Sekuel Talak di Ujung Ramadhan
Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.
Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.
Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Pagi ini, senyum Bu Anisa mengembang lebar saat melangkah masuk ke kamar Leo, putra sulungnya. Kamar itu sudah kosong sejak Leo mengusir Sarah beberapa hari yang lalu.
Netra Bu Anisa langsung tertuju pada sebuah dompet kulit tebal dan buku tabungan yang tergeletak di atas nakas, tepat di samping sebuah handphone.
Dengan tangan gemetar karena antusias, Bu Anisa menyambar buku tabungan tersebut. Begitu membukanya, deretan angka nol di kolom saldo membuat jantungnya berdegup kencang.
Meski tabungan itu mengatasnamakan Sarah—menantunya yang paling ia benci—Bu Anisa sangat yakin uang ratusan juta itu adalah hasil keringat Leo.
Bu Anisa merasa mendapat durian runtuh. Akhirnya, uang yang selama ini dikuasai Sarah jatuh ke tangannya. Rasanya luar biasa puas, apalagi bayang-bayang wajah Sarah yang menangis saat diusir Leo masih terekam jelas di benaknya.
Sambil terkekeh sinis, Bu Anisa beralih mengambil handphone Sarah yang layarnya mendadak menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Cantika bermunculan di layar kunci.
"Cantika, tolong jemput aku ke rumah Mas Leo."
Bu Anisa mendengus. Pesan itu masih berstatus centang satu, menandakan Cantika belum sempat membaca atau membuka aplikasi chat-nya.
"Jangan harap kamu bisa minta bantuan. Modal drama, Sarah," gumam Bu Anisa penuh kemenangan.
Tanpa ragu, jemarinya bergerak lincah membuka sandi ponsel Sarah yang untungnya sangat mudah ditebak. Ia langsung menghapus pesan tersebut, lalu memblokir nomor Cantika secara permanen.
Tidak berhenti sampai di situ, Bu Anisa bergegas keluar lewat pintu dapur, melirik kanan-kiri untuk memastikan tidak ada tetangga yang melihat. Dengan satu sentakan kuat, ia melemparkan handphone Sarah ke dalam parit besar yang mengalirkan air kotor di belakang rumah.
Plung!
Ponsel itu tenggelam mengikuti aliran air.
Bu Anisa menarik napas dalam-dalam, merapikan kembali pakaiannya, lalu berjalan masuk ke rumah.
Saat melangkah menuju ruang tengah tempat Leo berada, otot-otot wajahnya mendadak berubah drastis. Senyum liciknya lenyap seketika, digantikan oleh gurat kesedihan yang mendalam. Matanya dipaksa berkaca-kaca, menampilkan raut wajah seorang ibu yang paling tersakiti dan terzalimi di dunia, siap mengadu pada putranya.
Dulu, Sarah adalah menantu impian Bu Anisa. Gadis sembilan belas tahun yang dibawa oleh Indari—pekerja di katering miliknya—itu terlihat begitu lugu, penurut, dan polos.
Bu Anisa sempat mengira telah menemukan menantu yang bisa dengan mudah ia bentuk sesuai kemauannya. Bahkan, ketika Indari terjerat utang dua puluh juta rupiah kepada Leo untuk biaya kuliah perhotelan Sarah, Bu Anisa mendukung penuh saat Leo meminta utang itu ditebus dengan pernikahan.
Baginya, itu adalah transaksi yang menguntungkan. Leo mendapatkan istri, dan Bu Anisa mendapatkan menantu yang berutang budi.
Namun, pernikahan yang semula ia restui justru menjadi awal dari luka hati Bu Anisa yang paling dalam.
Semua berubah sejak Sarah mulai berani mengusik posisinya sebagai ratu di rumah itu.
Dulu, Leo adalah putra berbakti yang menyerahkan seluruh uang bulanannya ke tangan Bu Anisa. Bu Anisa-lah sang pemegang kendali, penguasa tunggal atas keringat putranya.
Namun, setelah Sarah masuk, Leo perlahan merampas takhta itu dan menyerahkan seluruh kendali keuangan kepada istri kecilnya yang tak tahu diuntung.
Bu Anisa merasa seperti pengemis di rumahnya sendiri, harus meminta-minta kepada menantunya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Uang itu hasil keringat anakku! Hakku sebagai ibunya!" jerit Bu Anisa dalam hati setiap kali melihat Sarah menghitung uang belanja.
Rasa sayang itu menguap, digantikan oleh bara api cemburu dan dendam yang kian membakar dada.
