Aku tumbuh dalam kemiskinan. Pertengkaran, kebohongan, dan skandal di dalam rumah adalah pemandangan sehari-hari. Ayahku yang manipulatif mengajariku satu hal: jangan pernah menggantungkan hidup pada seorang pria. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan menjadi perempuan bodoh yang mudah percaya pada cinta atau kata-kata manis. Namun, semua keyakinanku runtuh ketika dia datang. Tampan. Dingin. Menyebalkan. Dan pria yang seharusnya tak pernah membuatku jatuh cinta… Saudara tiriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siena cemburu?
Aku duduk, meletakkan ransel di samping meja, lalu berpaling ke arahnya.
“Semuanya baik-baik saja? Kamu terlihat sedikit terkejut. Apa aku mengagetkanmu?” tanyaku pelan.
Ia membuka matanya sedikit lebih lebar, lalu buru-buru menggeleng.
“Bukan begitu. Aku baik-baik saja… hanya saja aku tidak menyangka ada yang mengajakku bicara. Tadi aku sedang melamun, jadi sedikit terkejut.”
Ia merapikan rambut cokelat mudanya yang diikat menjadi ekor kuda rapi. Gadis itu sangat cantik. Bibirnya tidak setebal milik Siena, tetapi juga tidak tipis, dengan bentuk yang manis dan lembut. Di atas alis kanannya terdapat tahi lalat kecil yang nyaris tak terlihat, namun justru itulah yang menambah pesona wajahnya.
“Maaf kalau aku mengagetkanmu. Aku Jennie,” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Aku Mia. Senang berkenalan denganmu,” balasnya sambil menjabat tanganku. Kali ini senyumannya tampak jauh lebih rileks.
“Aku juga senang berkenalan denganmu.”
Guru mulai menjelaskan materi, dan aku segera mengalihkan perhatian ke papan tulis. Di sampingku, Mia kembali menunduk di atas buku catatannya, sesekali menggambar sambil tetap mencuri pandang ke arah papan tulis.
Pelajaran berlalu lebih cepat daripada yang kuduga. Saat bel berbunyi, aku meraih ranselku lalu menoleh ke arah Mia.
“Mau ikut ke kantin? Kita makan siang sambil mengobrol.”
“Boleh,” jawabnya pelan disertai senyum kecil.
Kami berjalan keluar kelas menuju kantin. Sepanjang perjalanan, Mia menunjukkan letak ruang-ruang kelas sambil menceritakan sedikit tentang sekolah ini. Suaranya masih pelan, tetapi kini terdengar lebih percaya diri.
Begitu memasuki kantin, aku langsung memperlambat langkah.
Ruangan itu luas, terang, dan dipenuhi cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi. Dinding bernuansa hangat dihiasi panel dekoratif serta tanaman hijau kecil yang membuat suasananya terasa nyaman.
Di bagian tengah berjajar meja-meja panjang yang dipenuhi para siswa. Ada yang sedang makan, bercanda, tertawa, atau sibuk mengobrol. Suasananya ramai, tetapi tidak berisik.
Di salah satu sisi terdapat konter makanan. Di balik etalase kaca, berbagai hidangan tersusun rapi, mulai dari salad, makanan utama, hingga aneka pencuci mulut. Di bagian lain tersedia hidangan laut seperti salmon, udang, dan beberapa menu lain yang lebih mirip sajian restoran daripada makanan kantin sekolah.
“Oh ya, itu kenalanku. Ayo ke sana,” kataku sambil menunjuk ke arah meja tempat Siena duduk.
Namun, begitu Mia mengikuti arah pandanganku, senyum di wajahnya langsung menghilang.
“Ada apa? Semuanya baik-baik saja?” tanyaku heran.
Ia menatapku dengan raut bingung sekaligus cemas.
“Aku… tidak jadi. Maaf, aku tidak lapar.”
Tanpa menunggu jawabanku, ia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, nyaris berlari seolah ingin segera menjauh.
Aku menatap punggungnya dengan bingung. Ada sesuatu yang jelas tidak beres. Aku memutuskan akan berbicara dengannya nanti.
Aku mengambil croissant isi salmon dari konter, lalu berjalan menuju meja Siena. Ia duduk bersama dua gadis lain yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ketiganya sudah menatapku sambil tersenyum.
Terlalu kompak.
Terlalu manis.
Aku meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di hadapan mereka, berusaha tetap tenang meski senyum mereka terasa dibuat-buat.
“Nah, akhirnya datang juga,” ujar Siena sambil memiringkan kepala. “Aku kira kamu tersesat.”
“Hampir saja,” jawabku.
