NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yang Terkuak

"Kamu siap wisuda, 'kan, Amaia?" tanya Prof. Danu seraya menurunkan kacamatanya.

Pria tua itu baru saja menandatangani kertas persetujuan agar proposal skripsi Amaia segera seminar. Setelah itu Amaia akan disibukkan dengan penelitan, lalu mengurus sidang, dan wisudanya. Ia bisa saja lulus semester lalu, tapi ternyata target itu tak bisa terkejar.

Tak apalah, pikir Amaia menghibur diri. Karena setiap orang punya proses dan pencapaiannya masing-masing bukan? Jadi, Amaia tidak terlalu ingin ambil pusing.

"Saya siap, Prof," jawab Amaia.

"Bagus. Segera kabari saya kalau jadwal seminarnya sudah keluar. Kalau saya tidak datang, Bu Anisa saja cukup untuk mewakili. Kamu tak keberatan, 'kan?"

Amaia menggeleng. Untuk saat ini yang penting adalah ia bisa ikut seminar agar progres Tugas Akhir-nya betul-betul kelihatan.

"Terima kasih, Pak." Amaia mengambil berkas-berkasnya di meja Prof. Danu dan segera keluar dari ruangan pria itu.

Perasaan Amaia berangsur lega karena setelah beberapa hari merasa kacau, setidaknya ada satu angin segar menerpa hidupnya. Ia harus segera mengabari Atika tentang kabar bahagia itu. Pesannya terkirim. Amaia tak menunggu balasan karena tahu ibunya sibuk mengurus toko bunganya.

Amaia hendak memasukkan ponsel tatkala satu pesan masuk terlihat di bar notifikasi. Kontak Edgar terlihat di sana.

Mas Edgar: Nona Amaia, malam ini Pak Widi pulang. Dia berpesan agar Nona membuatkan makan malam. Karena mungkin Pak Widi tak sempat makan malam di luar.

"Emangnya dia siapa menyuruh seenaknya?" Amaia menghela napas.

Rasa kesal meremas-remas perasaan. Tapi kemudian dia tidak lupa bahwa Widitama sekarang sudah jadi suaminya. Lantas haruskah Amaia meladeni keinginannya? Memasak? Amaia sebenarnya bisa, tapi kesal rasanya harus memasak untuk pria itu.

Dulu Amaia pernah berharap bisa hidup bersama Rakha. Setiap hari dia akan memasak untuk sang suami. Dia akan memupuk cinta pada Rakha dengan cara memasakkan makanan kesukaan pria itu sehingga Rakha makin menyayanginya. Namun, sekarang semuanya telah sirna.

Amaia mengabaikan pesan Edgar. Jemarinya mencari kontak Rakha. Setengah sangsi, Amaia menggigit bibir dan melirik ke sekitar. Terlalu ramai untuk menelepon. Ia melipir ke kamar mandi dan masuk ke salah satu bilik toilet. Dikuncinya pintu tempat sempit itu.

Duduk di atas toilet yang tertutup, Amaia mencoba menangkan diri. Lalu dengan pelan ia menekan 'panggil' pada layar ponsel yang memperlihatkan kontak Rakha. Awalnya Amaia pikir akan mendapat jawaban yang sama, yaitu suara operator. Akan tetapi, panggilan terhubung.

Amaia terperanjat. Ia menggigit kuku ibu jari kanannya seraya menangi. Suara 'tut' panjang terdengar selagi dirinya menunggu panggilan terjawab atau tidak.

TERJAWAB!

Ingin rasanya Amaia menjerit saat panggilan itu dijawab oleh si pemilik kontak. Degup jantung Amaia bertalu lebih cepat. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Rasa kecewanya masih ada, tapi sekarang yang dia ingin pastikan hanyalah Rakha masih bisa dihubungi.

Bibir Amaia terbuka hendak menyapa. Namun, terkatup kembali saat suara lain terdengar dari speaker ponsel. "Halo? Halo?"

Kenapa suara orang tua? Amaia menatap layar ponsel. Itu bukan suara Rakha. Tapi suara orang yang jauh lebih tua darinya. Seperti suara kakek-kakek.