Kebencian Bu Anisa semakin memuncak dan menemukan pembenaran mutlak lewat rahim Sarah. Dua kali menantunya itu hamil, dan dua kali pula Sarah gagal memberikan apa yang paling Bu Anisa dambakan: seorang cucu laki-laki, penerus marga dan darah daging Leo.
Bagi Bu Anisa, rahim Sarah adalah kutukan. Sarah tidak hanya telah merampas kekuasaan keuangannya, tetapi juga gagal menjalankan tugas paling mendasar sebagai seorang istri.
Mengingat semua "dosa" Sarah itu, air mata Bu Anisa menetes—bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang telanjur mengakar.
Baginya, mengusir Sarah dari hidup Leo bukan sekadar rencana, melainkan sebuah misi suci untuk merebut kembali putra dan kedudukannya yang telah dirampas.
---
“Kau dari mana, Leo?” tanya Bu Anisa begitu putranya melangkah masuk ke dalam rumah.
Wanita paruh baya itu langsung menutup hidung pelan. Aroma alkohol menyeruak kuat dari tubuh Leo, bercampur parfum wanita yang asing.
“Astaga... kamu minum?” Nada suaranya meninggi. “Apa karena Sarah? Bukannya kamu sendiri yang usir dia?”
Namun Leo tidak menjawab.
Langkahnya berat dan sempoyongan. Wajahnya kusut dengan mata merah kelelahan. Jas mahal yang biasanya selalu rapi kini tampak berantakan. Kancing atas kemejanya terbuka dua, memperlihatkan noda samar di lehernya.
Bruk!
Tubuh pria itu langsung ambruk ke atas sofa panjang ruang keluarga tanpa peduli sepatu yang masih melekat di kakinya.
“Leo?” Bu Anisa mendekat pelan.
Tak ada respons.
Putranya sudah tertidur dalam keadaan setengah sadar akibat alkohol.
---
Keesokan paginya, aroma kopi hitam yang pekat gagal meredakan ketegangan di ruang makan.
Bu Anisa berdiri berkacak pinggang di depan Leo yang duduk tertunduk sambil memegangi kepalanya yang pasti terasa berdenyut hebat akibat sisa alkohol semalam.
"Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi laki-laki lemah yang melarikan diri ke botol minuman, Leo!" semprot Bu Anisa, sengaja mengeraskan suaranya agar Leo merasa semakin bersalah. "Kamu itu tulang punggung keluarga, pekerja keras, dan berpendidikan! Mau ditaruh di mana muka Ibu kalau tetangga tahu kamu pulang sempoyongan dengan bau alkohol menyengat seperti semalam, hah?!"
Leo memijat pelipisnya. Wajahnya tampak pias dan penuh beban.
"Maafkan saya, Bu. Saya stres karena terancam gagal ke Singapura."
Mendengar kata Singapura, jantung Bu Anisa mencelos.
Program training di Singapura adalah tangga yang harus diraih untuk memuluskan jenjang karier Leo. Kegagalan ke sana berarti kerugian besar bagi gengsi dan dompetnya.
Namun, alih-alih ikut panik, otak licik Bu Anisa langsung berputar cepat. Ia teringat pada buku tabungan tebal milik Sarah yang disembunyikannya di dalam saku daster. Uang ratusan juta itu bisa ia gunakan sebagai dana pelicin atau suap untuk mengamankan posisi Leo di perusahaan.
"Ah, ini dia jalannya," batin Bu Anisa bersorak riang.
Seketika, raut wajah Bu Anisa yang semula garang melunak secara dramatis. Ia menghela napas panjang, lalu duduk di kursi tepat di sebelah Leo.
Tangan tuanya mengusap pundak sang putra dengan kehangatan palsu yang begitu meyakinkan.
"Gagal karena apa, Leo? Apa karena kamu tidak giat bekerja? Atau karena pikiranmu terbagi sejak mengusir istri tidak berguna itu?" tanya Bu Anisa, memancing dengan suara yang kini terdengar penuh keprihatinan seorang ibu.
Leo menarik napas dalam-dalam.
"Saingan terberat saya itu pria bujangan, Bu. Atasan menilai dia lebih punya banyak waktu luang dan fokus karena tidak punya beban drama rumah tangga seperti saya saat ini. Ditambah lagi, dia pintar mencari muka di depan direktur."
Bu Anisa tersenyum penuh arti. Kilat licik kembali muncul di matanya.
"Kau jauh lebih pintar, Nak. Gunakan otakmu untuk menyingkirkan sainganmu. Ibu akan bantu urusan di belakang layar."
dosa bu dosaaa...