Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Safest Cage
“Aku minta maaf.”
Suara Damien terdengar rendah di tengah kamar yang terlalu sunyi.
Hujan masih turun di luar mansion, memantul pelan di kaca besar kamar tidur utama. Cahaya lampu redup membuat ruangan itu terasa hangat, tetapi Serena justru merasa dingin yang merasuk sampai ke tulang.
Perempuan itu duduk diam di tepi ranjang tanpa bergerak sedikit pun. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah, sementara matanya kosong menatap lantai marmer.
Damien berdiri beberapa langkah darinya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bersama Serena Roe, pria itu benar-benar merasa kehilangan kendali atas situasi. Karena Serena tidak menangis. Tidak membentaknya. Tidak marah. Perempuan itu justru diam.
Damien benci itu.
“Serena.”
Tidak ada jawaban.
Damien mengembuskan napas pelan sebelum berjalan mendekat lalu berjongkok di depan Serena.
Pelan, pria itu mengangkat wajah Serena dengan jemarinya.
Perempuan itu refleks menegang.
Gerakan kecil namun cukup membuat sesuatu dalam dada Damien mengeras.
“Apa aku membuatmu takut?”
Serena menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berbisik pelan, “Aku tidak mengenalmu tadi.”
Kalimat itu terasa lebih buruk dibanding tamparan.
Tatapan Damien berubah samar. Namun hanya sepersekian detik sebelum pria itu kembali tenang. “Kau terlalu emosional.”
“Kau mengunciku di kamar.” Nada suara Serena terdengar lelah sekarang. Nyaris hampa.
Damien memejamkan mata sejenak. Ia ingin menjelaskan dirinya tidak berniat sejauh itu. Bahwa Serena selalu membuatnya kehilangan kendali saat menyangkut pria lain. Namun Damien tahu, penjelasan seperti itu justru akan terdengar lebih mengerikan.
“Aku tidak suka melihatmu bersama pria lain,” gumamnya akhirnya.
Serena tertawa kecil. Suara itu terdengar rapuh. “Lalu kenapa kau meninggalkanku?”
Hening langsung memenuhi ruangan. Damien tidak menjawab. Karena seperti biasa, pertanyaan itu selalu menjadi satu-satunya hal yang tidak bisa ia jawab dengan mudah. Pria itu akhirnya berdiri perlahan lalu mengulurkan tangan pada Serena. “Kau perlu mandi.”
“Aku bisa sendiri.”
“Kau bahkan hampir tidak bisa berdiri.”
Nada suara Damien kembali lembut sekarang. Serena membenci fakta bahwa dirinya masih otomatis menurut saat pria itu mengangkat tubuhnya dengan lembut.
Sentuhan Damien selalu seperti itu. Tenang, hangat dan meyakinkan.
Sepuluh tahun bersama pria itu membuat tubuh Serena bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat melawan. Itulah kenapa semuanya terasa semakin menyakitkan. Karena bahkan setelah Damien membuatnya takut, Serena tetap menuruti pria itu seperti seseorang yang tersesat dan hanya mengenal satu jalan pulang.
Kamar mandi utama mansion dipenuhi aroma lavender samar dan uap hangat saat Damien menyalakan air bathtub. Marmer hitam mengilap memantulkan bayangan mereka berdua seperti sesuatu yang terlalu intim untuk dilihat. Serena berdiri diam di depan cermin besar tanpa banyak bicara. Tubuhnya terasa berat dan pikirannya bahkan lebih buruk.
Pantulan dirinya di cermin terlihat asing. Mata sembab. Bibir pucat. Bahu yang sedikit gemetar meski ruangan cukup hangat. Serena hampir tidak mengenali sosok di depannya. Mungkin yang paling menyakitkan, Damien masih menatapnya seolah ia perempuan tercantik di dunia.
Tatapan pria itu tidak berubah sedikit pun. Tetap intens dan penuh perhatian seperti seseorang yang mencintainya terlalu besar. Itulah kenapa Serena mulai merasa bahwa dirinya gila. Karena Damien selalu terlihat seperti laki-laki yang rela melakukan apa pun demi dirinya. Namun pada saat yang sama, pria itu juga yang perlahan menghancurkan dirinya paling dalam.
Damien berdiri di belakang Serena beberapa detik sambil menatap pantulan perempuan itu di cermin. Perempuan itu terlihat seperti mayat hidup. Cantik namun kosong. Dan untuk alasan aneh yang tidak ingin Damien akui, melihat Serena seperti itu membuat dadanya terasa sesak.
“Aku benci melihatmu seperti ini,” gumamnya rendah.
Serena tidak menjawab. Tatapannya tetap kosong menatap cermin. Dan Damien sadar, ia lebih memilih Serena membencinya daripada diam seperti ini.
“Lepas bajumu,” gumam pria itu pelan.
Serena langsung menegang. Tatapannya bertemu dengan Damien lewat pantulan cermin. Takut lagi. Damien langsung menyadarinya. Sial.
Pria itu mengembuskan napas panjang sebelum mendekat perlahan. “Aku hanya ingin membantumu.”
