himpunan kampusnya di kafe, Rasyid hanya akan berpesan satu hal melalui pesan singkat: Jangan lupa makan dan kabari jika pulang agak malam.

Tanpa ancaman. Tanpa interogasi bernada curiga. Tanpa paksaan.

Sikap Rasyid yang terlalu tenang, terlalu memahami, dan selalu memberi ruang ini lambat laun justru menciptakan keresahan asing di dalam dada Aurel. Di satu sisi, ia bersyukur karena kebebasannya tidak direnggut. Namun di sisi lain, kepalanya yang liar terus bertanya-tanya: Bagaimana bisa ada manusia yang se-konstan ini? Apakah Rasyid benar-benar tidak punya titik jenuh? Atau apakah semua kebaikan ini hanyalah perisai luar untuk menyembunyikan sesuatu yang teramat rapat dari dunia?

Rasa penasaran itu akhirnya menemukan celahnya pada suatu malam di pertengahan pekan.

Pukul 00.15 WIB.

Kawasan Pesantren Al-Faruqi telah lama terlelap dalam selimut kesunyian malam. Suara jangkrik dari kebun kelapa sawit di samping kompleks berderik teratur, bersahut-sahutan dengan embus angin malam yang menerpa jendela kayu kamar.

Aurel terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa luar biasa kering dan haus.

Ia membetulkan piyama kain abu-abunya, menyingkap selimut bunga-bunga pelan, lalu melangkah keluar kamar tanpa menyalakan lampu utama. Ia menyusuri lorong lantai dua yang hanya diterangi pendar temaram lampu dinding bernuansa kuning hangat.

Ketika melewati sudut lorong dekat tangga menuju ruang kerja Rasyid—ruang baca kecil berpenghuni tumpukan kitab dan dokumen pesantren—Aurel menghentikan langkahnya.

Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya kuning keemasan menerobos keluar melintasi lantai kayu.

Aurel mengerutkan dahi pelan. Rasyid belum tidur? Jam segini?

Aurel melangkah mendekat seraya menahan derap langkah kakinya setenang mungkin. Ia menyandarkan bahunya pada bingkai pintu kayu yang terbuka sedikit, mengintip pelan ke dalam ruangan beraroma kertas tua dan kayu cendana tersebut.

Di balik meja kayu jati berukir, Rasyid sedang duduk memunggungi jendela.

Pria itu telah melepas peci hitam dan baju kokonya. Malam ini ia hanya mengenakan kaus oblong katun polos berwarna putih bersih dan celana santai gelap. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi sedikit berantakan.

Namun, bukan penampilan santai Rasyid yang membuat jemari Aurel mencengkeram kencang tepi bingkai pintu.

Melainkan apa yang ada di tangan pria itu.

Rasyid sedang memegang selembar kertas tebal yang tampak sedikit menguning di bagian tepi—sebuah surat lama.

Cahaya lampu meja bundar menyinari wajah Rasyid dari samping. Di bawah pendar cahaya itu, ketenangan ekstrem yang biasanya menjadi benteng tak tembus milik Rasyid luntur sepenuhnya. Garis rahang pria itu menegang, bibirnya terkatup kaku, dan di dalam mata cokelat gelapnya yang dalam, terpancar duka dan kerinduan yang begitu kelam—sebuah ekspresi rapuh dan sedih yang belum pernah Aurel saksikan sebelumnya dalam diri sang ustadz.

Jemari Rasyid mengelus barisan tulisan tangan di atas kertas itu dengan teramat pelan, seolah kertas itu adalah benda paling rapuh di muka bumi.

Aurel menahan napasnya di balik pintu. Dadanya mendadak terasa berdesir dingin. Pria yang selama ini terlihat begitu kokoh dan sempurna bak batu karang di tengah lautan... ternyata menyimpan sebuah kerapuhan yang begitu dalam di tengah heningnya malam.

Aurel berniat melangkah mundur untuk memberikan privasi pada suaminya, namun tumit kakinya tanpa sengaja menabrak pot bunga kering kecil di sudut lantai.

Kring!

Suara gesekan tembikar yang nyaring memecah heningnya ruangan.

Rasyid tersentak pelan. Dengan refleks yang sangat cepat, jemarinya melipat kertas kuning itu, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak kayu berukir kecil di samping laptopnya sebelum menutup kuncinya rapat-rapat.

Rasyid mendongak, matanya dengan cepat memancar ke arah ambang pintu.

Dalam hitungan detik, ekspresi duka dan rapuh di wajah pria itu menguap tanpa sisa—digantikan kembali oleh topeng ketenangan dan kedewasaan yang selama ini selalu ia tampilkan di depan dunia.

"Aurel?" panggil Rasyid pelan. Suaranya sedikit serak, namun tetap bernada halus dan jernih.

Aurel berdiri kaku di ambang pintu, merasa tertangkap basah sekaligus canggung. Ia mengusap leher belakangnya seraya melangkah masuk beberapa tindak ke dalam ruangan.

"Kamu... belum tidur?" tanya Aurel memecah kecanggungan, suaranya pelan dan tertahan.

"Belum," Rasyid menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengulas senyum samar yang tampak sedikit dipaksakan di bibirnya. "Saya masih merapikan draf laporan bulanan madrasah. Kamu sendiri kenapa bangun jam segini?"

"Haus. Mau ambil air ke dapur," jawab Aurel jujur. Matanya secara refleks melirik ke arah kotak kayu kecil berukir di atas meja Rasyid—kotak tempat Rasyid menyembunyikan surat lama itu.

Rasyid menyadari arah pandangan mata istrinya, namun pria itu tidak memindahkan kotak tersebut atau bersikap panik. Ia hanya meraih cangkir air putihnya di atas meja dan meminumnya sedikit.

"Minum air hangat di dapur, jangan minum air dingin malam-malam begini," ujar Rasyid mengalihkan pembicaraan dengan nada perhatian yang santai.

Aurel menatap Rasyid dalam-dalam. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk bertanya langsung: Surat dari siapa itu? Kenapa mukamu kelihatan sedih banget pas bacanya? Apa yang kamu sembunyiin dari aku?

Namun, melihat Rasyid yang kembali menegakkan dinding ketenangannya rapat-rapat, lidah Aurel mendadak kaku. Ia teringat pada kalimat Rasyid di meja makan beberapa hari lalu: Tugas saya bukan mendobrak masuk ke ruang rahasia itu secara paksa.

Aurel mengembuskan napas pendek, menganggukkan kepalanya pelan.

"Iya," gumam Aurel kaku. "Aku ke dapur dulu. Kamu... jangan tidur kemalaman."

Rasyid tertegun sejenak mendengar perhatian kecil yang terlontar dari bibir Aurel. Binar matanya sedikit melunak, dan kali ini senyum tipis yang terukir di bibirnya terasa jauh lebih nyata.

"Iya. Terima kasih, Aurel. Tidurlah kembali setelah minum."

Aurel membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang kerja Rasyid menuju arah tangga bawah. Namun sepanjang langkahnya di dalam kegelapan lorong, bayangan wajah sedih Rasyid dan kotak kayu berukir itu terus menari-nari di ruang benaknya.

Siapa yang menulis surat itu? Siapa sosok dari masa lalu yang sanggup membuat ustadz se-tenang Rasyid menatap lembaran kertas dengan duka mendalam di tengah malam?

Dan tanpa Aurel sadari, untuk pertama kalinya sejak ikatan pernikahan ini terjalin, rasa penasaran itu mulai berubah menjadi sebuah duri kecil bernama kecemburuan yang pelan-pelan menancap di dalam hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!