NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 | Jerat Tak Kasat Mata

Detak jantung Luna sempat menggila selama satu detik, namun ia segera mengunci rapat emosinya. Kalimat Orion barusan jelas-jelas sudah melewati batas antara pasien dan dokter. Namun, jika ia menunjukkan kepanikan, Orion akan merasa menang. Pria ini memakan reaksi emosional korbannya sebagai bahan bakar obsesinya.

​Luna sengaja menekan luka di punggung tangan Orion sedikit lebih keras menggunakan kapas alkohol.

​"Aw..." desis Orion pelan. Bukannya menjauh, ia justru terkekeh kecil, seolah rasa perih dari alkohol itu adalah rangsangan yang menyenangkan baginya. "Tega sekali kau, Nanae."

​"Itu biar kamu ingat kalau kamu masih manusia yang bisa merasakan sakit," sahut Luna dingin. Ia menarik sebuah kursi bulat beroda mendekati ranjang, lalu menunjuk kasur dengan dagunya. "Duduk."

Orion tidak membantah. Ia langsung duduk di tepi ranjang, membiarkan tubuh tingginya sedikit merosot agar sejajar dengan Luna yang kini duduk di depannya. Matanya sama sekali tidak beralih dari wajah Luna yang sedang berkonsentrasi membersihkan sisa-sisa darah kering di kulitnya.

​"Kenapa diam aja?" tanya Orion, memecah keheningan yang sengaja diciptakan Luna. "Biasanya psikiater akan mulai menceramahiku tentang batasan profesional setelah mendengar ucapanku tadi."

Luna terampil membuka plester baru, lalu memasang jarum infus yang baru ke pembuluh vena di tangan kanan Orion yang masih bersih, memilih untuk tidak memakai tangan kirinya yang baru saja terluka.

​"Karena saya tau ceramah tidak akan mempan pada orang yang sudah ditendang dari enam rumah sakit jiwa," jawab Luna tanpa mendongak. Jemarinya yang dibalut sarung tangan lateks bergerak dengan sangat presisi. "Kamu sengaja memprovokasi saya agar saya marah, kehilangan kendali, lalu melaporkanmu agar kamu dipindahkan lagi ke tempat lain. Benar, kan?"

​Orion terdiam. Senyum licik yang biasanya menghiasi wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan mengamati yang begitu dalam.

​"Tahan napas," perintah Luna ketus.

Jarum infus menembus kulit Orion dengan mulus. Pria itu bahkan tidak mengedipkan mata, seolah rasa sakit fisik adalah hal yang paling tidak menarik di ruangan ini.

​"Kamu salah, Nanae," bisik Orion setelah jarum itu terpasang sempurna dan aliran cairan infus mulai menetes kembali. "Aku tidak mau dipindahkan dari sini."

Luna merapikan sisa-sisa kapas dan plester, lalu melepas sarung tangannya dengan bunyi 'pletak' yang tegas. Ia bangkit berdiri, menatap Orion dari atas. "Oh ya? Lalu apa maumu?"

Orion mendongak, menatap jubah putih Luna, stetoskop yang menggantung di lehernya, hingga akhirnya mengunci pandangan pada mata cokelat wanita itu.

​"Aku mau di sini. Bersamamu," jawab Orion dengan nada yang terlampau tenang, namun memiliki intensitas yang sanggup membuat bulu kuduk meremang. "Rumah sakit lain sangat membosankan. Mereka mendikteku, memberiku obat penenang dosis tinggi agar aku bungkam, dan memperlakukanku seperti binatang di dalam kandang."

Orion mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan selang infus yang sedikit menegang. ​"Tapi semalam... kamu ngga takut sama aku. Kamu merawatku, menyuapiku, bahkan mengizinkanku tidur di rumahmu. Kamu berbeda, Nanae. Dan apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah kubiarkan lepas."

