Antara Arkananta Pradipta dan Leana Anastasya.
pertemuan kembali setelah belasan tahun berpisah mengungkap berbagai rahasia.
sepasang mantan suami istri yg sama-sama msih mendendam cinta dulu adalah pasangan muda yang menikah muda di usia mereka baru 16 tahun dan mereka berpisah karena pertentangan dari orang tua masing-masing...
yang mau tau cerita selengkapnya nya di baca☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon #kupunyacerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 27 flashback
*ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*
Di sebuah club malam dimana tempat Jasmin ibu Leana bekerja sebagai seorang DJ. Saat ini wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan dan sexi di umur awal 40 tahunan itu sedang melakukan pekerjaannya dengan sangat lihai, ia memainkan berbagai macam musik untuk menghibur audiens, menciptakan musik yang mengalir mulus tanpa jeda menggunakan berbagai peralatan dan tehnik sangat lihai bukan bagi wanita yang tidak muda lagi. Tidak heran, karena ia telah mempuni profesi nya itu dari ia berusia 23 tahun hingga sekarang.
Setelah beberapa musik yang ia mainkan Jasmin berhenti dan meninggalkan panggung kuasanya itu. Ia turun dan sekarang berakhir duduk dengan tenang di sebuah sofa panjang di sudut ruangan club.
Seorang lelaki datang menghampiri Jasmin dengan membawa minuman non alkohol. Siapa lagi kalau bukan Radit, ya Raditya agraham si pemilik club malam tersebut dan sahabat baik dari Jasmin.
"hmmm!" deheman Radit menyapa Jasmin yang sedang duduk bersandar dengan kaki yang saling menumpu satu sama lain dan tangan yang disilangkan di dada. Ia terlihat memiliki beban.
"kenapa?" tanya Radit lembut.
"mereka kembali lagi dit!!"
"siapa?"
"keluarga yang menghancurkan keluargaku!" jawab Jasmin lirih dengan sorot mata yang tajam dan memerah tanda ia sedang menahan sesak dan amarah.
"maksud kamu...?"
"iya, keluarga penguasa itu telah kembali!"
"baby, apa mereka kembali untuk menyakitimu dan mengganggumu lagi?" tanya radit khawatir.
Jasmin tidak langsung menjawab, dia mengganti posisi duduk, menurunkan tumpuan kakinya untuk mengambil gelas minuman yang Radit bawa tadi, setelah itu dengan berlahan dia meminumnya sembari otaknya menerawang kejadian masa lalu dan masa sekarang.
"Leana, dia menikah dengan cucu dari Panji Pradipta, anak dari Mahendra Pradipta!" beritahu Jasmin .
"what?!!" kaget Radit. "mengapa bisa.. maksudnya mengapa dunia ini begitu sempit?!" sambung Radit lagi, tidak percaya saja dan itu membuat Jasmin tertawa miring.
"ya, tapi itu kenyataannya dit, aku baru tahu di saat orang tua dari suami Lea datang untuk menjemput Lea tadi pagi, aku tidak tahu takdir seperti apa ini dit!!" ucap Jasmin lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena menahan sesak yang dia simpan dari tadi pagi.
Radit mengikis jarak antara mereka, ia memeluk jasmin, mengelus punggung Jasmin untuk menenangkan wanita yang ia sukai itu, tapi sayang dari dulu cintanya tidak pernah terbalaskan dengan alasan Jasmin tidak ingin menikah terutama dengan anak pengusaha seperti Radit. Bisa di bilang Jasmin trauma dengan orang kaya karena kejadian yang menimpa keluarga nya.
"tenang ya, aku yakin Leana tidak akan kenapa-kenapa, kamu kan pernah bilang kalau suami Lea sangat menyayangi Lea, dan kamu harus percaya itu baby!!".
