"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Syarat Satu Bulan
Mendengar pengakuan jujur Alin tentang ucapan kejam cucunya, Nenek Aisyah memejamkan matanya dengan rapat, menahan sesak yang kian menghimpit dadanya. Namun, ego dan prinsip hidupnya yang keras menolak untuk membiarkan Cindy menang dalam permainan manipulatif ini. Wanita sepuh itu membuka matanya kembali, menatap Alin dengan tatapan memohon yang kian intens, seolah seluruh sisa hidupnya bergantung pada jawaban yang akan keluar dari bibir gadis di depannya ini.
Di dalam ruang utama yang mewah namun terasa sunyi itu, hening mendadak membentang luas. Alin terjebak di antara rasa balas budi yang teramat besar pada Nenek Aisyah dan harga dirinya sendiri sebagai seorang wanita yang menolak untuk dimadu atau diabaikan oleh suaminya yang arogan. Sebuah dilema besar baru saja dimulai, menguji sejauh mana batas kesabaran dan keteguhan hati seorang Alin di tengah badai yang kian rumit.
Nenek Aisyah mencengkeram jemari Alin kian erat, seolah ketakutan terbesar dalam hidupnya akan benar-benar terjadi jika ia melepaskan tangan cucu menantunya itu. "Nenek mohon, Alin. Jangan biarkan perempuan itu menang dengan mudah. Hanya tiga bulan, Nduk. Atau satu bulan saja. Setelah itu, kalau kamu memang tetap tidak bahagia dan suamimu masih buta, Nenek tidak akan menahanmu lagi untuk pergi."
Alin menunduk, menatap lekat tautan tangan mereka yang kontras. Di dalam dadanya, rasa dilema bergejolak hebat, saling hantam dengan harga diri yang ia junjung tinggi. Ia sangat menyayangi Nenek Aisyah. Wanita sepuh di hadapannya ini telah menjadi penolong terbesar bagi ibunya yang berjuang sendirian sebagai single parent sejak ayahnya tiada. Utang budi itu teramat besar, mengikat mati kebebasan Alin hari ini.
"Nek ...." Alin menghela napas panjang, menepis beberapa helai rambut panjangnya yang jatuh ke depan dada. Ia menatap lurus ke dalam manik mata senja yang mulai berkaca-kaca itu. "Baik. Hanya satu bulan. Alin akan bertahan dan mencoba mematuhi permintaan Nenek untuk kembali ke sana. Tapi, Alin punya satu syarat yang tidak bisa ditawar lagi."
"Apa, Nduk? Katakan pada Nenek," sahut Nenek Aisyah dengan cepat, binar harap mendadak terbit di matanya yang mulai meredup.
"Jika dalam waktu satu bulan itu Mas Elang tetap tidak bisa membuka hatinya, dan hubungan kami tidak menemukan arah yang jelas, Nenek harus berjanji untuk menyetujui perceraian kami tanpa ada tuntutan, paksaan, atau rasa bersalah lagi di kemudian hari. Alin tidak mau hidup dalam kepalsuan seumur hidup Alin," ucap Alin dengan nada suara yang teramat tegas, mutlak tanpa bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
Nenek Aisyah terdiam seketika. Tangan kanannya mendadak bergerak menyentuh dada kirinya, meremas kebaya harian yang dikenakannya seiring raut wajahnya yang kian pias. Rasa sakit nyeri yang familier akibat luapan emosi kembali menyerang jantungnya, membuat napasnya mendadak putus-putus dan pendek. Namun, demi mempertahankan Alin agar tidak lepas dari silsilah keluarga, ia memaksakan sebuah anggukan kaku yang terasa berat.
"Baik ... Nenek setuju, Alin. Satu bulan," bisik Nenek Aisyah dengan suara parau menahan perih yang mencengkeram dadanya. Ia menyandarkan punggungnya yang ringkih pada sandaran kursi goyang. "Sekarang ... kamu beristirahatlah dulu di kamar tamu, Nduk. Kamu pasti sangat lelah setelah menghadapi kekacauan sejak semalam."