“Wajar kok untuk anak baru,” kata salah satu gadis itu dengan lembut. “Sekolah ini memang cukup besar.”
“Aku Adelina,” katanya sambil mengulurkan senyum tipis.
“Kira,” ujar gadis di sebelahnya, menatapku seolah sedang menilaiku.
“Aku Jennie.”
“Kami tahu,” jawab mereka hampir bersamaan.
Aku sedikit terdiam, lalu hanya mengangguk pelan. Aku menggigit sedikit croissant di tanganku, meskipun entah kenapa selera makanku mendadak menghilang.
“Jadi, bagaimana menurutmu sekolah kami?” tanya Siena sambil mengamatiku.
“Bagus… dan cukup berbeda dari sekolahku yang dulu.”
“Nanti juga terbiasa,” katanya tenang. “Yang penting, pilih teman dengan benar.”
Adelina tersenyum tipis, sementara Kira sedikit mencondongkan tubuh.
“Tidak semua orang di sini sebaik kelihatannya,” katanya lirih.
Aku mengernyit.
“Maksudmu?”
Siena terdiam sesaat, seolah mempertimbangkan kata-katanya.
“Gadis yang tadi datang bersamamu… Mia, kan?”
Aku langsung menatapnya.
“Iya.”
“Aku tidak menyarankanmu berteman dengannya,” ucap Siena lembut.
“Dia tidak sepolos dan sebaik yang terlihat.”
“Kenapa memangnya?” tanyaku sambil mengerutkan kening.
Adelina dan Kira saling bertukar pandang sebelum tersenyum tipis.
“Dia suka berpura-pura menjadi korban,” kata Kira.
“Lalu membuat orang lain ikut terseret ke dalam masalah,” sambung Adelina.
Aku terdiam. Entah mengapa, ada sesuatu dalam ucapan mereka yang membuatku merasa tidak nyaman.
“Aku hanya memperingatkanmu,” lanjut Siena sambil menatap lurus ke mataku. “Kamu masih baru di sini. Lebih baik sejak awal tahu dengan siapa kamu sebaiknya berteman… dan dengan siapa sebaiknya menjaga jarak.”
Nada bicaranya tetap lembut, bahkan terdengar penuh perhatian.
Namun, ada sesuatu yang tersembunyi di balik tutur katanya.
Itu bukan sekadar saran.
Bukan pula permintaan.
Melainkan sebuah peringatan yang terdengar seperti perintah.
“Kalau begitu, menurutmu aku sebaiknya berteman dengan siapa?” tanyaku sambil sedikit mengangkat alis.
Siena tersenyum tipis.
“Dengan orang-orang yang tidak akan menyeretmu ke dalam masalah.”
Adelina dan Kira ikut tersenyum. Senyuman mereka sama manisnya, bahkan nyaris identik.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Mereka tidak sedang sekadar memperingatkanku.
Mereka sedang mengujiku.
Menunggu jawaban yang akan kuberikan.
Aku terdiam sejenak, seolah benar-benar mencerna perkataan mereka, lalu mengangguk pelan.
“Aku mengerti… terima kasih sudah mengingatkanku.”
Siena mengulas senyum tipis, seakan mencatat reaksiku dalam hati.
“Kami hanya tidak ingin hari pertamamu berakhir dengan masalah,” ujarnya lembut.
“Iya. Sayang sekali kalau sampai begitu,” sambung Kira.
Adelina hanya tersenyum kecil sebelum berpura-pura merapikan rambutnya.
Aku menunduk, menggigit sedikit makananku, lalu bertanya dengan nada tenang,
“Memangnya… apa yang sudah Mia lakukan?”
Pertanyaanku terdengar seperti rasa penasaran biasa.
Padahal, diam-diam aku sedang mengamati reaksi mereka.
Ketiganya kembali saling bertukar pandang.
“Banyak,” jawab Siena singkat. “Dia pandai menciptakan masalah, lalu berpura-pura tidak tahu apa-apa.”
“Dia juga sudah beberapa kali… katakanlah, diberi pelajaran,” tambah Adelina.
Aku mengangguk pelan, seolah menerima ucapan mereka sebagai fakta.
“Begitu ya… kalau begitu, sebaiknya aku menjaga jarak.”
“Nah, itu keputusan yang tepat,” sahut Siena hampir tanpa jeda.
Keheningan singkat menyelimuti meja kami.
Aku bisa merasakan mereka masih mengamatiku, menunggu apakah aku benar-benar mempercayai semua ucapan mereka.
Aku mengangkat kepala lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu, sepertinya aku beruntung bisa bertemu kalian.”