"aku takut dit,, aku takut kalau kejadian serupa terulang lagi dengan Leana.. aku gak mau lihat Lea terluka dit.. Panji Pradipta masih hidup , dia kejam, dia tidak punya hati...aku takut kalau dia tahu Lea anak dari kakak q dan dia akan mengusik Leana ,bagaimana dit, aku takut!! Hiks.. hikss!!" ucap Jasmin panik, dia meluapkan emosinya dengan menangis di pelukan sahabatnya itu. Banyak hal yang di takut oleh Jasmin tentang kehidupan rumah tangga anak dari kakaknya itu. Walaupun Jasmin terlihat cuek di depan Lea percayalah Jasmin sangat menyangi Lea.
Radit masih setia memeluk sahabatnya itu, ia dapat melihat kepanikan Jasmin serta ketakutannya, wajar saja bagi Radit. Karena tidak muda bagi Jasmin untuk melupakan masa lalu itu dan tiba-tiba sekarang datang lagi dari keluarga yang sama.
"baby, kamu yakin saja kalau Lea akan baik-saja, dan suaminya itu pasti akan menjaga Lea dengan baik, jangan memikirkan hal yang belum terjadi Ok!!" ucap Radit sembari mengurai pelukannya dan memegang kedua tangan Jasmin sebelum melanjutkan kan katanya lagi. "baby, aku mau kamu pikirkan diri kamu sendiri mulai sekarang, Lea sudah memiliki suami yang bisa menjaganya dengan baik. Jasmin.. Umur kita sudah tidak muda lagi, kamu juga tidak bisa selamanya melakukan pekerjaan ini..!" ada jeda sesaat sebelum Radit melanjutkan sembari menatap wajah cantik wanita didepannya , begitupun dengan Jasmin juga menatap kearah Radit dengan wajah yang basah dengan air mata. Radit mengangkat kuda tangannya guna untuk menghapus airmata wanita pujaannya itu. Setelah itu dia berkata.
"baby, apa kamu tidak ingin merajut sebuah ikatan pernikahan?, bersamaku? Kita berdua Jasmin, kau dan aku...Aku sadar kita tidak lagi muda tapi bukan berarti telat bukan? Jasmin, tolong terima aku dan percaya. Sama aku, kalau cinta tidak seburuk masa lalu kakakmu!!" ucap Radit dengan wajah yang memelas penuh pengharapan..berharap wanitanya itu mau membalas cintanya.
"dit!" panggil Jasmin lirih, "a..ku..a.!"
"usst, kali ini akubtidak ingin mendengar penolakan baby!" dan "cuppp!!" ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu terus berlalu begitu cepat, tidak terasa usia kandungan Leana sudah memasuki bulan ke empat. Leana sudah melewati fase yang namanya mual dan muntah. Tentu saja setiap hari yang dia lewati dengan dukungan sang suami dan kedua mertuanya yang dan sangat menyayanginya. Leana tidak di biarkan melakukan hal yang berat, ia di ratukan oleh sang suami. Arkan rela belajar memasak demi memenuhi ngidam sang istri yang menginginkan masakan suaminya.
Di sekolah maupun keluarga Arkan sendiri belum ada yang tahu tentang pernikahan dan kehamilan Leana, beberapa bulan ini Leana dengan lihai menyembunyikan kehamilannya. Saat di sekolah, ketika ia akan merasakan mual ia selalu menghirup sapu tangan yang disemprot dengan parfum suaminya, entah mengapa aroma parfum suaminya meredakan gejolak rasa mual nya, walaupun tidak sepenuhnya setidaknya dia tidak muntah di sekolah.
Memang perubahan fisik pada tubuh Leana mulai terlihat, di bagian pinggang terasa rata dan bagian perut sudah menonjol, tapi dia bisa menutupi dengan sweater yang agak kebesaran di tubuhnya sehingga orang-orang tidak bisa melihat lekuk tubuhnya.
Tapi bagaimana hebatnya seseorang menyembunyikan sesuatu jika hari sial itu datang, maka tidak ada yang bisa menghentikannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Riuh sorak para murid di dalam kelas mereka masing-masing terdengar memekikkan telinga. Teriakan kemenangan karena berakhirnya ujian tengah semester yang selama satu Minggu ini seperti mengekang pergerakan mereka. "akhirnya nya kita bisa bebas guys..!!!" teriak salah satu teman Leana di dalam kelas sembari mengangkat satu tangan ke atas tanda kemenangan.