Luna merasakan sejumput hawa dingin merayap di tengkuknya. Di satu sisi, insting psikiaternya menganalisis bahwa Orion memiliki kecenderungan obsessive-compulsive yang akut yang berakar dari trauma masa lalu yang belum terungkap. Namun di sisi lain, sebagai seorang wanita bernama Rellunae Keller, ia bisa merasakan bahaya nyata yang sedang mengintainya. Pria di depannya ini tidak main-main.

​"Saya merawatmu semalam karena kemanusiaan, Orion. Dan hari ini, saya menolongmu karena tugas," ucap Luna, mencoba menyuarakan batas tegas yang tak kasat mata diantara mereka.

Alih-alih mundur atau menunjukkan ketakutan, seulas senyum tipis yang sarat akan tantangan justru terukir di bibir Luna. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Orion dengan sorot mata yang berkilat berani.

​"Kamu pikir saya tipe dokter pengecut yang akan lari ketakutan dan melemparkanmu ke orang lain, Orion?" tanya Luna, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh penekanan.

Orion mengernyitkan dahi. Kilat kebingungan melintas cepat di mata abu-abunya, tak menduga reaksi Luna yang justru tampak begitu santai menghadapi obsesinya. "Apa maksudmu, Nanae?"

​"Di saat semua dokter di rumah sakit ini gemetar ketakutan hanya dengan membaca berkas rekam medismu. Di saat mereka saling lempar tanggung jawab karena tidak ada yang berani memegang pasien pembangkang yang sudah didepak dari enam RSJ sebelumnya..." Luna mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Orion. "...saya justru menyerahkan surat pengajuan resmi. Saya meminta agar saya ditunjuk sebagai psikiater penanggung jawabmu. Sampai kamu dinyatakan sembuh total."

Keheningan mendadak terasa begitu pekat. Untuk pertama kalinya, Orion tampak benar-benar terpaku. Detik berikutnya, keheningan itu pecah oleh kekehan rendah yang lolos dari tenggorokan Orion. Suara tawa yang terdengar begitu serak, gelap, namun dipenuhi kepuasan yang luar biasa. ​Binar di matanya berkobar jauh lebih pekat dari sebelumnya.

​"Kamu sungguh luar biasa, Nanae," bisik Orion, menatap Luna dengan pandangan memuja yang mengerikan. Ia memajukan wajahnya hingga embusan napas hangatnya menerpa pipi Luna. "Kamu tau apa yang baru saja kamu lakukan? Kamu baru aja mengunci dirimu sendiri di dalam kandang yang sama denganku secara sukarela."

​"Kita lihat saja nanti, Orion. Siapa yang akhirnya akan jinak di dalam kandang ini," balas Luna dingin, sama sekali tidak gentar dengan intimidasi pria itu. ​Ia menegakkan kembali tubuhnya, merapikan jubah putihnya yang sedikit kusut dengan gerakan anggun.

Tok! Tok!

​"Dokter Luna? Di dalam aman?" suara salah satu petugas keamanan dari luar pintu memutus ketegangan di antara mereka.

Luna memejamkan mata sejenak, menetralisir gemuruh di dadanya sebelum menoleh ke arah pintu. "Aman," jawabnya lantang. ​Ia lalu kembali menatap Orion yang kini menyandarkan punggungnya di bantal dengan senyum puas yang menghiasi wajah pucatnya.

​"Habiskan buburmu yang tersisa, dan jangan berani-berani menyentuh jarum infus itu lagi kalau kamu tidak mau saya hukum dengan melewatkan jadwal konsultasimu besok pagi," ancam Luna sebelum berbalik melangkah menuju pintu.

Tepat saat tangannya memutar knop pintu, suara lirih Orion kembali merambat di udara, begitu pelan namun menggema di kepala Luna.

​"Aku akan menjadi pasien yang sangat penurut... jika itu untukmu, Nanae."

Ceklek!

​Begitu daun pintu kayu jati kamar 404 tertutup rapat di belakangnya, kekuatan yang baru saja Luna pamerkan di depan Orion menguap begitu saja. "Hah..."

Luna menyandarkan punggungnya ke pintu, lalu merosot beberapa sentimeter. Bahunya yang tadi tegak kini layu, dan napasnya yang sempat ia tahan setengah mati akhirnya terembus keluar dalam satu helaan napas yang panjang dan gemetar. Kedua telapak tangannya yang dingin langsung menangkup wajahnya sendiri.

