Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Senyum yang Mengganggu Hati Lorenzo
Bab 13 — Senyum yang Mengganggu Hati Lorenzo
Malam turun perlahan di atas kota Palermo.
Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya keemasan di kaca besar mansion keluarga Moretti. Suasana mansion tetap tenang seperti biasa, tetapi entah kenapa malam itu Lorenzo Moretti merasa pikirannya lebih berisik dibanding biasanya.
Pria itu berdiri sendirian di balkon ruang kerjanya sambil memegang segelas whiskey.
Angin malam meniup pelan rambut hitamnya.
Tatapan abu-abunya kosong mengarah pada kota di depan sana.
Namun yang terus muncul di pikirannya justru wajah seorang gadis desa bernama Amelia Santoso.
Senyumnya tadi siang.
Tatapan polosnya.
Dan air mata yang jatuh di pipinya.
Lorenzo mengernyit kesal pada dirinya sendiri.
Ia tidak suka perasaan asing seperti ini.
Sudah bertahun-tahun ia hidup tanpa memedulikan siapa pun selain keluarganya sendiri dan organisasinya.
Belas kasihan adalah kelemahan.
Dan kelemahan hanya akan membuat seseorang mati lebih cepat di dunia mafia.
Tok tok.
“Masuk.”
Marco De Luca masuk sambil membawa beberapa dokumen.
“Masalah di pelabuhan sudah selesai.”
Lorenzo duduk di kursinya tanpa banyak bicara.
“Korban?”
“Tujuh orang dari pihak Romano. Dua dari kita.”
Lorenzo membaca dokumen di tangannya sekilas.
“Cari pengkhianat di dalam organisasi. Romano terlalu mudah mengetahui pergerakan kita.”
Marco mengangguk.
Namun beberapa detik kemudian ia berkata pelan,
“Bos… ada hal lain.”
Tatapan Lorenzo terangkat.
“Gadis itu?”
Marco tertawa kecil. “Aku heran kenapa kau langsung tahu.”
“Kau tidak akan terlihat seragu itu kalau hanya membahas pekerjaan.”
Marco menghela napas lalu duduk di depan meja.
“Dia belum makan malam.”
Lorenzo diam.
“Clara bilang dia terus memikirkan neneknya.”
Suasana mendadak sunyi.
Marco memperhatikan perubahan kecil di wajah Lorenzo sebelum melanjutkan,
“Biasanya kau tidak peduli soal hal seperti ini.”
Tatapan Lorenzo langsung dingin.
“Kalau ingin bicara omong kosong, keluar.”
Marco langsung mengangkat tangan menyerah.
“Baiklah, baiklah.”
Namun dalam hati, Marco tahu ada sesuatu yang berubah pada bosnya.
Dan itu bukan hal kecil.
Sementara itu, Amelia duduk di kamar sambil memandangi foto lama dirinya bersama Nenek Hana.
Matanya kembali terasa panas.
Sudah beberapa hari ia berada di mansion itu, tetapi rasa takut dan rindu di hatinya justru semakin besar.
Ia benar-benar ingin pulang.
Tok tok.
Amelia cepat menghapus air matanya.
“Masuk…”
Clara masuk sambil membawa gaun berwarna krem lembut.
“Nona Amelia, Tuan Lorenzo meminta Anda turun untuk makan malam.”
“Aku tidak lapar…”
“Setidaknya turun sebentar.”
Clara tersenyum kecil lalu mengangkat gaun di tangannya.
“Dan pakailah ini.”
Mata Amelia langsung membesar.
Gaun itu terlihat sangat mahal.
“Aku tidak bisa memakai ini…”
“Bisa.”
“Tapi—”
“Percayalah,” Clara tertawa kecil, “ini jauh lebih baik daripada membuat Tuan Lorenzo menunggu terlalu lama.”
Amelia langsung gugup mendengar nama itu.
Akhirnya, setelah dibujuk cukup lama, Amelia mengganti pakaiannya.
Saat melihat pantulan dirinya di cermin, ia hampir tidak percaya.
Gaun itu membuatnya terlihat berbeda.
Lebih dewasa.
Lebih anggun.
Namun tetap sederhana.
Amelia menarik napas pelan sebelum akhirnya turun ke lantai bawah mansion.
Ruang makan keluarga Moretti sangat besar dan mewah. Lampu kristal menggantung indah di atas meja panjang yang dipenuhi makanan mahal.
Dan di ujung meja…
Lorenzo sudah duduk menunggunya.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan sedikit tergulung. Tatapannya langsung tertuju pada Amelia begitu gadis itu masuk.
Dan untuk beberapa detik…
Lorenzo terdiam.
Marco yang duduk di samping hampir tersedak melihat ekspresi kecil bosnya.
Karena itu jelas sekali.
Lorenzo terpaku.
Amelia langsung merasa tidak nyaman ditatap seperti itu.
“A-apa ada yang salah?”
Lorenzo akhirnya mengalihkan pandangan pelan.
“Duduk.”
Amelia segera duduk dengan gugup.