Kalimat itu terdengar cukup tulus hingga mereka mempercayainya.
Kira tersenyum puas.
“Memang beruntung,” ulangnya pelan.
Siena menyandarkan tubuhnya ke kursi, kini tampak jauh lebih santai.
“Tenang saja. Kamu akan cepat beradaptasi bersama kami.”
Aku membalas dengan anggukan kecil.
Namun di dalam hati, kewaspadaanku justru semakin besar.
Karena kini aku semakin yakin.
Mereka bukan sekadar sekelompok teman.
Mereka adalah orang-orang yang ingin mengendalikan keadaan.
Selesai makan siang, kami berpisah menuju kelas masing-masing.
Hingga bel terakhir berbunyi, aku tidak melihat Mia lagi.
Entah mengapa, hal itu terus mengusik pikiranku.
Sesuai janjinya, Siena mengantarkanku ke perpustakaan setelah jam pelajaran usai.
Sepanjang perjalanan, ia tidak berhenti mengajukan pertanyaan tentang Kai.
Apa makanan kesukaannya.
Ke mana ia sering pergi.
Apakah ia punya pacar.
Pertanyaan demi pertanyaan meluncur tanpa henti, terlalu ingin tahu untuk ukuran orang yang baru kukenal.
Jawabanku selalu sama.
“Tidak tahu.”
Dan memang itulah kenyataannya.
Aku baru mengenal Kai beberapa hari. Aku sama sekali tidak tahu apa yang ia sukai, dan terus terang, aku juga tidak peduli.
Begitu menyadari bahwa ia tidak akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Siena perlahan kehilangan minat.
Nada bicaranya berubah menjadi lebih dingin dan singkat.
Tak lama kemudian, ia pamit begitu saja, meninggalkanku sendirian bersama setumpuk buku.
Jumlahnya sekitar dua puluh lima buku.
Aku berdiri di tengah perpustakaan sambil menatap tumpukan itu.
Bagaimana caranya membawa semua ini pulang?
Setelah bersusah payah memasukkan sebagian buku ke dalam tas dan menjinjing sisanya, aku akhirnya berjalan menuju pintu keluar.
Menuruni tangga ternyata menjadi ujian tersendiri.
Tas di bahuku terasa semakin berat, sementara buku-buku di tanganku terus bergeser dan nyaris terjatuh.
Aku beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan.
Saat akhirnya berhasil keluar dari gedung perpustakaan, aku mengembuskan napas lega.
Namun kelegaan itu hanya berlangsung sesaat.
Di depan gerbang sekolah tampak kerumunan kecil para siswa.
Perhatianku tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan.
Awalnya aku berniat mengabaikannya dan terus berjalan.
Namun sebuah suara yang sangat kukenal menghentikan langkahku.
“Mau ke mana, Sayang?”
Aku langsung mematung.
Perlahan aku menoleh.
Dan, tentu saja…
Kai.
Ia berdiri santai sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah mobil sport.
Mobil itu tampak rendah dengan garis-garis bodi yang tajam dan aerodinamis, seolah dipahat dari sebongkah logam utuh. Cat hitam mengilapnya memantulkan semburat kebiruan di bawah sinar matahari. Lampu depannya yang menyipit memberi kesan agresif, sementara velg berukuran besar dan ban yang bersih semakin menegaskan bahwa mobil itu bukan kendaraan biasa.
Entah mengapa, Kai terlihat sangat menyatu dengan mobil itu.
Hari ini ia mengenakan kemeja biru muda dengan dua kancing teratas terbuka, dipadukan dengan celana panjang warna cokelat kopi yang pas mengikuti bentuk tubuhnya. Loafers beludru biru tua di kakinya terlihat terlalu mewah untuk sekadar menjemput seseorang pulang sekolah.
Kacamata hitam menutupi matanya.
Namun senyum percaya diri yang selalu membuatku kesal tetap menghiasi wajahnya.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para siswa.
Aku mengalihkan pandangan dan menemukan Siena bersama Adelina dan Kira berdiri di tengah kerumunan.
“Dia memanggilnya ‘Sayang’,” bisik Adelina kepada Siena.
Suaranya cukup keras hingga beberapa orang di sekitar ikut mendengarnya.
Siena tidak menjawab.
Ia hanya menatapku.
Tatapan itu sudah tidak lagi dihiasi keramahan ataupun senyum manis seperti saat makan siang tadi.
Yang tersisa hanyalah rasa dingin…
dan kemarahan.
Saat itulah aku menyadari satu hal.
Bahkan di sekolah pun, saudara tiriku yang menyebalkan itu berhasil membuat hidupku menjadi jauh lebih rumit.