"yo'i bro, jadi gue bisa ngapel tiam malam nih ke rumah do'i!!" timpal teman lelaki lainnya yang di balas sorakan dan lemparan kertas contekan oleh teman-temannya...
"huuuuu!" teriak mereka setelahnya mereka tertawa bersama.
Leapun ikut senang melihat teman-temannya yang sangat gembira seperti itu. Dia berpikir untuk menyimpan memori ini kedalam kepalanya untuk mengenang bila ia rindu sekolah. Pasalnya setelah libur semester ini Lea tidak lagi datang ke sekolah dan melakukan sekolah online di rumah saja. Tentu saja itu karena perut Lea semakin membesar dan tidak mungkin untuk kesekolah lagi.
Bella yang duduk diam sedari tadi memyeringai. Ia tiba-tiba bangun dan menyuruh temannya untuk diam karena ada sesuatu pertunjukan yang ingin ia perlihatkan kan kepada teman-teman kelasnya yang membuat mereka semua penasaran.
"perhatian semua, hari ini ada pertunjukan yang pasti akan membuat kalian akan merasa sangat-sangat terkejut!" kata Bella keras.
"woowww, pertunjukan apa itu Bel?" tanya salah satu temannya.
"kalian tahu gak kalau salah satu teman kita di kelas ini ada yang hamil.!" kata Bella menekankan kata hamil yang membuat teman-temannya kaget sekaligus tidak percaya.
"benarkah, siapa emang?, kok berani sekali sih dia datang sekolah?" bisik-bisik mulai terdengar di dalam kelas itu. Leana yang masih duduk di tempatnya merasa was-was, ia sadar orang yang hamil di katakan Bella itu adalah dirinya. Leana sudah gemetar tangannya di bawah bangku memegang perutnya yang membuncit , ia tidak tahu harus bagaimana Sekarang, suaminya sedang pergi untuk daftar pertandingan basket untuk acara extra kulikuler.
"ayo jawab Bella, siapa sih?"
Bella ditempat tersenyum licik sambil menatap ke arah Leana. Melihat Bella menatap Lea teman-temannya juga ikut menatap ke arah Lea, dan mereka bisa simpulkan siapa yang hamil.
"oh my God, Really?, pantas aja pake sweater kebesaran setiap hari!!" ucap seorang gadis heboh sambil menutup mulut.
"hahaha, coba kalian buka aja itu sweater ya pasti udah kelihatan itu perut buncitnya!!" timpal sahabat Bella memanas-manasi.
Lea terdiam menunduk, mau bicara tapi mulutnya keluh, ia tidak menyangka bahwa temannya akan tahu tentang kehamilannya. Tidak heran juga sedang dari awal bahkan ketika dia belum tahu kalau dia hamil waktu itu Bella sudah mulai curiga. Tapi Kenapa selama ini Bella diam seakan-akan dia tidak tahu apapun, diamnya Bella Dengan waktu yang lama yang membuat Leana berpikir untuk sekolah sementara.
Tiba-tiba bisik-bisik para siswa siswi yang mengatakan leana wanita murahan di kelas itu berhenti ketika mendengar suara bariton dari arah pintu.
"tutup mulut kalian, leana bukan wanita murahan, dia hamil dengan suaminya, dan gue adalah suami Leana, gue dan Lea sudah menikah!!" pernyataan dari Arkan membuat para siswa siswi yang mendengar itu semua jelas kaget, tentu kaget terutama Bella di tempatnya tidak percaya dengan kenyataan itu bahwa Arkan sudah menikah.
"tidak, tidak, itu tidak mungkin kan? Apa kakek Panji tahu? tidak mungkin kakeknya Arkan tahu, kalau kakek tahu pasti tidak akan setuju, kakek Arkan sudah menjodohkan gue dengan Arkan.. Iya gue harus tanya kakek panji tentang ini!!" batin Bella tak terima dan dia mulai merencanakan sesuatu.