Jemarinya bergerak pelan membuka kancing kemeja yang Serena kenakan tanpa tergesa.
Gerakannya lembut sekali.
Hampir penuh kasih sayang.
Damien bahkan menyingkirkan rambut Serena perlahan sebelum membuka kemeja itu seutuhnya, seolah takut gerakan kasar sekecil apa pun akan membuat perempuan itu semakin menjauh.
Kain itu jatuh perlahan ke lantai. Menyisakan lekuk tubuh sempurna yang kini bergetar.
Serena langsung memeluk tubuhnya sendiri refleks. Bukan malu. Lebih seperti ingin melindungi dirinya.
Tatapan Damien berubah sedikit, namun cukup untuk membuat Serena sadar pria itu terluka melihat reaksinya.
“Aku tidak akan menyakitimu,” ulang Damien pelan.
Kali ini suaranya terdengar lebih rendah dan personal. Seolah pria itu sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri juga.
Damien membelai lengan Serena perlahan sebelum mencium pundaknya singkat. Hangat. Terlalu lembut untuk seseorang yang mengurungnya di kamar selama berjam-jam seperti seorang tahanan. Dan Serena mulai membenci kenyataan bahwa Damien selalu seperti ini. Selalu tahu kapan harus menghancurkan dirinya dan kapan harus merawat luka yang ia buat sendiri.
“Kau gemetar.”
“Aku lelah.”
“Itu bukan jawaban.”
Serena memejamkan mata.
Damien terlalu mengenalnya. Pria itu selalu tahu kapan Serena berbohong.
“Aku tidak tahu harus merasa apa sekarang,” bisik Serena akhirnya.
Damien diam cukup lama. Tatapannya turun pada wajah Serena yang terlihat benar-benar kehilangan tenaga.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu dalam diri Damien terasa sedikit panik. Karena Serena selalu penuh emosi. Perempuan itu keras kepala. Berisik. Mudah marah. Mudah cemburu. Namun Serena yang seperti ini, diam dan kosong, terlihat seperti seseorang yang perlahan menyerah.
Damien tidak suka itu. Pria itu menunduk lalu mencium bahu Serena lebih lama kali ini.
Bibirnya diam beberapa detik di kulit perempuan tersebut sebelum akhirnya berbisik,
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”
Serena hampir tertawa mendengar itu.
Karena ironis sekali bagaimana laki-laki yang paling melindunginya, juga laki-laki yang paling ia takutkan sekarang.
Damien membawa Serena masuk ke dalam bathtub perlahan sebelum ikut berlutut di belakang perempuan itu.
Air hangat menyentuh kulit Serena yang dingin, sementara Damien mulai membasahi rambut panjangnya dengan hati-hati. Jemarinya bergerak pelan memijat kulit kepala Serena dengan lembut dan sabar, seolah sedang merawat sesuatu yang sangat berharga.
Dan memang begitu. Damien selalu memperlakukan Serena seperti sesuatu yang berharga. Itulah alasan Serena bertahan selama sepuluh tahun. Karena di dunia Damien Knox, Serena selalu menjadi pusat perhatian pria itu.
Damien mengingat semua hal kecil tentang dirinya. Cara Serena tidak suka udara terlalu dingin. Cara perempuan itu selalu sulit tidur setelah mimpi buruk. Cara Serena diam-diam takut petir sejak kecil. Damien mengingat semuanya. Lebih baik dibanding Serena mengenal dirinya sendiri. Dan mungkin itu sebabnya Serena tidak pernah benar-benar bisa pergi.
“Kau masih marah padaku?” tanya Damien pelan.
Serena terkekeh kecil tanpa humor.
“Kau benar-benar berpikir ini cuma soal marah?”
Damien tidak menjawab. Tangannya turun perlahan menyabuni bahu Serena, lalu punggungnya. Sentuhan pria itu terlalu familiar. Terlalu menenangkan. Membuat Serena membenci dirinya sendiri karena tubuhnya masih merasa aman bersama Damien.
Aneh sekali. Bahkan setelah ketakutan tadi, tubuh Serena tetap rileks saat Damien menyentuhnya. Seolah dirinya sudah terlalu lama hidup dalam genggaman pria itu sampai lupa bagaimana rasanya benar-benar bebas.
“Aku tidak suka saat kau takut padaku,” gumam Damien.
“Namun kau tetap membuatku takut.”
Jemari Damien berhenti sesaat di punggung Serena.
Sunyi. Hanya suara air dan hujan malam.
Lalu pria itu kembali bergerak perlahan seolah tidak terjadi apa-apa. “Itu tidak akan terjadi lagi.”
Dan cara Damien mengatakannya terdengar sangat yakin. Sangat tenang. Seolah pria itu benar-benar percaya dirinya mampu mengendalikan sisi buruk dalam dirinya sendiri. Padahal Serena mulai tidak yakin siapa Damien Knox sebenarnya.
Pria yang memeluknya seperti rumah, atau pria yang membuatnya takut berada di dalamnya.
...----------------...
...To be continue...