Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.
Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.
Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!
Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA RAHASIA MULAI RETAK.
Meskipun rasa penasaran yang luar biasa terus berkecamuk di dalam benaknya, Zhawa memilih untuk mengikuti nasihat Rian. Ia menengadahkan kedua tangannya ke atas, sambil menundukkan kepala di samping ranjang sang ayah, lalu melangitkan doa-doa terbaiknya.
"Ya Allah, hamba tidak tahu siapa sosok mulia yang telah mengulurkan tangannya untuk keluarga kami," bisik Zhawa dengan suara bergetar penuh ketulusan. "Namun Engkau Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Hamba memohon, kabulkanlah setiap hajat dan keinginan baiknya. Angkatlah derajatnya, jadikanlah ia semakin sukses, dan limpahkanlah kebahagiaan yang tak berujung untuknya, baik di dunia maupun di akhirat nanti."
Doa itu selalu Zhawa sematkan di setiap pengujung sholatnya. Secercah kebahagiaan kini mulai terbit di wajahnya yang tak lagi sepucat kemarin. Beban berat di pundaknya seolah terangkat drastis setelah melihat kondisi Pak Imran yang berkembang dengan sangat baik pasca operasi.
Kelopak mata Pak Imran perlahan terbuka, mengamati sekeliling ruangan dengan dahi berkerut. "Zhawa, kita ini sedang berada di mana? Kenapa kamarnya begitu luas dan mewah seperti di dalam hotel? Pasti biaya sewa perharinya sangat mahal, Nak."
Zhawa menggenggam jemari ayahnya yang terasa hangat, lalu tersenyum menenangkan. "Bapak tidak perlu cemas memikirkan biaya. Alhamdulillah, ada seorang hamba Allah yang sangat baik hati yang telah menanggung seluruh biaya rumah sakit dan pengobatan Bapak sampai tuntas."
Pak Imran tampak terkejut, matanya berbinar haru. "Masya Allah, siapakah orang dermawan itu, Zhawa? Bapak ingin sekali bertemu dengannya, ingin menjabat tangannya dan mengucapkan terima kasih secara langsung."
Zhawa menggelengkan kepala dengan pelan. "Zhawa juga tidak tahu siapa orangnya, Pak. Hanya Kang Rian dan Allah saja yang tahu rahasia ini."
Tepat pada saat bersamaan, pintu kayu ruang VIP tersebut terbuka pelan. Rian melangkah masuk dengan senyuman ramah yang menghiasi wajahnya. Kedatangan Rian siang itu sebenarnya atas perintah rahasia dari Ghufran yang terus mendesaknya untuk memantau perkembangan kesehatan Pak Imran setiap jam.
"Eh, Kang Rian! Mari masuk, Kang," sambut Zhawa dengan sangat ramah, sambil memberikan kursi di dekat ranjang untuk tamu mereka. "Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung lagi."
Pak Imran berusaha mendudukkan tubuhnya yang masih sedikit lemas. "Nak Rian, terima kasih ya. Berkat bantuanmu, bapak bisa melewati masa kritis ini." Beliau menatap Rian dengan penuh harap. "Bapak mau tanya, apakah bapak boleh dipertemukan dengan orang baik yang membiayai pengobatan bapak? Bapak merasa punya utang budi yang sangat besar."
Rian tersenyum canggung, langsung teringat ancaman mengerikan dari Ghufran jika ia berani membuka mulut. Ia pun menggelengkan kepala dengan tegas. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Imran. Beliau sama sekali tidak ingin identitasnya diketahui. Jika Pak Imran memang ingin membalas kebaikannya, maka bersemangatlah untuk segera sembuh. Karena melihat Pak Imran kembali sehat dan tersenyum, itu sudah pasti akan membuat orang tersebut merasa sangat senang."
Pak Imran tersenyum tulus, mengangguk paham. "Tentu, Nak Rian. Bapak akan sangat bersemangat untuk pulih. Ternyata di dunia yang sudah tua ini masih ada saja orang yang hatinya seperti malaikat, ya?" Beliau menghela napas, menerawang. "Sama seperti orang baik yang sudah mendanai pembangunan di desa kita."
Rian menaikkan sebelah alisnya. "Pembangunan di desa, Pak?"
"Iya, Nak Rian. Kemarin sebelum bapak jatuh sakit dan dibawa ke kota, kakekmu bercerita kalau jalanan desa kita sekarang sudah mulus diaspal. Bahkan ada pusat perbelanjaan baru dan menara sinyal yang tinggi, jadi warga desa tidak perlu naik ke atas bukit lagi hanya untuk mencari jaringan ponsel. Desa kita mendadak maju karena kedermawanan seseorang," cerita Pak Imran dengan wajah berseri-seri.