Suasana meja makan terasa sangat aneh.
Sunyi.
Menegangkan.
Marco mencoba mencairkan suasana.
“Jadi, Amelia… kau berasal dari desa kecil di negara ini?”
Amelia mengangguk pelan.
“Iya.”
“Kau pasti sangat kaget melihat dunia kami.”
Amelia hampir tertawa pahit.
“Kaget adalah kata yang terlalu ringan.”
Marco langsung tertawa kecil.
Sementara Lorenzo tetap diam sambil sesekali menatap Amelia.
Pelayan mulai menyajikan makanan.
Namun Amelia terlihat bingung melihat berbagai hidangan Italia yang asing baginya.
Lorenzo memperhatikan itu.
“Kau tidak suka?”
“Aku hanya… tidak tahu cara memakannya.”
Marco hampir tertawa lagi.
Namun sebelum ia sempat bicara, Lorenzo tiba-tiba mengambil alat makan lalu memotong steak di piring Amelia dengan tenang.
Gerakan sederhana itu langsung membuat seluruh pelayan membeku.
Marco sampai melotot.
Karena pria bernama Lorenzo Moretti tidak pernah melakukan hal seperti itu untuk siapa pun.
Bahkan keluarganya sendiri.
Amelia menatap Lorenzo kaget.
“T-terima kasih…”
Lorenzo hanya meletakkan kembali alat makan tanpa ekspresi.
“Makan.”
Jantung Amelia berdetak aneh.
Pria ini benar-benar membingungkan.
Kadang sangat dingin dan menakutkan.
Namun di saat tertentu…
ia bisa menunjukkan perhatian kecil yang tidak Amelia duga.
Setelah makan malam selesai, Amelia berjalan keluar menuju taman belakang mansion untuk mencari udara segar.
Malam Palermo terasa dingin.
Ia memeluk tubuhnya sendiri sambil memandangi langit.
Pikirannya kembali dipenuhi bayangan rumah kecilnya di desa.
“Aku ingin pulang…” gumamnya pelan.
“Kalau kau pulang sekarang, kau akan mati.”
Amelia langsung menoleh kaget.
Lorenzo berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Pria itu berjalan mendekat perlahan.
“Kau selalu muncul tanpa suara?” tanya Amelia pelan.
“Itu kebiasaan.”
Amelia kembali memandang langit.
“Aku tidak cocok berada di sini.”
Lorenzo diam beberapa detik sebelum akhirnya berdiri di sampingnya.
“Kau benar.”
Amelia menatapnya bingung.
“Dunia ini terlalu kotor untuk seseorang sepertimu.”
Kalimat itu membuat Amelia sedikit terdiam.
Angin malam berhembus pelan di antara mereka.
Suasana mendadak terasa tenang.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada tembakan.
Hanya suara dedaunan dan kota malam di kejauhan.
“Apa kau tidak takut padaku?” tanya Lorenzo tiba-tiba.
Amelia langsung menoleh.
Pertanyaan itu terdengar aneh.
Karena semua orang jelas takut pada pria itu.
Amelia menggigit bibir pelan sebelum menjawab jujur,
“Aku takut.”
Tatapan Lorenzo sedikit berubah.
“Tapi…” lanjut Amelia lirih, “aku juga merasa kau bukan orang jahat sepenuhnya.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun…
Lorenzo Moretti tidak tahu harus menjawab apa.
Karena tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya sebelumnya.
Dan anehnya…
ucapan gadis desa itu justru membuat hatinya terasa semakin kacau.
“Aku pernah membunuh banyak orang,” ucap Lorenzo akhirnya.
Suara pria itu rendah dan dingin.
Namun kali ini terdengar lebih berat dari biasanya.
Amelia perlahan menatapnya.
“Aku tahu…”
“Kau tetap berpikir aku bukan orang jahat?”
Amelia terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan,
“Aku tidak tahu.”
Jawaban jujur itu justru membuat Lorenzo sedikit tertarik.
“Kebanyakan orang langsung menilaiku monster.”
“Mungkin karena kau memang menyeramkan,” gumam Amelia tanpa sadar.
Beberapa detik hening.
Lalu—
Marco yang kebetulan berjalan keluar taman langsung tertawa keras mendengar ucapan itu.
“Ya Tuhan… akhirnya ada juga yang berani mengatakan itu langsung di depan wajahmu.”
Amelia langsung panik.
“A-aku tidak bermaksud kasar!”
Namun Marco malah semakin tertawa.
Sementara Lorenzo hanya memandang Amelia tanpa ekspresi.
Anehnya…
ia tidak marah.
Padahal biasanya siapa pun yang berani bicara sembarangan padanya akan menerima hukuman berat.
Marco menggeleng sambil menahan tawanya.
“Bos, gadis desa ini benar-benar berbeda.”
Lorenzo tetap diam.
Namun tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari Amelia malam itu.
Dan tanpa ia sadari…
senyum kecil gadis desa itu perlahan mulai menghancurkan dinding dingin di dalam dirinya.