"Dengan siapa ini? Halo?"

Amaia mencoba bersikap setenang mungkin. "Maaf, bapak siapa? Kenapa handphone tunangan saya ada di bapak?"

Tunangan, ya? Amaia ingin sekali tertawa muak. Sekarang dia sudah tak jadi tunangan Rakha, tetapi istri Widitama.

"Siapa maksudnya? Ponsel ini saya dapat di tong sampah. Setelah baterenya habis, saya coba charge. Saya nggak kenal siapa yang punya."

Pupus sudah harapan Amaia. "Di mana bapak menemukan ponsel itu?"

"Oh, di Bali. Tempat tinggal saya."

Bali? Amaia mengejap sebentar. Bukankah itu berarti Rakha sempat ke sana atau mungkin masih di sana? Buru-buru perempuan itu memutuskan sambungan telepon dan keluar dari kamar mandi. Dia harus memberitahu Widitama tentang hal itu.

Tiga hari terlewat pasca pernikahan dan kepergian Widitama ke luar kota untuk urusan bisnis membuat Amaia tersiksa oleh rasa bosan. Bukan, bukan karena dia menginginkan Widitama di dekatnya. Tapi karena pekerjaan yang menumpuk, Widitama menunda janjinya untuk menceritakan kebenaran pada Amaia.

Maka selama tiga hari Amaia hanya sibuk bolak-balik ke kampus untuk menyelesaikan bimbingan dengan Prof. Danu. Selebihnya mungkin hanya nongkrong di kafe dekat kampus bersama Cassie. Atika menghubunginya sesekali. Namun, saat Amaia berniat datang, Atika mencegah. Bukan tak boleh, tapi untuk sementara waktu karena masih pengantin baru, ibunya melarang bepergian.

Amaia diminta untuk menghabiskan waktu bersama Widitama lebih lama. Apanya? Wong, Widitama saja sudah menghilang ke Surabaya di hari pertama setelah pesta pernikahan. Amaia ditinggalkan di unit apartemennya yang megah itu.

...*****...

Amaia berkacak pinggang di depan private lift saat Widitama muncul dari sana. Wajah tegasnya kentara memperlihatkan sedikit kelelahan. Namun, Amaia tak peduli. Dia hanya ingin Widitama menunaikan janjinya.

"Ini sudah tiga hari sejak kita resmi menikah. Kamu mestinya ingat kalau kamu punya janji padaku," kata Amaia. Kini dia melipat tangan di depan dada.

"Saya baru pulang. Jangan merusak suasana hati saya, Mai Kecil."

"Aku cuma menagih janji kamu. Apa aku salah?"

Langkah Widitama tertahan saat hendak ke ruang utama. Tumitnya berputar sehingga dia menghadap Amaia. Mendapat tatapan tajam pria itu, lagi-lagi Amaia merasa menciut. Apalagi saat Widitama mendekat pelan. Amaia buru-buru bergeser ke arah lain. Takut Widitama akan berbuat yang tidak-tidak karena kesabarannya telah habis.

Pria itu melempar jas ke arah Amaia. Dengan gerakan cepat ditangkapnya benda itu. Aroma parfum maskulin Widitama menusuk indra pembau.

Suaminya berjalan ke arah meja makan dan melihat menu makan malam yang sudah ditata rapi. Semuanya hasil tangan Amaia yang terampil. Ia berjalan ke kulkas sambil menggelung lengan kemeja dan mengambil sebotol air dingin dari sana.

"Aku cuma mau dengar kebenarannya, Mas. Kamu seolah tau banyak hal," kata Amaia mendekati sang suami.

"Nggak banyak yang saya tau, tapi pastinya bakal bikin kamu yang bodoh ini terkejut." Tatapan Widitama terlihat meremehkan. "Jadi kebodohanmu itu harus disingkirkan."

Baiklah! Amaia akan menelan kekesalannya. Dia akan menahan diri untuk tidak membalas ejekan Widitama.

"Jadi bagaimana?" tanya Amaia tak sabar.

"Kita makan dulu."