Rian hanya bisa tersenyum simpul, menahan diri agar tidak tertawa. Di dalam hatinya, ia tentu tahu persis siapa sosok "malaikat" yang dimaksud oleh Pak Imran. Siapa lagi kalau bukan Ghufran, sang CEO yang dulu sempat mereka panggil dengan sebutan Bujang Lapuk. Ghufran sengaja menggelontorkan dana miliaran rupiah demi memajukan desa tersebut sebagai wujud rasa syukurnya yang baru, namun tetap bersikeras agar namanya tidak pernah dipublikasikan kepada warga desa.
Ketika mereka sedang asyik bertukar cerita, suara ketukan pelan kembali terdengar dari balik pintu ruangan VIP tersebut. Zhawa segera melangkah dan membuka pintu. Detik berikutnya, senyum Zhawa mengembang sempurna ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
"Kakek! Pak Kades! Silakan masuk," seru Zhawa dengan nada riang.
Kakek Rian dan Kepala Desa Sukamaju melangkah masuk ke dalam ruangan sembari membawa parsel buah-buahan yang cukup besar. Pertemuan itu seketika mengubah suasana kamar menjadi semakin hangat. Mereka saling melempar salam dan mengobrol akrab, menanyakan perihal kronologi operasi Pak Imran.
Melihat ruangan yang sudah dipenuhi oleh para tetua desa, Rian melirik jam tangan pribadinya, lalu bersiap untuk mengundurkan diri. "Pak Imran, Zhawa, Kakek, saya pamit kembali ke kantor dulu ya karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan siang ini." lalu Ia menoleh ke arah sang kakek. "Kek, nanti kalau urusan menjenguknya sudah selesai, jangan lupa singgah ke rumah Rian di kota, ya?"
Sang Kakek melambaikan tangannya dengan santai. "Iya, gampang itu, Rian. Kakek memang berencana menginap di rumahmu malam ini." Kakek Rian terkekeh, lalu melanjutkan kalimatnya tanpa beban. "Lagipula, Kakek juga sekalian mau mampir ke rumah Nak Ghufran. Kakek ingin mengucapkan terima kasih secara langsung atas segala kebaikannya yang sudah memajukan desa kita dengan fasilitas luar biasa itu..."
"Kakek! Cukup, Kek!" potong Rian dengan suara yang setengah berteriak, matanya melotot memberi isyarat panik agar kakeknya tidak melanjutkan ucapan tersebut.
Namun, kalimat peringatan dari Rian sudah terlambat. Kata-kata sang kakek telah meluncur bebas dan menggema dengan sangat jelas di dalam ruangan VIP yang kedap suara itu.
Suasana kamar mendadak hening seketika. Pak Imran, Kepala Desa, bahkan Zhawa langsung tertegun di tempat mereka masing-masing. Mereka semua menatap Kakek Rian dan Rian secara bergantian dengan pandangan yang penuh dengan rasa terkejut.
Pak Imran menjadi orang pertama yang memecah keheningan dengan suara yang bergetar. "Nak Rian... jadi, orang baik yang sudah memajukan desa kita itu adalah... Kang Ghufran?"
Di sudut ruangan, jantung Zhawa mendadak berdegup dengan sangat kencang. Ia meremas ujung gamisnya, menatap Rian dengan tatapan menuntut jawaban. Di dalam benaknya, sebuah tebakan besar mulai terbentuk secara perlahan. Jika Kang Ghufran adalah orang yang membangun desa tanpa mau disebut namanya, apakah mungkin hamba Allah yang membiayai operasi VIP Bapak saat ini adalah orang yang sama?
Rian yang menyadari situasi telah berada di ambang bahaya langsung memutar otak dengan panik. Wajahnya mendadak berkeringat dingin, membayangkan gestur potong leher yang diperagakan Ghufran kemarin.
"A-ah, bukan begitu, Pak Imran! Maksud Kakek tadi itu... aduh, sepertinya saya sudah benar-benar terlambat untuk menghadiri rapat penting di kantor!" seru Rian dengan nada bicara yang sengaja dibuat heboh untuk mengalihkan perhatian. Ia langsung melangkah cepat menuju pintu keluar tanpa berani menatap mata Zhawa sedikit pun. "Kakek, saya tunggu di parkiran nanti sore ya! Mari semuanya, Assalamu'alaikum!"
Rian langsung melesat keluar dan menutup pintu dengan cepat, meninggalkan sang kakek yang kini berdiri kebingungan di tengah ruangan setelah menyadari bahwa dirinya baru saja keceplosan membongkar rahasia besar sang CEO. Di dalam kamar, Zhawa masih terpaku dalam diam, menatap pintu yang tertutup dengan sejuta kecurigaan yang semakin menguat di dalam hatinya.
terimakasih