​Gila. Aku sudah gila, rutuknya dalam hati.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Lututnya lemas, seolah-olah seluruh pasokan tenaganya baru saja disedot habis oleh tatapan abu-abu milik Orion. Keberanian yang ia tunjukkan di dalam tadi murni hanyalah topeng, sebuah gertakan nekat agar ia tidak terlihat lemah di depan pasien paling manipulatif yang pernah ia temui. Faktanya, Luna ketakutan setengah mati.

​"Dokter Luna? Anda baik-baik saja?"

​Suara interupsi itu membuat Luna tersentak. Ia buru-buru menegakkan tubuh, menurunkan tangannya, dan berusaha memasang kembali ekspresi datarnya yang biasa. Di depannya, dua petugas keamanan tadi menatapnya dengan raut cemas, sementara beberapa perawat yang lewat sempat melirik kepalanya yang tadi bersandar pasrah di pintu.

​"Ah... ya. Saya tidak apa-apa," jawab Luna sesopan mungkin, meski suaranya sedikit serak. "Pasien sudah tenang dan infusnya sudah terpasang kembali. Tolong awasi dia, jangan biarkan dia mengunci pintu dari dalam lagi."

​"Baik, Dok!"

​Luna segera melangkah cepat meninggalkan koridor bangsal VIP. Ia butuh oksigen. Ia butuh tempat sepi yang jauh dari aroma tubuh Orion yang masih terasa tertinggal di indra penciumannya. Namun, baru saja ia berbelok di dekat taman tengah yang menghubungkan area rumah sakit umum dan jiwa, sebuah tepukan mendarat di bahunya.

​"Wajahmu pucat banget, Rellunae Keller. Kayak habis lihat hantu gentayangan."

​Luna menghentikan langkah dan menoleh. Di sana berdiri Maya yang tangannya penuh dengan plastik putih berisi makanan. Melihat wajah ramah sahabatnya, pertahanan Luna benar-benar runtuh. Ia menarik lengan Maya dan menyeret wanita itu ke sudut lorong yang sepi di dekat jendela besar yang menghadap ke taman.

​"May... tolong aku," bisik Luna dengan nada frustrasi yang tertahan.

"Why?? Kenapa kita ngumpet kayak gini segala?"

Luna tak menghiraukan protes sahabatnya. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Orion makin menjadi..."

Maya yang hendak memasukkan roti ke mulutnya mendadak terhenti. Dirinya langsung memasukkan makanan berbahan tepung itu ke dalam plastik lalu memasang ekspresi serius. "Ceritain semuanya ke aku."

Luna pun menceritakan semua kejadian kemarin pada sahabatnya. Dari Orion yang kabur dari rumah sakit dan ternyata malah mampir ke rumahnya sampai kejadian tadi yang entah mengapa masih terekam jelas di pikiran Luna.

​"Jadi..." Maya berbisik hati-hati, seolah takut suaranya akan melukai Luna yang tampak begitu rapuh. "Kamu positif sudah jadi target obsesi terbarunya?"

​Luna menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan erat di atas pangkuan. Ia meremas jari-jarinya sendiri, mencoba mencari pegangan di tengah badai emosi yang berkecamuk di dadanya.

​"Firasatku... ini adalah cara Orion menguji psikiater yang bertanggung jawab atas dirinya, May," jelas Luna, mencoba menyuarakan analisis klinisnya, atau mungkin itu hanya caranya untuk menyangkal debaran aneh yang sempat ia rasakan.

​"Dia tau dia punya rekam jejak yang buruk. Jadi, dia sengaja menciptakan delusi dan perilaku obsesif ini untuk membuat psikiaternya merasa ngga nyaman, risih, dan akhirnya menyerah. Dengan begitu, dia akan didepak lagi ke rumah sakit jiwa lain, dan siklusnya akan terus berputar seperti itu. Dia hanya sedang bermain-main dengan kita."

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!