"Nggak." Amaia mencekal lengan kanan Widitama yang hendak bergerak ke meja makan. Setengah memohon, Amaia menggeleng penuh harap. "Makanannya aku buang kalau kamu nggak bicara.

"Baiklah," kata Widitama.

Pria itu mengajak Amaia duduk di ruang tengah. Selagi Widitama mengeluarkan ponsel, Amaia duduk di depannya. Ia agak gugup menanti apa yang akan didengarnya dari pria itu.

Rekaman suara terputar. Amaia menyimak dengan serius.

"Tapi bagaimana? Bagaimana kalau papa marah? Bisa gawat semuanya, Ma! Bisa-bisa papa kehilangan kepercayaannya padaku. Semuanya akan jadi milik Mas Widitama. Walaupun dia anak angkat, tapi papa percaya padanya." Itu suara Rakha. Amaia tak melepaskan tatapannya dari ponsel Widitama.

"Dasar bodoh! Makanya Mama bilang, kamu jangan bermain-main. Nggak bisa ya kamu tahan sedikit lagi? Setelah semua aset keluarga Amaia jatuh ke tangan papamu, kita akan memiliki semuanya. Kamu akan menjadi satu-satunya orang kepercayaan papamu, Rakha! Tapi lihat apa yang kamu lakukan? Sialan! Kamu tak bisa menahan diri?!" Kini suara Sasti menimpali.

Ucapan itu membuat Amaia tertegun. Ulu hatinya seperti dihantam batu besar tak bertuan. Ia meremas jari-jari yang terasa dingin. Menatap wajah Widitama pun dia tak sanggup. Karena sekarang kemarahan dan kekecewan itu kian mendominasi perasaannya.

Jadi, maksudnya selama ini Rakha tak pernah benar-benar tulus? Sasti juga hanya berpura-pura baik padanya dan Atika?

"Ma, semuanya kacau! Papa pasti akan tau cepat atau lambat!"

Suara Sasti terdengar lagi. "Kita bicara pada wanita itu. Kamu harus fokus pada pernikahan dengan Amaia."

"Nggak, Ma! Mama tau aku nggak pernah mencintainya."

Tangan Amaia kian bergetar saat mendengar perkataan Rakha. Tak pernah mencintai? Jadi selama bertahun-tahun lelaki itu hanya terpaksa karena keadaan? Karena tujuan tertentu? Nyeri di rongga dada Amaia kian terasa kuat.

Widitama menekan tombol jeda di ponselnya. Ketika menatap pria itu, mata Amaia sudah berkaca-kaca. Ia mencoba menahan diri agar cairan asin nan hangat itu jatuh ke pipinya.

"I-itu nggak mungkin, Mas," ucap Amaia terbata-bata. Susah payah menahan tangis.

Tapi Widitama langsung menekan tombol play lagi. "Aku akan batalkan pernikahan dengan Amaia. Aku sudah lelah menahan diri karena aku nggak pernah mencintainya. Aku akan menghilang dari semua ini. Termasuk dari papa."

"Jangan asal bicara!"

"Aku akan hidup dengan wanita yang aku cintai. Kami akan hidup bersama buah hati kami, Mama."

Buah hati? Apa maksudnya? Amaia langsung tak bisa berpikir jernih. Widitama menekan putar pada hasil rekaman lain. “Baiklah. Batalkan rencana pernikahan kalian! Urusan papamu, biar Mama yang urus. Mama akan membuat gadis itu tak penting lagi untuk papamu.”

"Tapi Mama sangat menginginkan semua ini. Mama sudah memperjuangkan mati-matian untuk berada di dekat papa dan ingin menjadi satu-satunya wanita yang dia miliki," ucap Rakha.

"Mama akan mengurusnya. Tenang saja."

"Bagaimana dengan Mas Widi? Papa akan lebih percaya padanya ketimbang Mama karena kelakuanku."

Jeda beberapa saat. "Dia hanya putra angkat, kamu adalah putra kandungnya. Itu lebih penting. Percayalah pada Mama. Mama nggak akan segan menyingkirkan siapa pun yang menganggu jalan kita. Mama akan menyingkirkan nya seperti wanita itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!