Alin tersentak melihat perubahan drastis pada wajah Nenek Aisyah yang mendadak semakin memucat layaknya kertas. Rasa bersalah seketika menghujam ulu hati Alin dengan telak. Ia tidak tega meninggalkan wanita tua itu sendirian dalam kondisi fisik yang mendadak drop seperti ini.
"Tidak, Nek. Alin tidak akan ke kamar tamu," sergah Alin panik. Ia langsung bangkit berdiri dari sofa, merangkul bahu ringkih Nenek Aisyah dengan lembut, membiarkan rambut panjangnya tergerai menyentuh lengan sang nenek. "Nenek yang harus istirahat di kamar sekarang. Wajah Nenek pucat sekali. Ayo, Alin antar ke kamar."
Alin memapah langkah kaki Nenek Aisyah yang terasa sangat berat saat melangkah satu persatu. Setelah membaringkan tubuh sepuh itu di atas ranjangnya, Alin bergegas keluar ke koridor dan setengah berteriak memanggil kepala pelayan di belakang. "Mbok Darmi! Mbok, tolong ambilkan segelas air hangat ke kamar Nenek sekarang! Jangan lupa bawakan kotak obat yang biasa diminum Nenek!"
"Baik, Non! Sebentar, Mbok siapkan dulu obatnya!" sahut Mbok Darmi dari arah dapur bawah dengan nada suara yang tidak kalah panik.
***
Sementara itu, di kediaman baru Elang, suasana fajar yang sunyi kini telah berganti riuh oleh aktivitas di dalam. Beberapa Asisten Rumah Tangga yang baru direkrut oleh Elang sudah berdatangan sejak satu jam lalu. Suara denting pisau yang beradu dengan talenan kayu serta aroma bumbu dapur yang ditumis mulai memenuhi udara, menandakan kesibukan mereka menyiapkan menu makan siang untuk sang majikan baru yang kaya raya.
Di dalam kamar tamu lantai bawah, Elang masih duduk setia di tepi ranjang, menatap lekat wajah Ega yang mulai tertidur dengan napas yang lebih teratur setelah lelah menangis. Di sudut ruangan dekat lemari, Cindy tampak sibuk membongkar tas jinjing besar yang ia bawa semalam. Ia sengaja mengeluarkan beberapa helai pakaian anak kecil yang tampak pudar, kusam, dan melar, lalu melipatnya kembali dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat agar menarik perhatian pria di sana.
"Aduh ... bagaimana ini," gumam Cindy dengan suara yang cukup keras, sengaja memecah kesunyian kamar tamu. Ia menghela napas panjang sambil memandangi tumpukan kecil baju di pangkuannya. Rambut kecokelatannya yang terikat asal tampak bergerak mengikuti helaan napasnya. "Baju ganti Ega hanya sedikit sekali yang terbawa dari kontrakan lama. Kayaknya aku harus buru-buru mencuci baju kotornya sekarang juga di belakang agar ia tidak kekurangan pakaian nanti siang."
Suara gumaman Cindy tentu saja langsung merayap masuk ke dalam pendengaran Elang yang tajam. Pria itu mengalihkan pandangan matanya dari Ega, melirik lurus ke arah mantan kekasihnya. "Kalau baju ganti Ega memang sedikit, biar siang ini aku suruh sekretarisku dari kantor atau aku sendiri yang pergi ke mal untuk membelikannya beberapa stel yang baru. Kamu tidak usah repot-repot mencuci sekarang di dapur, fokus saja jaga Ega di rumah sampai kondisinya benar-benar pulih."
Cindy buru-buru menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia memasang raut wajah yang teramat sedih, sungkan, dan penuh rasa tidak enak yang dikemas sangat rapi di depan pria yang masih memendam rasa untuknya itu.
Bersambung ....
Sabar ya Kakak, hanya satu bulan kok sebelum Alin pergi 😁